“Kita boleh menyebutnya dengan jalan Tuhan, kuasa doa, atau apapun. Tapi percayalah, jika kekuatan ‘The Invisible Hand’ itu ada. Ia nyata dan akan selalu mengelilingi siapapun yang mempercayainya”

Ali Murtado (KBRI Doha)
Saya dilahirkan di sebuah desa kecil di Subang, Jawa Barat. Ayah saya adalah seorang petani yang hanya menyelesaikan pendidikan dasar hingga kelas 5. Sementara ibu saya tidak pernah menempuh pendidikan formal. Kemiskinan dan keharusan untuk menjaga enam adiknya membuat ibu tidak pernah sempat bersekolah. Meski nyaris buta huruf latin, ibu memiliki kemampuan membaca Al-Quran yang sangat baik. Dari beliau saya pertama kali mengenal huruf Arab, jauh sebelum saya mengenal huruf Latin.
Masa SMP, saya selesaikan sambil indekos/numpang tinggal di Masjid Agung Subang yang letaknya agak ke kota. Ayah saya ‘nekat’ menitipkan saya ke salah satu tokoh agama yang tinggal di komplek Masjid itu, karena ia percaya hanya dengan cara itu, masa depan saya bisa lebih baik. Di Masjid, rutinitas saya sehari-hari adalah menjadi muadzin (marbot), bersih-bersih masjid, mengurus rumah/tanaman kyai, dan mengaji tiap ba’da Maghrib, Subuh dan sesekali Isya. Rutinitas yang mungkin bagi sebagian orang akan membosankan.
Tapi bagi saya, itulah saat-saat paling penting dalam hidup. Di sanalah, selain membenamkan diri untuk mengaji kitab-kitab klasik-dasar seperti Safinatun Najaa, Jurumiyah, Tijan Ad-Darori, Fathul Muin dan sebagainya, saya juga berkenalan dengan majalah dan buku-buku bekas. Saya ingat beberapa majalah yang menjadi santapan saya sehari-hari adalah Panjimas, Ummat, Tempo dan Forum. Semuanya edisi lama. Sementara dari buku-buku bekas, saya mulai mengenal para cendikiawan seperti Gus Dur, Cak Nur, Franz Magnis Suseno, Kuntowijoyo, Romo Mangunwijaya dan sebagainya.
Pengalaman menjadi marbot Masjid itu adalah ‘The Invisible Hand’ pertama dalam hidup saya. Saya tidak bisa membayangkan seandainya ayah saya tidak mengambil keputusan nekat dengan menitipkan saya di Masjid itu. Mungkin saya tidak akan pernah seperti saat ini, menulis catatan ini.
Saya tinggal di Masjid itu sampai SMA. Selepas SMA, saya mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang saat itu namanya berubah menjadi Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Pilihan saya saat itu adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Diponegoro. Alhamdulillah, Saya diterima di Fakultas Hukum UGM. Di kampus, saya bukan mahasiswa yang kutu buku tapi juga bukan mahasiswa pemalas. Saya aktif di Keluarga Muslim Fakultas Hukum, Himpunan Mahasiswa Islam, beberapa lembaga penerbitan, dan Dewan Mahasiswa. Di organisasi yang terakhir saya sempat menjadi Wakil Ketua. Kehidupan di organisasi mahasiswa sangat membekas dalam hidup saya. Di organisasi ini, dengan segala dinamikanya saya berkenalan dengan begitu banyak kawan yang kelak akan sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kehidupan pribadi dan profesional saya.
Berkenalan dengan orang-orang itu adalah keajaiban atau The Invisible Hand yang kedua dalam hidup saya.

Dari mereka saya benar-benar belajar kredo Tan Malaka; terbentur, terbentur lalu terbentuk. Tidak semua dari orang-orang itu memiliki latar belakang yang berkecukupan. Banyak di antara mereka yang juga sedang berjuang mengalahkan kemelaratan dan mengalami pergolakan batin.
Selepas lulus Sarjana, saya memperoleh beasiswa dari Kementerian Pendidikan Nasional (Sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) untuk kuliah S2 di kampus yang sama (tapi kali ini di jurusan Hubungan Internasional). Keputusan saya untuk kuliah lagi ini saya ambil untuk mengejar impian saya menjadi dosen. Namun, kesempatan menjadi dosen tersebut ternyata tidak kunjung datang dan nampaknya prosedurnya saat itu makin rumit. Di tengah kebimbangan saya saat itu, Kementerian Luar Negeri membuka lowongan sebagai calon diplomat. Saya putuskan untuk mengikuti tes dan Alhamdulillah diterima.
Pada titik ini pun saya merasa campur tangan Tuhan sangat besar. The Invisible Hand itu seperti hadir kembali. Bagaimana mungkin, dari seorang anak petani di desa kecil, kini tiba-tiba menjadi seorang diplomat. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Saya sungguh berterima kasih kepada Kementerian Luar Negeri atas sistem penerimaan pegawai yang bersih, akuntabel dan profesional. Tanpa sistem seleksi yang demikian, tidak mungkin orang seperti saya dapat memiliki kesempatan untuk melakukan loncatan karir dengan menjadi diplomat.
Saya bertugas di Kementerian Luar Negeri sejak tahun 2008. Selesai mengikuti pendidikan kedinasan Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) saya mendapat kesempatan magang di KBRI Brussel, Belgia. Sepulang dari Brussel saya ditugaskan di Pusdiklat Kemenlu. Ketika di Pusdiklat (2009) itulah saya merintis dan mengelola Jurnal Diplomasi yang masih terbit hingga kini. Setahun bertugas di Pusdiklat, saya dipindahkan ke Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional (Ditjen HPI).

