“Niat yang tulus, persistensi dalam berusaha, jujur, terhadap majikan, menunjukkan hasil kerja, kemampuan beradaptasi di lingkungan yang berbeda, jeli melihat peluang, serta tentunya kerja keras adalah kunci sukses dalam menghadapi tantangan merantau di negeri orang”

Ibu Maryam binti Sahar Kumari
Namanya Ibu Maryam binti Sahar Kumari, biasa dipanggil Bu Maryam Iranian. Beken di kalangan komunitas Indonesia di Doha, Qatar karena memiliki usaha rumah makan masakan Indonesia yang tentunya menjadi tempat favorit untuk bertemu (meeting point) sesama warga Indonesia di perantauan, baik hanya untuk bersilaturahmi maupun mengobati rasa kangen dengan cita rasa masakan tanah air, khususnya kuliner sate yang cukup terkenal di Doha.
Nama restonya-pun unik, Iranian Desert, cukup besar dengan 9 pegawai, menjual makanan dan masakan ala Nepal, Arab, dan tentunya Indonesia. Menurut si empunya, nama ini dipilih sebenarnya karena meneruskan izin pengelolaan rumah makan dari pemilik sebelumnya, daripada mengurus izin baru yang akan memakan waktu. Namun seiring berjalannya waktu, nama ini menjadi trade mark masakan yang variatif, segar, cocok di lidah, dan diterima oleh khalayak penikmat kuliner di Doha. Menurut Bu Maryam, banyak pula pelanggannya yang menyukai masakan Indonesia walaupun berasal dari negara lain.
Kisah perantauan ibu asal Pasuruan, Jawa Timur ini memiliki pola seperti kebanyakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) lainnya pada mulanya, tetapi berkat keinginan untuk lebih mengembangkan diri dan mandiri, maka perjalanan hidup selanjutnya berbeda dari yang lain. Kisah Maryam dimulai ketika masih berusia belasan. Maryam remaja berkeinginan kuat agar bisa mandiri, membantu, dan membahagiakan kedua orang tuanya. Sebagai anak pertama dari 3 bersaudara dan hidup kurang berkecukupan, dia merasa mempunyai tanggung jawab lebih untuk masa depan keluarga dan adik-adiknya yang lebih baik.
Maryam berpikir, dengan latar belakang tingkat pendidikannya yang terbatas dan tidak lulus SD (hanya sampai kelas 3) dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, bekerja di luar negeri akan dapat memberikan taraf hidup yang lebih baik dikarenakan gaji atau kompensasinya lebih tinggi dibanding pekerjaan sejenis di dalam negeri. Apalagi ada salah satu tetangganya yang cukup berhasil setelah bekerja di luar negeri, menjadikannya motivasi dan contoh untuk ditiru.
Seperti kebanyakan calon PMI, Arab Saudi menjadi tujuan utama Maryam remaja. Banyaknya warga Indonesia di sana serta “bonus” bisa berhaji dan umroh menjadi daya tarik utama. Maryam harus bolak-balik Surabaya – Jakarta untuk mengurus proses keberangkatannya sebagai calon PMI. Singkat cerita, Maryam berhasil berangkat ke Saudi pada tahun 1983 dengan bantuan perusahaan jasa penempatan PMI di Jakarta Selatan dan awalnya menjadi asisten rumah tangga pada salah satu keluarga Saudi di kota Jeddah.
Seperti diketahui, cerita para PMI di Arab Saudi memang banyak dibumbui kisah tidak sedap, muli dari penipuan, kekerasan fisik, pemerkosaan, sampai dengan hukuman gantung. Namun nasib baik, mungkin akibat niat bekerja tulus dan sifat-sifat baik yang dimilikinya, Maryam memperoleh majikan yang baik dan mendukungnya. Walaupun berganti majikan, “Alhamdulillah” ucapnya, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan yang kurang baik. Bahkan di sela-sela kewajibannya, Maryam bisa menambah skills dan keterampilan melalui beberapa kursus tambahan, seperti salon kecantikan, professional cleaning, dan lainnya.
Di Saudi-lah dia menikah dengan sesama warga Indonesia. Mungkin karena tidak jodoh, pernikahan ini tidak bertahan lama. Selanjutnya Maryam bertemu dan berjodoh dengan Hari, pria asal Nepal yang bekerja sebagai ground handling di bandara Jeddah. Keduanya memutuskan membina rumah tangga bersama dan Maryam berhenti dari pekerjaannya sebagai pekerja domestik. Dengan bekal keterampilan yang didapatkannya dulu, dia membuka salon kecantikan di Jeddah. Tak terasa kehidupannya di Arab Saudi, dengan suka dan dukanya plus ibadah haji dan umroh, bertahan selama 22 tahun, suatu periode yang tidak dia bayangkan sebelumnya.

