“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
(Al Baqarah: 286).

Pati, 10 April 1992
Allah memberikanku kesempurnaan. Memberi hikmah tak terkira bagi keluarga kami. Setelah berjuang selama hampir 12 jam, hari itu aku dilahirkan lewat rahim seorang ibu yang tangguh. Sungguh sulit membayangkan apa yang dirasakan oleh bapak dan ibuku setelah mengetahui buah hatinya tidak terlahir sebagaimana anak-anak normal lainnya. Badan mungilku dicekoki kabel dan inkubator, tanpa tangisan.
Asphyxia neonatal mengalahkan syaraf-syaraf tubuhku, lengkap dengan vonis dokter bahwa fisikku takkan bertahan lama melihat indahnya dunia.
Hari itu, boleh jadi adalah awal dari segenap kisah cerita hidup yang terus mewarnai keluarga kami. Muhammad Zulfikar Rakhmat, dilahirkan dengan keterbatasan, tanpa syaraf tangan dan ujung lidah yang tidak berfungsi sempurna.
Sulit membayangkan apa yang dirasakan orang tuaku saat itu. Namun kuyakin bukanlah keterbatasan fisik yang mereka sesalkan melainkan ketakutan akan masa depan. Masa depan anaknya yang harus hidup dengan perjuangan. Perjuangan yang “berbeda” untuk mendapatkan kebahagiaan.
Semarang, 1 Juli 1996
Allah memberikanku kesempurnaan. 4 tahun setelah aku dilahirkan, nyata-nyatanya Allah lah Sang Pemberi kehidupan. Meski tak mampu berbicara normal sebagaimana anak-anak lainnya, setidaknya ayah dan ibuku cukup berbangga karena anaknya mampu bertahan hidup dan kini sudah pantas untuk bersekolah.
Yang kuingat saat itu, ayah mencoba mendaftarkanku ke Sekolah Dasar umum. Tapi sayang, hampir seluruh sekolah dasar di Semarang menolakku dengan berbagai alasan terkait keterbatasan yang kumiliki. Namun, aku bersyukur didampingi ayah dan ibu yang hebat. Dengan penuh keyakinan, ayah dan ibuku menemui beberapa orang dan lembaga secara informal. Alhamdulillah, Allah memberikanku jalan. Tak berapa lama, ikhtiar ayah dan ibuku dijawab Allah dan aku diterima di sekolah formal, SD Al Azhar di Semarang.
Berulang kali aku berucap syukur; entah apa jadinya jika saat itu tak satupun sekolah normal yang mau menerimaku. Barangkali Sekolah Luar Biasa (SLB) menjadi jalan pilihan yang harus ditempuh. Sekolah Luar Biasa yang sebetulnya bukanlah luar biasa bagi kami kaum difabel. Karena di sekolah itulah biasanya otak kaum difabel dikerangkeng, hati dan fisik mereka dipisahkan dari komunitas. Sekolah yang justru memberikan “keterbatasan” yang sesungguhnya bagi kaum difabel untuk lebih menikmati kehidupan.
Hari hari sekolah kujalani penuh cerita. Cerita berbeda.
Jika boleh jujur, dari hati yang paling dalam, sungguh aku tak ingin lagi mengulang detil cerita luka yang kualami sewaktu sekolah. Awalnya aku berpikir, cukuplah ini menjadi hikmah dalam hidupku yang harus kutimbun dalam-dalam.
Tapi belakangan aku sadar. Ini sesungguhnya bukanlah cerita menyedihkan dan seharusnya menjadi cerita membahagiakan tentang kekuatan dan keberhasilanku melawan keterbatasan. Harusnya ini menjadi cerita hikmah yang harus didengarkan oleh banyak kaum difabel diluar sana yang kalah melawan keterbatasan. Harusnya cerita ini didengarkan oleh setiap orang yang penuh kesempurnaan di dunia ini, agar kami kaum difabel bisa berjalan beriringan dalam setiap cerita-cerita hidup mereka.
Bullying, satu kata yang terus menghukum jantung hatiku semenjak belasan tahun yang lalu. Hari-hari disaat dilecehkan teman, didorong hingga membuat kepalaku penuh jahitan, dikucilkan dari pergaulan, dan pulang ke rumah dengan tangisan. Yang kuingat, tak ada yang bisa kulakukan selain berdiam diri di kelas di saat yang lain berlarian di jam istirahat. Datang ke sekolah selambat mungkin dan pulang secepat mungkin. Datang lebih awal berarti membuka kesempatan mendapatkan ciutan. Dan pulang lebih awal adalah satu-satunya jalan untuk melarikan diri dari pergaulan.
