CERITA PMI DI QATAR : KISAH SUKSES ANAK NELAYAN MENJADI MILYUNER

“Dalam berbisnis ketika saya melihat peluang saya tidak ruwet hitung-hitungan, segera mulai, dan belajar sambil jalan. Percaya diri, fokus, tekun, ulet dan sabar. Saya juga percaya bekerja adalah ibadah oleh karena itu saya mencintai pekerjaan, terus belajar, menjaga hubungan silaturahmi karena membawa rezeki”

Gambar 1 – Ir. H. Mahdi Musa

Nama saya Mahdi Musa. Saya adalah salah seorang anak nelayan miskin yang dilahirkan disebuah desa kecil di Desa Kutakarang (Kecamatan Darul Imarah) Banda Aceh 68 tahun yang lalu. Saya anak tertua dari empat bersaudara yang tinggal di gampung (desa) Jawa Banda Aceh.

Kehidupan masa kecil saya sangat prihatin.

Orang tua saya nelayan tradisional berpenghasilan sehari-hari hanya dari hasil tangkapan ikan. Kadang ada kadang tidak, terutama di musim angin barat di mana gelombang ombak laut tinggi dan selama enam bulan nelayan sama sekali tidak bisa melaut. Untuk makan sekeluarga sehari-hari sangatlah susah.

Sadar akan kondisi ekonomi keluarga yang tidak berkecukupan, sejak kecil saya harus bekerja keras hidup mandiri, membantu orang tua membiayai uang sekolah menjadi penjaja makanan kue berkeliling kampung.  

Selanjutnya sejak di bangku Sekolah Teknik Menengah (STM) pagi hari saya sekolah dan malam hari mancing kepiting di pinggir sungai kota Banda Aceh sambil belajar mengulangi pelajaran sekolah dengan menggunakan lampu teplok minyak tanah seadanya.

Alhamdulillah selalu jadi juara di kelas, terutama dalam bidang matematika, gambar teknik dan bidang teori permesinan

Pagi hari sambil jalan berangkat ke sekolah saya menenteng kepiting hasil tangkapan malam sebelumnya untuk dititip di pasar ikan untuk dijual. Pulang sekolah mampir lagi ke pasar ikan mengambil uang hasil jualan tersebut.   Begitulah sehari harinya selama sembilan tahun. Masa kecil saya sejak kelas empat SD hingga tamat SMP hampir tidak ada waktu untuk bermain seperti anak-anak sebaya lainnya.  Hingga remaja saya membantu ekonomi keluarga.

Saya juga aktif belajar mengaji dan belajar ilmu bela diri silat.   

Alhamdulillah saya berbakat dalam ilmu qari membaca alquran, hingga berhasil jadi juara kedua se Kota Madya Banda Aceh dan juara pertama se Kabupaten Aceh Utara.

Setelah tamat STM keinginan untuk melanjutkan kuliah ke universitas tidak terwujud karena ketidakmampuan ekonomi. Akhirnya merantau ke pulau Sabang dan menumpang hidup bersama ayah angkat seorang ulama dari melaboh Tengku Umar Ali. Saya bekerja sebagai tukang kopra di palau Iboih di ujung pulau Sabang. Selanjutnya bekerja di kedai kopi Dunhill Restaurant di pusat kota Sabang milik Sayed Jamaludin.

Nasib belum beruntung, perjuangan hidup belum selesai, hijrah mengadu nasib ke kota Lhokseumawe, bekerja sebagai tukang kayu, buruh bangunan, pembelah batu pembuatan jalan kampung Jungka Gajah Geudong dan buruh konstruksi jembatan Teupin Punti, jualan nasi kedai nasi kota Geudong Lhokseumawe.

