CERITA PMI DI QATAR : DIASPORA PERTAMA DI QAFCO

Ir. Aldi Pranajaya Johor Ning, MSc.

Nama saya Aldi, lengkapnya Ir. Aldi Pranajaya Johor Ning, MSc.  Sejak tahun 2001 hingga sekarang, saya bekerja di Qatar Fertilizer Company (QAFCO),  sebagai Environmental Specialist.  

Pada saat menerima permintaan dari PERMIQA (Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar) untuk menyumbang tulisan berkenaan dengan kiprah saya sebagai salah satu diaspora pertama yang bekerja di Qatar Fertilizer Company (QAFCO), yang terlintas adalah kenangan 19 tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di Doha.  

Kenapa Qatar dan kenapa QAFCO? Pertanyaan ini mungkin sulit untuk dijawab, kenapa harus ke Qatar, bukan ke negara lain yang mungkin lebih dekat, atau memiliki budaya mirip seperti Malaysia, atau sekalian ke Eropa.

Jawaban sederhananya adalah, memang sudah takdir nya untuk berkiprah di Timur Tengah, dalam hal ini Qatar.  Jujurnya, saat itu saya tidak pernah mendengar nama negara Qatar, dimana lokasi geografisnya, seperti apa iklimnya, dan adat kebiasaan orang-orangnya.

Sampai saat keberangkatan, saya masih belum mampu membayangkan seperti apa Qatar, memprediksi apa yang akan saya hadapi di sana, dan banyak pertanyaan lainnya.

Kilas balik ke masa awal, 20 tahun yang lalu tepatnya.

Saat itu tahun 2000, sekitar bulan Juli atau Agustus, saya membaca iklan lowongan pekerjaan di koran Kompas, dimana salah satu perusahaan milik Qatar, QAFCO (Qatar Fertilizer Company) berencana merekrut tenaga kerja dari Indonesia, salah satunya untuk posisi Environmental Engineer, bidang yang telah saya geluti selama delapan tahun di industri migas.  

Hal ini menarik perhatian saya, mempertimbangkan pengalaman kerja yang telah saya miliki selama 8 tahun di zona upstream sektor Migas (Eksplorasi & Produksi), untuk merambah lebih jauh ke zona downstream, dalam hal ini adalah industri pupuk kimia yang merupakan derivatif atau produk turunan dari industri gas. Sangat menarik membayangkan dengan pindahnya saya bekerja di perusahaan seperti QAFCO, akan melengkapi pengalaman kerja yang saya miliki di industri migas, mencakup zona upstream dan downstream.

Masih teringat saat pertama kali mengirimkan lamaran ke agen pencari tenaga kerja yang memasang iklan di koran Kompas tersebut, hanya didasari oleh niat untuk melihat apakah profesional seperti saya, yang tidak memiliki pengalaman kerja di Industri pupuk, masih mampu untuk bersaing di pasar internasional.  

Saat itu saya masih merupakan karyawan aktif di Santa Fe Energy Resources Ltd., salah satu perusahaan minyak dan gas bumi milik Amerika, yang beroperasi di Indonesia, dengan wilayah konsesi di Sorong (Irian jaya), Tuban dan Jambi. Bersandar kepada niatan untuk melengkapi pengalaman yang saya miliki, dan impian saya untuk menjadi seorang pekerja profesional di bidang Lingkungan Hidup, spesialisasi di industri Migas, memberikan dorongan kuat untuk mencoba mengajukan lamaran.

Tahapan demi tahapan proses rekrutmen saya lalui, dan akhirnya pada tanggal 27 September 2001, saya berangkat menuju Qatar. Tepat jam 20:00 waktu Qatar (atau jam 12:00 dini hari tanggal 28 September 2001, waktu Indonesia), pesawat Kuwait Air yang saya tumpangi dari Jakarta mendarat di bandara internasional Doha.  Itulah saat pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota Doha, ibukota negara Qatar, bersiap untuk menghadapi babak baru dalam karir dan kehidupan saya.

Draft pengurus KOMIQ 2014-2016

Sesuai dengan SOP QAFCO, dalam menyambut kedatangan karyawan barunya, setelah melalui pemeriksaan Imigrasi, tim QAFCO, diwakili oleh Human Resources Officer nya sudah menunggu di luar, untuk menyambut kedatangan dan mengantarkan saya ke akomodasi yang telah disiapkan.      

