“Idola saya mengatakan ‘Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi sesama’, karena sesungguhnya ketika kita memberi manfaat bagi orang lain maka pada hakikatnya manfaat tersebut akan kembali pada diri kita.”
(Fajriati M Badrudin, S.Psi, Psikolog)
Nama saya Fajri, seorang ibu rumah tangga yang juga berprofesi sebagai seorang psikolog. Alhamdulillah telah dikarunia dua oraang anak. Saat anak pertama saya, Daffa berusia 5 tahun dan Khadijah berusia 1 tahun atau tepatnya bulan Maret 2007, suami mendapat kesempatan untuk bekerja di salah satu perusahaan bernama Liquefied natural Gas (LNG) yang terletak di Qatar, salah satu negara teluk di kawasan Timur Tengah. Tak lama kemudian saya beserta keluarga akhirnya hijrah ke padang pasir untuk menemani suami bekerja di sana.
Meski dengan berat hati harus berjauhan dari keluarga besar dan saya sendiri pun sudah menikmati pekerjaan-pekerjaan selama ini. Namun, semua proses perpindahan ini kami jalani dengan lapang dada. Saya pun mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya dan bersiap menghadapi fase kehidupan baru yang pada saat itu saya sendiri pun masih meraba-raba, meski sebelumnya sudah berusaha mencari banyak info lewat internet mengenai negara dengan nama Qatar tersebut.
Memiliki anak dengan autisme, tentunya kepindahan kami ke Qatar akan sangat berbeda ceritanya dengan keluarga lain pada umumnya. Ternyata, meski merupakan salah satu negara terkaya di dunia, tetapi saat itu fasilitas pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus di Qatar masih sangat terbatas. Qatar memang memiliki satu pusat terapi terbaik di dunia yang bernama Shafallah Center, tetapi tempat ini masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan Qatari[1] dan expatriates yang memiliki bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Sekolah/pendidikan inklusi[2] pun sangat sulit ditemukan pada saat itu. Oleh karena itu, kembali saya berjibaku bekerjasama dengan suami melakukan semua home programs yang menjadi PR-PR Daffa (anak pertama saya yang menyandang autisme) dengan harapan dia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru, terutama menghadapi kendala bahasa.
Sadar mengenai sulitnya memiliki anak dengan kebutuhan khusus di negara asing, maka saya dan beberapa teman senasib yang juga memiliki anak berkebutuhan khusus kemudian membentuk Parents Support Group (PSG) Qatar yang bertujuan sebagai wadah untuk saling berbagi dan saling menguatkan di antara para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Kegiatan-kegiatan yang kami lakukan antara lain sharing sessions, family gathering dan juga mengundang para ahli dari Indonesia untuk berguru mengenai anak-anak Kami. Beberapa ahli yang pernah kami undang adalah : Dr. Purboyo Solek, Sp.A (K) dan Dr Kristiantini Dewi, Sp. A yang merupakan dokter anak ahli yang dalam gangguan perkembangan anak dan gangguan belajar, lalu Dra Dyah Puspita M.Si, Psikolog ahli dalam autisme dan Prof Dr Arif Rachman yang merupakan pakar pendidikan.
Buat saya Pribadi, PSG Qatar adalah salah satu penguat hati pengobat resah saat saya down menghadapi Daffa. Hidup dengan anak berkebutuhan khusus itu rasanya seperti naik roller coaster yang tak pernah selesai. Begitu kereta dalam posisi datar, maka kita harus bersiap untuk menghadapi tantangan berikutnya yang mendaki atau menukik tajam.
Semakin hari, jumlah anggota PSG terus bertambah yang artinya juga adalah anak Indonesia yang berkebutuhan khusus di Qatar semakin banyak jumlahnya. Karena itu, diskusi-diskusi hangat mengenai permasalahan anak pun senantiasa kami gelar. Baik melalui online maupun forum offline. Kami juga berusaha melakukan kegiatan yang sifatnya promotif sebagai upaya menambah kesadaran pada orangtua mengenai gangguan perkembangan pada anak. Misalnya saja kami melakukan roadshow ke beberapa kota di Qatar untuk meningkatkan pengetahuan tentang autisme dan bersilaturahmi ke KBRI Doha khususnya Dharma Wanita Persatuan KBRI Doha yang juga aktif membantu kami dalam melakukan kegiatan yang sifatnya promotif.
Selain itu, kami juga berusaha menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga di Qatar yang juga memiliki perhatian yang sama dalam mengadakan seminar dan workshop mengenai anak berkebutuhan khusus. Selain Shafallah Center, Kami juga bekerjasama dengan Qatar Society for Rehabilitation of Special Needs yang bisa membantu orangtua untuk mendapatkan fasilitas pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter dan psikolog ahli juga terapis anak di rumah sakit.
Selain aktif di PSG, Alhamdulillah saya juga beberapa kali dipercaya oleh KBRI Doha untuk membantu memberikan pelatihan, ceramah dan konseling bagi pekerja migran wanita bermasalah yang ditampung di KBRI. Bertemu langsung dan mendengar berbagai masalah yang mereka hadapi sekali lagi merupakan pembelajaran hidup luar biasa buat saya yang tak terbayar dengan materi sebesar apa pun. Saya juga cukup aktif memberikan konseling dan kelas parenting di berbagai komunitas Indonesia dan Malaysia yang ada di Qatar. Selain itu saya juga mengajar anak dan remaja Indonesia melalui pendidikan informal yang didirikan oleh diaspora Qatar, yaitu KAIFA DOHA dan PIAI Daar Al Arqam Alkhor, yang fokus pada penanaman nilai agama juga budaya Indonesia sehingga diharapkan mereka tidak tercerabut dari akar budaya mereka sebagai orang Indonesia.

