“Prinsip saya dalam bekerja adalah bahwa bekerja adalah ibadah dan saya juga harus memberikan kemampuan terbaik saya serta tetap belajar terhadap hal-hal baru”
Muhammad Effendi
Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta
Suasana masih sejuk pada bulan Maret 2017 di kota industri Ras Laffan, Qatar. Pagi itu saya dipanggil oleh atasan saya untuk berbicara empat mata dengannya. Saya sama sekali tidak berpikiran apa-apa dan tidak pula punya prasangka apapun. Pada kesempatan itu, ia mengatakan bahwa krisis ekonomi global memaksa perusahaan tempat saya bekerja melakukan efisiensi di berbagai sektor termasuk salah satunya pengurangan karyawan dan saya termasuk salah satu karyawan yang terkena rasionalisasi tersebut. Ia juga memberitahu saya lebih awal sebelum pengumuman resminya, karena hubungan baik kami selama bekerja.

Berita seperti ini tidak membuat saya terkejut, karena posisi saya sebagai Head of Construction telah dihapus sejak satu tahun sebelumnya dan sejak itu saya ditugaskan menjadi Construction Advisor. Bahkan berita ini, membuat saya bergembira, yang pada akhirnya saya bisa pulang ke negeri tercinta. Dikarenakan dalam tiga tahun terakhir saya sedang mencapai titik jenuh dengan pekerjaan yang mulai terlalu rutin dan dengan berkurangnya kesibukan dalam pekerjaan sehari-hari.
Selain itu, sudah sejak lama saya telah merencanakan untuk pulang ke Indonesia dan menikmati masa purna tugas dengan menjalankan bisnis, membangun pesantren dan bersilaturahmi dengan keluarga di Indonesia.
Perencanaan pribadi tersebut membuat saya mantap menghadapi situasi seperti ini, dan saya berkata dalam hati “inilah saatnya saya mewujudkan semua rencana-rencana itu”.
Saya merupakan Sarjana Teknik Sipil dari Universitas Parahyangan Bandung dan Magister Manajemen dari IPMI Jakarta, yang merupakan kerja sama dengan Monash University Australia. Selain itu, saya juga memiliki Diploma of Occupational Health and Safety dari Australian Center for Work Safety.
Pada tahun 2005 adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Qatar, bekerja di Rasgas sebagai salah satu penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Saya memulai karir saya di Qatar sebagai Construction Specialist yang kemudian dipromosikan sebagai Lead Construction Engineer, Head of Construction hingga terakhir sebagai Construction Advisor. Saat menjadi Head of Construction saya membawahi beberapa tenaga ahli dan insinyur dari beberapa negara. Saat itu saya sebagai karyawan sangat menikmati paket remunerasi yang diberikan, bahkan perusahaan sangat memperhatikan kesejahteraan keluarga karyawan, seperti pada waktu-waktu tertentu memberikan hadiah berupa dawai permainan terbaru yang bisa diberikan kepada anak saya.

Pengalaman saya bekerja di McDermott, Sucofindo dan Technip di Indonesia telah memberikan pengalaman dalam menunjang karir saya. Di McDermott, sebagai Construction Manager, saya mendapatkan pengalaman dan keahlian yang kuat di bidang konstruksi perminyakan mulai dari perencanaan sampai instalasi konstruksi di lepas pantai. Pengalaman kerja di Sucofindo juga memberikan berbagai pelatihan banyak mengajarkan saya tentang kepemimpinan membuat saya yakin bisa bersaing dengan ekspatriat lain di perusahaan tersebut.
Saya juga tidak menutup mata bahwa tidak semua rekan kerja juga mendukung dan bisa bekerja sama dengan kita apalagi di perusahaan multinasional yang pekerjanya berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda.
Namun demikian saya yakin bahwa keahlian dan kemampuan yang kita miliki membuat kita dapat bersaing dan menduduki posisi serta jabatan yang lebih baik dalam berkarir, bahkan kemampuan kita jauh lebih baik dari kemampuan ekspatriat dari negara lainnya.
Saya juga terus meningkatkan profesionalitas dengan mengikuti beberapa pelatihan teknis dan manajemen yang ditunjang oleh kebijakan perusahaan. Kesempatan mengikuti berbagai pelatihan di RasGas ini yang dalam rencana membuka peluang saya menjadi manajer, juga memberikan bekal kepada saya dalam menjalankan karir saya ke depan.
Selain menjalankan aktivitas sebagai karyawan dan tenaga ahli di perusahaan energi di Qatar, saya juga menyeimbangkan antara kerja dan kehidupan sehari-hari termasuk dengan aktif di kelompok masyarakat Indonesia di Qatar. Adanya waktu yang tersedia dan jarak yang tidak terlalu jauh karena Qatar negara yang tidak luas, memungkinkan saya dan keluarga dapat menjalankan ibadah umroh setiap tahun dengan mengendarai mobil sendiri dari Qatar.
Umroh pertama kali yang kami tunaikan dengan Bapak Ali Musthofa, Bapak Bidin dan Bapak Alex Hanief, yang secara tidak sengaja bertemu pertama kali di KBRI Doha pada awal tahun 2006. Sepulang dari umrah tersebut, kami akhirnya menjadi lebih akrab dan sering bersilaturahmi, kemudian mengadakan pengajian mingguan bersama dengan warga Indonesia lain dengan mengundang penceramah Indonesia.