Di awal bekerja di QAFCO, berbagai kendala harus dihadapi, menuntut kami untuk bersikap profesional dan mengasah kemampuan untuk cepat beradaptasi, hal ini hanya dapat kami atasi melalui kebersamaan. Banyak kendala yang tidak bisa kami atasi secara individual, memerlukan dukungan dari rekan lainnya, seperti kendala budaya, bahasa, selera makanan, dan perasan rindu rumah (home sick).  

Perlahan satu persatu kendala tersebut mampu kami atasi, seperti menjadikan acara kumpul bersama setiap malam sebagai rutinitas baru, sehingga dapat mengobati rasa home sick.  

Disamping itu juga dengan lebih sering berbaur dengan bangsa lain sangat membantu dalam upaya memahami tradisi lokal, di samping mengasah kemampuan berbahasa Inggris.  Bagi saya pribadi, satu hal yang menjadi kendala besar, yaitu kendala selera makan.  Saat itu lah baru saya menyadari betapa mahalnya tempe, tahu, indomie dan sambal.  

Pihak manajemen QAFCO terlihat telah mengantisipasi kendala bahasa ini jauh hari sebelum kedatangan kami ke Qatar, dengan menyiapkan program  pelatihan bahasa Inggris selama tiga bulan pertama bagi beberapa rekan diaspora Indonesia, yang diberikan oleh British Council.  Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kita berkomunikasi dalam bahasa Inggris, sehingga dapat mempersempit gap komunikasi yang mungkin muncul nantinya saat bekerja di lapangan.

Di awal periode bekerja di QAFCO, kita semua diaspora Indonesia berjumlah 19 orang, bekerja di beberapa bidang, mulai dari bagian maintenance, production, dan technical support.  Perlahan kita mulai berbaur dengan karyawan dari negara lain.  Kita mulai dikenal sebagai rekan kerja yang ramah, mudah senyum dan tidak pelit untuk berbagi pengalaman melatih anak-anak muda Qatar.  

Sikap ini menarik perhatian pihak manajemen, dimana di tahun 2002, QAFCO kembali merekrut karyawan dari Indonesia secara besar-besaran. Sejumlah 110 karyawan di rekrut dan bergabung di kuartal terakhir tahun 2002, dimana sebagian besar dari mereka bekerja di bagian Production untuk mempersiapkan commissioning train baru, QAFCO 4 plant Amonia dan Urea terbesar di dunia (sebelum disusul oleh Saudi Fertilizer Company (SAFCO).  Satu hal yang membanggakan, commissioning QAFCO train 4, dilakukan oleh diaspora Indonesia.  

Rekrutmen terus berlanjut hingga QAFCO membangun train 5 dan 6.  Dapat dikatakan kedua train ini dioperasikan oleh diaspora Indonesia, mulai dari bagian Plant maintenance, Production, Safety, dan Environment, sampai ke bagian Inspection dan Laboratorium.  Saat ini, diaspora Indonesia di QAFCO tersebar merambah ke departemen lainnya seperti IT, Medical, Procurement, Accounting dan juga Human Resources.

Selama 19 tahun saya berkiprah di QAFCO, banyak prestasi yang telah saya capai secara individual, yang mungkin dapat saya sampaikan untuk sekedar memotivasi rekan lainnya bahwa “kita bisa”, dan “kita tidak berada di bawah bangsa lain”.  

Selama bekerja di HSEQ Department, saya berperan banyak dalam membangun sistem informasi transportasi bahan berbahaya, mendesain sistem pemantauan lingkungan berkelanjutan.

Mendesain sistem manajemen informasi lindungan lingkungan dan merumuskan dan teknik penghitungan emisi karbon dioksida equivalent (CO2-eq) sebagai bagian dari pelaporan Greenhouse Gas.

Gas dari proses pembakaran gas untuk boiler, yang saat ini dijadikan acuan  teknis dalam penyusunan laporan emisi gas CO2 di QAFCO.

Demikian sekelumit sharing pengalaman dari saya selama berkarir di QAFCO, yang mungkin dapat menjadi inspirasi, dan memotivasi generasi-generasi muda selanjutnya untuk membantu dalam pengambilan keputusan berkarir di luar negeri.  

Sumber : Buku : “Mutiara Inspirasi dari Qatar”

Artikel Terkait