“Sejarah merupakan hal yang seringkali dipinggirkan dan tidak diminati oleh kebanyakan orang, akan tetapi hal itu bisa menjadi hal yang sangat penting dalam peradaban. Seringkali sejarah bisa menjadi penyemangat yang terus menyala di dalam dada sebuah bangsa, sejarah juga bisa menjadi hambatan dan halangan untuk kemajuan. Semuanya, tergantung bagaimana melihat dan bagaimana menyikapi dari sejarah itu sendiri”

Qatar, sebuah negara kecil di kawasan Timur Tengah, yang dulunya merupakan negara protektorat Inggris dan baru merdeka pada tahun 1971. Negara yang luasnya hanya 11.437 km 2 ini kaya akan sumber alam berupa gas alam dan minyak bumi. Bahkan Qatar menjadi exportir LNG (Gas Alam Cair) terbesar di dunia saat ini. Bagaimana Qatar yang sebagian besar berupa gurun pasir bisa menjadi negara maju dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia yang mencapai USD 130 ribu, sangat menarik untuk dipelajari.
Hal itu tidak lepas dari peran para ekspatriat, para pekerja dari berbagai negara di dunia yang turut andil dalam pembangunan negara Qatar. Dan tentunya tidak bisa dipisahkan dari peran serta pekerja migran Indonesia yang telah merambah Qatar sejak dekade sembilan puluhan. Pada waktu itu banyak pekerja Indonesia terutama dari Aceh yang menjalankan pabrik gas pertama kali di Qatar.
Dari keringat dan peluh generasi awal pekerja Indonesia ini, Qatar mulai dibangun menjadi penghasil gas LNG terbesar di dunia saat ini. Kisah ini dituturkan oleh tiga orang pekerja Indonesia yang sudah lebih dari 23 tahun tinggal di Qatar, yaitu Ismail, Yas Faisal dan Agri Sumara.
Pasukan Berani Mati
Pada tanggal 17 Agustus 1995, tepat di hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-50, Ismail menginjakkan kakinya pertama kali di Qatar. Datang berdua waktu itu dengan sesama pekerja dari Indonesia, ia merasakan panas teriknya Qatar di musim panas. Di Qatar hanya ada dua musim. Musim panas yang mencapai puncaknya di bulan Juli dan Agustus, serta musim dingin yang mencapai puncaknya di bulan Desember dan Januari.

Sembilan bulan kemudian tepatnya di bulan Maret 1996, datanglah rombongan besar pekerja migran Indonesia yang terdiri dari 22 orang dari PT. Arun dan 6 orang berasal dari PT. AAF, karyawan pupuk ASEAN di Lhokseumawe Aceh.
Mereka mendarat di satu-satunya bandara Internasional di Doha, ibukota Qatar.
Berada di puncak musim panas di Qatar berarti harus siap-siap menghadapi badai pasir dan suhu mencapai hampir 50o Celcius di siang hari. Sedangkan kalau pas musim dingin di bulan Desember atau Januari, suhu akan sangat dingin bisa mencapai 8o Celcius.
Rombongan awal pekerja Indonesia ini tadinya merupakan pegawai di PT. Arun di Lhokseumawe Aceh. PT. Arun merupakan anak perusahaan PT. Pertamina penghasil gas alam cair (LNG), yang pada tahun 1990 merupakan salah satu penghasil LNG terbesar di dunia. PT. Arun merupakan kerjasama Pertamina dengan Mobil Oil.
Sedangkan Pabrik LNG pertama di Qatar, shareholdernya juga Mobil Oil (Exxon Mobil), sama dengan di PT. Arun. Orang Kanada melakukan start-up pabrik LNG di PT. Arun, waktu itu ditugaskan di untuk start-up pabrik LNG di Qatar juga.
Karena itulah banyak tenaga ahli di PT. Arun yang direkrut juga untuk melakukan start-up pabrik di Qatar, sebagai expat sekaligus sebagai expert.
Itulah mereka bertiga menyebut diri mereka sebagai ‘pasukan berani mati’. Ketika itu PT. Arun sedang jaya-jayanya, dan mereka yang berangkat ke Qatar berarti berhenti dari PT. Arun dan siap menghadapi kondisi apapun. Saat mereka datang pertama kali di Qatar, penghasilan per tahunnya sama atau lebih rendah dibanding di Indonesia. Tantangan itu pun mereka hadapi dengan teguh, walaupun saat itu mereka belum tahu apapun tentang kondisi Qatar. Tentang perbedaan iklimnya, budayanya, sekolah anak-anak bahkan tentang makanannya.
Tapi mereka memberanikan diri meninggalkan tanah air yang penuh dengan keindahan alam pegunungan yang hijau, gemericik air sungai yang mengalir di sela-sela batuan, angin sepoi-sepoi yang seakan menemani kicauan burung murai di pepohonan, menuju sebuah negeri padang pasir yang tandus, panas, tanpa satupun sungai.
