NIKMATNYA JADI OFF-SHORE NURSE di QATAR

“Dalam menjalankan pekerjaan, kita harus merasa nyaman ditempat kerja. Kita jauh-jauh ke negeri orang adalah untuk bekerja. Oleh karena itu, kita harus bisa menikmati pekerjaan kita secara proporsional dan tentunya profesional”

Sukartana Rusna

Saya adalah salah satu di antara puluhan perawat dan salah satu diantara puluhan ribu diaspora Indonesia yang bekerja Qatar. Saya yakin setiap profesi memiliki kisah perjalanan yang berbeda-beda. Setiap kisah pastilah memiliki keunikan masing-masing. Di balik setiap kisah pasti ada hikmah.

Suatu kehormatan buat saya, tim buku Qatar meminta saya untuk bisa berkontribusi dengan membagikan pengalaman menjadi PMI (Pekerja Migran Indonesia) di sektor kesehatan, khususnya sebagai tenaga perawat. Sebelum masuk ke cerita inti, ijinkan saya memperkenalkan diri. Saya adalah Sukartana Rusna dan biasa dipanggil Tana. Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan nasional Qatar sebagai Offshore Nurse. Saya berkeluarga dan memiliki 2 anak cowok dan 1 cewek. Mereka tinggal bersama saya di Qatar sejak 2008. Sejalan dengan profesi saya sebagai perawat yang pekerjaan utamanya adalah merawat orang sakit, maka semboyan hidup saya adalah : sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Sebelum bekerja di Qatar, saya telah berkeliling pada hampir semua penjuru nusantara sebagai Rotating Paramedic. Keanekaragaman dan kekayaan negeri membuat saya kagum. Meski demikian, dalam hati saya ingin juga melihat indahnya dunia luar. Keinginan kuat itu membuat saya memberanikan diri untuk mengajukan kepada perusahaan awal tempat saya bekerja agar saya diberi kesempatan rotasi ke luar negeri seperti teman-teman lain yang sudah senior.

Permintaan saya disetujui dan saya akan ditempatkan pada offshore. Persetujuan manajemen untuk rotasi ke offshore tersebut menjadi titik tolak saya bekerja sebagai perawat keliling luar negeri. Saya merasa senang dan bersyukur berkesempatan kerja ke luar negeri sekaligus jalan-jalan gratis. Atasan saya menilai saya bisa bertugas di luar negeri dengan baik dan karena itu saya mulai terus dirotasi di luar Indonesia seperti di Malaysia, Singapura, Brunei, Australia, Jepang, Korea, India dan Rusia.

Bekal pengalaman saya di dalam dan luar negeri memuluskan jalan saya untuk berdiaspora ke Qatar. Saya sendiri termasuk satu dari sekian banyak WNI yang menikmati dan berbahagia bekerja di negeri yang dipimpin oleh Emir muda visioner yaitu Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. Salah satu alasan membuat saya menikmati bekerja di Qatar adalah terkait aspek finansial alias fulus. Dibanding bekerja sebagai perawat di tanah air dengan posisi dan level pekerjaan yang sama, gaji di Qatar dan negara Timur Tengah secara umum jauh lebih besar. Selain itu beberapa perusahaan juga memberikan paket bagus dalam kontraknya yakni; family status, tunjangan pendidikan sampai empat anak, asuransi kesehatan dan bebas pajak penghasilan. Yang tidak kalah menariknya adalah kemudahan melaksanakan umrah dan haji dari Qatar.

Saking asyiknya menikmati Qatar, baru terasa kalau saya telah telah belasan tahun tinggal di negeri ini. Tapi ini tidak berarti saya lupa kampung halaman. Justru sebagai Offshore Nurse saya punya banyak waktu untuk bisa sering pulang ke tanah air. Jadwal kerja saya on-off 7/7, yaitu 7 hari kerja penuh dan 7 hari istirahat. Otomatis saat off saya bisa pulang. Saat off ini saya manfaatkan pulang kampung; selain untuk menengok orang tua, juga melanjutkan pendidikan saya.

Alhamdulilah saat di Qatar, saya dan teman-teman perawat berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan, Profesi Ners dan juga Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Saat menulis pengalaman ini saya juga sedang menempuh pendidikan Magister Keperawatan di salah satu Institut Ilmu Kesehatan di Jawa Timur.

Banyak cara yang dilakukan PMI agar betah di perantauan. Diantaranya ada yang bergabung dalam komunitas hobi, profesi, olahraga dan sebagainya. Begitu juga saya. Untuk membuat hidup lebih dinamis, berwarna, berarti serta memberi manfaat bagi orang banyak, saya ikut aktif pada setiap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat ataupun KBRI.

