
Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Pertama-tama izinkan saya memperkenalkan diri , Nama saya Ardiwan Zubir, saya lahir di Sawah Lunto, sebuah kota kecil penghasil batubara (dulunya)di Sumatera Barat pada 4 April 1967, masa kecil dan remaja saya habiskan di kota kelahiran saya itu. Saya berkeluarga, Alhamdulillah sekarang punya seorang istri dan 6 orang anak,4 perempuan dan 2 anak laki-laki.
Kehidupan merantau saya bermula di pertengahan tahun 1988 ketika saya diterima bekerja sebagai Laboratorium Teknisi di PT.Arun NGL Co, sebuah Perusahaan besar penghasil LNG utama Indonesia yg berlokasi di Lhokseumawe Aceh.
Menghabiskan 8 tahun masa kerja di Lhokseumawe akhirnya di pertengahan tahun 1996 saya dan keluarga memutuskan untuk menjelajah tanah perantauan yang lebih jauh yaitu Qatar, sebuah negeri yang pada tahun 90an belum banyak dikenal, termasuk saya. Qatar melalui perusahaannya Qatargas pada saat itu sedang membangun kilang LNG pertamanya dan mengirimkan dua orang stafnya untuk praktek kerja di Kilang LNG Arun, dan informasi mengenai rencana Qatargas untuk merekrut tenaga kerja dari PT.Arun mengusik keinginan saya untuk mencoba peruntungan.
Mungkin karena PT.Arun adalah kilang LNG pertama yg dibangun oleh Mobil Oil dan di Qatargas Mobil Oil juga memiliki saham,sehingga mereka tertarik untuk merekrut tenaga dari PT.Arun LNG.
Perjalanan merantau ke tanah gurun saya awali dengan mengikuti seleksi masuk ke Qatargas,pada September tahun 1995 yang berakhir dengan kegagalan dan walaupun saya sudah merasa berupaya maksimal termasuk usaha untuk mendapatkan dukungan moril dari keluarga dan lingkungan pekerjaan, yang memang belum sepenuhnya mendukung.
Alhamdulillah pada percobaan kedua saya mendapatkan hasil saya impikan.
Ada kejadian unik secara spontanitas saat menjalani interview dengan perwakilan Qatar Gas.Setelah menghadapi sesi tes tertulis,dilanjutkan dengan tes interview, pada moment menceritakan data pribadi, ketika interviewer bertanya tentang keluarga dan berapa jumlah anak, secara spontan saya menjawab “ I have one and half children”, si bule dengan sedikit terkejut melanjutkan pertanyaannya “What do you mean by one and half?”.
Saya menjawab “the other half still inside, my wife is pregnant for the second baby”, jawab saya sambil memperagakan perut orang hamil.
Ketika Qatargas mengadakan Recruitment Campaign kedua di awal Maret tahun 1996, saya ikut lagi seleksi penerimaan tersebut, ,karena keinginan kuat saya untuk merubah nasib, memberikan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak saya dan tekad untuk mewujudkan mimpi saya hidup dan berkiprah di luar negeri. Dan yang lebih penting agar bisa melaksanakan umroh dan haji karena jarak yang sudah begitu dekat dengan tanah Haram.

Ternyata yang datang dan melakukan test/interview adalah orang yang sama dengan interview sebelumnya, dua orang bule, yang satu warga Amerika dan satunya lagi adalah orang Perancis.
Saat bertemu, si bule yang orang Perancis langsung mengenali dan bertanya apakah anak saya sudah dua sekarang?, sambil bersalaman saya jawab yes, I have two daughters now.
Kemudian sesi test berlanjut hingga dengan urutan yg sama seperti tes sebelumnya, tes tertulis dan wawancara.Singkat cerita sebelum wawancara berakhir,Pak Bule yg orang Perancis memberikan kesempatan kepada saya untuk bertanya apa saja,tentang perusahaan atau tentang Qatar atau juga pertanyaan-pertanyaan lain.
Dengan sedikit mengumpulkan keberanian saya menyampaikan pertanyaan “Am I pass this test?” tanya saya tanpa berbasa basi.
Mendengar pertanyaan saya yang mungkin tidak terduga,beliau balik bertanya “ Why do you ask this question?”. Saya segera menjawab pertanyaan si Bule Perancis tsb “This is my second interview to try to join Qatargas, I failed in the first interview, if this time also fails, I promise to stop my attempt to work for Qatargas”.
Mendengar jawaban saya dia segera beranjak dari tempat duduknya sambal berkata “Wait the moment, I will discuss with my colleague”, dan meninggalkan saya beberapa waktu. Selesai si Bule berdiskusi dengan kawannya,dia kembali ke tempat duduknya sambil menyalami saya dan berkata “see you in Doha”, dengan perasaan yang masih tidak yakin saya terima salamnya sambil mengucapkan terima kasih atas jawaban kilatnya .
Hampir 3 bulan setelah interview tersebut akhirnya mimpi saya untuk bepergian ke luar negeri menjadi kenyataan,dengan Visa dan tiket ditangan pada tanggal 9 June 1996,saya bersama seorang kawan (Mohd Arif El Fuad ) yg juga dari PT.Arun terbang menuju Qatar menyusul kawan2 lain yg sudah lebih dahulu bergabung dengan Qatargas.
Total Hampir 30 orang Indonesia tahun 1996 itu diterima di Qatargas ,yang dijuluki sebagai pasukan berani mati oleh kawan2 di PT.Arun.

