TEKNISI RAJA RESTORAN

“Jangan berkecil hati, harus percaya diri, bila memiliki keinginan terus kejar, maju terus pantang menyerah.”

Lili Sutarli Momo

Cuaca Wakrah siang ini cukup terik, jarum jam menunjukkan pukul 11. Di balik pintu tergantung sebaris kata ‘OPEN’. Artinya restoran itu sudah siap menyambut para pengunjung untuk singgah. Rasanya tak lengkap jika tidak mengenal siapakah pemilik  di balik restoran bernama Tofu and Cake Restaurant. Semua warga Indonesia yang ada di Qatar pasti cukup mengenal restoran satu ini. Sebuah restoran yang menyediakan sajiannya berbahan baku tahu.

Pemilik restoran ini adalah seorang  pria asal Sunda bernama Lili Sutarli. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai karyawan salah satu perusahaan kimia di Qatar. Pak Lili berbagi kisah perjalanan karirnya hingga ia terjun mengembangkan usahanya di negeri Padang pasir ini.

Sebelum menjejakkan kakinya di Qatar, Pak Lili bekerja di sebuah perusahaan Petrokimia PT. PENI Cilegon. Di kesempatan lain  beberapa teman mengajaknya untuk melayangkan lamaran ke berbagai perusahaan yang ada di Timur Tengah.

“Iseng-iseng berhadiah,” ucap Pak Lili saat menuturkan kisahnya, baginya jika lamaran itu lolos maka akan menerimanya. Seandainya pun tidak, akan diterima seperti biasa kembali bersyukur menjalani harinya bekerja di perusahaan sama di Cilegon. Tiba juga kabar lamaran yang pernah ia kirim, menyatakan pria lulusan Sekolah Analis Kimia Bandung ini  lolos dan diterima sebagai teknisi laboratorium di  Qatar Chemical Company. Pak Lili tak menyangka bahwa lamaran yang iseng-iseng itu membawanya ke bumi Qatar. Dari 120 pelamar hanya 8 orang yang diterima dan salah satunya adalah Pak Lili.

Akhirnya pada bulan Agustus 2002 Pak Lili pindah ke Qatar bersama istri dan anak pertamanya bernama Muhammad Nurhilman yang lulus S1 Ilmu Komputer dari salah satu universitas ternama di Kuala Lumpur, Malaysia. Sekarang dia sedang kuliah di Leicester University di Inggris mengambil Data Science. Tiga putri berikutnya lahir di Qatar, Kamila Mujahadah, Hawa Khairunnisa dan Mazaya Diana.

Dua tahun menetap di Qatar pada tahun 2005 ia mengajak kedua orang tuanya untuk berkunjung. Tujuan Pak Lili mengajak orang tuanya untuk memperlihatkan bagaimana kehidupan  dan suasana selama bekerja di negeri Qatar. Hampir 6 bulan menetap di Qatar. Kedua orang tuanya pada bulan ke-3 mulai merasakan apa yang mungkin selama ini dirasakan oleh Pak Lili. Belum cuaca yang cukup ekstrim dan keadaan Qatar saat itu belum berkembang seperti saat ini, untuk memperoleh makanan khas Indonesia masih sulit. Apalagi kerinduan terhadap makanan khas Indonesia khususnya tahu. Berhubung Orang tua Pak Lili merupakan pembuat dan penjual  tahu saat di Indonesia, maka tak heran jika akhirnya mereka mencoba membuat tahu sendiri dengan bermodalkan bahan baku yang tersedia Di Qatar.

Hasil buatan tahu kedua orang tuanya sangat disenangi para tetangga Pak Lili. Awalnya para tetangga mendapatkan buatan orang tua Pak Lili secara cuma-cuma. Lama kelamaan banyak warga Indonesia yang ingin membeli produk tahunya, akhirnya Pak Lili menjadikan produknya ditekuni menjadi  usaha Industri rumah tangga.

Saat itu pangsa pasarnya masih terbatas warga Indonesia. Namun di tahun 2012 usahanya membuahkan hasil. Pak Lili dibantu istrinya, Ibu Ani Susanti membuka restoran di Doha (Gambar 1).

Gambar 1 – Berfoto di Restoran Tofu & Cake Doha

Sebuah usaha tidak ada yang namanya instan pasti membutuhkan proses. Begitu pun apa yang dirasakan oleh Pak Lili bersama Bu Ani saat pertama kali mengurus proses pendirian restoran. Bermula dari mengikuti sebuah seminar “Cara Gila Jadi Pengusaha” memberikan ide dan inspirasi untuk membuka usaha. Kesimpulan yang mereka ambil dari seminar tersebut, ”Harus berani, harus coba segera.” Maka mereka langsung mencari tahu cara mendapatkan ijin usaha dan mencari lokasi usaha.

Memulai usaha di Qatar tidak mudah. Ada beberapa prosedur yang harus dipenuhi dan itu semuanya prosesnya panjang, karena melalui beberapa departemen yang ada di Qatar. Akhirnya disetujui juga oleh pemerintah Qatar. Segala sesuatu telah diatur oleh pemerintah Qatar mulai dari lokasi, luas minimum ruangan, keamanan dan kebersihan dapur. Termasuk letak papan nama restoran dan kesehatan pegawai pun harus sesuai aturan yang berlaku.

Kerja keras dan peluh yang telah dirasakan pasangan suami istri ini terbalas dengan usahanya menjadi berkembang. Pada tahun 2015 membuka cabang restoran yang ke-2 di lokasi Barwa (Gambar 2). Hampir tiga tahun kedua restoran berjalan lancar akhirnya melahirkan restoran cabang baru pada tahun 2018 di Souq Waqif di Wakrah (Gambar 3). Daftar makanan pun semakin bertambah dan beragam tak hanya berbahan baku tahu saja. Pangsa pasar pun meluas tidak hanya warga Indonesia, bangsa lain yang ingin menikmati makanan cita rasa Indonesia pun mulai mengunjungi restorannya.

Gambar 2 – Lili Sutarli di Depan Restoran Tofu & Cake Barwa

Gambar 2 – Restoran Tofu & Cake di Souq Wakrah

Ada pepatah bijak “Di balik kesuksesan seorang suami ada istri yang hebat mendampingi.” Pak Lili dengan wajah semringah menuturkan bahwa dirinya merasa beruntung bahwa istrinya, Bu Ani yang pernah menjadi pengajar di Sekolah Analis Kimia-Serang ini  berani dan mau memulai serta mengelola usaha dengan baik hingga maju seperti ini.

Kepada diaspora Indonesia di mana saja, Pak Lili berpesan, “Jangan berkecil hati, harus percaya diri, bila memiliki keinginan terus kejar, maju terus pantang menyerah.”

Demikian pula Bu Ani yang dari tadi mendampingi suaminya saat diwawancarai berpesan, “Bila mempunyai tujuan, cita-cita harus dimulai, dijalankan lalu dipertahankan karena bila tidak dimulai, hanya rencana saja, tidak akan sampai pada tujuan.”

“Alhamdulillah saya tidak pinjam uang hanya menyisihkan uang yang ada sebagai modal usaha,” tuturnya.

SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

Artikel Terkait