“Pergunakan waktu luang sebaik mungkin, karena mungkin bisa mendatangkan hal yang luar biasa”
Dedy M Sugiharto
Keberuntungan
Bulan Juli tahun 2007. Ketika itu aku sedang mengalami periode “puncak kesulitan finansial” di dalam hidupku. Mencoba mencari solusi, aku memberanikan diri untuk melamar ke salah satu perusahaan petrokimia di Qatar. Mereka memasang iklan lowongan di sebuah surat kabar terkemuka. Walaupun bekerja ke Timur Tengah tidak pernah kuinginkan sebelumnya, hanya itu harapanku untuk bisa survive dan aku berpikir bahwa itu bisa menjadi solusi. Dan sejujurnya sih, aku juga tidak ingin jika sampai harus meninggalkan keluargaku di Bandung.
Alhamdulillah, ketika niatku melamar hanya sekedar iseng, pada akhirnya malah aku direkrut bersama empat orang lainnya. Entah kenapa, ketika itu aku sangat yakin dan percaya untuk bisa diterima. Sebelum test berlangsung, aku melakukan persiapan habis- habisan demi menghadapi tes tersebut. Aku pergi ke warnet setiap hari untuk mengunduh materi- materi yang berhubungan dengan perusahaan yang memanggilku untuk tes tertulis di Jakarta.
Dan Subhanallah, Allahu Akbar! Ketika soal tes dibagikan, sama sekali tidak ada test tentang hal-hal yang sebelumnya kuunduh dari internet. Tidak ada juga pertanyaan mengenai produk perusahaan tersebut. Yang ada hanya soal- soal yang sangat dasar tentang kimia dan subyek lainnya. Yang paling utama menurut perwakilan recruiter dari perusahaan tersebut adalah “The Learning Ability”, test kemampuan belajar. Soal- soal yang lebih menyerupai tes IQ dibanding tes masuk perusahaan, tentunya dalam bahasa Inggris. Setelah melalui proses wawancara dan tes kesehatan, akhirnya aku pun ditawari kontrak kerja melalui email.
Rasanya sungguh mustahil, mengingat persaingan yang sangat ketat dan berat ketika itu. Banyak dari para pencari kerja lainnya yang memiliki pengalaman puluhan tahun. Sedangkan aku? Bekerja di laboratorium saja baru dua setengah tahun. Jadi dengan hanya berbekal ijazah Diploma 1 dari SMK, aku sangat beruntung bisa mendapatkan pekerjaan ini. Beberapa bulan kemudian, agen dari Indonesia dan mungkin perusahaan di Qatar pun sudah mensyaratkan minimal ijazah sarjana.
Orang tuaku tadinya sangat menentang keputusanku untuk berangkat ke Qatar. Ya, seperti tipikal orang Bandung lainnya yang cenderung memilih untuk tetap di Bandung, Tempat kerjaku di Cilegon pun yang jaraknya tidak sampai tiga ratus kilometer sudah terasa terlalu jauh. Apalagi Qatar yang berjarak ribuan kilometer, naik pesawat pun perlu delapan jam. Berkat kegigihanku meyakinkan mereka berdua, akhirnya Bapak dan Ibu pun luluh dan bisa mengikhlaskan perantauanku. Kulihat air mata mereka tak henti-hentinya mengalir ketika mengantarkanku di terminal keberangkatan bandara Soekarno-Hatta.
Adaptasi
Aku tiba di Doha tanggal 18 Januari 2008. Sebelum benar- benar menginjakkan kaki di sini, yang terbayang cuaca di Timur Tengah tentunya panas, panas sepanjang tahun. Kaget juga, ternyata ada musim dinginnya. Waktu pintu pesawat terbuka, udara dingin menggigil sampai menusuk tulang yang menyambutku. Pagi itu di Doha, jam 06:00 suhu yang tercatat hanya 12 derajat celcius. Bahkan lebih dingin dari Bandung, atau Lembang sekali pun.
Hari- hari pertama sih, aku masih mengurus formalitas. Tes kesehatan, membuat rekening bank untuk menerima gaji bulanan nanti. Lima hari pertama kulalui dengan nikmatnya diajak jalan-jalan dan ditraktir oleh teman- teman yang sudah lebih dahulu ada di Qatar.

Perbedaan yang paling terasa di hari- hari pertama di Qatar, adalah kemewahan dunia yang ketika di Indonesia tidak pernah kuimpikan. Tinggal di hotel yang mewah, bisa mandi di bathtub, makan steak yang sebesar piring. Tiap sore ada orang hotel yang menawari untuk membersihkan kamar, bahkan membersihkan piring kotor bekas makan aku dan teman sekamarku. Duduk di mobil jemputan selama minggu pertama, serasa jadi Direktur. Jok mobil yang dibalut kulit halus dengan sang sopir yang lebih ganteng dari Tom Cruise, selalu menjadi tumpangan kami pada masa transisi.
Urusan makanan juga tidak masalah. Bukan rasanya, tapi ukuran porsi yang luar biasa besar untuk ukuran orang Indonesia. Orang Indonesia yang terbiasa makanan berbumbu sih, tidak akan kesulitan untuk beradaptasi dengan masakan India yang kurang lebih sama. Hanya ada beberapa makanan yang baunya terasa kurang enak di hidung, dan rasanya kurang cocok di lidah karena terlalu tajam. Hampir tidak ada masalah untuk urusan berkomunikasi dengan warga setempat, karena semua orang bisa berbahasa Inggris dengan lumayan lancar.
Waktu Luang
Sebagai pekerja di lapangan, jadwal kerja shift di Qatar sungguh unik. Empat hari kerja dan empat hari libur. Bisa dibilang waktu luang sangat banyak. Orang Indonesia menghabiskan waktu luangnya dengan berkomunitas dan berkumpul dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Fotografi, memancing, bersepeda, motor besar, memasak, olahraga, Youtuber, dan banyak hal lainnya.
Ketika bergabung dengan salah satu group penggemar fotografi di Qatar, alhamdulillah aku dua tahun berturut-turut menjadi pemenang salah satu kontes fotografi paling bergengsi di dunia Al Thani Award for Photography.
Aku melanjutkan kuliah lagi dan Alhamdulillah, akhirnya aku bisa meraih gelar sarjana dari Jurusan Manajemen Universitas Terbuka UPBJJ Qatar. Lunas sudah hutang janjiku kepada orang tua untuk menebus izin dari mereka beberapa waktu yang lalu. Selain kuliah, aku juga lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer untuk menyalurkan hobi membaca dan menulis sejak sekolah dulu.

Tadinya media menulisku hanya sebatas di blog www.didaytea.com, dan halaman Facebook. Tapi ketika Instagram mulai berkembang sangat pesat, akhirnya tulisan-tulisanku mulai aku alihkan ke Instagram @didaytea dan @amazinglifeinqatar, dengan sentuhan desain grafis dan visual yang menarik.
Dari hobi menulisku, akhirnya sudah lahir sudah 3 buku dari dua penerbit besar di Indonesia.

Dua dari Quanta Elexmedia dan satu dari Republika. “Oase Kehidupan Dari Padang Pasir” dan “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?” diterbitkan di penerbit Quanta Elexmedia. “Gigih”, buku yang baru saja terbit Desember 2020 lalu di penerbit Buku Republika.
Doha, 30 Januari 2021

