Selanjutnya 1974 bekerja sebagai tenaga kerja drilling ISA kontractor ikut survey mencari sumber minyak daerah hutan belantara di pegunungan simpang keramat dan pedalaman.  Lebih lanjut bekerja sebagai tenaga tehnisi pabrik gula Cot Girek Lhokseumawe awal 1975. Di tahun 1975 saya melamar kerja ke perusahaan Amerika Bechtel, Inc and diterima jadi juru las. Posisi terakhir sebagai Inspektur Las selama masa konstruksi pembangunan kilang proyek LNG Arun di Blang Lancang Lhokseumawe Aceh Utara.

Selanjutnya saya pindah bekerja ke PT Arun LNG di tahun 1978 sebagai juru las dan meningkat menjadi Inspektur Las pada tahun 1998. Tahun 1993 mendapat penghargaan sebagai “Pegawai Teladan PT Arun” dari lebih kurang 3000 karyawan lainnya atas prestasi dan keselamatan kerja selama satu tahun.

Di tahun 1980 saya menikah dengan sorang gadis bernama Tuty Rosmaningsih dan kami dikaruniai beberapa anak: dua putra (alm. Mahyar Mughayatsyah dan Rousdy Meurahdiandyah, SE) dan satu putri (Febrina Meulila, Msc).   Isteri saya bekerja sebagai pegawai negeri sipil guru SD golongan IIIC.

Cita-cita ingin melanjutkan studi kuliah mulai diwujudkan, sebagai mahasiswa terbang di Universitas Dharma Agung Medan. Bersama beberapa teman sekerja lainnya setiap hari kamis malam berangkat ke Medan dengan menggunakan bus kurnia (6 jam perjalanan) sampai hari minggu malam mengikuti kuliah, diskusi, dan belajar bersama teman-teman sekelas dan dosen pembimbing. Saya kurang tidur dan tidak cukup waktu istirahat selama kuliah tujuh tahun.  Tahun 1987 lulus memperoleh gelar Insinyur (Ir) mesin.

Tahun 1998 bernasib baik lulus seleksi ikut hijrah ke Qatar bergabung bersama 300 orang Indonesia ex PT Arun lainnya sebagai QA/QC Engineer dan diterima bekerja di Ras Gas Liquefaction Company Qatar pada tahun 1998.   Bekerja di Ras Gas Qatar hingga pensiun di tahun 2015. Selama bekerja di Ras Gas telah mendapat beberapa kali promosi.  Jabatan terakhir sebagai Senior QA/QC Engineer dan menjabat sebagai Head dari QA/QC Technical Shutdown Engineering di RasGas-Qatar.

Sejak remaja saya bermimpi menjadi wirausahawan dan mimpi ini terwujud di Qatar.  Awalnya di tahun 2002 berdirilah sebuah badan usaha di Qatar, diberi nama QATINDO W.L.L (singkatan nama dari Qatar-Indonesia Trading and Contracting Co. LMD, setingkat PT di Indonesia).   Ini merupakan sebuah gebrakan sangat spektakuler, berani baik mental maupun modal investasi usaha yang tidak kecil.

Gambar 2 – Kantor Qatar Indonesia Trading and Contracting

Saya melakukan ini masih sebagai karyawan sebuah perusahaan terikat dengan kontrak. Qatindo dikelola oleh istri saya seorang guru SD yang minim kemampuan Bahasa Inggrisnya.

Qatindo berlokasi sangat strategis depan terminal bus kota (seperti Pulo Gadung di Jakarta) di pusat kota Qatar. Supermarket dan Restoran Qatindo merupakan kebanggaan warga Indonesia di Qatar. Waktu itu merupakan satu-satunya pusat belanja dan restoran makanan khas Indonesia di Qatar.


Gambar 3 – Supermarket Qatindo

Usaha ini mampu membakar membangkitkan semangat teman-teman lain untuk mengikuti jejak untuk memulai sebagai pengusaha, mendirikan berbagai usaha seperti restoran, supermarket, butik dll.