Dari semua cerita, satu hal yang masih kuingat jelas, mereka yang selalu meragukan kemampuanku. Ada satu pertanyaan yang sering kuterima. “Apa cita-citamu?” Pertanyaan yang sebetulnya standar buat anak SD yang waktu itu belum tau apa-apa. Dengan penuh keyakinan aku selalu menjawab bahwa cita-citaku menjadi seorang guru. Tapi sayang sekali, beberapa dari mereka meragukannya dan ada yang menertawakannya. Dan ada juga yang ngeledek dan mengatakan, “Gimana mau menjadi guru, nulis aja gak bisa?”
Entahlah, apa yang kualami saat itu boleh jadi adalah ujian dan hikmah dari Allah. Tapi Allah sangat adil terhadap hamba-hambanya. Dibalik segala cerita itu, Allah menganugerahkanku ayah dan ibu yang hebat. Setiap kali aku pulang ke rumah, ayah dan ibuku selalu tersenyum “bahagia” dan mengatakan “jangan biarkan keterbatasan mengalahkanmu” serta membelaiku dan mencoba mencari alasan agar seolah-olah bullying itu adalah masalah kecil yang tidak perlu dipikirkan. Padahal aku tahu, saat itu sebetulnya beliau menanggung beban yang jauh lebih berat dari apa yang kualami dan kupikirkan.
“Jangan biarkan keterbatasan mengalahkanmu.” — Bapak (2001)
Semarang, 1 Juli 2004
Allah memberikanku kesempurnaan. Kesehatan selalu menjadi anugerah terindah yang diberikan Allah. Tahun itu kutamatkan Sekolah Dasar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Meski bullying masih terkadang kualami dari hari ke hari, sepertinya hati ini sudah mulai kuat, setidaknya tak ada lagi tangisan. Berulang kali kumotivasi diriku untuk melakukan apa yang siswa normal lainnya lakukan. Ternyata benar, ikhtiar dan kerja keras adalah jalan untuk mendapatkan kesetaraan. Beberapa kali, aku dipilih sebagai juara lomba pidato dan santri terbaik. Serta lulus ujian nasional dengan nilai rata-rata yang memuaskan.
Perlahan percaya diri itu mulai muncul. Aku bisa melihat ayah dan ibuku mulai tersenyum bahagia bahwa perjuangan mereka menjadi kenyataan. Bahwa aku bukan lagi anak yang lemah dan “terbatas”. Melalui perjuangan tanpa lelah mendampingiku dari waktu ke waktu, merekalah yang sebetulnya berhasil meruntuhkan segala “keterbatasanku.”
Qatar, 30 Mei 2007
Allah memberikanku kesempurnaan. Kami sekeluarga pindah ke Qatar, cerita baru yang menjadi awal bagi keluarga kami hidup di perantauan. Namun benar saja, momen ditolak sekolah terulang kembali. Setelah berkeliling satu negeri, tak ada satu sekolah pun yang mau menerimaku. Strategi menemui ‘orang penting’ tak mungkin lagi bisa dilakukan. Waktu itu, ayahku sempat kehabisan akal hingga mulai berpikir untuk mengirimku kembali ke Indonesia.
Tetapi Allah memang Maha Besar. Setelah kembali berjuang, akhirnya sebuah sekolah menerimaku sebagai siswa di Qatar. Tapi, benar adanya, bahwa perjuangan hanya akan berhenti saat ajal datang menjemput.

Sekolah di Qatar membawaku pada bentuk perjuangan lain. Bergaul dengan lingkungan yang asing lengkap dengan keasingan bahasa dan sifat-sifat yang tidak sama.
Tapi setidaknya, ada satu hal yang berbeda. Tak ada lagi bullying. Hari-hari yang kulewati bukan lagi saat-saat memendam rasa benci terhadap teman yang membully. Perjuangan ku jauh lebih membahagiakan, termasuk belajar bahasa Arab dan belajar bagaimana mencari teman. Kebahagiaan yang justru kudapatkan setelah pergi ribuan kilometer dari bumi pertiwi.
Qatar, 1 Maret 2010
Allah memberikanku kesempurnaan. Anak yang dulu dilahirkan tanpa tangisan dan keterbatasan, mendapatkan beasiswa dari pemerintah Qatar untuk melanjutkan studi di Qatar University. Sungguh anugerah yang luar biasa yang Allah ciptakan. Titik balik pengharapanku untuk menjadi orang yang jauh lebih berarti buat keluargaku dan orang-orang sekitarku.

Rasa terima kasih yang tidak pernah bisa berbalas buat teman-temanku semasa kuliah yang meluangkan waktunya menjemput dan mengantarkan untuk berangkat kuliah. Dukungan mental yang luar biasa sebagai jawaban atas kelemahanku. 18 tahun, alhamdulillah, akhirnya kunikmati apa itu makna persahabatan.
