
Saya dan keluarga pertama kali menyentuh tanah Doha pada tanggal 31 Juli 2013 mendekati tengah malam. Ketika itu kami transit di bandara lama Doha dalam perjalanan kembali ke kota New York. Saat itu saya sedang kuliah S3 di Cornell University yang letaknya di kota Ithaca di negara bagian New York. Karena tujuan terdekat penerbangan Qatar Airways yang kami tumpangi mendarat di bandara internasional JFK, kami singgah di kota New York terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Ithaca.
Saya tidak menyangka kalau akan kembali ke Doha dan menetap di sini 2 tahun kemudian. Sebenarnya Qatar tidak masuk radar saya awalnya dalam mencari pekerjaan. Tetapi setelah berhasil mempertahankan disertasi di bulan Agustus 2014 dan mendapatkan posisi post-doc selama satu tahun di Hobart and William Smith Colleges, saya sibuk mengirim puluhan lamaran ke berbagai tempat. Salah satu lowongan kerja yang saya lamar adalah posisi dosen science and technology studies (STS) di Northwestern University di Qatar (NU-Q).
Alhamdulillah gayung bersambut. Setelah memasukkan lamaran di bulan Desember 2014, saya diundang wawancara singkat lewat Skype di akhir Februari 2015 dan selanjutnya diundang datang ke Doha pertengahan Maret 2015 untuk melihat kampus dan wawancara lanjut.
Saya pun mendarat untuk kedua kalinya di Doha pada tanggal 14 Maret 2015.
Selama beberapa hari di Doha saya bertemu Dekan dan beberapa dosen, staff, mahasiswa dan mahasiswi NU-Q. Pertemuan ini kebanyakan dalam suasana santai tetapi sebenarnya merupakan bentuk wawancara. Jadi walau obrolan kami ringan dan menyenangkan, saya tahu kalau saya sedang dinilai oleh mereka. Oleh karena itu saya tetap menjaga tata krama dan sopan santun. Waktu berkunjung ke kampus NU-Q ini juga saya diminta memberikan job talk (presentasi mengenai disertasi saya) dan demonstrasi mengajar di suatu kelas.
Alhamdulillah semua berlalu dengan baik dan saya ditawari menjadi dosen di NU-Q. Setelah berdiskusi dengan istri, saya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.
Kami sekeluarga tiba di Doha tanggal 2 Agustus 2015. Waktu itu musim panas dan suhu udara tinggi sekali. Keluar dari bandara internasional Hamad kacamata kami langsung berembun. Satu kolega dari NU-Q berbaik hati menjemput dan mengantarkan kami ke rumah dinas NU-Q.
Tahun pertama di Doha waktu saya habis tersedot mengajar empat mata kuliah, mengenal lebih jauh kolega-kolega saya, dan menjelajah Education City (Kota Pendidikan). Waktu itu kampus NU-Q belum selesai dibangun, jadi kami masih menumpang di kampus Carnegie Mellon University in Qatar (CMUQ). Gedung Perpustakaan Nasional QATAR (Qatar National Library, QNL) juga belum rampung. Oxygen Park sedang digarap. Konstruksi jalur trem listrik juga sedang berjalan. Stadion sepak bola Education City belum dibangun sama sekali walau saya sempat melihat model miniaturnya di Education City Student Center [Gambar 1].

Pekerjaan konstruksi bukan hanya terjadi di dalam Education City (EC) tapi di mana-mana. Saya melihat banyak derek menjulang tinggi di berbagai tempat dan puluhan pekerja migran sibuk bekerja. Mereka membangun gedung-gedung baru, stadion-stadion sepak bola, jalan layang, terowongan, mal, jaringan metro, dan bahkan kota baru di Mshereib. Sebagian besar sudah berdiri kokoh. Perubahan ini mengesankan tapi juga menyebalkan karena banyak perubahan jalan yang tidak ada henti-hentinya.
Akhirnya kampus NU-Q selesai dibangun dan kami hijrah ke gedung baru pada bulan Januari 2017. Berturut-turut setelah itu beberapa bangunan lain di EC rampung. QNL mulai beroperasi (November 2017) dan diresmikan (April 2018), tram listrik (Desember 2019) dan stadion sepak bola (Juni 2020). Semua ini diberitakan di koran-koran lokal.
Selain QNL, ada juga Gedung Minaretein yang memuat masjid dan kampus College of Islamic Studies (sebelumnya bernama Qatar Faculty of Islamic Studies). Gedung Minaretein ini dihiasi oleh kaligrafi ayat-ayat suci Al Qur’an termasuk dua minaretnya yang menjulang tinggi.