Dokumentasi foto beberapa kegiatan Parents Support Group – Qatar

Luasnya silaturahmi lewat berbagi ilmu membuat hati sungguh lapang dan dipersaudarakan oleh banyak teman-teman se-negara, se-rumpun dan se-dunia sehingga tak ada lagi sempit hati meski berjarak puluhan ribu kilometer dari tanah air dan keluarga tercinta.



Anak-anak diaspora Indonesia di Alkhor – Qatar menari tari Saman dan memainkan Angklung dalam sebuah acara
‘Sahabatku’, A Friend In Need A Friend Indeed
Tiga tahun lalu, saat menginjak usia 40 tahun saya banyak berpikir mengenai apa yang bisa dilakukan untuk Indonesia sementara saya berada jauh. Mencermati kondisi remaja Indonesia “jaman now” secara umum yang sulit untuk mendapatkan akses referensi atau narasumber psikolog saat mereka membutuhkannya, membuat saya, suami dan salah satu senior psikolog UI yang juga tinggal di Qatar yaitu Mba Dina (Emeraldina Darmidjas) sepakat untuk membuat aplikasi online khusus remaja dan dewasa muda yang berusia 11 – 25 tahun. Ide ini kemudian kami diskusikan dengan beberapa kolega yang secara usia jauh lebih muda dari kami dan tinggal di Indonesia untuk melihat kelayakan ide tersebut. Dili Indriawati, Ika Malika, Septiadi Fajar dan M Chalid adalah teman-teman psikolog yang kemudian bekerja sama untuk mewujudkan ide tersebut.
Alhamdulillah pada tanggal 25 Maret 2016 di Doha dan kemudian tanggal 15 April 2016 di Jakarta, Aplikasi Online ‘Sahabatku’ resmi diluncurkan. Aplikasi ini berbasis Android dan bisa diunduh secara gratis di Google Play Store. Dengan tag line “A Friend in Need, A Friend Indeed”, Sahabatku bisa menjadi tempat curhat yang asik buat para remaja Indonesia di manapun berada, baik mengenai masalah yang sedang dihadapi maupun mengenai pengembangan potensi diri. Semua curhatan yang masuk akan dijawab oleh para psikolog yang tentunya akan memberikan panduan positif sehingga orangtua juga tidak perlu khawatir bila anak remajanya curhat ke ‘Sahabatku’.
Selain online, ‘Sahabatku’ juga melakukan kegiatan offline dengan memberikan seminar, workshop atau pelatihan ke sekolah-sekolah dan organisasi remaja/pemuda secara gratis. Ada 25 psikolog dan narasumber ‘Sahabatku’ yang siap berbagi ilmu dan memberikan sebagian waktunya untuk menularkan kebaikan kepada teman-teman remaja dan dewasa muda Indonesia.
Untuk Sahabat Muda diaspora Indonesia, ‘Sahabatku’ sudah dua kali menyelenggarakan kegiatan Youth FunTASTIC Journey (YFJ) yaitu pada tahun 2018 dan 2019 sebagai kegiatan alternatif pengisi liburan musim panas. Pada YFJ 2019 bulan Juli kemarin, selain Sahabat Muda diaspora Indonesia di Qatar juga diikuti oleh Sahabat Muda diaspora Indonesia di Amerika Serikat, Malaysia dan UEA. Mengusung tema : “The Hero Within : Journey to Allah, Soul and Homeland“, Kami berharap ajang YFJ ini bisa menjadi sarana bagi para Sahabat Muda diaspora Indonesia utk lebih mengenal dan mencintai Penciptanya, mengenal diri dengan segenap potensinya, juga mengenal dan mencintai tanah airnya.
Untuk lebih mengetahui kegiatan-kegiatan Sahabatku, Anda bisa melihatnya di FB Sahabatku @sahabatkumitraremaja, IG sahabatku_app, serta IG yfjsahabatku.