Saya juga mempunyai badan Usaha yang bergerak dalam bidang export di Depok Jawa Barat dan perusahaan di bidang real estate (cluster town house) di sekitar kota Depok Jawa Barat. Telah terbangun dan terjual sekitar 500 unit rumah tipe 45 hingga tipe 120 (Gambar 5). Perusahaan saya mempekerjakan 15 karyawan tetap dan 200 karyawan (tukang).

Prinsip hidup saya adalah tidak menyia-nyiakan waktu dan pantang menyerah.

Dalam berbisnis ketika saya melihat peluang saya tidak ruwet hitung-hitungan, segera mulai, dan belajar sambil jalan. Percaya diri, fokus, tekun, ulet dan sabar. Saya juga percaya bekerja adalah ibadah oleh karena itu saya mencintai pekerjaan, terus belajar, menjaga hubungan silaturahmi karena membawa rezeki.

Di Qatar saya pernah jadi Ketua Permiqa pertama (2001-2003), Ketua Indonesian Business Association in Qatar (IBAQ), dan ketua bidang Business Council IDN – Qatar (Indonesian Diaspora Chapter Qatar). Saya juga menjadi salah satu saksi pendirian Indonesian Diaspora Network ketika menghadiri Kongres Diaspora Indonesia di Los Angeles di tahun 2012.

Gambar 4 – Perumahan Green Le Mirage di Depok, Jawa Barat

ORGANISATORIS DIASPORA

“Seseorang hanya mungkin berkontribusi dengan apa yang memang dimilikinya. Bila kita memiliki karakter yang positif, pasti kita akan berkontribusi sesuatu yang positif juga.  Sibuk dengan perbuatan positif, niscaya akan menjauhkan kita dari perbuatan negatif”

Kartini Sarsilaningsih

Namaku Kartini Sarsilaningsih, namun lebih dikenal dengan panggilan “Nining”.  Separuh hidupku, kujalani sebagai diaspora.  Pertama di Belgia, sejak pertengahan 1992 sampai dengan akhir 1995, untuk bekerja dan kuliah.  Lalu, beberapa bulan di tahun 2000 dan berlanjut lagi sejak akhir 2003, karena mendampingi suami yang bekerja di Qatar.  

Aku memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang sangat beragam.  Karenanya mudah bagiku beradaptasi dalam lingkungan, situasi dan tugas baru.  Aku menjalani pendidikan tinggi bersamaan di AkSek/LPK Tarakanita, Jakarta, dan Universitas Indonesia, Fakultas Sastra – Jurusan Perancis, Depok.  Setelah lulus dari Aksek/LPK Tarakanita, aku mulai bekerja sambil menyelesaikan skripsiku di UI.  Kemudian, di tahun 1992, aku berkesempatan bekerja di Perutusan Republik Indonesia untuk Masyarakat Eropa (PRIME), di Belgia dimana aku pun memanfaatkan kesempatan itu untuk kuliah di jenjang S2 hingga meraih gelar Master in Industrial Location and Development dari Vrije Universiteit Brussel (VUB), Faculty of Economy, Social & Political Sciences (ESP), di tahun 1995.

Perjalananku sebagai diaspora Qatar, pertama kali dimulai saat baru menikah di tahun 2000.  Aku mendampingi suamiku, Purwanto, yang saat itu mendapat penugasan dari perusahaan tempatnya bekerja di Indonesia, untuk diperbantukan ke Alstom Perancis dalam pengerjaan proyek di Kahramaa, Perusahaan Listrik dan Air Negara Qatar.   Tidak sampai setahun aku sempat tinggal dan mengenal Qatar, karena kemudian suamiku diperlukan untuk proyek lain di Indonesia.  Berselang satu setengah tahun dari kepulangan kami berdua ke Indonesia, Kahramaa yang dulunya merupakan klien, menawarkan pekerjaan bagi suamiku dan membuatnya memilih kembali ke Qatar sejak 2002.  Aku dan dua anakku yang masih balita saat itu, menyusul di akhir 2003.  Sejak itulah, kami sekeluarga menetap di Qatar sebagai diaspora.  Lalu, sejak awal 2018, putra sulungku kuliah di Malaysia dan putri bungsuku menyusul di awal 2021.

