“Satu hal yang mengagumkan dan memberi kenangan sangat mengesankan bagi saya tatkala bermukim dan bekerja di negeri yang kaya dan tertata rapi tersebut adalah begitu tingginya rasa persaudaraan masyarakat Indonesia”
Muhammad Djamal
Alhamdulillahi robbil alamin, Assholatu wassalamu ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi ajmain.

Saya Muhammad Djamal, alumni ITB jurusan Teknik Fisika, angkatan 1973. Spesialisasi saya adalah bidang inspeksi dan sertifikasi kekuatan dan kelaikan peralatan operasi dalam instalasi perminyakan dan gas, seperti piping system, pipeline, storage tank, pressure vessel, crane dan lain-lainnya. Saya sudah lama bekerja di bidang keahlian saya ini dan saya berbahagia bisa berkecimpung dalam bidang ini.
Pada awal tahun 2005, tiba-tiba muncul penawaran lowongan bekerja dari Qatar Petroleum untuk bidang profesi atau keahlian saya. Saya sangat tertarik dengan penawaran ini dan bertekad mencoba kemungkinan ini. Saya pun mengurus semua persyaratan yang diperlukan. Setelah semua persyaratan dan proses selesai, saya mengikuti interview dan alhamdulillah dinyatakan diterima. Maka berangkatlah saya ke Qatar pada tanggal 9 April 2005 untuk bekerja sebagai Senior Inspection Engineer di perusahaan Qatar Petroleum. Saya ditempatkan pada sebuah daerah industri bagian utara Qatar yang dinamai Ras Laffan.
Pilihan bekerja di Qatar didorong harapan untuk dapat memberikan kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik bagi keluarga saya. Disamping itu, saya juga telah memperoleh segelintir informasi tentang Qatar dimana negeri ini dikisahkan memiliki tingkat keamanan dan kesejahteraan yang tinggi. Hal inilah yang mendorong saya memutuskan berkiprah di Qatar.
Saat tiba di Qatar, saya melihat bahwa ternyata Qatar banyak mempekerjakan expatriate yang datang dari berbagai negara. Hal ini menjadi hal dan tantangan khusus dalam perjalanan pengalaman saya bekerja. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa setiap bangsa membawa sifat-sifat dan karakteristik yang berbeda-beda. Termasuk kemampuan, keterampilan, pengetahuan dan budaya. Saya akhirnya berada dan berbaur dengan komunitas heterogen, bukan hanya dalam hal terkait kehidupan sehari tetapi juga dalam pekerjaan di kantor. Saya berbaur dengan pekerja dari berbagai kebangsaan dan latar belakang berbeda.

Ditengah-tengah masyarakat yang heterogen, saya mengamati bahwa ternyata tidak sulit bagi para ekspatriat Indonesia untuk berinteraksi secara harmoni dan baik dengan ekspatriat dari negara manapun.
Kondisi negeri dan perusahaan tempat saya bekerja yang tertata dengan teratur dan rapi, menjadikan jadual aktivitas kehidupan bisa direncanakan dengan mudah, rapi dan lebih bermakna. Hal ini memungkinkan saya mengatur aktivitas diluar kerja tanpa kesulitan. Ini memberi kesempatan bagi saya untuk ikut berdakwah setiap di majelis-majelis dan kelompok pengajian masyarakat Indonesia di Qatar. Kegiatan seperti ini menjadikan aktivitas kehidupan terasa lebih bermanfaat. Rasa persaudaraan masyarakat Indonesia yang sangat kuat di segala lapisan serta dukungan KBRI, menghilangkan perasaan bahwa kita sedang bermukim di negeri asing.

Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, saya telah berada di Qatar selama lebih 8 tahun. Pada akhir tahun 2013, saya memasuki usia pensiun yaitu 60 tahun. Pada perusahaan tempat saya bekerja dan pada berbagai perusahaan lain, batas usia pensiun memang 60 tahun.
Namun pada kondisi tertentu, perusahaan dapat memperpanjang masa kerja seseorang karena pertimbangan kebutuhan. Alhamdulillah, karena perusahaan saat itu masih membutuhkan tenaga saya dan kondisi fisik saya dianggap masih memenuhi syarat untuk terus bekerja, perusahaan memperpanjang masa kerja saya selama tiga kali berturut-turut hingga pertengahan 2016. Praktis saya bekerja di Qatar ini selama 12 tahun lebih.
Satu hal yang mengagumkan dan memberi kenangan sangat mengesankan bagi saya tatkala bermukim dan bekerja di negeri yang kaya dan tertata rapi tersebut adalah begitu tingginya rasa persaudaraan masyarakat Indonesia. Kepedulian, tolong menolong, kehangatan silaturahmi, serta saling perhatian atas segala masalah yang dialami merupakan karakter setiap individu masyarakat Indonesia di Qatar. Didorong oleh rasa seperti inilah, maka masyarakat kita bahkan sampai dapat membangun dan mengadakan sekolah informal program ekstrakurikuler untuk pendidikan anak-anak Indonesia di luar hari sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler ini mengajarkan pendidikan agama, sosial, keterampilan dan sebagainya.
Masyarakat Indonesia di Qatar pun sangat peduli dengan kondisi tanah air. Setiap ada kejadian atau musibah yang menimpa negeri, teman-teman langsung bergerak mengumpulkan dana dan bantuan-bantuan lain yang langsung disalurkan kepada pihak yang membutuhkan ditanah air. Sepanjang yang saya ketahui, tidak pernah ada suatu musibah pun yang terjadi di Indonesia melainkan masyarakat Indonesia di Qatar turut berpartisipasi membantunya.
Hingga saat ini, saya sudah 4 tahun lebih meninggalkan Qatar. Namun saya masih merasa sebagai bagian dari masyarakat Indonesia di Qatar. Saya masih terus menjalin komunikasi intens dengan teman-teman disana.
Bahkan saya juga masih tetap secara teratur memberikan dakwah online kepada teman-teman disana terutama di masa pandemi Covid-19 ini.

Perjalanan hidup selama hampir 12 tahun di Qatar memberi kenangan yang sangat mengesankan dan sulit dilupakan. Saya berbahagia pernah menjadi bagian indah dalam kehidupan sosial di Qatar yang damai dan sejahtera. Harapan saya, semoga semakin banyak masyarakat Indonesia yang kelak mendapat kesempatan untuk merasakan indahkan bekerja di Qatar.
Amin Ya Robbal Alamin.

















