DARI RUMAH, KAMI BERKONTRIBUSI MENJAGA NEGERI

“Karena anak-anak kita adalah generasi masa depan, yang akan membangun Indonesia baru nantinya. Anak-anak adalah investasi akhirat bagi para orang tua. Bersyukur, berbahagia, dan berbanggalah, karena darimu para Ibu, engkaulah arsitek peradaban”

Arlini Prawesti

Assalamualaikum.

Semoga teman-teman dalam keadaan sehat dan bahagia, dimanapun berada. Mentari pagi telah bersinar berulang kali, begitu juga dengan purnama yang menghiasi dalam malamnya. Teruslah bersyukur atas segala nikmatNya.

Nama saya Arlini Prawesti, ibu rumah tangga dan istri seorang ekspatriat Indonesia di Qatar. Suami saya, Yudi Eko Sugiarto, adalah pekerja di sebuah perusahaan petrokimia. Disela-sela waktu mengurus keluarga, saya masih diberi kesempatan untuk menjadi seorang penulis. Apa diri saya bahagia dengan profesi ini? Ya. Alhamdulillah, saya bahagia sekali.

Sejak lulus kuliah, saya hanya merasakan dunia kerja selama dua tahun saja. Lantas hati saya terpanggil untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Menuruti panggilan jiwa, saya ingin menjadi guru untuk anak-anak, ingin menjadi dokter untuk keluarga, dan ingin menjadi chef yang bisa menyediakan berbagai menu untuk keluarga, sehingga bisa memastikan dari bahan yang bagus kualitasnya dan halal tentunya. Meskipun saat itu, semua hanyalah angan-angan saja. Saat sebuah angan-angan berlayar dalam pikiran, lalu berlabuh dan terpatri dalam hati. Bismillah, saya ucapkan dalam doa sebagai bentuk pengajuan harapan pada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam ketetapanNya, Allah memberi jawaban melalui jalan pernikahan.

Perjalanan kemudian dimulai. Dari membuat paspor, mengajukan pengunduran diri dari pekerjaan di sebuah bank internasional di Surabaya, menyiapkan segala dokumen untuk persiapan pernikahan, dan tinggal di Qatar untuk mendampingi suami, rasanya waktu itu semua adalah mimpi. Karena saat itu dua impian saya akan menjadi nyata, yaitu menikah di usia 23/24 tahun dan melakukan perjalanan ke luar negeri di tahun 2010.

Qatar…I’m coming!!!

Keputusan saya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga disambut hangat oleh suami saat itu, sehingga Qatar menjadi tempat saya belajar untuk menjadi seorang istri dan akhirnya menjadi ibu bagi 3 anak (Kamil, Safiyyah dan Hannah), ketiganya lahir di Qatar.

25 Januari 2010 adalah tanggal bersejarah bak lembaran baru hidup saya yang akan diingat sepanjang waktu. Perjalanan internasional pertama yang saya lakukan didampingi suami tercinta. Beruntung suami tak langsung masuk kerja di Qatar, sehingga kami berdua bisa menikmati indahnya kota Doha. Kesan pertama pada negeri gurun ini adalah dingin.

Kebetulan karena kami datang saat musim dingin. Saat itu temperatur menunjukkan angka tiga derajat celcius, yang membuat tulang-tulang terasa ngilu saat tertiup angin dingin. Ternyata daerah gurun yang biasanya disangka memiliki cuaca panas tak berkesudahan, ada juga periode musim dinginnya. Di masa bulan-bulan antara November sampai Maret adalah masa yang nikmat untuk menikmati suasana outdoor dan menjelajah keunikan Qatar, diiringi hawa yang sejuk dan cenderung dingin.

Selain urusan rumah tangga keluarga, Allah juga memberi kesempatan pada saya untuk belajar dan mengajarkan Al Qur’an pada anak-anak Indonesia yang tinggal di Mesaieed, salah satu kawasan industri di Qatar, tempat perusahaan petrokimia tempat suami bekerja. Hal itu membuat saya mempelajari karakter anak dan bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan menyenangkan saat bersama anak kecil.

Dalam urusan dapur, saya pun belajar untuk mengenalkan kuliner Indonesia agar anak-anak cinta citarasa masakan dan kuliner Indonesia, dengan cara cooking class bersama anak-anak dengan membuat jajanan pasar dan berbagai masakan nusantara. Dalam hal bahasa, saya mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, agar mereka tetap bisa berbicara, menulis dan membaca buku berbahasa Indonesia.

Karena mereka tetap tercatat sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) dan hanya menumpang lahir dan tumbuh di Qatar. Saat di sekolah mereka menggunakan bahasa Inggris, bahasa Arab dan bahasa Prancis sebagai bahasa tambahannya. Sehingga bahasa Indonesia otomatis sumber belajarnya dari orang tuanya masing-masing. Saat punya bayi, maka tugas saya juga bertambah menjadi observer balita, dengan melihat dan mencatat pertumbuhan badan bayi dan kemampuannya.