Dari pertemuan dan pengajian ini jugalah kami membentuk ZISQatar, sebuah lembaga untuk menghimpun zakat, infaq dan sedekah dari warga Indonesia di Qatar untuk membantu saudara-saudara kita baik di Qatar maupun di Indonesia. Di masa kepemimpinan Pak Ali Musthofa sebagai Ketua Permiqa (Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar), saya diminta mendampingi beliau sebagai Sekretaris Permiqa. Kegiatan kami dengan pak Ali di Permiqa antara lain mengadakan berbagai kegiatan sosial dengan warga Indonesia yang bekerja sebagai pekerja konstruksi di beberapa labour camp di seluruh Qatar. Pada saat kunjungan ke pekerja konstruksi ini, saya sering mengajak anak saya untuk memberikan gambaran kepadanya bahwa hidup itu tidak selalu gampang dan mewah, akan tetapi ada juga yang perlu kita bantu dan berbagi melalui kegiatan sosial.
Di samping di Permiqa, saya juga aktif di perkumpulan warga ‘wong kito’ yang berasal dari Sumatera Selatan dan tinggal di Qatar bersama Bapak Heri Kartono dan Bapak Syarif Achmad.

Perkumpulan yang bernama KOMPAQ ini dapat menghilangkan kerinduan saya dengan tanah di mana saya dilahirkan dan menikmati pempek dan makanan khas Palembang lainnya pada saat kami melakukan pertemuan setiap beberapa bulan sekali, terutama pada saat musim dingin.
Kegiatan saya lainnya adalah aktifitas olah raga golf, di mana saya bergabung dengan klub golf dari fasilitas yang diberikan dari perusahaan. Berkat dukungan dari Bapak Deddy Syaiful Hadi, Duta Besar RI di Doha pada saat itu, kami membentuk asosiasi pemain golf Indonesia (IGAQA = Indonesian Golf Association in Qatar). Melalui IGAQA di mana saya dipilih sebagai presiden pertamanya, kita ingin membangun citra bahwa pekerja Indonesia tidak hanya bekerja di sektor informal tetapi juga mampu memberi warna sebagai pekerja profesional di berbagai sektor di Qatar.
Setiap bukan kami selalu mengadakan turnamen Golf-IGAQA, selain dihadiri Pemain Golf Indonesia, juga pemain golf dari negara ASEAN lainnya, serta dihadiri oleh duta besar negara-negara ASEAN, Inggris, Jepang, Korea dan beberapa negara lainnya yang ditujukan untuk mengangkat citra pekerja Indonesia di luar negeri. Berita Turnamen IGAQA ini juga sering diekspos di media Qatar, sehingga nama Indonesia mulai terangkat dalam percaturan dan pergaulan warga expatriat di Qatar.
Keluarga saya, istri dan dua orang anak saya sangat menikmati kehidupan di Qatar, baik di tempat pekerjaan ataupun dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun demikian, seperti yang saya utarakan sebelumnya, saya punya rencana-rencana yang saya tulis dan susun sejak pertama kali di Qatar andai suatu saat kami pulang ke Indonesia. Di awal saya hanya berpikir, kalau anak saya sudah menyelesaikan pendidikannya setingkat SMA yang ditanggung perusahaan kami akan pulang ke Indonesia.
Jadi secara mental kami sekeluarga sudah siap jika harus kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Rencana-rencana itulah yang saya wujudkan ketika kembali ke Indonesia antara lain dengan membangun bisnis rumah makan bernuansa timur tengah di Bandung bersama Bapak Heri Kartono dan juga membangun pesantren untuk bekal kami sekeluarga dari sisi spiritual.
Cerita kepulangan kami pada tahun 2017 ternyata diubah oleh Allah Yang Maha Kuasa saat saya dihubungi oleh Bapak Muhammad Kamaluddin yang telah lebih dahulu bekerja di MRT Jakarta. Saya berfikir apa iya saya harus bekerja di tempat yang saya tidak punya pengalaman sebelumnya. Selain itu, pikiran yang mengganggu saya adalah tentang etos kerja di lembaga birokrasi. Singkat cerita, saya diterima sebagai Kepala Divisi Manajemen Proyek yang menangani pembangunan bagian jalur stasiun bawah tanah mulai September 2017.

Bekerja di MRT Jakarta ini juga akhirnya mempertemukan saya dengan suatu tempat kerja yang menjunjung profesionalitas. Walaupun secara hukum perusahaan ini berstatus Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), nuansa kerjanya seperti layaknya saya bekerja di Perusahaan Swasta Nasional/Asing yang baik.
Prinsip saya dalam bekerja adalah bahwa bekerja adalah ibadah dan saya juga harus memberikan kemampuan terbaik saya serta tetap belajar terhadap hal-hal baru.
Prinsip ini jugalah yang membuat saya bisa menapaki karir sekembali dari Qatar dan mengabdi di Jakarta, dan pada akhirnya PT MRT Jakarta menunjuk saya menjadi Direktur Operasi dan Pemeliharaan sejak November tahun 2018 yang bertanggung jawab terhadap hampir 500 Karyawan untuk memastikan Operasi MRT Jakarta berjalan dengan On Top Performance dalam menjamin kenyamanan, keselamatan dan keamanan pengguna seperti layaknya standar yang diterapkan saat saya bekerja di sektor minyak dan gas.
Alhamdulillah, sampai Maret 2020 ini, Operasional PT MRT berjalan dengan sangat baik dengan mencapai zero accident, zero crime dan mendapatkan nilai yang sangat tinggi dalam indeks kepuasan pelanggan.

