Bagi mereka itu adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa pekerja Indonesia mampu untuk menjadi profesional dan tenaga ahli yang diakui. Karena waktu itu kesan yang melekat kuat pada pekerja Indonesia, selalu tak lepas dari TKW (Tenaga Kerja Wanita) sebagai pekerja domestik rumah tangga atau TKI pekerja kasar.
Saat itu di Qatar banyak yang belum kenal dengan orang Indonesia. Sempat pada suatu saat ketika mereka makan di salah satu restoran di Doha, dikira sebagai TKI pekerja kasar, dan ditanya oleh penjualnya, “Beli ayamnya 1 potong atau setengah”. “Mendengar hal itu saya ketawa saja karena lucu” kenang Ismail. Sebuah pengalaman yang tidak terlupakan. Tidak mudah mengubah citra suatu bangsa dalam waktu singkat. Perlu perjuangan dan kesabaran.

Meskipun setelah beberapa lama, banyak orang Indonesia yang bekerja di sektor profesional di Qatar.
Tidak semua rombongan awal pekerja Indonesia tersebut bertahan dengan kondisi iklim yang ekstrim, berbeda kebudayaan dan jauh dari keluarga. Beberapa dari rombongan tersebut ada yang pulang sebelum mengenyam satu tahun tinggal di Qatar.
Terutama yang sebagian besar waktu pekerjaannya di lapangan. Apalagi saat itu ada yang belum bisa membawa keluarganya ikut serta. Ada yang kembali karena karena faktor sekolah, faktor orang tua dan lain sebagainya. Kondisi manajemen perusahaan termasuk Departemen Sumber Daya Manusia yang belum terstruktur rapi, membuat beberapa diantara mereka kesulitan membawa keluarga. “Penuh perjuangan. Baru setelah 6 bulan, keluarga bisa ikut ke Qatar”, tutur Ismail.
Apalagi uang sekolah anak-anak yang tidak dibayar penuh. Sampai banyak yang mau pulang karena hal itu. Akhirnya sedikit demi sedikit, perusahaan di Qatar berbenah diri.
Hal itu tak lepas dari kondisi perusahaan gas yang tadinya menggandeng British Petroleum, tapi tidak banyak berkembang. Sebagai gantinya, akhirnya menggandeng partner baru Mobil Oil dan membangun pabrik LNG pertama selama 2 tahun dari tahun 1994 sampai tahun 1996. Bisa dikatakan pabrik pertama LNG di Ras Laffan ini seperti duplikat dari kilang LNG di Arun, Aceh. Dan pada pekerja Indonesialah yang berperan besar dalam start-up pabrik LNG pertama di Qatar ini.
Ras Laffan merupakan daerah industri minyak dan gas yang terletak sekitar 80 km di utara Doha. Di tahun 1996, hanya ada 1 jalan darat dari Doha menuju Ras Laffan, yaitu lewat Shamal Road. Kondisi jalan belum semulus sekarang. Karena akomodasi waktu itu hanya ada di Doha, maka setiap hari mereka harus mengendarai mobil atau naik bus bolak-balik Doha-Ras Laffan dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Jalan Shamal road waktu itu masih belum rata, banyak gelombang. “Naik bus terasa seperti sedang naik kuda”, ujar Yas Faisal sambil tertawa. Baru pada tahun 1998, mereka bisa pindah ke Al-Khor, sebuah kota yang berjarak sekitar 30 km di selatan Ras Laffan, dengan akomodasi yang disediakan oleh perusahaan.
Doha, ibukota Qatar, sebuah kota modern yang saat ini banyak menjulang gedung-gedung pencakar langit, saat itu hanyalah seperti sebuah kota kecil dengan hanya satu bangunan tinggi, Hotel Sheraton. Infrastruktur masih minim, tidak ada universitas, serta kondisi ekonomi dan perdagangan juga belum semaju sekarang. Jauh apabila dibandingkan dengan kondisi saat ini segala macam buah dan makanan dari berbagai negara tersedia di hampir tiap supermarket dan bakala (toko kelontong).
Ketika awal-awal di Al Khor, hanya ada satu supermarket. Itupun kalau hari Jum’at mereka tidak bisa sendirian ke supermarket, karena diperuntukan hanya untuk keluarga. Hari libur di Qatar berbeda dengan Indonesia yang libur di hari Sabtu dan Minggu. Di Qatar, sebagian besar pekerja yang tidak kerja shift libur pada hari Jum’at dan Sabtu. Sedangkan untuk buruh, rata-rata hanya libur di hari Jum’at saja. Sabtu sebagian mereka masuk kerja. Sehingga hari Jum’at banyak sekali para buruh yang libur dan pergi ke keramaian. Untuk lebih menjamin keamanan terutama wanita dan anak-anak, beberapa tempat seperti supermarket, Corniche dan Souq Waqif (pasar tradisional yang menjadi tempat wisata), di jam-jam tertentu dibatasi hanya untuk keluarga saja.
Bagi orang Indonesia, tidak adanya toko yang menjual mie instan, kecap apalagi tahu dan tempe, membuat rasa kangen terhadap tanah air selalu menyeruak di hati sanubari mereka.