Saat mengikuti sidang State Parties to the United Nations Convention on the Law of the Sea (SPLOS) di markas besar PBB, New York, Amerika Serikat, 2019
Pada tahun 2012, dengan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) saya berkesempatan menyelesaikan Pendidikan S2 saya yang tertunda. Tapi kali ini bukan lagi di UGM tapi di Melbourne Law School, Australia. Setelah menyelesaikan S2, saya kembali bertugas di Ditjen HPI. Selanjutnya pada tahun 2014-2017 saya ditugaskan di KBRI Kuala Lumpur. Pulang dari Kuala Lumpur, lagi-lagi saya ditugaskan di Ditjen HPI. Jadi, jika dihitung-hitung, sejak saya bergabung dengan Kementerian Luar Negeri sekitar 13 tahun silam, lebih dari separuh penugasan dalam negeri saya dihabiskan di Ditjen HPI.

Bersama Prof. Cheryl Saunders, salah seorang yang paling berjasa dalam membimbing penulis, saat kelulusan dari Melbourne Law School, 2013
Terakhir (2017-2020) saya bertugas di Direktorat Perjanjian Kewilayahan, Ditjen HPI yang salah satu tugasnya adalah menyelesaikan berbagai persoalan perbatasan darat negara. Dengan portofolio tugas seperti itu, di masa ini saya berkesempatan melihat Indonesia dari titik-titiknya yang terluar. Beberapa kali saya mengunjungi Pulau Sebatik, pulau di provinsi Kalimantan Utara yang kepemilikannya dibagi dua antara Indonesia dan Malaysia. Saya juga mengunjungi perbatasan di Papua Nugini dan Timor Leste. Suatu pengalaman yang menakjubkan.
Pada pertengahan 2020, atasan saya menawari tiga tempat di Timur Tengah sebagai tempat penugasan saya di luar negeri. Setelah menimbang dengan matang dan berdiskusi dengan keluarga, akhirnya saya mengambil Doha sebagai tempat saya bertugas. Bagi saya, Doha atau Qatar itu menarik, setidaknya dari tiga sisi.
Pertama, secara geopolitik, Qatar adalah negara unik, kecil tapi memiliki pengaruh yang besar di dunia politik internasional. Keterlibatannya di berbagai proses perdamaian dunia seperti di Afghanistan setidaknya membuktikan kuatnya pengaruh dan leverage Qatar di dunia internasional. Kedua, secara ekonomi, Qatar juga menjadi negara yang sangat sukses dalam melakukan transformasi. Dari sebuah negara berkembang pada tahun 80-an menjadi salah satu negara paling kaya di tahun 2000-an. Ketiga, secara sosial budaya Qatar memiliki pengaruh yang sangat luas. Bagi saya, Qatar adalah salah satu contoh negara yang paling serius dalam membangun soft power diplomacy-nya. Melalui budaya, pendidikan, charity, jaringan TV dan olahraga mereka membangun reputasinya.
Penutup
Jika melihat ke belakang, sekilas perjalanan hidup saya tampak baik-baik saja dan selalu diliputi keajaiban-keajaiban. Tapi sejujurnya, keajaiban itu tidak pernah datang dengan sendirinya. Semua memerlukan ikhtiarnya masing-masing. Perjalanan masuk menjadi mahasiswa UGM misalnya, mudah dituliskan, tapi sungguh melelahkan untuk dijalani. Lulus dari SMA di daerah, saya praktis hanya tidur dua-tiga jam setiap harinya, menjelang seleksi penerimaan mahasiswa di UGM.
Begitupun ketika bersekolah di Melbourne, semua tidak semudah membalik telapak tangan. Meskipun kemampuan Bahasa Inggris saya cukup untuk diterima di Universitas di Australia dan mendapatkan beasiswa, namun dengan skor IELTS hanya 7 (setara dengan skor TOEFL 590-600) itu bukan angka yang aman untuk dapat belajar di sebuah Sekolah Hukum.
Saya pun berusaha mati-matian meningkatkannya selama masa tinggal saya di Australia.
Semakin saya berikhtiar, saya semakin percaya bahwa ada kekuatan lain yang menentukan arah hidup kita, melampaui batas usaha-usaha yang kita lakukan. Kita boleh menyebutnya dengan nama apapun. Tapi dari perjalanan hidup, saya percaya bahwa the Invisible Hand itu nyata. Nothing is Impossible, Insya Allah!
Doha, 22 Februari 2021
SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

