Aku sempat bekerja di tiga perusahaan berbeda di Qatar pada kurun waktu 2006 – 2010 selalu sebagai Human Resources practitioner.  Pertama, aku bekerja di Movenpick Hotel Doha sebagai Assistant Human Resources Manager. Kemudian berlanjut ke owning company dari Moevenpick Hotel Doha, yaitu Qatar National Hotels Company (QNHC, atau sekarang bernama Katara Hospitality) sebagai Human Resource Executive.  Selanjutnya, aku berkesempatan bekerja di dunia perbankan lagi, dimana sebelum pindah ke Qatar, terakhir kali aku bekerja adalah sebagai Kepala Cabang dari sebuah bank swasta terkemuka di Indonesia.  Mashreq Bank Qatar, adalah perusahaan terakhir tempatku bekerja di Qatar dan menjabat sebagai Compensation & Benefits Specialist.

Sejak mengundurkan diri dari Mashreq Bank tahun 2010,  aku memilih aktif dalam organisasi masyarakat dan bekerja paruh waktu, antara lain sebagai Representative Universitas Bina Nusantara (BINUS) untuk kawasan Timur Tengah. Karena aktif dalam kegiatan masyarakat di bidang kewirausahaan, di antaranya sebagai pendiri dan pengurus Indonesian Business Association in Qatar (IBAQ), aku terpilih menjadi Ketua Koperasi Warga Indonesia Qatar (KWIQ) saat KWIQ didirikan awal 2017.  Kemudian, sejak pembukaan KWIQ Supermarket WLL yang merupakan unit usaha pertama KWIQ Juni 2017, aku pun menjabat sebagai Direktur Pengelolanya. Di tahun yang sama, kegiatan organisasiku mulai meluas cakupannya dengan menjadi Executive Board atau pengurus dalam jejaring Indonesian Diaspora Network – Global (IDN-Global), salah satu organisasi diaspora Indonesia yang terbesar dengan cakupan global.  Di periode kepengurusan  2017-2019, aku menjabat sebagai Vice President untuk Program, dan pada periode 2019-2021, aku menjabat sebagai Deputy President atau Wakil Ketua.

Sebagai Representative Universitas Bina Nusantara (BINUS) untuk kawasan Timur Tengah.

Sebagai HR practitioner, aku meyakini bahwa setiap orang perlu mengembangkan diri.  Pengembangan diri secara formal melalui peningkatan jenjang pendidikan merupakan investasi yang bisa menunjang karir.  Karenanya saat menjadi perwakilan BINUS University, aku berusaha menjembatani teman-teman diaspora agar bisa meningkatkan jenjang pendidikannya baik S1 maupun S2 dengan tetap tinggal dan bekerja di Qatar.

Gambar 1 – Sidang skripsi S1 Teknik Industri Qatar, 25 September 2019

Aku berhasil meyakinkan BINUS agar membuka kelas khusus bagi para diaspora di Qatar untuk program yang memang dibutuhkan.   Binus Online Learning yang tadinya belum memiliki program Teknik, pada akhirnya membuka program S1 Teknik Industri karena adanya kebutuhan dari teman-teman diaspora yang bekerja di industri minyak dan gas, serta derivasinya.   Berawal dari Qatar, kemudian teman-teman dari Uni Emirat Arab, Saudi Arabia dan Oman pun dapat bergabung.

