CERITA PMI DI QATAR : “KAIFA” SEBUAH PERJALANAN MERAIH MIMPI

Bidin Bachrul Ulumuddin

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya Bidin Bachrul Ulumuddin, berasal dari kota hujan, Bogor. Saya ingin berbagi cerita tentang sejarah berdirinya Kaifa di Qatar, yaitu sebuah lembaga pendidikan non formal, tempat belajar mengaji anak-anak dan remaja Indonesia di Doha, Qatar.

Setelah lulus dari Teknik Perminyakan ITB, saya bekerja di sebuah perusahaan minyak, yaitu Triton Indonesia di Muara Enim, Sumatera Selatan. Setelah itu saya pindah ke Unocal Indonesia di Balikpapan, Kalimantan Timur. Saya bekerja di  Unocal selama 10 tahun, sebagai Petroleum Engineer.

Pada tahun 2002, saya mendapat panggilan dan tawaran dari Qatar Petroleum (QP). Awalnya saya ragu untuk menerima tawaran ini, karena saya tidak begitu mengenal Qatar.

Setelah saya diskusikan dengan keluarga dan juga konsultasi dengan beberapa teman, serta meminta doa dari orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk menerima posisi Petroleum Engineer yang ditawarkan di QP.

Saya tiba di Doha, Qatar pada tanggal 7 Juli, tahun 2002 bersama istri dan dua orang anak yang  masih berumur 8 dan 5 tahun.

Saya sempat menginap di Dubai karena penerbangan yang disediakan oleh di QP pada waktu itu adalah Emirate Airline. Waktu itu  Qatar Airways mungkin belum ada atau memang belum populer.

Setibanya di Bandara Doha, saya agak kaget karena udaranya sangat panas. Udara terasa kering dan membakar wajah. Ternyata pada waktu itu di Qatar sedang puncaknya musim panas.

Keadaan Qatar pada saat itu sangat jauh berbeda dengan sekarang. Bandara Internasional Doha terlihat kecil dan sederhana, berbeda jauh dibandingkan dengan Bandara Sepinggan Balikpapan, apalagi dengan Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Saya berkantor di kantor QP, Ras Abu Abood, sekantor dengan Pak Marwoto, yang sama-sama berangkat dari Unocal Balikpapan. Waktu itu tidak ada orang Indonesia selain kami berdua.

Mungkin karena orang Indonesia di Qatar masih jarang, saya sering disangka oleh bangsa lain berasal dari  Malaysia atau dari Filipina, bukan dari Indonesia.

Setelah beberapa tahun bekerja, alhamdulillah, saya mendapat pengakuan dan penghargaan dari Perusahaan. Saya mendapat kenaikan pangkat menjadi Senior Petroleum Engineer. Tugas saya adalah mengelola dua lapangan minyak di lepas pantai, lapangan Maydan Mahzam dan Bul Hanine Field.

Acara Awal Kaifa Silaturahmi Anggota Kaifa, 10 Juni 2005

Secara umum, saya tak ada masalah di dalam soal pekerjaan, yang mungkin ada  sedikit “concern” terhadap soal pendidikan untuk anak-anak. Agak susah karena terbentur dengan faktor bahasa. Tapi alhamdulillah, akhirnya anak-anak saya pun akhirnya masuk ke Qatar International School.

Bersekolah di sekolah “Internasional School” ada kekurangan  dan kelebihannya.

Kelebihanya adalah soal kurikulum internasional, sehingga mereka sudah terbiasa dengan dunia global, bercampur dan berbaur dengan bangsa lain. Sedangkan kekurangannya adalah dari segi pendidikan agamanya. Namanya juga “International School” harus mengakomodasi anak-anak dari berbagai negara, berbagai warna kulit dan bahasa serta agamanya, jadi penekanan terhadap pendidikan agamanya (Islam) sangatlah kurang. Hal itu terjadi pada anak-anak saya.

Setelah berjalan beberapa bulan, ternyata hafalan Al Quran anak-anak kelihatan menurun.

Untuk menghadapi masalah ini, terpaksa saya turun tangan sendiri. Maka saya ajari lagi anak-anak saya baca al Quran berikut hafalanya.

Namun karena pada waktu itu saya masih banyak urusan lain yang harus saya tangani, saya agak kerepotan dalam membagi waktu.

Kebetulan saya ketemu dengan dua orang ustadz, orang  Indonesia, yang bekerja sebagai muadzin di Doha. Maka saya percayakan pelajaran tambahan agama itu kepada beliau, terutama ustadz Fuad Hasan. Tiap sore saya harus menjemput ustaz Fuad untuk datang ke rumah, setelah beliau melaksanakan tugas azan zuhur dan kembali sebelum azan ashar.

Awalnya berjalan dengan baik dan lancar. Namun, selang beberapa lama, masalah mulai muncul. Hal ini, karena mungkin waktunya tidak tepat, sewaktu anak-anak masih terasa capek selepas pulang sekolah, sehingga mereka merasa ngantuk dan tertidur pulas, sebelum ustad datang kerumah. Saya pun tak bisa memaksakan kehendak, karena kondisi anak tidak memungkinkan, terasa capek dan mungkin bosan karena tidak ada teman.

Akhirnya saya membicarakan persoalan ini dengan ustadz untuk mencari jalan keluar.

