“Pesan saya untuk ibu-ibu, ikuti saja kata hati. Setiap orang punya kelebihan sendiri-sendiri, ada yang suka menjahit, serius lah di bidang itu, kalau pintar masak begitu juga. Yang penting dapat menghasilkan yang bermanfaat bagi diri dan lingkungan sekitar”

Yusy Sriwindawati
Nama saya Yusy Sriwindawati, seorang ibu dari lima anak. Saya tiba di Qatar sekitar tahun 2002 menyusul suami saya yang sudah duluan ke Qatar tiga tahun sebelumnya. Suami saya, Bapak Brata Wijaksa, merupakan salah satu orang Indonesia paling awal yang bekerja di Dukhan sebagai salah satu karyawan perusahaan minyak milik pemerintah Qatar.
Dukhan merupakan sebuah kota kecil di sisi barat negara Qatar yang terkenal sebagai kota dimana pertama kali minyak untuk negara Qatar diproduksi. Di kota tepi pantai inilah ada sebuah kompleks perumahan pegawai yang memiliki fasilitas lengkap, seperti sekolah, tempat hiburan, restoran, dan lain-lain.
Akan tetapi saat saya pertama tiba di Dukhan, kondisinya masih sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Saat pertama tiba, saya seperti mau menangis. Karena kondisinya sangat jauh dari bayangan saya tinggal di luar negeri. Ternyata saya harus tinggal di desa terpencil di perumahan bujangan yang seadanya. Tapi akhirnya saya nikmati saja.
Alhamdulillah seiring dengan waktu, saya semakin betah dengan banyaknya orang Indonesia ke Dukhan dan lingkungan di Dukhan yang semakin berkembang. Apalagi sekarang jalan dari Dukhan ke ibu kota Qatar, Doha, sudah dijembatani oleh jalan bebas hambatan yang sangat besar. Dengan waktu kurang dari satu jam, kami bisa sampai di Doha.
Salah satu anak saya mengatakan, “Mengapa harus kerja? Ibu kan bisa membuat masakan?”. Dari situlah saya lantas membuat pempek, siomay dan bakso. Makanan-makanan khas Indonesia tersebut selain saya jual ke perorangan, juga saya titip di Qatindo. Qatindo adalah salah satu supermarket khas Indonesia yang berada di Qatar. Supermarket ini berada tepat di depan terminal bus utama di pusat kota Doha. Warga negara Indonesia yang membutuhkan makanan dan sayuran khas Indonesia sering berkunjung ke supermarket ini. Di sinilah saya menjual produk-produk saya, ya sekitar 100-150 bungkus per bulan.
Saya sendiri berusaha memanfaatkan media sosial sebaik mungkin. Walaupun saya orangnya gaptek, saya berusaha untuk selalu belajar. Mulai waktu bikin blog di Multiply sampai dengan membuat fan page di Facebook. Media sosial harus benar-benar dipergunakan secara bijak, khususnya kalau saya untuk mendatangkan rezeki. Saya pun mulai membuat sebuah brand yang saya beri nama YusysCakes yang saat ini sudah memiliki lebih dari 20 ribu followers di Instagram.
Lalu anak saya yang kedua merasa kasihan dengan saya yang selalu sibuk di dapur. Memang membuat masakan tersebut membutuhkan waktu yang banyak. Selain itu, seiring dengan banyaknya orang Indonesia yang pindah ke Qatar, maka banyak juga yang yang membuat makanan serupa. Suami saya juga menyarankan agar saya memiliki fokus dalam usaha, tidak semua bidang diambil. Akhirnya pada tahun 2005 saya saya banting setir fokus untuk berjualan kue kering. Alhamdulillah, banyak warga Indonesia yang pesan ke saya dari semua wilayah Qatar. Sedangkan untuk memasok pempek, bakso dan lain-lain saya serahkan ke teman yang saya percaya, untuk bagi-bagi rejeki.