Aktivitas saya di bidang profesi keperawatan, misalnya, pernah menjadi sekretaris II di PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) tahun 2012-2017 dan terpilih menjadi ketua Dewan Pengurus Luar Negeri PPNI Qatar Qatar periode 2017-2022.

Dibawah payung Dewan Pengurus Luar Negeri PPNI Qatar, saya banyak melakukan kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat seperti aktif memberikan penyuluhan, pelayanan pemeriksaan kesehatan di shelter KBRI, mengirimkan anggota PPNI Qatar untuk standby sebagai tim medis jika ada acara olah raga, public gathering, camping dan kegiatan-kegiatan lainya.

Sebagian kegiatan masyarakat yang saya komandoi

Para tokoh masyarakat dan sesepuh WNI di Qatar menilai saya sebagai sosok yang aktif dan suportif untuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Saya sering ditawari untuk masuk ke kepengurusan dan kepanitiaan di berbagai kegiatan. Saya pernah dipercaya menjadi Ketua Tim Haji Qatar, Ketua Panitia Safari Ramadhan, Ketua Panitia Musabaqah Tilawatil Qurán dan sempat dicalonkan menjadi ketua Permiqa. Di bidang olahraga bola saya diamanahi menjadi Manager Garuda South of Qatar (GSQ FC) sejak 2017 hingga sekarang.

Dalam menjalankan pekerjaan, kita harus merasa nyaman ditempat kerja. Kita jauh-jauh ke negeri orang adalah untuk bekerja. Oleh karena itu, kita harus bisa menikmati pekerjaan kita secara proporsional dan tentunya profesional. Sebagai orang yang pernah berpindah-pindah kerja, saya menjadi orang yang bisa cepat beradaptasi dilingkungan baru. Tiap negara, tiap tempat mempunyai style dan cara kerja masing-masing, yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan setempat serta karakter penduduknya.

Bagi pekerja pendatang seperti saya, dalam pengamatan saya adalah tidak mudah untuk mengalami penjenjangan karir. Hal ini bisa dimengerti, karena posisi-posisi tertentu dan vital memang diutamakan untuk penduduk lokal. Di Qatar, kita mengenal program Qatarisasi. Sebagai pendatang, kita harus bekerja secara profesional, menghormati kebijakan lokal, taat dan patuh kepada atasan serta pandai menjaga citra positif sebagai perawat Indonesia.

Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya kalau di kemudian hari ternyata saya berprofesi sebagai perawat yang tidak berkecimpung di rumah sakit. Saya geluti dunia kerumah-sakitan hanya saat masih sekolah dan training. Jalan yang cocok bagi saya ternyata menjadi perawat Prehospital Care in Industrial setting. Mungkin ini hikmah besar buat saya ketika saya tidak jadi berangkat ke UEA and UK pada waktu lampau. Karena mereka yang lulus interview waktu itu akan bekerja di hospital setting.

Awal masuk Qatar, saya bekerja sebagai ambulance nurse. Namun lagi-lagi saya selalu ingin sesuatu yang baru dan alhamdulilah kesempatan itu ada, yaitu lowongan untuk Senior Offshore Nurse. Pengalaman saya selama beberapa tahun sebagai Rotating Paramedic dan First Aid Instructor memuluskan jalan saya menjadi Senior Offshore Nurse di Qatar. Saat itu saya bersaing ketat dengan perawat dari negara lain seperti Philippine, India, Jordan dan negara-negara teluk lainya.  

Alhamdulillah saya merasa telah melakukan usaha maksimal dalam hidup, yang dibantu teman-teman dan doa dari orangtua sangat luar biasa. Karir awal saya di Indonesia sebagai Rotating Paramedic dan First Aid Instructor ternyata bersambung. Saat itu saja saya merasa sangat senang karena memiliki waktu buat keluarga.

Nikmat dan kesenangan ini kemudian berlanjut hingga kami sekeluarga berlabuh di Qatar. Sungguh, kami sangat bersyukur kepada Allah SWT atas semua nikmat ini. Hanya karena ridha-Nya lah impian kami semua ini dapat terwujud.

Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudara sebangsa, setanah air yang merencanakan berdiaspora sebagai PMI. Semoga catatan seorang Offshore Nurse ini dapat menjadi informasi berguna dan memberi warna bagi dunia PMI, saat ini maupun saat mendatang.

Sumber Buku Mutiara Inspirasi dari Qatar

Artikel Terkait