QATAR, SI KECIL YANG BIKIN GEREGETAN

“Hal pertama yang menarik saya terkait masyarakat Indonesia yang berada di Qatar adalah keakrabannya. Tingkat keakraban mereka jauh berbeda dengan keakraban masyarakat kita di negara-negara Timur Tengah lainnya”

Syaifoel Hardy

Pertama kali niat kerja di Qatar tumbuh pada tahun 2005. Saat itu saya masih berada di Dubai, tepatnya di Dubai Government Workshop. Pengalaman tinggal dan bekerja di Dubai selama hampir sepuluh tahun mendorong saya untuk mencari tantangan, tempat kerja dan negara baru. Sesudah empat kali mengirimkan permohonan ke Qatar Petroleum, alhamdulillah saya akhirnya dipanggil untuk mengikuti interview dan kemudian dinyatakan diterima.

Hal pertama yang menarik saya terkait masyarakat Indonesia yang berada di Qatar adalah keakrabannya. Tingkat keakraban mereka jauh berbeda dengan keakraban masyarakat kita di negara-negara Timur Tengah lainnya. Meski demikian, saya tetap beranggapan bahwa guyub-tidaknya sebuah komunitas adalah soal rasa dan peran serta individu dalam kelompoknya. Oleh karena itu, dengan segala kekurangan dan sedikit kelebihan yang saya miliki, saya coba membaur dengan masyarakat Indonesia di Qatar, khususnya dengan rekan-rekan sesama profesi perawat.

Menerima penghargaan dari perusahaan

Pada awal bekerja, saya ditempatkan di Dukhan.

Sebuah kota kecil, terpencil  dan penduduknya sedikit.

Pada waktu itu, saya mencoba menghibur diri, “Ini tidak lama. Percayalah!”

Ternyata benar. Beberapa bulan kemudian saya dipindahkan ke Doha dan tinggal didaerah Al-Sadd. Alhamdulillah, Doha ini sebuah kota besar, walau tidak segemerlap Dubai. Namun saat itu belum seramai sekarang. Saat itu di Doha, pukul 8 malam sudah mulai agak sepi. Setelah setahun tinggal di Al-Sadd, saya kemudian pindah ke apartemen di bilangan Bin Omran. Saya tinggal dekat masjid dan disinilah saya mulai kenal banyak ustadz-ustad kita.

Guna menghibur diri, saya coba menciptakan suasana baru. Saya tawarkan kepada teman-teman seprofesi untuk belajar bersama, terutama mempertajam bahasa Inggris. Program perdana ini saya beri nama: IELTS Preparatory Program.

Sebanyak 21 kali pertemuan, sepekan dua kali. Hampir 3 bulan kami rampungkan. Alhamdulillah, program ini membuahkan hasil. Setidaknya menjadi penyemangat teman-teman perawat Indonesia di Qatar yang saat itu berjumlah sekitar 50 orang. Penyemangat yang dapat membantu karir mereka, termasuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tahun 2007, hanya ada 2 orang perawat yang menyandang gelar pasca sarjana (S2) di antara kami.

Sisanya, 48 orang, lulusan Diploma dan SPK (selevel SMA). Meski ini sepenuhnya bukan karena kontribusi saya, setelah saya resign, hampir 100% teman-teman perawat kita di Qatar akhirnya telah menyandang titel S1 Keperawatan. Melihat prestasi teman-teman, sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri.

Kegiatan pelatihan yang saya berikan secara gratis ini kemudian saya kembangkan. Bersama rekan-rekan muttawa (Muazdin Indonesia yang berada di Qatar), saya tawarkan untuk belajar bahasa Inggris bersama. Saya buka paket Basic English, 19 minggu lama paketnya. Alhamdulillah, responnya luar biasa. Kelompok bahasa Inggris bersama Muttawa ini kami beri nama “Muttawa English Club”.

Menarik sekali.

Kami belajar dari dasar: Listening, Speaking, Grammar, Reading. Ada kalanya kami belajar di masjid, kadang pula di taman yang gratisan, hingga di restauran. Setiap kali pertemuan, tidak pernah sepi dari makanan lezat. Ternyata benar apa yang selama ini saya dengar.

Keguyuban masyarakat Indonesia yang berada di Qatar, tidak perlu dipertanyakan lagi. Pelatihan lain yang juga saya pernah berikan antara lain Leadership Skills, Basic Entrepreneurs, Presentation & Communication Skills, dll. Pendeknya, apartemen saya ramai kayak arisan. Arisan ilmu.

Tanpa harus bepergian atau membaca berita di sana-sini, saya mendapatkan banyak cerita tentang kehidupan, dari saudara-saudara kita dari berbagai latar belakang.

Bersama peserta kursus Bahasa Inggris untuk Muttawwa

Selain memberikan pelatihan bagi sesama perawat, saya juga mengajak bapak-bapak insinyur, ibu-ibu rumah tangga untuk untuk belajar, termasuk menulis bareng. Beberapa kali bersama teman-teman perawat, kami juga mengadakan pelatihan di KBRI Doha. Juga pernah diundang ke sebuah restoran Indonesia untuk sharing entrepreneurship.

