CERITA PMI DI QATAR : MENGIBARKAN INDONESIA DI SEKOLAH INTERNASIONAL

Menjadi bangsa yang besar bukanlah hasil dari satu perjuangan, melainkan rekatan dari serangkaian  perjuangan setiap individu bangsa itu sendiri.”

Farida Idawati

Saya Farida Idawati, ibu rumah tangga dengan dua orang putra. Menginjakkan kaki di tanah Qatar sejak tahun 2004–mengikuti suami yang bekerja di sebuah perusahaan migas di Qatar. Disambut cuaca panas terik saat mendarat di Doha ternyata  cukup terhibur dengan  pemandangan lebih teduh di Al Khor, kota kecil tempat kami tinggal.

Hari-hari saya disibukkan dengan pekerjaan sehari-hari di rumah mengurus keluarga. Meskipun memiliki pengalaman 9 tahun berkarier di tanah air dalam bidang perdagangan di sebuah kedutaan asing, fokus saya setiba di Qatar adalah keluarga karena di sini urusan rumah tangga dikerjakan sendiri.

Tahun 2007, saya memutuskan untuk bekerja di Al Khor International School (AKIS) sekolah yang berada di dalam community tempat saya tinggal . Berbasis British curriculum, sekolah ini merupakan fasilitas perusahaan (tempat suami bekerja) yang diperuntukkan bagi anak-anak keluarga karyawan. Saya bekerja sebagai Learning Assistant (LA) di departemen EAL (English as an Additional Language)  yang menangani anak-anak yang memerlukan bantuan ketika mengalami kesulitan belajar karena keterbatasan berbahasa Inggris. Selain itu saya juga menangani administrasi pengujian calon murid baru.

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan anak dalam berbahasa Inggris agar dapat ditempatkan di kelas yang sesuai dengan kemampuannya. Saya perhatikan cukup banyak anak-anak Indonesia yang bersekolah di sini  mengalami kendala berbahasa Inggris. Sangat dimaklumi, tidak mudah bagi anak-anak beradaptasi dengan lingkungan baru hijrah ke luar negeri yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya akan bersekolah dengan pengantar bahasa Inggris.

Dalam menjalankan perannya departemen ini  menerapkan buddy system dimana murid baru akan didampingi oleh murid lama  untuk membantu saat berada di kelas. Namun, hal ini tidak selalu berjalan sesuai harapan karena terkendala murid lama yang justru kurang lancar berbahasa Indonesia sehingga komunikasi mereka tidak berlangsung dengan baik.  Pada satu sisi anak-anak dituntut cepat beradaptasi berbahasa asing, di sisi lain bahasa ibu (mother tongue) mereka semakin terkikis. Dari situlah kemudian saya tersadar bahwa keadaan ini tidak baik untuk masa depan anak yang mungkin saja akan meneruskan jenjang pendidikannya di tanah air.

Pagelaran Seni Budaya Indonesia di Al Khor

Berawal dari kesadaran ini dan mengingat jumlah anak-anak Indonesia yang belajar di sini makin banyak, saya berinisiatif untuk mengajukan kemungkinan agar anak-anak  tetap mempelajari bahasa ibunya dan mendiskusikan hal ini kepada atasan saya. Di luar dugaan ide sederhana ini disambut positif, luar biasa senang hati saya. Mereka mendukung prinsip bahwa seorang anak yang mempelajari dan fasih berbahasa ibu  akan lebih mudah untuk belajar dan menguasai bahasa asing lain . Kepala sekolah kemudian menyetujui ide dan proposal saya sehingga kemudian menugaskan saya untuk menyiapkan segala sesuatunya mulai dari bahan pengajaran , kurikulum, sampai mencari pengajar.

Hari-hari berikutnya adalah kesibukan diskusi, negosiasi, dan sosialisasi. Perlu meyakinkan banyak pihak agar mendapatkan persetujuan  untuk program Bahasa Indonesia ini.

Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan formal keguruan, namun tidak berarti program in tidak bisa dilakukan. Kemudian saya memanfaatkan waktu liburan dengan melakukan survey ke sekolah percontohan di Jakarta untuk melihat dan mempelajari seluk beluk cara pembelajaran Bahasa Indonesia di sana. Korespondensi dengan pihak terkait hingga proses penyediaan buku-buku bahan pelajaran.

Waktu saya tidak banyak karena cuti liburan pun terbatas. Saya melakukan sosialisasi kepada orang tua murid tentang program kelas bahasa  ini. Saya ditemani Ibu Junaida dan Ibu Ainal Saadan menemui duta besar RI untuk Qatar membicarakan tentang program kelas bahasa di AKIS ini, Bapak Duta Besar  mendukung penuh inisiatif program sekaligus menawarkan bantuan jika diperlukan.

Kendala lain muncul ketika mendapati respon orang tua sangat kurang tentang program ini. Namun, hal ini tidak mematahkan semangat saya. Dengan bantuan berbagai pihak saya mengundang tokoh pendidikan tanah air, Bapak Prof. Arief Rachman  untuk datang ke Qatar dan menjadi narasumber dalam seminar yang diadakan bersama orang tua , KBRI, dan pihak sekolah. Beliau berbicara tentang pentingnya bahasa ibu dalam proses belajar dan pendidikan anak.  Dari seminar tersebut banyak orang tua yang kemudian mendapat pencerahan dan pandangan positif.

Tahap berikutnya saya memberikan angket kepada orang tua untuk melihat kembali antusiasme mereka terhadap program Bahasa yang akan dinilai oleh pihak sekolah .

Saya tidak sendirian untuk merealisasikan program ini. Dibantu oleh ibu Ainal Saadan dan ibu Junaida  yang sama – sama bekerja sebagai Learning Assistant di sekolah ini, saya meminta mereka untuk menjadi pengajar. Meskipun sama-sama tidak memiliki latar belakang pendidikan mengajar,  saya berusaha meyakinkan mereka bahwa tanggung jawab untuk mewujudkan program ini ada di tangan kami bertiga. Ini menjadikan langkah saya mewujudkan program Bahasa Indonesia menjadi lebih ringan.

Berpacu dengan waktu betul-betul saya rasakan saat itu. Bagaimana tidak?  Program Bahasa Indonesia ini disetujui menjelang dimulainya tahun ajaran baru. Jika kita tidak siap maka program akan ditunda tahun berikutnya. Saya bersikeras untuk merealisasikan program ini secepat mungkin. Akhirnya awal tahun ajaran 2008-2009, Bahasa Indonesia masuk menjadi mata pelajaran  yang diajarkan di AKIS .

Semua silabus kurikulum yang saya susun mengikuti yang berlaku di Indonesia dan saya dapatkan dari sekolah percontohan kemudian disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak-anak. Buku- buku bahan mengajar pun saya bawa langsung dari Indonesia untuk membantu proses belajar di kelas. Topik-topik yang diajarkan  dipilih semaksimal mungkin memasukkan nilai-nilai moral agama, budi pekerti dan juga kebangsaan. Nilai-nilai kebangsaan kami tambahkan dengan berbagai macam kegiatan yang mendukung dan memperkenalkan sosial budaya Indonesia baik kepada anak-anak murid Indonesia sendiri maupun kepada lingkungan sekolah yang berasal dari berbagai macam bangsa.

Pada tahun 2009 kelas Bahasa ini membuat pagelaran pertama yang dibawakan oleh anak-anak kelas 9, pagelaran yang membuat semua tersadar bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan seni budaya dan beragam suku yang menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan. Kegiatan seni budaya ini tidak hanya ditampilkan di sekolah tapi juga kami kembangkan di komunitas warga Indonesia secara luas di lingkungan tempat kami tinggal, di tengah aneka budaya bangsa lainnya.

