Masa Depan Industri 2025–2030

World Economic Forum (WEF), organisasi internasional independen yang berbasis di Jenewa, Swiss. Didirikan pada tahun 1971, bertujuan untuk meningkatkan kerja sama antara sektor publik dan swasta dalam menangani isu-isu global, mulai dari ekonomi, teknologi, lingkungan, hingga ketenagakerjaan. WEF terkenal sebagai penyelenggara pertemuan tahunan di Davos, Swiss, yang mempertemukan para pemimpin dunia. Mulai dari kepala negara, CEO perusahaan global, akademisi, hingga tokoh masyarakat, untuk berdiskusi dan mencari solusi atas tantangan global masa depan.

Image: The World Economic Forum

WEF secara rutin menerbitkan laporan strategis seperti Global Risks Report, Global Competitiveness Report, serta Future of Jobs Report yang edisi terbarunya telah dipublikasikan Januari 2025 lalu. Laporan terbaru tersebut, mengungkap bahwa 92 juta pekerjaan akan hilang dan 170 juta pekerjaan baru akan muncul. Perubahan teknologi, fragmentasi geoekonomi, ketidakpastian ekonomi, pergeseran demografi, dan transisi hijau merupakan pendorong utama yang diharapkan dapat membentuk dan mengubah pasar tenaga kerja global pada tahun 2030.

Survei WEF yang dilakukan pada 1.000+ perusahaan, 14 juta pekerja, 22 industri, di 55 negara menyimpulkan, bahwa 60% perusahaan global yakin teknologi akan mengubah bisnis mereka dengan tren, di bidang AI & Big Data (86%), Robotik & Otomatisasi (58%), dan Teknologi Energi (41%). Hal ini memicu permintaan tinggi untuk skill digital, seperti AI& Big Data, Cybersecurity, dan Melek teknologi. Selain itu, juga dibutuhkan pekerja dengan soft skill seperti kreativitas, fleksibilitas dan adaptabilitas. Transisi hijau mempengaruhi adanya kebutuhan pekerja di bidang Insinyur Energi Terbarukan, Spesialis Lingkungan, serta Ahli Kendaraan Listrik & Otonom.

Image: World Economic Forum, Future of Jobs Survey 2024
Image: World Economic Forum, Future of Jobs Survey 2024

Tren Geopolitik & Fragmentasi Ekonomi turut mempengaruhi hingga 34% perusahaan mengubah strategi karena ketegangan global, dan tren reshoring & offshoring meningkat. Reskilling menjadi Kunci Masa Depan. Agar dapat tetap bertahan dan bersaing di industri kerja, pastikan rekanaker terus mengasah keterampilan, seperti berpikir analitis, literasi teknologi, kepemimpinan & pengaruh sosial.

Selain itu, 64% perusahaan mulai fokus pada kesehatan mental & karier berkelanjutan. Inisiatif Diversity, Equity & Inclusion (DEI) melonjak hingga 83% (naik dari 67% tahun 2023). Perusahaan dengan 50.000+ pegawai bahkan sudah 95% terapkan DEI! Jadi, selain permintaan peningkatan keterampilan pekerja, perusahaan juga memperhatikan mental dan karier pekerjanya. Sebuah hal yang saling memberi manfaat untuk semua pihak! Siapkah kamu menghadapi masa depan dunia kerja?

Artikel Terkait