REZEKI TAK AKAN TERTUKAR

Ir. Alex Hanief Isyna – Sr. Reservoir Engineer, Qatar Petroleum

 “…Mas Alex, tadi saya lihat di koran, hari ini ada interview untuk Reservoir Engineer. Orang Qatar lagi nyari, tuh”.

Seorang sahabat di suatu pagi bulan Februari 2002 mengabari via HP. Qatar, sebuah nama negara Arab yang sebenarnya masih agak asing di telinga pada saat itu, tidak seperti Saudi Arabia, Kuwait atau UAE (Abu Dhabi dan Dubai), tapi kedengarannya menarik. Setelah minta izin ke atasan, saya langsung menuju ke lokasi rekrutmen. Walau sekilas agak ragu karena belum mengirim lamaran sesuai iklan tersebut, tapi Bismillah, dicoba saja. Siapa tahu memang rezeki, jadi judulnya Go Show – tanpa perjanjian sebelumnya. Untungnya ada CV yang belum berapa lama sudah diperbarui.

Tak disangka, ternyata fasilitator bersedia memasukkan nama saya ke dalam daftar wawancara on the spot. Saya kemudian bertemu dengan tim dari Qatar Petroleum (QP) yang mencari beberapa orang profesional di bidang Subsurface migas. Mereka sekilas membaca CV dan mengajukan beberapa pertanyaan terkait bidang keahlian dan pekerjaan saya. Tiba-tiba .. “…So, when can you join us ?”.

Ini sebuah pertanyaan mendadak yang saya jelas belum siap menjawabnya karena menyangkut banyak hal. Terbayang wajah orang tua, saya belum minta izin dan restu dari beliau berdua. Terbayang istri dan anak-anak di rumah, mereka juga perlu ditanya, karena akan dibawa hidup di dunia yang berbeda. Saat itu tidak ada kenalan saya yang secara permanen bekerja di luar negeri, khususnya Qatar, kecuali beberapa kolega yang sedang menjalani overseas assignment di US dalam jangka waktu dua-tiga tahun dan kembali lagi ke Indonesia. Tapi ini sepertinya sebuah jalan yang terbuka untuk memenuhi impian saya selama ini. Berangkat haji bersama istri, kalau bisa di usia muda.

“How about July ? By then my kids will finish their school year insha Allah”. Hanya dalam hitungan detik, saya harus merespon dengan percaya diri. “Excellent, you will hear from our HR team soon”. Saya pun tersenyum dengan hati kecut. Itu sebuah janji yang harus saya tepati. Dengan perasaan campur aduk setelah itu saya menelepon istri di rumah, sekilas ia terdengar excited. Restu orang tua pun akhirnya saya peroleh setelah mengabari dan minta pandangan mereka.

***

“Alhamdulillah … akhirnya kita berangkat juga”. Saya menggenggam erat tangan istri ketika pesawat Qatar Airways take-off dari landasan terbang bandara Soekarno Hatta, di tengah malam akhir Juli 2003. Ya, kami sekeluarga akhirnya berangkat ke Qatar. Tapi setelah setahun lebih kemudian. Lho kok bisa ?

Seiring perjalanan waktu, setelah mendapat offer letter resmi dari QP di bulan Maret 2002, banyak peristiwa yang terjadi. Ini berdampak terhadap kesiapan saya untuk bekerja di luar negeri, meninggalkan orang tua dan keluarga besar kami, dan harus melepaskan peluang berkarir di tanah air. Beberapa kali saya harus mengabari HR QP untuk memundurkan rencana berangkat ke Qatar.

Pertama, sebulan setelah pertemuan dengan tim dari Qatar saya mendapat tugas dari tempat saya bekerja, ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI), untuk ke kantor pusat di Houston. Program ini sedikit banyak menghambat proses kepindahan saya. Kedua, tak lama kemudian mama saya mengalami stroke. Rupanya memang itulah jalan yang Allah kehendaki agar saya bisa rutin mengantar mama dan bapak ke rumah sakit untuk menjalani fisioterapi selama beberapa bulan ke depannya. Mama yang sudah agak membaik mengizinkan dan merestui kami berangkat ke Qatar. Alhamdulillah bapak dari awal sudah sepenuhnya mendukung saya, “Kesempatan belum tentu datang dua kali” begitulah ucapan bapak yang memberikan rasa optimis pada saya.

Bismillah, awal Juni 2003 saya memutuskan resign dari EMOI walau diiming-imingi untuk tetap tinggal. Tim HR QP segera saya kabari, tapi kali ini ada kejadian tak diharapkan. Respons berupa visa dan tiket penerbangan ke Qatar tidak kunjung datang. Hari-hari saya lalui dengan memeriksa email di rumah. Sehari, dua hari, sepekan, sampai pekan ketiga tidak ada kabar. Jangan-jangan tim QP berubah pikiran, karena saya sudah beberapa kali menunda keberangkatan.