Kalau di Indonesia akan sangat mudah mencari grup pengajian anak-anak, atau mendirikan TPA sendiri.   Di Qatar hal itu bukan hal yang mudah, apalagi kita sebagai pendatang baru yang belum tahu medan, banyak halangan dan keterbatasan. Mendirikan TPA itu hanya semacam mimpi saja. Mencari tempat untuk berkumpul, mencari pengajar untuk menjadi guru dan mengumpulkan anak-anak supaya mereka bisa mengaji bersama, itu hal-hal yang susah untuk dibayangkan. Apalagi warga negara Indonesia yang datang ke Qatar pada waktu itu masih sangat jarang. Kita pun belum mengetahui peraturan setempat.

Namun, lambat laun orang Indonesia yang datang ke Qatar, semakin hari semakin bertambah, sehingga menjadi banyak teman. Ternyata kerisauan saya dirasakan juga oleh teman-teman yang lain. Akhirnya kita sepakat untuk mengadakan rapat dan mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi bersama. Pada saat yang sama, ada beberapa teman yang kebetulan sempat punya pengalaman menangani TPA di Indonesia.

“Man Jadda Wajada”, disitu ada kemauan maka disitu ada jalan.

Alhamdulillah, akhirnya kami bersepakat untuk mengadakan suatu pengajian untuk anak-anak yang lebih terorganisir yang bernama Kajian Islam Anak Intensif Doha, dengan singkatan KAIFA. Singkatan kata yang agak di paksakan, supaya gampang diingat dan ada artinya.

Rihlah Keluarga Kaifa, 13 Desember 2014

Kami sepakat untuk sementara akan menggunakan rumah saya dan pak Marwoto yang kebetulan bersebelahan di sebuah kompleks. Namun alhamdulillah, setelah melalui konfirmasi lebih lanjut, kami mendapatkan tempat yang lebih baik dan lebih luas, yaitu di club house Al Jauhara Compound di daerah Al Sadd, Doha.

Akhirnya pada bulan Maret tahun 2005 kegiatan Kaifa resmi dimulai dengan peserta yang masih terbatas, sekitar 30 anak-anak dari kalangan pengurus dan para guru saja.  Teknis pelaksanaannya, kami membagi anak-anak dalam beberapa kelompok umur putra dan putri.

Alhamdulillah, kegiatan Kaifa mulai berjalan setiap Jumat dan Sabtu pagi. Anak-anak kelihatan senang dan bersemangat, karena akan berjumpa dengan teman-temannya sesama orang Indonesia dalam forum pengajian anak-anak, sehingga kebekuan dan kebosanan mengaji sendiri di rumah dapat dipecahkan.

bersama Prof BJ Habibi

Informasi tentang pengajian Kaifa ini, dari mulut ke mulut tersebar dengan cepat, sehingga kami kebanjiran para murid baru. Walaupun situasi serba terbatas, kami tidak bisa menolak para orang tua yang mau menitipkan anaknya untuk bisa mengaji di Kaifa, yang pada akhirnya Kaifa kelebihan murid, tidak sesuai dengan kapasitas tempat yang ada.

Atas kebaikan hati Bapak Abdul Wahid Maktub, Dubes Pertama RI untuk negara Qatar, Kaifa diperbolehkan pindah ke kantor KBRI di daerah Salata Jadid. Namun animo masyarakat Indonesia di Qatar untuk menitipkan anaknya ke Kaifa sangat tinggi, sehingga tetap saja kapasitasnya tidak mencukupi.

*

Pada tahun 2007, PERMIQA mendatangkan KH. Didin Hafidhuddin ke Qatar dalam rangka program safari Ramadhan dan kebetulan beliau menginap di rumah saya. Kesempatan ini saya gunakan untuk mendiskusikan keadaan WNI di Qatar, terutama soal pendidikan agama Islam untuk  anak-anaknya.

Alhamdulillah Pak Didin merespon dengan baik sehingga kami diperkenalkan dengan DR. Khalid Al Khandawi, yaitu sekretaris pribadinya Syaikh Yusuf Qaradhawi.

Alhamdulillah, kami bertemu dan berdiskusi dengan beliau.

Akhirnya  pengurus Kaifa diperkenalkan dengan Qatar Charity dan juga Qatar Guest Center. Dua lembaga lokal di Qatar yang menangani dakwah Islam di Qatar. Dari perkenalan kami dengan dua lembaga dakwah tersebut, alhamdulillah akhirnya kami mendapat fasilitas berupa gedung permanen milik Qatar Guest Center di daerah Souq Al Assiri. Gedung ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan gedung FANAR.

Di gedung tersebut kami diberikan fasilitas berupa lokal kelas untuk tempat belajar mengajar pengajian anak-anak setiap hari Sabtu pagi, dari jam 08:00 s/d jam 12:00 siang. Jumlah lokal kelas yang diberikan sebanyak 14 , 7 kelas untuk santri putra dan 7 kelas untuk santri putri. Jumlah murid aktif sekitar 250 orang, putra dan putri dengan rentang umur 3 tahun s/d 12 tahun. Sedangkan jumlah tenaga pengajarnya sekitar 26 orang, 10 guru putra dan 13 guru putri.  Mereka adalah para pengajar sukarela warga negara Indonesia yang berdomisili di Qatar.

Alhamdulillah kegiatan Kaifa diakui oleh manajemen Fanar sebagai salah satu kegiatan di bawah mereka. Sehingga secara legal formal tidak ada masalah dengan pemerintahan Qatar.

Bahkan beberapa kali kita mendapatkan anggaran dan biaya dari Fanar walaupun sifatnya tidak rutin.

Begitulah sekelumit sejarah mengenai KAIFA. Mudah mudahan KAIFA lebih baik dan lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung, baik para guru, orang tua, dan juga pihak Fanar.

Semoga hal ini menjadi amal jariah untuk kita semua.

Sumber : Buku “Mutiara Inspirasi Dari Qatar”

Artikel Terkait