Sebagai Ketua Koperasi Warga Indonesia Qatar (KWIQ), dan Direktur Pengelola KWIQ Supermarket WLL

KWIQ didirikan dengan tujuan menumbuhkan semangat kewirausahaan dalam diri para diaspora Indonesia di Qatar dan menjadi wadah untuk praktek menjalankan usaha.  Aku dan beberapa teman penggagas meyakini berwirausaha itu harus dilatih dan dipraktekkan, karena teori saja tidak cukup.  Diperlukan kreatifitas dan mental pantang menyerah karena kondisi di lapangan sering berbeda dengan perhitungan rencana bisnis.  

Unit usaha pertama KWIQ, yaitu KWIQ Supermarket WLL pun dibuat agar bisa menjadi pintu bagi produk-produk Indonesia ke pasar Qatar.  Dalam usianya yang sudah lebih dari 3 tahun, KWIQ Supermarket WLL masih menghadapi banyak tantangan untuk bertahan dan maju.  Diperlukan komitmen yang luar biasa dari para pengurus dan tentunya anggota-anggotanya, dimana hal ini sudah diingatkan oleh Bapak Agus Muharam, mantan Sekretaris Kementerian Koperasi & UKM saat memberi sambutan di peresmian KWIQ Supermarket WLL Juni 2017, yaitu : “Mempertahankan akan jauh lebih sulit daripada mendirikan”.  

Pernyataan tersebut 100% benar adanya. Sikap positif dan keyakinan bahwa yang dikerjakan adalah niat baik untuk memberi manfaat bagi banyak pihak, membuat seluruh tim yang ada di KWIQ pantang mundur menghadapi segala tantangan yang ada.

Gambar 2 – Peresmian KWIQ oleh Duta Besar RI untuk Qatar Muhammad Basri Sidehabi dan Deputi Bidang Kelembagaan, Kementerian Koperasi dan UKM, Meliadi Sembiring, Juni 2017.

Sebagai Deputy President, Indonesian Diaspora Network – Global (IDN-Global)

Sejak menjadi pengurus atau Executive Board IDN-Global, aku banyak belajar dan menyadari bahwa sebagai diaspora, kita bisa berkontribusi ke masyarakat dan juga negara Indonesia.  Walau hal itu sudah dilakukan secara individual, namun dampaknya akan sangat besar bila terkoordinir dan dilakukan bersama.

Manfaat yang sangat terasa sebagai pengurus IDN-Global adalah meningkatnya jejaringku dengan berbagai pihak, sehingga aku pun dapat memfasilitasi banyak pihak untuk bersinergi, khususnya dalam konteks kediasporaan.  Ini sesuai dengan motto organisasi : “Connecting the Dots – Expanding the Opportunities”.  

Di periode kepengurusan 2019-2021, tugas yang kuemban semakin serius dan berat selaku Deputy President IDN-Global.  Kinerja IDN-Global diharapkan semakin baik.  Selain kesadaran akan potensi diaspora terus digaungkan, sisi pemberdayaan diaspora pun mulai mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak, khususnya Pemerintah.  Sebagai pengurus, aku harus proaktif memprakarsai program-program yang bisa dilakukan oleh IDN-Global dan dengan pihak mana saja perlu bersinergi.  Untuk itu diperlukan kepekaan terhadap masalah dan peluang,  serta komitmen dan konsistensi yang tinggi sebagai seorang organisatoris dan pengemban tugas.

Gambar 3—Sebagai Program Desainer dari Sectoral Program Congress of Indonesian Diaspora (CID) -5 yang difasilitasi oleh Kementerian Tenaga Kerja, 13 Agustus 2019 di Jakarta

Dalam keseharian dan aktivitas, aku selalu berusaha bersikap positif dan bisa berkontribusi bagi banyak pihak.  Sikap positif dan semangat berkontribusi menurutku perlu dikembangkan terus menerus.

Seseorang hanya mungkin berkontribusi dengan apa yang memang dimilikinya. Bila kita memiliki karakter yang positif, pasti kita akan berkontribusi sesuatu yang positif juga.  Sibuk dengan perbuatan positif, niscaya akan menjauhkan kita dari perbuatan negatif.

SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

Artikel Terkait