Beberapa kegiatan offline Sahabatku : Youth FunTASTIC Journey , seminar di Al Waha Ballroom Qatar, kunjungan sekolah, serta live di Metro TV.
Berbagai kendala tentunya ada. Namun, alhamdulillah satu persatu bisa terselesaikan dengan baik. Saat ini, berdasarkan data terakhir, Sahabatku sudah diunduh oleh 4.397 orang dengan pengguna aktif 690 orang yang berasal dari berbagai negara dan kota. Jumlah pertanyaan yang masuk sampai akhir Januari 2019 ini sudah mencapai sekitar 2000 lebih pertanyaan dengan berbagai tema, mulai dari bingung pilih jurusan, konflik dengan orangtua atau pacar sampai apa yang harus dilakukan bila muncul keinginan bunuh diri. Luar biasa! Betapa itu menjadi bukti bahwa teman-teman remaja dan dewasa muda memang butuh sarana yang bisa menjadi Sahabat dalam menjalani masa muda dengan bahagia dan penuh semangat.
Harapan



Idola saya mengatakan “Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi sesama”, karena sesungguhnya ketika kita memberi manfaat bagi orang lain maka pada hakikatnya manfaat tersebut akan kembali pada diri kita. Sejak saya menjalani sumpah profesi psikolog 18 tahun yang lalu, nikmat terbesar yang saya rasakan dan tak bisa dibayar dengan dunia juga seisinya adalah ketika profesi psikolog tersebut bisa menjadi sarana kebaikan bagi sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberikan kesempatan kepada saya untuk selalu bisa menebar manfaat dimanapun saya berada sampai akhir hayat kelak.
Demikian sharing pengalaman saya sebagai ibu yang juga psikolog. Semuanya sungguh memberi warna pada kehidupan saya yang semakin membuat saya semakin cinta dengan pekerjaan-pekerjaan saya. Semoga bisa menjadi wawasan dan manfaat bagi para sahabat diaspora semua.
Tentang Penulis Fajriati M Badrudin S.Psi, Psikolog :
Ibu dua anak remaja yang juga psikolog lulusan fakultas Psikologi UI ini aktif dan banyak berkecimpung di bidang pendidikan. Pengalamannya bekerja di Pusat Krisis Terpadu RS Cipto Mangunkusumo, juga sebagai associate psychologist di berbagai biro psikologi dan di Rumah Bunga Matahari Jakarta membuatnya cukup matang dalam menjalani peran barunya ketika harus pindah bersama keluarga ke Qatar. Saat ini, Fajri aktif sebagai pengajar kelas remaja di Daar Al Arqam Indonesian Stream Alkhor Community, konselor Parents Support Group Qatar, konselor dan psikolog aplikasi online ‘Sahabatku’, serta aktif mengisi berbagai seminar, pelatihan dan ceramah seputar anak dan keluarga di berbagai kota di Qatar.
Pihak Kedutaan Besar RI Doha – Qatar pernah memberikan penghargaan kepadanya atas prestasinya dalam memajukan bidang pendidikan di negara Qatar dalam rangka Peringatan Hari Ibu di KBRI Doha tahun 2009. Dua buku yang telah ditulisnya adalah : “Cerdas Menghadapi Kanker Payudara” bekerjasama dengan para dokter yang tergabung dalam Tim Medis Kanker Payudara serta buku “Profesi Psikologi Itu Seru” yang ditulis bersama rekan-rekan alumni Fakultas Psikologi UI angkatan 1994.
[1] Qatari adalah sebutan untuk penduduk asli Qatar
[2] Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya (Permendiknas No. 70 tahun 2009, pasal 1)

















