Perdagangan orang merupakan praktik eksploitasi yang memaksa korban yang seringkali adalah migran, anak muda, hingga penyandang disabilitas untuk bekerja secara tidak manusiawi. Mereka dijebak dengan janji pekerjaan, dipaksa melakukan penipuan daring, penyelundupan narkoba, hingga pencurian. 30 Juli diperingati sebagai World Day Against Trafficking in Persons, yang pada tahun 2025 mengangkat tema “Human Trafficking is Organized Crime – End the Exploitation”.

Berdasarkan data yang disampaikan International Organization for Migration (IOM) melalui laman resminya, diperkirakan ratusan ribu orang terperangkap di kompleks scamming online di Asia Tenggara. Operasi ini menghasilkan lebih dari $40 miliar per tahun, dan banyak korbannya adalah migran dan pencari kerja muda. Alih-alih dibantu, para korban justru dikriminalisasi, dituntut secara hukum, dan dipenjara karena kejahatan yang mereka lakukan di bawah paksaan.
Sejak 2022, IOM telah menyelamatkan hampir 3.000 korban, memulangkan korban ke rumah mereka dengan aman, serta memberikan dukungan di berbagai negara seperti Filipina, Vietnam, Thailand, dan Myanmar.
Pada Peringatan Against Human Trafficking Day 2025, IOM Director General Amy Pope, menyerukan reformasi hukum nasional, pelatihan pekerja garis depan, fokus pada perlindungan, bukan penghukuman. Mari ubah sistem yang menyalahkan korban, dan mulai menindak para pelaku!
Pemerintah, masyarakat, pekerja migran, hingga sektor swasta, semua memiliki peran penting dalam mencegah perdagangan manusia. Laporkan dugaan kasus, edukasi diri & sekitar, dan lawan stigma terhadap korban.