Kami mendarat di Doha International Airport pada tgl 10 June setelah melalui 2x transit di Kuala Lumpur dan Dubai.Ada sedikit terbesit rasa menyesal ketika melihat suasana bandara yg sangat kusam jauh beda dibandingkan bandara Polonia Medan saat itu, ditambah lagi dengan cuaca yang sangat panas dan lembab yg tidak kami sangka sebelumnya, serta sikap petugas bandara yang tidak ramah.
Saat itu juga saya baru menyadari bahwa mempunyai nama satu kata ternyata menyulitkan saya melewati gerbang imigrasi, karena saya harus tertahan lebih dari 2 jam untuk dapat izin masuk meskipun cuma punya nama yg satu kata. Akhirnya untuk memenuhi syarat 2 nama, di Resident permit,driving license sampai sekarang dicantumkanlah nama saya Ardiwan Ardiwan. Padahal asli nya cuma Ardiwan.
Di masa masa awal saya di Qatar, adalah masa yang penuh tantangan untuk bertahan mewujudkan mimpi-mimpi saya yang lain, kendala alam berupa cuaca yang sangat ekstrim perbedaannya, di musim summer bisa mencapai 45 derajat Celcius, dan dimusim dingin bisa turun mencapai 10 derajat Celcius dan tantangan perbedaan budaya yang juga saya rasakan sangat kontras bagi perantau luar negeri pemula seperti saya,belum lagi masalah komunikasi/Bahasa, apalagi harus berpisah dengan keluarga, walaupun sementara,semakin memperberat bobot tantangan,.
Dan semua kendala tersebut saya temui di lingkungan pekerjaan dan dan butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk bisa membaur dengan semua tantangan-tantangan tersebut.
Qatargas mulai berproduksi 6 bulan setelah saya bergabung,sekitar Desember 1996 dan Alhamdulillah setelah melewati rentang waktu 24 saya masih diberi kesempatan menyaksikan dan menjadi bagian dari perkembangannya sehingga menjadi perusahaan penghasil LNG terbesar di dunia saat ini.

Di sisi lain, kehidupan sosial saya selama merantau di Qatar juga penuh dengan pelajaran yang berharga. Di sini saya mendapat banyak kesempatan bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang hebat sesama perantau dari Indonesia, salah satu contohnya adalah saya sempat bekerjasama dengan Bapak Mahdi Musa dan 14 orang rekan lain dalam pendirian Supermarket dan Restoran Qatindo. Setelah beberapa lama saya dan rekan-rekan lainnya mengundurkan diri dari Qatindo tapi Alhamdulillah sampai saat ini supermarket rintisan pertama warga Indonesia di Qatar tsb masih tetap beroperasi dibawah kepemilikan Bapak Mahdi Musa.
Karunia terbesar bagi saya adalah kesempatan untuk melaksanakan umroh dan berhaji,dari Qatar sebelum tahun 2010 kami sangat mudah bisa menunaikan ibadah haji, karena kuota yang masih mencukupi,saya mendaftar untuk pergi haji pada tahun 2006 bisa berangkat pada tahun yang sama, setelah tahun 2010 sepertinya tidak semua yang mendaftar bisa diterima mungkin karena yg mendaftar jauh melebihi kuota.
Mudah-mudahan tahun ini kita bisa kembali melaksanakan ibadah haji dan umrah setelah lebih dari 3 tahun kita tidak bisa mendatangi tahan haram,Semoga Allah mengabulkan doa kita, Aamiin Ya Robbal Aalamiin.
Saya pernah aktif sebagai wakil ketua seksi olahraga PERMIQA, pada masa kepemimpinan Bapak Zainul Rahman (thn 2004-2006) dan ketua berikutnya Bapak Sukhyar Fahmi(2006-2008). Saya dipercaya sebagai ketua ISWI (Ikatan Sosial Warga Indonesia di Qatargas) periode 2018-2019.
Saya juga aktif di beberapa cabang olahraga seperti Bulutangkis, yang pada masa masa awal kedatangan warga Indonesia di Qatar merupakan olahraga yang sangat disukai sebagai penyaluran hobi kami. Bulutangkis pada saat itu menjadi salah satu wadah penting untuk kami saling bersilaturahmi di antara komunitas Indonesia.
Pada masa itu setiap Komunitas Indonesia mempunyai agenda turnamen bulutangkis, sehingga setiap tahun kami bisa berkumpul 3 sampai 4 kali untuk mengikuti turnamen-turnamen tersebut.
Dengan jarak tempuh yang cukup jauh (Al Khor Dukhan atau Al Khor – Messaid),seringkali pertandingan baru selesai hampir tengah malam tidak menghalangi antusias para pemain dan penonton untuk memeriahkannya. Dengan kesibukan dan prioritas yg berbeda serta tidak lagi ada dukungan perusahaan event tahunan tsb dengan pelan2 berhenti satu persatu, tapi sebagai permainan bulutangkis masih tetap digemari. Olahraga lain yang juga saya geluti adalah bersepeda,yang bermula sekitar 6 tahun yang lalu. Kami sesama penggemar sepeda sering melakukan gobar atau Gowes bareng menjelajahi gurun-gurun di seputaran Qatar, yang rasanya tidak akan mungkin kami lalui dengan kendaraan bermotor.
Inilah sedikit cuplikan pengalaman dan kiprah saya di Qatar selama hampir 25 tahun, Alhamdulillah puji dan syukur atas karunia Allah SWT, semua yang saya cita-citakan saat masih di Indonesia dulu satu persatu berhasil diwujudkan. Semoga saya masih bisa bertahan di sini dan dapat menyaksikan event besar Piala Dunia 2022, Insha Allah.
Sumber : Buku “Mutiara Inspirasi dari Qatar”

