Persahabatan yang tulus, tanpa berharap kembali, persahabatan yang akan kuingat sampai tua nanti.
Jika boleh jujur, persahabatan itu juga yang menjadi asa dan semangatku yang sebenarnya. Efeknya, aku memahami menjadi manusia yang utuh. Percaya diriku mulai tumbuh, dan alhamdulillah nilaiku melonjak drastis. Tulisan-tulisanku mulai dimuat di outlet lokal dan internasional. Berbekal nilai IPK yang hampir sempurna, aku selesaikan kuliah sarjana dengan predikat lulusan terbaik dan bahkan salah satu yang tercepat dari Qatar University. Akupun diberi kesempatan menunaikan ibadah umrah.
Entahlah, serasa mukjizat yang sulit digambarkan disaat melihat orang tuaku tersenyum haru melihat anaknya mendapatkan penghargaan langsung dari Raja Qatar.
Manchester, 12 September 2014
Allah memberikanku kesempurnaan. Aku diterima di salah satu universitas yang diidamkan banyak orang, University of Manchester. Pencapaian yang mudah-mudahan menjadi awal baikku untuk mewujudkan cita-cita menjadi guru di tanah kelahiranku.
Dari hijaunya bumi pertiwi dan panasnya gurun pasir Timur Tengah, hari ini kujejaki dinginnya tanah Eropa, bergaul dengan ilmuwan hebat dunia dan bertemu dengan kawan yang yang punya cerita perjuangan yang mengesankan.
Mulai saat itu, kurasakan tangan ini sudah jauh lebih kuat, lidah ini jauh lebih kuat. Syaraf-syaraf itu serasa berfungsi kembali,berfungsi kembali dalam arti yang sesungguhnya, menjadi manusia yang sempurna.
Manchester, 19 November 2018
Sore itu, aku tak kuasa menahan air mata yang jatuh dari kedua bola mataku. Saat dua penguji memberikan tangan mereka seraya menyebut “Dr. Muhammad Zulfikar Rakhmat, congratulations”. Sungguh, Allah terkadang tidak hanya mengabulkan permintaan hamba-hambaNya, tetapi juga memberi lebih dari apa yang diminta. Rencana yang awalnya mengambil S2, ditambahkan Allah dengan gelar doktor di usia ke-26.
Yogyakarta, 3 Januari 2021
Aku telah kembali ke Indonesia. Mencoba mengabdi dan berjuang di bumi pertiwi. Benar adanya bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan doa dan perjuangan. Hari ini aku menjadi seorang Guru di sebuah Universitas di salah satu kota terindah di negeri ini. Dan juga kota asal pujaan hati pilihan Allah.
Tak hanya itu, menulis menjadi hobi paling aku minati. Aku telah menerbitkan lebih dari 300 artikel dan 5 buku. Sungguh pencapaian yang tak mungkin terwujud jika Allah tak beri jalan. Hari ini, aku pun berjuang mencoba memberi jalan untuk mereka yang masih tersisihkan di masyarakat. Aku mendirikan Sekolabilitas dan Sekolah Rakyat. Yang pertama adalah sebuah organisasi bertujuan memberi akses kepada mereka yang terlahir istimewa untuk mendapat pendidikan yang layak. Yang kedua adalah sebuah platform belajar online yang ditujukan untuk semua kalangan.
Hari ini aku sadar sesadarnya ternyata Allah tak pernah memberikanku keterbatasan. Semenjak aku dilahirkan aku dianugerahkan kesempurnaan yang tak terhitung jumlahnya. Kesempurnaan yang kusadari setelah dua dasawarsa raga ini hadir di dunia.
Untuk orang tuaku dan sahabatku, rasa terima kasihku tak mungkin bisa berbalas dengan kata-kata dan harta. Hanya doa yang bisa kusampaikan, semoga Allah juga membalas segalanya dengan kesempurnaan.

Masa laluku mungkin menjadi cerita. Tapi hari ini kutinggalkan semuanya dan aku mencoba berjalan lebih tegar membangun asa. Bahwa kehidupan mengajarkanku tentang perjuangan. Perjuangan yang seharusnya juga dilakukan oleh kawan-kawanku di luar sana yang hari ini harus tersisihkan dengan keterbatasan.
Allah (selalu) memberikan kita kesempurnaan. 3 Januari 2021, yang hari ini menjadi guru di salah satu universitas di Yogyakarta sampai saat ini.
SUMBER : BUKU MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR
