Satu minaret terhiasi penggalan awal Surat Al-Baqarah ayat 143: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan.” Satu minaretnya lagi penggalan Surah al Imran ayat 191: “dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi” [Gambar 2].
Dari yang saya amati, saya bisa melihat bahwa visi Kota Pendidikan di Doha ini layaknya Bait al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan atau House of Wisdom) di kota Baghdad di abad pertengahan. Kala itu di abad ke-9 kota Baghdad merupakan salah satu pusat pembelajaran tersohor di dunia. Siapa saja yang ingin menimba ilmu dan menyelami kehidupan mutakhir saat itu akan berkunjung ke Baghdad. Di Bait al-Hikmah, para ilmuwan dan murid sibuk belajar dan mendalami buku-buku pengetahuan klasik yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab dari Bahasa Yunani, Persia, dan Sansekerta. Dari buku-buku ini mereka menghasilkan banyak pengetahuan baru.
Karena didukung fasilitas yang mengesankan ini, pengalaman saya mengajar dan melakukan riset sangat menyenangkan. Saya sempat mengundang mantan Menteri Energi dan Industri Qatar H.E. Hamad Al-Attiyah [Gambar 3] dan Duta Besar Swedia untuk Qatar H.E. Ewa Polano ke kelas saya. Salah satu proposal riset yang saya ajukan dan berhasil mendapatkan dana dari Qatar National Research Fund (QNRF) adalah terkait dengan kajian mengenai Science Majlis, sebuah pertemuan bulanan di masa klasik untuk membahas berbagai topik sains [Gambar 4]. Satu lagi dana riset yang saya dan dua kolega dapatkan dari QNRF adalah untuk mengkaji jurnalisme sains di Qatar.


Di Kota Pendidikan ini saya juga berkenalan dengan dosen-dosen di universitas yang lain.
Melalui referensi salah satu kenalan, saya sempat diundang untuk mengisi beberapa segmen berita di Al Jazeera English. Pengalaman saya muncul di Al Jazeera English adalah ketika saya diminta mengisi program Inside Story di akhir bulan Agustus 2019 mengenai rencana pemerintah RI memindahkan ibukota ke pedalaman Kalimantan [Gambar 5].

Setelah ini saya sempat diundang mengisi program yang sama untuk membahas perubahan iklim di bulan Januari 2020 dan diminta pendapat terkait gejolak politik di Malaysia setelah PM Mahathir Mohamad mengundurkan diri pada bulan Februari 2020. Saya juga sempat diminta mengisi segmen berita sore di Al Jazeera di awal tahun 2020 mengenai banjir Jakarta ketika itu.
Kesan baik saya yang lain mengajar di EC adalah ketika bertemu dan menggalang para mahasiswa/mahasiswi Indonesia yang kuliah di Qatar untuk membentuk Persatuan Pelajar Indonesia di Qatar (PPIQ).
Sejak saya mulai mengajar di bulan Agustus 2015 sampai akhir 2017 saya belum bertemu satu pun mahasiswa atau mahasiswi Indonesia. Jadi ketika di akhir tahun 2017 saya bertemu dua mahasiswa (satu kuliah di GUQ dan satunya di HBKU), saya memutuskan untuk mengundang mereka dan kawan-kawan mereka, baik yang masih kuliah atau sudah lulus untuk bertemu di kampus NU-Q tanggal 25 Januari 2018. Pertemuan kedua berlangsung di QNL pada tanggal 10 Februari 2018. Setelah itu saya undang mereka datang ke rumah pada tanggal 9 Maret 2018. Alhamdulillah dari beberapa pertemuan awal tersebut mereka memutuskan untuk membentuk PPIQ.
Cerita saya mengajar di Kota Pendidikan belum selesai. Saya dan pengalaman saya masih berencana menorehkan kisah-kisah lain. Tapi bagi saya satu hal sangat pasti. Mengajar di Kota Pendidikan di Doha layaknya seperti mengajar di salah satu Bait al-Hikmah abad ke-21 di mana saya dapat mendalami dan juga mengajar para mahasiswa dan mahasiswi mengenai beberapa Rumah Kebijaksanaan di abad pertengahan.
SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

















