CERITA PMI DI QATAR : WHEN INNOVATIVE EDUCATION AND CREATIVITY MEETS

“Apapun yang ada di depan mata ada, saya ikuti saja. With luck, safety net to fall back to and a small pond to wonder, I was introduced to a whole world that opened up my parameter of reality”

Cut Izza Alyssa


Saat Ayah saya pindah ke Qatar di tahun 2007, tidak ada yang menyangka betapa besarnya keputusan ini dalam membangun masa depan saya.  Nama saya adalah Cut Izza Alyssa, dan saya adalah salah satu dari dua orang di seluruh dunia yang meraih Creative Innovation Grant di tahun 2017 – sebelumnya bernama Her Highness Sheikha Moza Binti Nasser Scholarship for Creativity. Penghargaan ini dinamakan beasiswa paling bergengsi dari Pemerintah Qatar karena dana dan oportunitas yang diberikan, walaupun tanpa ikatan.

Sekarang, saya adalah mahasiswi tingkat terakhir dengan jurusan desain grafis di Virginia Commonwealth University di Qatar. Bagi saya, mendapatkan oportunitas untuk berkuliah di bidang seni di Qatar itu seperti mimpi yang menjadi nyata. The leap of faith yang Ayah saya ambil untuk berpindah ke Qatar, membukakan jalan untuk saya mengejar karir impian, dan itu karena privilege yang diberikan Qatar.

Walaupun negara kecil, Qatar adalah salah satu significant players di bidang edukasi yang berinovatif. Mereka menekuni perkembangan siswa mulai dari grassroot basic literacy, sampai dengan menginvestasi universitas ternama di dunia. Pertama kali saya mengalami ketekunan negara ini terhadap studi, adalah diawal perpindahan saya di sekolah di Al Khor International School di Qatar, sekolah saya memberikan kelas-kelas privat khusus untuk anak-anak internasional supaya kita bisa menyesuaikan diri dengan kurikulum baru dan multicultural environment. This was a small act, but it goes to show how invested they were towards providing the student’s needs. Mungkin ada yang bertanya, apa hubunganya sistem edukasi dengan pilihan saya untuk mengejar sarjana seni dan desain?

Berbagai macam karya Izza

Nyatanya, banyak faktor yang membantu saya untuk mengukir jalan saya di bidang yang sangat kompetitif ini. Menurut saya, memilih karir itu gampang, tetapi yang sulit adalah meyakinkan orang tua saya kalau saya bisa mengejar karir itu. Karena jurusan ini ditentang keras, satu-satunya jalan yang bisa saya ambil adalah untuk membuktikan lewat prestasi.

Di satu sisi, saya mengasah talenta saya di bidang seni dengan mengikuti lomba regional, nasional dan lalu internasional. Di sisi lain, saya juga memperluas avenue saya dengan mengikuti ekstrakurikuler yang menurut saya menarik, walaupun saya tidak ada relasi dengan bidang yang saya mau sama sekali, seperti Model United Nations, World Scholars dan Future Doctors Program. Apapun yang ada di depan mata ada, saya ikuti saja.

With luck, safety net to fall back to and a small pond to wonder, I was introduced to a whole world that opened up my parameter of reality. Bukan cuma itu, karena relasi global sangat kuat di negara ini, banyak sekali oportunitas yang diberikan untuk berkompetisi secara internasional, which puts my foot forward to my competitors. Hal ini penting saya soroti karena walaupun potensi saya dibangun oleh ambisi dan kerja keras, saya tidak bisa meng-implementasinya kalau bukan dari oportunitas yang diberikan lingkungan saya. Alhasil, orang tua saya melihat berapa ambisius saya dan akhirnya memberi saya seluruh kebebasan untuk memilih jurusan.

Aktifitas Izza sebagain Head Chair di Model United Nation

Selain lingkungan yang mendukung, kehidupan di Qatar juga sangatlah unik, it feels like a miniature of the world because of how diverse the population is! Sejak saya kecil, saya dikenalkan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan ras. Inilah kehidupan Third Culture Kids, anak-anak yang menghabiskan tahun-tahun pembentukannya di tempat yang bukan tanah air orang tua mereka.

Dinamika budaya ini memiliki pengaruh yang besar tidak hanya pada identitas saya tetapi juga pendidikan saya. Walaupun saya sangat bangga dan patriotic dengan Indonesia, saya merasa seperti global citizen, pengalaman ini membuat saya merasa memiliki cakrawala yang luas dan tingkat welas asih yang lebih tinggi terhadap isu global. Negara-negara yang disebut di kurikulum bukan sembarang, tapi inilah tempat tinggal teman-teman saya. Ini adalah pengalaman yang tiada duanya dan berkontribusi banyak pada budaya pendidikan di Qatar.

Sebagai Head Chair Al Khor International School
Masuk di berita Qatar Tribune

Acara yang mengundang Third Culture Kids dari berbagai mancanegara untuk hari sumpah pemuda.

Dengan slogan “Qatar deserves the best”, investasi untuk membangun negara jugalah sangat besar. Mereka tidak hanya fokus pada hal-hal yang bersifat langsung, tetapi fokus pada hal-hal yang berkelanjutan seperti budaya, seni dan kreatifitas. Inilah mengapa Sheikha Moza menginvestasikan talenta muda dengan memberi Creative Innovation Grant. Perjalanan saya dalam mencoba jalan yang berbeda telah membantu saya mendapatkan perspektif yang lebih luas, bukan hanya di desain tetapi juga tentang kehidupan. Yang merupakan poin kemenangan mengapa saya mendapat beasiswa ini. Saya sangat bersyukur untuk mendapatkan penghargaan tersebut, tetapi saya harus tingkatkan bahwa kontribusi terbesar untuk pencapaian tersebut datang dari oportunitas yang diberikan institusi-institusi di sekitar saya dan juga support dari orang-orang sekitar.

Berita di Qatar Tribune

Bagi saya kesuksesan datanglah dari kerja keras dan juga oportunitas. Itulah sebabnya saya mendedikasikan tahun-tahun terakhir saya di Qatar untuk menyebarkan berkah ini kepada semua orang di sekitar saya, dengan mengikuti bidang pengabdian masyarakat di PPI Dunia dan juga berkontribusi di PPI Qatar untuk menyebarkan kabar tentang beasiswa yang ada di Qatar.

Edukasi yang berinovatif adalah salah satu bidang yang saya sangat minati, saya berharap saya bisa lebih banyak berkontribusi di dunia itu.

Saya dalam posisi yang sangat istimewa, dan saya merasa bertanggung jawab untuk mengangkat mereka yang berada dalam situasi yang kurang beruntung. 

SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

Artikel Terkait