Sebagai langkah konkrit kepedulian saya pada budaya tanah air, bersama beberapa remaja Indonesia di Al Khor saya membentuk RUMAH KITA sebuah sanggar seni budaya beranggotakan anak-anak Indonesia. Persembahan tari-tarian  dari berbagai daerah di Indonesia ditampilkan dalam  acara-acara internal masyarakat Indonesia maupun  yang diselenggarakan pemerintah Qatar. Melalui sanggar ini pula tari Saman dari Aceh mulai berkembang dan dikenal masyarakat luas di Qatar.  Merasakan  betapa pendidikan bangsa yang ber-bhineka tunggal ika memudahkan kita berbaur dengan beraneka macam bangsa di Qatar ini, dan merekatkan kita sesama warga Indonesia dalam membawa nama besar bangsa dan negara kita.

Selama tahun ajaran 2008-2009, status departemen bahasa Indonesia masih menjadi sorotan dari pihak sekolah. Dengan berbagai upaya kami terus memperbaiki kualitas pengajaran di kelas sehingga program in terus mendapat dukungan orang tua dan pihak sekolah. Keberhasilan kelas bahasa Indonesia dijadikan acuan bagi AKIS untuk membuka kelas bahasa-bahasa lain seperti bahasa Malaysia, Urdu , dan Tagalog. Pelaksanaan program Bahasa Indonesia ini mendapat apresiasi luar biasa sehingga pada tahun kedua, 2009-2010, saya ditugaskan untuk menjajaki kemungkinan bahasa Indonesia masuk dalam IGCSE (International General Certificate of Secondary Education) karena sekolah ini berbasis British curriculum. Salah satu syarat penting adalah diharuskan ada  pengajar yang kompeten dan bersertifikasi. Di lain pihak, karena tugas kantor suami, kami sekeluarga harus berpindah domisili dari Al Khor ke kota Doha. Selama setahun mengajar dengan harus menempuh jarak Doha – Al Khor setiap hari cukup berat untuk saya jalani.  

Namun, tugas dari sekolah harus saya selesaikan. Kembali bernegosiasi, membantu proses rekrutmen pengajar, sampai memberikan tongkat estafet kepada bapak Antonius F. Manesalulu, pengajar baru yang kompeten untuk melanjutkan program bahasa masuk dalam IGCSE. Tahun 2010 bahasa Indonesia resmi masuk IGCSE, Alhamdulillah.

Rupanya aktifitas dan kerja keras kami dalam menggagas ide mengajar bahasa dan memperkenalkan budaya Indonesia ini kemudian mendapat apresiasi dari pihak KBRI Doha dan Diaspora Global Network.

Pada penyelenggara Kongres Ke-2 Indonesian Diaspora Network (IDN) Global di Jakarta tanggal 18-20 Agusutus 2013 kami bertiga  ( Saya, Ibu Junaida dan Ibu Ainal Saadan)  mendapat penghargaan Diaspora Award in Introducing Cultural Understanding Category yang diberikan langsung oleh Bapak DR. Ing . BJ Habibie.

Bukan penghargaan semata yang sesungguhnya kami inginkan tetapi keberlangsungan pengajaran yang bisa membawa anak-anak Indonesia lebih berprestasi di masa depan .

Menerima penghargaan Diaspora Award in Introducing Cultural Understanding Category yang diberikan langsung oleh Bapak DR. Ing . BJ Habibie

Hingga saat penulisan ini dibuat pada tahun 2021, program bahasa Indonesia di AKIS tetap berlangsung. Membanggakan karena hingga saat ini AKIS masih merupakan satu-satunya International School di Qatar, bahkan di  dunia, yang memasukan pelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulumnya. Saya hanya meletakkan dasar dan nilai kebangsaan buat masa depan anak-anak Indonesia di Qatar (khususnya) , tidak akan ada artinya bila tidak dipertahankan dan dilanjutkan oleh generasi penerus saya.

Menjadi bangsa yang besar bukanlah hasil dari satu perjuangan, melainkan rekatan dari serangkaian  perjuangan setiap individu bangsa itu sendiri. Semoga menjadi inspirasi bagi para pengajar, orang tua, dan anak-anak  yang peduli, cinta dan bangga dengan bahasa dan budaya ibu kita, Indonesia.

Sumber : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

Artikel Terkait