CERITA PMI SUKSES DI QATAR : INSPIRASI DARI CHEF HOTEL BINTANG LIMA

“Ambil tanggung jawab untuk fokus dan matangkan keahlian.  Cari teman sebanyak banyaknya. Bergabung bersama komunitas peluang kerja di luar negeri. Gunakan medsos untuk mencari tahu tentang peluang bekerja di luar negeri”

Fikri Hidayat

Saya Fikri Hidayat seorang koki (Chef) di salah satu hotel berbintang lima di Souq Waqif, Qatar. Dulu tidak pernah sedikitpun terpikirkan sampai bisa bekerja di luar negeri atau bekerja di hotel walau salah satu cita-cita saya adalah bekerja di satu negara di Timur Tengah (negara berpenduduk mayoritas Islam) dengan harapan dapat mengunjungi kota Mekah.

Keinginan kuat itu timbul ketika saya melihat sahabat kakak kandung saya yang sudah lama bekerja di luar negeri yang menjadi karyawan salah satu hotel. Juga banyak teman-teman yang saya kenal memuat foto dengan latar belakang keindahan negara luar di media sosial mereka. Saya berniat suatu hari nanti saya pun akan berfoto dan memasangnya dengan latar belakang negara yang saya impikan.

Dan alhamdulillah akhirnya impian tersebut menjadi kenyataan. Allah memberikan saya rezeki mengunjungi Mekah dan berfoto didepan Ka’bah beserta ibu, istri, dan kakak kandung saya ketika kami umrah di tahun 2015.

Kesempatan bekerja di luar negeri pertama kali datang sebagai seorang anah buah kapal (ABK) kapal ikan milik perusahaan China yang berlayar di Samudra Pasifik di dekat perairan Fiji. Bekerja di kapal tidak ringan dan kehidupan laut sangat keras. Saya bekerja 18 jam sehari, makan makanan alakadarnya, dan melewati waktu yang terasa lama dengan berbagai macam peraturan yang terkadang lebih banyaknya merugikan ABK.

Kontrak kerja akhirnya selesai. Saya kembali ke Jakarta dan bekerja apa aja yang penting ada kegiatan dan pemasukan. Saya juga tidak putus harapan terus berusaha untuk melamar pekerjaan di luar negeri. Sambil menunggu dengan sabar saya matangkan keterampilan, baca artikel tentang kesempatan bekerja di luar negeri, mencari komunitas yang membahas tentang pekerjaan di luar negeri, dan berdoa tentunya. Saya juga mendapatkan banyak teman dan menggunakan media sosial untuk mencari informasi tentang lowongan pekerjaan di luar negeri.

Suatu hari saya menerima telepon dari sahabat kakak saya, seorang perempuan berkarakter, perempuan pemberani yang tetap membumi walaupun kehidupannya sudah berada di level yang lebih baik saat itu. Ketika itu beliau sedang berlibur dari Maladewa dan mengajak jalan untuk mencari batu akik. Akhirnya waktu liburnya berakhir dan harus kembali ke Maladewa. Sayangnya karena macet di jalan jadi ketinggalan pesawat perjalanannya tertunda dan harus menginap di hotel sekitar bandara.

Saya memberanikan diri untuk meneleponnya. Beliau menerima ajakan saya untuk membangun mahligai rumah tangga. Enam bulan kemudian kami menikah yang diadakan pas dihari ulang tahunnya.

Setelah menikah dan karena beliau mengundurkan diri dari pekerjaannya, kami sempat bingung apa yang harus dikerjakan. Kami sempat menjadi backpacker menghabiskan waktu berpetualang di Jawa dan Bali sekaligus memperkenalkan istri ke keluarga saya di Sukabumi.

Ada hal yang saya temukan diantara petualangan kami. Saya menemukan hal yang tidak pernah saya temukan sebelumnya, keberanian seperti istri saya bertemu orang baru dan bisa langsung akrab dan nyambung ngobrol, dan ada proses yang terkadang saya tidak suka dan saya harus sabar untuk menyukainya

Akhirnya sebuah kesempatan untuk bekerja di suatu perusahaan datang kepada kami dari Qatar. Hotel internasional bintang lima dengan fasilitas sangat bagus. Kami bisa tinggal bersama dan banyak lagi fasilitas bagus yang kami dapatkan. Kami pindah ke Qatar bulan September 2014.

Dari sinilah perjalanan menjadi seorang hotelier bermula. Setelah setelah beberapa bulan ditempatkan sebagai steward di dapur hotel. Stewarding pekerjaannya adalah mencuci piring, gelas, dan seabrek pekerjaan lainnya karena, dan mencucinya menggunakan mesin dan peralatan modern lainnya.

Setelah beberapa bulan saya ditempatkan di restoran Jepang ternama yang ada di Doha yang berlokasi di hotel yang sama. Banyak pelajaran yang saya dapatkan seperti bagaimana caranya mencuci apapun yang ada di dapur dengan baik dan benar, membersihkan setiap sudut di dapur dengan rapi dan aman sesuai standar bintang bintang lima, dan bagaimana memastikan keselamatan dan kesehatan para karyawan.