Barangkali di dalam diri saya ini sudah tertanam training passion. Sehingga seminggu tanpa cuap-cuap, bibir ini terasa ‘gatal’. Inilah modal utama yang menggerakkan saya untuk melebarkan sayap. Ini menurut saya adalah true investment (investasi sejati). Investasi yang sejujurnya sudah lama saya mulai sejak di Kuwait, kemudian saya teruskan di Dubai. Namun yang terasa cukup masif dampaknya adalah saat saya tinggal dan bekerja di Qatar.

Satu hal yang paling tidak pernah saya tinggalkan selama tujuh tahun di Qatar adalah aktivitas menulis. Ada tujuh buku yang sudah saya terbitkan, yaitu Saya Seorang Entrepreneur Sejati, Seratus Ketawa Ala Arab, Non-Muslims in My Life, Enjoy Nursing, The Sleeping Giant, dan From Qatar to Indonesia. Buku pada list terakhir ini, testimoninya ditulis oleh Duta Besar Indonesia di Qatar,  Bapak Deddy Saiful Hadi.

Barangkali karena kegiatan-kegiatan sosial kependidikan yang bersifat non formal inilah yang kemudian menjadi pertimbangan teman-teman Diaspora Indonesia di Qatar untuk menominasikan nama saya pada pertemuan diaspora pertama di tahun 2012 di Los Angeles-USA. Dalam perhelatan tersebut, saya menyabet penghargaan prestise, Diaspora Winner untuk kategori Social Activism. Saya menganggap penghargaan tersebut bukan untuk pribadi, namun untuk kita semua, masyarakat Indonesia di Qatar. Terima kasih juga kepada Bapak Duta Besar yang telah banyak berjasa terhadap segala dukungan di semua aktivitas masyarakat kita.

Dari sini kemudian saya banyak dikenal. Setiap kepulangan saat cuti, selalu ada saja kampus yang mengundang. Hingga saat ini, lebih dari 120 lembaga pernah mengundang saya di tanah air. Mulai dari Sabang hingga Sumbawa, Sulawesi Tenggara. Dari kampus besar sekelas Unpad, UGM, UNSU, UNSRI, UMM, hingga kampus yang kecil seperti akademi di Kolaka-Sulawesi Tenggara. Ribuan mahasiswa yang saya temui kadang menghubungi saya untuk berkonsultasi. Inilah investasi yang membuat saya berani mengambil keputusan untuk balik ke kampung halaman di tahun 2014.

Saya merintis pendirian Indonesian Nursing Trainers (INT) sejak tahun 2011. INT saya impikan sebagai lembaga pelatihan kecil yang dapat mewujudkan impian saya dan saya harapkan generasi muda keperawatan Indonesia dapat menjadi penerus. Negeri kaya seperti Qatar, dalam beberapa dasawarsa ke depan, dalam pengamatan saya pasti masih membutuhkan expatriat nurses. Hal ini disebabkan minat penduduk asli Qatar terhadap profesi ini amat minim. Kami berharap, Indonesia turut mendapatkan andil di dalamnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang India dan Filipina yang hingga kini masih mendominasi immigrant workers untuk sektor kesehatan. Terkadang, saya sedih menyaksikan ‘kekalahan kita’ dengan mereka dalam artian kuantitas. Sementara, potensi perawat Indonesia sebenarnya sangat besar.

Oleh sebab itu, terlepas dari keuntungan dan kebahagiaan yang kami rasakan selama tinggal dan bekerja di Qatar, ada kesenjangan menyelinap yang saya rasakan. Yakni, keseriusan kerja pejabat, penggede-penggede kita dalam upaya mengisi peluang kerja bagi kita di healthcare sector. Selama tujuh tahun di Qatar, saya tidak menyaksikan perkembangan yang berarti. Tidak ada satupun perawat Indonesia masuk lewat program Government to Government (Go to G) kerja di Qatar.

Ini merupakan kritik sekaligus masukan. Bahwa perawat Indonesia, yang merupakan porsi terbesar di sektor kesehatan perlu mendapatkan perhatian serius terkait peluang kerja di Qatar, dan di Timur Tengah pada umumnya. Realisasinya belum konkrit hingga kini. Mestinya kita tidak perlu malu untuk meniru tentang mengapa pasukan perwakilan kedutaan dari negara lain seperti India dan Filipina bisa berhasil.

Qatar, negara kecil ini menyimpan banyak misteri bagi kami. Negeri ini memberikan  aroma kesejahteraan kepada masyarakatnya. Qatar telah membuat mayoritas profesional keperawatan di Indonesia terpana. Qatar benar-benar luar biasa. Secara geografis Qatar memang hanya sebesar pulau Madura.

Tetapi secara kualitatif negeri ini hebat.  Saya yang pernah merasakan nikmatnya kebab di Turkish Restaurant, terik panasnya gurun menuju Dukhan, luapan api gas di langit Ras Laffan, hingga indahnya Corniche di tepian Doha, yakin bahwa negeri ini akan menggaung reputasinya, menembus angkasa. Qatar mampu menggeser nama besar negara-negara adidaya. Qatar, si kecil, sempat membuat kami geregetan, karena kiprahnya di era global.

*Penulis adalah Diaspora Award Winner untuk kategori Social Activism 2012; QP Al Hasbah Award (2012), Best Motivator INNAQ (2010), Pengasuh Indonesian Nursing Trainers (INT).  

Artikel Terkait
Cerita dari Qatar

REMAJA JUARA BULUTANGKIS

“Saya juga bercita-cita ingin jadi pemain badminton yang dapat mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional” Muhammad Gayuh Wijaya Nama saya

Read More »