“Saya juga bercita-cita ingin jadi pemain badminton yang dapat mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional”
Muhammad Gayuh Wijaya
Nama saya Muhamad Gayuh Wijaya, lahir di Sragen 06 Februari 2005. Saya tiga bersaudara, satu adik perempuan dan satu kakak perempuan. Saya tinggal di Qatar mengikuti bapak yang bekerja di sebuah perusahaan minyak dan gas di Qatar.
Sejak umur dua tahun, sering diajak bapak ke sebuah klub perusahaan di daerah Mesaieed. Nama klubnya Al-Saheen.
Bisa dibilang di klub itu saya belajar main bulutangkis. Saya mengikutinya dan melihatnya bermain bulutangkis dengan teman-temannya dan ini mempengaruhi saya untuk mulai bermain bulutangkis juga. Dari awalnya cuma lihat akhirnya ingin juga memegang raket. Mulai pukul-pukul lama-lama ingin main.
Walaupun kami tinggal di Doha, yang jaraknya sekitar 40 km, hampir tiap hari kami ke klub tersebut, kecuali kalau bapak harus bekerja. Sebenarnya Bapak bukan pemain badminton, cuma senang olahraga. Dulunya katanya main bola di perusahaan di Indonesia. Bapak rajin mencari informasi untuk melatih badminton. Bagaimana cara menguatkan kaki, meningkatkan speed, menguatkan smash dll.
Di awal-awal sebelum ada klub-klub badminton di Qatar, saya dilatih oleh bapak sendiri.
Untuk sparing sering minta bantuan teman-teman bapak untuk bertanding. Ketika masih kecil masih sering kalah. Lama kelamaan sudah bisa imbang dan bahkan menang. Kemudian lawan 2, lawan 3. Atau lawan 1 tapi setengah lapangan.
Saya mengikuti kompetisi pertama saat saya belum genap 5 tahun. Hanya sampai tahap dua, karena lawan saat itu rata2 umurnya 10 tahun.

Setelah itu saya mulai memenangkan kejuaraan-kejuaraan di Qatar. Pada saat umur 8 tahun kami menjuarai kejuaraan invitasi internasional di sektor ganda untuk kelompok umur U-11 yang diadakan di Doha. Kejuaran tersebut diikuti beberapa negara di kawasan teluk. Yang saya ingat waktu ada Qatar, Emirat, Kuwait, Bahrain, Saudi dan Yaman.
Sejak umur 8 tahun, setiap libur musim panas, kami mudik ke Indonesia. Saat di Indonesia itu saya berlatih di klub lokal Sragen yang bermarkas di GOR Diponegoro, seminggu 4 kali latihan dari jam 2 sampai jam 6, kecuali Minggu jam 6 pagi sampai jam 10 pagi selama 1 sampai 1,5 bulan.
Sejak 2015 sampai 2018 saya selalu mengikuti audisi PB Djarum, yang kebetulan selalu diadakan pada saat liburan musim panas di Qatar. Namun sayangnya saya belum berhasil. Yang terakhir tahun 2018 sempat masuk tahap karantina untuk kelompok usia U-15. Menyisakan 3 peserta dari ribuan peserta seluruh Indonesia, akhirnya belum berhasil diterima di PB Djarum, karena yang diambil hanya satu. Saya pun kembali ke Qatar untuk berlatih lebih giat.
Tahun 2019 bulan juni saya mengikuti kejuaraan internasional ASTEC yang diadakan di Bandung, namun belum berhasil. Selesai pertandingan saya melanjutkan training di sebuah klub besar berskala nasional di Jakarta selama sebulan untuk menambah pengalaman dan mendapat latih tanding yang lebih banyak.
Kemudian Bulan Juli akhir sampai awal Agustus 2019 saya mengikuti SIRNAS Banjarmasin yang dilangsungkan di GOR Berkat Abadi Banjarbaru, Banjarmasin Kalimantan Selatan tanggal 29 Juli – 3 Agustus 2019. Ini adalah Sirnas pertama yang saya ikuti dan Alhamdulillah, berhasil mendapat juara 3.
Saya harus melewati babak kualifikasi, karena tidak punya rangking di Indonesia. Pulang dari Banjarmasin, mendapat tawaran test di sebuah klub besar, namun karena kondisi yang kecapekan dan agak flu, penampilan saya kurang optimal saat itu.
Bulan Oktober 2019, saya mudik lagi untuk mengikuti Kejurkab di Kabupaten Sragen tempat saya lahir. Saya berhasil menjadi juara 1 single dan double untuk kelompok usia pemula putra (U-15).
Dengan hasil ini saya dikirim ke Semarang untuk mengikuti Kejuaraan tingkat provinsi (Kejurprov) pada bulan November 2019. Alhamdulillah saya berhasil menjadi juara 1 ganda pemula dan berhak mewakili jawa tengah untuk bertanding di kejurnas di jakarta. Mohon doanya para pembaca sekalian.
Saya juga bercita-cita ingin jadi pemain badminton yang dapat mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional.
Sumber : buku Mutiara Inspirasi dari Qatar

