Barulah pada tahun 2000an, mulai ada warga Indonesia yang membuat tahu dan tempe.
Di tempat yang jauh dari tanah air seperti ini, tahu dan tempe menjadi makanan mewah yang “ngangenin”.
Makanan utama penduduk di Qatar selain nasi adalah roti kubus. Kubus yang kadang disebut juga khubooz atau khubz, adalah roti Arab yang berbentuk bulat. Kubus ini biasa dimakan dengan hummus (semacam krim campuran kacang, minyak zaitun, wijen, dan bumbu lainnya) dan daging. Bagi orang Indonesia banyak yang merasa makan akan kurang lengkap kalau tanpa sambal. Cabai, sebagai bahan bahan dasar sambal, masih diimpor dari Mesir dan Belanda. Cabai yang berwarna hijau ketika sudah berwarna merah dianggap sudah busuk dan tidak laku dijual. Karena tahu orang Indonesia suka cabai, saat belanja di bakala mereka sering dikasih cabai merah tersebut sebagai bonus.
Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh para pekerja Indonesia saat itu adalah komunikasi dengan keluarga di tanah air. Ooredoo yang saat itu masih bernama QTEL merupakan satu-satunya operator telekomunikasi yang ada di Qatar. Pada tahun 1996an penggunaan handphone belum marak. Masih banyak tersedia telepon umum dengan menggunakan kartu. Biayanya juga cukup mahal, QAR 100 untuk 7 menit, atau sekitar USD 3.91/menit. Jadinya banyak yang menelpon keluarga di Indonesia hanya sekali sepekan. Setelah sholat Jum’at merupakan waktu favorit untuk menelpon Indonesia, karena dengan perbedaan time zone antara Qatar dan Indonesia yang 4 jam, harus janjian dulu sebelum menelepon, atau keluarga di tanah air memang sudah menunggu-nunggu telpon dari Qatar.

Dengan berjalannya waktu, semakin banyak pekerja profesional Indonesia yang bekerja ke Qatar. Saat ini lebih kurang 480 karyawan Indonesia yang berasal dari Sabang sampai Merauke beserta keluarganya tinggal di Al Khor Community, sebuah komplek besar perumahan untuk karyawan Qatar Gas. “Diaspora Indonesia yang tinggal di Al Khor community merupakan komunitas Indonesia terbesar di Qatar. Dan mungkin sebagai komunitas Indonesia di luar negeri terbesar di dunia yang tinggal dalam sebuah komplek”, sambung Agri Sumara.
Agri merupakan salah satu rombongan awal pekerja Indonesia yang berasal dari PT. AAF, karyawan pupuk ASEAN di Lhokseumawe Aceh. Beliau sampai sekarang tidak hanya bertahan, tapi juga sangat aktif dalam setiap kegiatan warga. Di usianya yang 57 tahun, Agri yang sekarang menjadi Shutdown Logistic Coordinator, saat awal-awal justru lebih banyak bekerja di lapangan. Merasakan panasnya iklim dan dinginnya angin Qatar selama bertahun-tahun. “Yang penting tetap semangat, jadi semua rintangan bisa dihadapi”, ujarnya.
Pada awal QG start up, orang Indonesia ada pada technician Gas Turbine dan tenaga operasi dari level Superintendent sampai level operator, sehingga kita bisa maju saling tolong menolong tenaga operasi yang solid dan mumpuni, sehingga prestasi kita berhasil mendatangkan Tenaga Kerja Indonesia lainnya dari berbagai sektor ke Qatar.
Memang betul sekali apa yang diungkapkan Agri. ‘Semangat’ itulah yang selalu diucapkan dan ditularkan ke masyarakat Indonesia lainnya. Dengan semangat itulah akhirnya Agri bersama senior lainnya mendirikan ISWI (Ikatan Sosial Warga Indonesia) yang merupakan paguyuban warga Indonesia yang bekerja di Qatar Gas. Beliau juga bersama masyarakat lainnya mendirikan paguyuban Masyarakat Aceh di Qatar (Masmekar). Agri juga ikut mendirikan PERMIQA (Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar) pada tahun 2001. PERMIQA merupakan payung organisasi semua organisasi masyarakat (ormas) yang ada di Qatar. Saat ini beliau masih menjadi salah satu penasehat organisasi-organisasi tersebut.
Dengan bermunculannya banyak paguyuban masyarakat yang berdasarkan tempat kerja, asal kampung halaman, ataukah berdasarkan hobi, menjadikan banyak sekali kegiatan warga Indonesia di Qatar dan menjadikan warga Indonesia lebih betah di Qatar. Karena keaktifan dan inisiatif itulah, saat ini Agri juga dipercaya sebagai Presiden dari DN (Indonesian Diaspora Network) chapter Qatar, sekaligus sebagai sesepuh warga Indonesia di Qatar.
Sumber : Buku “Mutiara Inspirasi dari Qatar”

