Begitulah kesibukan seorang ibu rumah tangga, kadang tak nampak namun sangat berharga, memberikan ruh kebahagiaan pada keluarga. Pekerjaan domestik yang tak ada habisnya, bisa dikomunikasikan pada suami dan anak-anak agar membantu sesuai kemampuannya.

Lalu kapan mulai menulis?

Di tahun 2017, saya dipertemukan dengan “Institut Ibu Profesional” yang membuat saya memahami kembali peran sebagai seorang wanita, istri, ibu dan makhluk sosial.

Memperbanyak waktu untuk ngobrol bersama, main bareng dan aktivitas bareng keluarga. Setiap tugas dikerjakan dengan merdeka belajar, kita boleh memilih membuat tulisan, portofolio, video dan lain sebagainya.

Hal ini membuat saya menemukan kembali keasyikan menjadi seorang penulis, ikut serta dalam rumbel literasi IP Asia, wonderland, nubar (nulis bareng), klip dan kelas menulis online lainnya.

Mengatur waktu menulis terutama saat anak-anak sekolah, agar tugas sebagai ibu rumah tangga tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Beberapa buku saya yang berkolaborasi dengan penulis lainnya telah terbit, diantaranya:

  1. “Perempuan 5 Benua“, sebuah buku yang berisi kisah inspirasi dari 18 penulis di 5 Benua, terbit tahun 2018.
  2. “Ulama Pengubah Dunia”, sebuah buku biografi ulama dan ilmuwan muslim dilengkapi tips membentuk cendekiawan muslim dari rumah, terbit tahun 2019.
  3. “Yuk Mengenal Profesi”, buku cerita untuk anak-anak yang mengenalkan berbagai profesi di dunia kerja, terbit tahun 2019.
  4. “Ramadhan Berkah ala Rosulullah” Buku cerita untuk anak Islam, dilengkapi kolom wawasan & penjelasan Sunnah berdasarkan Al Qur’an & Hadist, terbit tahun 2019.
  5. “Diary Muslimah” buku berisi adab-adab berpahala untuk muslimah perindu surga, terbit tahun 2019.
  6. “Trik Jitu Atasi Problematika Anak”, terbit tahun 2019.
  7. “Melangkah Menuliskan Kisah – Ketika Bunda Bercerita”, buku yang ditulis bersama teman-teman Rumbel Literasi “Ibu Profesional – Asia” terbit tahun 2020.
  8. “Bumiku Sehat Aku Gembira”, buku cerita untuk anak dari 15 negara, fakta pengetahuan & tips untuk menjaga lingkungan dan buku ini telah mendapatkan apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya, terbit tahun 2020.
  9. “Hidup Asik Tanpa Asisten Rumah Tangga”, sebuah buku family parenting yang terbit Januari 2021.

Kenapa menulis?

Karena dengan menulis, saya mengikatkan setiap ilmu yang telah dibaca, dipelajari dan mengambil hikmah dari setiap pengalaman. Dengan harapan setiap tulisan membawa manfaat dan menjadi amal jariyah nantinya. Menjadi seorang penulis buku, tidak jauh dari kata royalti, Alhamdulillah hingga saat ini lebih suka memilih untuk disumbangkan hasilnya, baik saat ada bencana alam di Indonesia, untuk pembuatan sumber air, untuk pendidikan, dan lain sebagainya.

Alhamdulillah, anak-anak bahagia ketika ada buku yang didalamnya terdapat nama mereka. Anak-anak senang saat dibacakan cerita sebelum menjelang tidurnya. Anak-anak bangga ketika melihat ada cover buku hasil desain ibunya meskipun hanya bagian belakang saja, mereka tahu karena terlibat dalam membuatnya.

Dari dalam rumah kami berkarya, mengabdi, berkontribusi, dan menjaga warisan negeri tercinta nan indah, Indonesia. Mengantarkan putra putri kami untuk semangat belajar di negeri orang. Sebagai ibu, saya bahagia saat melihat putra-putri kami mendapatkan prestasi akademis yang membanggakan, rapor bertabur nilai A, dan komentar positif dari guru-guru di sekolahnya.

Sebagai ibu, saya bahagia ketika putra-putri kami pernah mengikuti Annual Qur’an Competition yang diselenggarakan oleh Awqaf (Kementerian Agama Qatar) dan mendapatkan penilaian jayyid jiddan (sangat baik). Anak-anak Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak duta bangsa yang bisa mengharumkan nama Indonesia di Qatar. Sebagai ibu pun, saya bahagia ketika putra-putri melaksanakan sholat wajib di awal waktu, sebagai bukti patuhnya diri pada Illahi yang telah menciptakannya dan memberikan nikmat kehidupan tiada tara.

Karena anak-anak kita adalah generasi masa depan, yang akan membangun Indonesia baru nantinya. Anak-anak adalah investasi akhirat bagi para orang tua. Bersyukur, berbahagia, dan berbanggalah, karena darimu para Ibu, engkaulah arsitek peradaban.

Doha – January 2020

Sumber : Buku Mutiara Inspirasi dari Qatar

Artikel Terkait