Untuk terus meningkatkan keahlian saya, saya banyak ikut kursus membuat kue (baking) dan mendekorasi (decorating) dengan guru-guru terbaik dari seluruh dunia. Bahkan saya pernah ke Dubai, Malaysia dan lain-lain untuk belajar karena yang mengajar adalah ahli-ahli di bidangnya. Dalam belajar, saya tidak segan-segan untuk membayar kursus yang mahal tapi berkualitas. Hitung-hitung itu adalah investasi buat saya. Saya juga pernah mengadakan kursus dengan memanggil instruktur dari Australia. Lumayan, saya bisa dapat ilmu dan sekaligus uang dari kegiatan itu, Saya juga rajin membeli buku dan mengikuti kursus online untuk terus meningkatkan kemampuan saya. Saya juga mengambil beberapa sertifikasi untuk memperkuat portfolio saya, seperti Wilton Method dan PME Professional Diploma.
Dari situ saya bisa mengembangkan bisnis saya ke dunia baking dan decorating. Pelanggan saya bukan lagi hanya orang Indonesia, tetapi juga dari semua expatriat yang berada di Qatar dan Qatari. Dulu, untuk mendapatkan bahan untuk membuat kue itu sangat terbatas.
Sampai-sampai untuk membuat kue ketan hitam, saya harus menggiling sendiri. Kotak kue brownies dan hiasan kue pun saya bawa dari Indonesia. Seiring berjalannya waktu, saya pun mendapatkan informasi dimana bisa mendapatkan bahan untuk memasak kue dan sekarang ketersediaan bahan-bahan tersebut semakin mudah dan toko yang menjual juga semakin banyak.
Dengan adanya tantangan-tantangan tersebut, saya semakin terpacu untuk mencoba membuat resep sendiri dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di Qatar. Apalagi banyak kue-kue itu yang dibuat dengan menggunakan bahan-bahan non halal, seperti rum, whisky, dan lain-lain. Saya ingin sekali membuat kue dengan rasa yang tetap enak, tetapi tanpa bahan-bahan tersebut. Akhirnya saya belajar lagi, baca referensi lagi dan terus mencoba. Alhamdulillah resep-resep saya disukai banyak orang, sehingga banyak yang minta untuk diajari.
Sekitar tahun 2013, anak kedua saya mulai kuliah di Universitas Indonesia. Karena ini anak perempuan dan jarang pulang ke Indonesia, otomatis saya harus sering menengok. Pada saat itu saya mencari cara bagaimana bisa sering menengok anak ke Indonesia tapi dengan biaya yang tidak memberatkan.
Alhamdulillah, gayung bersambut. Ada teman saya yang menawarkan saya untuk menjadi pengajar kursus kue. Alhamdulillah dari honor mengajar tersebut saya bisa menengok anak setiap dua tiga bulan. Malah sekarang jadwal saya selalu sudah penuh sebelum pulang ke Indonesia. Ada saja tawaran mengajar dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, mulai dari Semarang, Kudus, Balikpapan, Samarinda, Bali dan lain-lain.
Pesertanya dari berbagai kalangan baik perorangan maupun organisasi, baik pemilik usaha kuliner sampai pejabat. Allah selalu mendengar keinginan hambanya dan memberikan jalan keluar dari arah yang tak terduga.

Akhirnya saya mulai membuat modul-modul pelatihan agar lebih terstruktur. Saya mulai dari mengajar decorating sampai akhirnya sekarang lebih banyak ke baking, karena baking lebih memberikan kepuasan. Kalau murid saya bisa berhasil menjual kue hasil produksinya karena rasanya yang enak, saya juga ikut senang. Saya mencoba menciptakan beberapa resep yang saya bagi ke dalam beberapa modul. Modul-modul tersebut terdiri dari berbagai macam kue, mulai dari basic cake, premium cake, chiffon, desserts box, dan lain-lain. Resep-resep tersebut saya sesuaikan dengan lidah kita, sekaligus juga berasal dari bahan-bahan yang halal.
Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya dipercaya untuk menjadi salah satu dari lima juri lomba The Great Hollandi’s Bake Off Qatar Season 2 di Qatar. Di sini saya dapat menambah pengalaman dan teman dari berbagai negara. Juri lomba ini sendiri berasal berbagai negara. Suatu kebanggaan tersendiri saya dapat membawa nama baik bangsa Indonesia di acara ini. Peserta lomba ini pun berasal dari berbagai negara, baik dari Asia, Arab, sampai dengan Eropa dan Amerika.
Sebenarnya yang paling banyak memberikan masukan dan menjadi mentor saya adalah suami saya. Dia sering memberikan wejangan dan motivasi untuk saya. Salah satunya dalam hal bekerja. Suami saya sendiri tidak meminta saya untuk bekerja, karena dia meminta saya untuk fokus di rumah, mendidik anak-anak. Menurutnya, sepuluh tahun pertama untuk anak-anak adalah waktu yang terbaik untuk pendidikan.
Selain itu, suami saya juga yang selalu mengingatkan saya dalam hal time management. Sehingga diantara kesibukan saya, saya tetap harus mengutamakan suami dan keluarga. Salah satu prinsip saya adalah sehebat apa pun seorang wanita, dia harus tetap menjadi perempuan, tidak boleh menjadi laki-laki.
Dengan segala keterbatasan saya, saya ingin selalu patuh kepada suami, karena prinsip saya suami adalah salah satu jalan saya menuju surga.

Pesan saya untuk ibu-ibu, ikuti saja kata hati. Setiap orang punya kelebihan sendiri-sendiri, ada yang suka menjahit, serius lah di bidang itu, kalau pintar masak begitu juga. Yang penting dapat menghasilkan yang bermanfaat bagi diri dan lingkungan sekitar.
SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

