Pekan keempat barulah berita itu datang, walau saya diomeli oleh staf HR. Mereka harus mengurus ulang visa kami sekeluarga setelah visa sebelumnya keburu habis masa berlakunya. Saya heran juga mengapa QP masih mau menunggu walau rencana kedatangan saya sudah diundur beberapa kali. Apapun itu, saya yakin kalau memang Allah berkehendak, rezeki itu tak akan tertukar. Maa syaa Allah, laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

Tahun-tahun awal di Qatar

Setibanya di Qatar, penginapan di hotel telah disiapkan untuk kami sampai beberapa hari hingga proses administrasi dengan tim HR selesai. Setelah medical check-up dan proses penandatanganan kontrak kerja, kami dipindahkan ke akomodasi perusahaan, Al-Bayyan Compound. Wah, saya mulai merasa menjadi expatriate dan baru tahu saat itu kalau QP adalah BUMN yang menjadi induk dari berbagai perusahaan industri migas di Qatar.

QP mengelola lapangan gas dan beberapa lapangan minyak milik Qatar baik di onshore dan di offshore. Alhamdulillah saya ditempatkan di Gas Field Development, cocok dengan bidang keahlian dan pengalaman saya bekerja di ExxonMobil selama 12 tahun. Waktu itu hanya saya sendiri orang Indonesia di departemen tersebut, namun saat ini sudah ada sepuluh warga Indonesia dari berbagai bidang keahlian. Selain Reservoir Engineer, juga ada Geologist, Geophysicist, Petrophysicist dan Data Analyst. Sepertinya manajer departemen kami menyukai tenaga ahli dari Indonesia karena kompetensinya, kooperatif, dan penuh integritas dalam menyelesaikan amanah pekerjaan. Ini juga terjadi di beberapa departemen lainnya.

Qatar dari segi geografis hanya negara kecil di antara beberapa negara teluk di Timur Tengah. Saat saya tiba di sini penduduknya hanya 750 ribu orang. Sepertiganya warga asli.

Banyak warga pendatang dari berbagai negara yang menetap dan mencari nafkah di negara Islam ini. Seiring dengan pembangunan Qatar yang sangat intensif di berbagai bidang, jumlah penduduk meningkat pesat hingga 2.6 juta jiwa di tahun 2020.

Departemen kami bertanggung jawab untuk mengelola aspek pengembangan reservoir dan produksi lapangan “North Field”. Sebuah lapangan gas terbesar di dunia yang menjadi aset utama negara Qatar. Lapangan ini terbentang dari sisi timur daratan Qatar hingga lepas pantai di wilayah negara tetangga, Iran. Menurut data dari International Energy Agency (IEA), total ukuran cadangan gas ini adalah 1,800 Tscf, yang meliputi wilayah negara Qatar dan Iran. Dari segi luas area, sebagian besar lapangan tersebut berada di wilayah Qatar.

Saking besarnya, lapangan gas ini dieksploitasi oleh beberapa operating companies. Departemen kami berkoordinasi dengan berbagai team ahli subsurface di perusahaan-perusahaan tersebut yang merupakan Joint Ventures antara QP dan beberapa International Oil Companies yaitu ExxonMobil, Total, Shell, ConocoPhillips, dan lainnya. Sebagai induk perusahaan dan pemegang saham terbesar, semua kepentingan jangka panjang negara Qatar terhadap lapangan gas ini menjadi tanggung jawab QP. Departemen kami mengelola semua aspek teknis reservoir management and surveillance terpadu dari North Field untuk kepastian long-term reservoir & well integrities serta menghasilkan keuntungan maksimal dan resiko minimal bagi Qatar.

 Impian yang terwujud

SPE family geological field trip (2004)

Dengan rencana ambisius Qatar untuk tetap menjadi leader di industri gas internasional, jelas kebutuhan akan tenaga ahli berkompeten sangat dibutuhkan hingga beberapa dekade ke depan.

Ini menjadi peluang bagi para profesional di tanah air untuk mengembangkan diri dan keahlian mereka, baik di QP dan juga di berbagai anak perusahaannya, dan dalam berbagai bidang pekerjaan.

Saat ini, tak terasa perjalanan saya berkarir di negeri orang sudah hampir 18 tahun. Semoga menjadi barakah bagi kami dan WNI lainnya. Alhamdulillah wa syukurillah.

Doha, 18 Desember 2020 (Qatar National Day)

Disclaimer: Data teknis di dalam tulisan ini berasal dari public domain.  Data tersebut bukan merupakan data rahasia perusahaan di tempat penulis bekerja. Narasi sepenuhnya mewakili pengalamanan pribadi dan opini penulis.

Buku Mutiara Inspirasi dari Qatar

Artikel Terkait
Kehidupan

Qatar Smart Country

Melalui program TASMU Smart Qatar, Ministry of Communications and Information Technology Qatar membangun kota berbasis teknologi! Upaya Program TASMU Smart

Read More »