Nasib membawanya ke Qatar ketika suaminya mendapatkan tawaran pekerjaan di bandara Hamad, Doha tahun 2005. Di masa itu Qatar sedang berkembang pesat dan menjanjikan sesuatu yang baru, serta kompensasi yang lebih kompetitif. Mereka memutuskan untuk pindah dan menjalani tantangan baru di Doha.
Maryam kembali membuka bisnis salon untuk membantu finansial keluarga serta sebagai tambahan kesibukan dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga. Namun usaha ini kurang cocok ternyata baginya di sini. Sempat berganti ke usaha toko pangan (grocery), akhirnya Maryam lebih serius menekuni usaha makanan dan restoran, didukung oleh hobinya memasak.
Dengan pengaruh masakan suaminya, pada awalnya Maryam membuka restoran masakan Nepal. Di samping itu, jumlah perantau asal Indonesia masih sangat sedikit di Qatar. Nama Kathmandu Kitchen pun dipilih agar merepresentasikan masakan ala pegunungan Himalaya ini. Restorannya sempat berganti tempat dan nama sampai 4 kali seiring berjalannya waktu.
Komunitas warga Indonesia kemudian tumbuh dan bertambah jumlahnya seiring dengan meningkatnya perekonomian dan sektor energi di Qatar. Iranian Desert diakusisinya pada tahun 2017 dan menjadi restoran terakhir-nya sampai saat ini, yang konsisten menyajikan masakan dengan beragam cita rasa. Strategi ini cukup berhasil dimana konsumennya datang dari berbagai kalangan dan kebangsaan. Kalau pagi dan siang, restonya banyak dikunjungi warga Arab dan lokal yang akan sarapan ataupun makan siang. Jika sore dan malam tiba, resto-nya ramai dengan warga Indonesia yang nongkrong sepulang kerja ataupun untuk makan malam bersama keluarganya.

Niat yang tulus, persistensi dalam berusaha, jujur, terhadap majikan, menunjukkan hasil kerja, kemampuan beradaptasi di lingkungan yang berbeda, jeli melihat peluang, serta tentunya kerja keras adalah nilai-nilai yang dianut oleh Bu Maryam sepanjang perjalanan hidupnya dan bisa dikatakan adalah kunci suksesnya dalam menghadapi tantangan merantau di negeri orang dan dapat bertahan lama sebagai ekspatriat, melebihi ekspektasinya sendiri.
Secara total, Bu Maryam sudah tinggal dan bekerja di Timur Tengah selama 37 tahun.
Ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi pembanding bagi generasi Indonesia yang lebih muda.

Di mana seorang wanita, sendirian, latar belakang pendidikan terbatas, dapat berusaha untuk mencari penghidupan yang lebih baik serta bermanfaat baik bagi dirinya, keluarganya, maupun masyarakat, melalui usaha kerasnya dalam bekerja, dalam hal ini di luar negeri.

Doha, 3 Januari 2020 – Interviewer: Muhammad Yusuf, Penulis: Sigit Hadiawan
SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

