Sekilas pekerjaan itu sangat mudah, tapi jauh terjun di dalamnya banyak hal yang harus dikerjakan sangat teliti dan hati-hati. Saya baru sadar kalau di hotel bintang lima itu kondisi dapurnya harus benar-benar bersih. Bagaimana setelah penggunaan pisau pun kita gunakan pembersih kimia untuk mencucinya dan setelah kering disimpan ditempat yang dipastikan itu aman dan bersih.

Setelah satu tahun bekerja di restoran Jepang, saya kembali bekerja sebagai steward di dapur hotel. Di saat waktu senggang saya melihat para koki bekerja dengan atraksinya yang menarik. Mereka menginspirasi saya untuk menjadi seorang koki (chef). Saya putuskan untuk berlatih menjadi seorang koki karena ingin anak saya bangga dengan pekerjaan ayahnya.

Saya mengambil pelatihan menjadi seorang koki di luar waktu kerja saya. Perlu komitmen yang tinggi, tapi tekad saya sudah bulat untuk belajar. Semua pelatihan ini saya dapatkan langsung di dapur salah satu hotel berskala internasional.  Saya sangat beruntung memiliki teman teman yang tidak pelit ilmu, mendapat dukungan dari kawan-kawan, dan bekerja di perusahaan yang memberikan kesempatan kepada karyawannya untuk maju dan berkembang.

Mr. Giancarlo Di Francesco, seorang Executive Chef favorit saya memberikan kesempatan kepada saya untuk meniti karir di bidang culinary. Mulai bekerja sebagai Cook Helper saya lolos percobaan dan diberikan kepercayaan untuk masak sendiri. Enam bulan kemudian saya dipindahkan ke dapur karyawan dan bekerja memasak menu untuk para karyawan yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan selera makanan yang berbeda beda. Satu persatu menu saya menguasai menu masakan dari berbagai tempat: makanan Asia (terutama Indonesia), India, Arab, dan juga Eropa.

Apakah mudah menjadi seorang koki? Tidak ada yang susah. Buat saya menjadi koki adalah belajar. Belajar mengolah hati dan juga perasaan. Bagaimana kerja memasak menjadikan sebuah pahala sehingga hasil olahan tangan kita menjadikan orang lain bahagia. Ini merupakan kepuasan tersendiri.

Dan itu semua tidak cukup hanya sekedar memiliki keinginan menjadi seorang Chef,  atau karena memiliki hobi memasak, pada kenyataanya dibutuhkan dedikasi tinggi untuk loyal dan berani memotivasi diri sendiri untuk tetap berlanjut menggeluti dunia perdapuran, terkadang kami dituntut untuk meluangkan waktu yang lebih untuk berada di kitchen karena tuntutan yang harus kami kerjakan, belum lagi menyikapi komplain dari tamu, karena standar lidah setiap orang itu berbeda disini kami pun harus meluaskan  hati untuk menerima kritikan, tidak ada perjalanan mulus, semua butuh pengorbanan dan perjuangan.

Bekerja menjadi seorang chef dimanapun sama. Semua tergantung diri kita apakah kita bisa menyesuaikan dengan tempat baru atau tidak, saya membawa diri saya dengan mental dan spiritual yang baru, gelas yang kosong untuk ilmu yang baru, teman-teman yang baru, dan yang pasti dengan peraturan perusahaan yang berbeda, pindah di perusahaan yang baru setelah pengalaman 4 tahun saya menjadi chef, pindah di Hotel baru dengan jabatan baru dan pastinya penghasilan pun berbeda, bergabung dimana hotel belum beroperasi, dan saya menjadi bagian dari team opening.

Di tahun ketiga kami berada di Doha, kami dianugerahi rejeki terbesar dalam hidup saya. Tanggal 26 Juni 2016, putri kami lahir di Hamad Hospital. Fasilitas melahirkan diberikan perusahaan. Negara ini sungguh baik memperlakukan kami. Selama masa kehamilan istri pelayanan terbaik selalu diberikan. Alhamdulillah semua berjalan lancar sampai melahirkan.

Jadi, apa yang ditakutkan lagi bekerja di luar negeri? Qatar merupakan negara yang selalu memberi kesempatan bagus dan memberi peluang untuk para pekerja di semua sektor, silahkan check website www.tentangqatar.com. Negara terkaya di Dunia yang sudah membuat perubahan dalam hidup saya. Ambil tanggung jawab untuk fokus dan matangkan keahlian.  Cari teman sebanyak banyaknya. Bergabung bersama komunitas peluang kerja di luar negeri. Gunakan medsos untuk mencari tahu tentang peluang bekerja di luar negeri. Jangan takut dengan pernikahan jarak jauh. Selama kita sendiri berada pada koridor yang benar Insya Allah pasangan hidup kita pun ada dalam genggaman kebaikan dimanapun dia berada.

SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

Artikel Terkait