DOKTER TANPA JAS PUTIH DAN KONSEP FIVE STAR DOCTOR

“Bagi saya, status tidak bekerja secara formal bukanlah kendala dalam memanfaatkan ilmu. Selain itu, sebagai ibu rumah tangga, sangat penting untuk bisa membagi waktu secara tepat antara kewajiban di rumah dan berkarya, berkontribusi dan berbagi dengan orang lain”

dr. Ken Lestariyani Sulis

Nama saya dr. Ken Lestariyani Sulis, akrab dipanggil dr. Kennia, lahir 39 tahun lalu. Saya menempuh pendidikan menengah di SMU Negeri 8 Jakarta dan melanjutkan pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 1999.

Semasa  duduk di bangku kuliah, saya aktif dalam berbagai kegiatan di kampus. Saya memiliki kerabat yang terkena narkoba dan akhirnya meninggal dunia. Hal ini menjadi pendorong bagi saya untuk terjun dalam organisasi di kampus FKUI terkait pencegahan narkoba, yaitu Tim Anti NAPZA (Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif). Tim ini saya pimpin selama tiga tahun. Dan sejak tahun 2002, saya mulai menggeluti kampanye anti HIV/AIDS sebagai peer educator dalam program “outreach”, yaitu program kerjasama SCORA-CIMSA (Standing Committee on Reproductive Health and HIV/AIDS – Center Indonesian Medical Students Association) dengan UNICEF selama 2,5 tahun.

Pada tahun 2007, saya bekerja sebagai Project Officer dari NGO-AsiaLink di bagian Penelitian pada Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ini sebuah program kerjasama antara University Utrecht Belanda dengan FKUI. AsiaLink adalah sebuah proyek di bawah pengawasan Uni Eropa yang memiliki tujuan untuk meningkatkan standar mutu pelayanan kedokteran Indonesia berbasis EBM (Evidence Based Medicine).

Pada tahun 2009, saya pindah ke Doha untuk  mendampingi suami yang merantau dan bekerja di sebuah perusahaan minyak di Qatar. Hasil interaksi dengan ibu-ibu Indonesia di Qatar mendorong saya untuk berbagi ilmu. Menurut saya, kendala bahasa menjadi hambatan tersendiri bagi WNI di Qatar, khususnya di kalangan ibu-ibu dalam mengakses pelayanan medis. Minimnya pengetahuan dasar masyarakat Indonesia tentang kesehatan juga merupakan salah satu penyebab maraknya keluhan pasien terhadap pihak penyedia layanan kesehatan. Dan hal ini yang mendorong saya untuk meneruskan kegiatan pendidikan kesehatan.

***

Snelli adalah jas putih yang kerap dikenakan seorang dokter saat menerima pasien dalam ruangan prakteknya. Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa profesi dokter identik dengan aktivitas memeriksa pasien di ruang klinik. Tidak banyak yang tahu bahwa seorang dokter tidak hanya mereka yang bekerja dalam bidang klinis dan memeriksa pasien. Peran dokter lebih dari itu. Setidaknya begitulah pendapat saya, seorang dokter diaspora wanita Indonesia di Qatar yang memiliki latar belakang dokter umum. Saya ingin mengubah citra bahwa dokter hanya dapat ditemui di ruang dokter dengan jas putih nya.

            Five stars doctor (dokter bintang lima) adalah terminologi yang dikenalkan pertama kali oleh Charles Boelen pada tahun 1993 dan menjadi rekomendasi WHO (World Health Organization) terkait acuan profil ideal seorang dokter di masa depan. Seorang dokter yang baik dituntut menjadi penyedia pelayanan kesehatan dan perawatan (care provider), pengambil keputusan (decision-maker), komunikator yang baik (communicator), pemimpin masyarakat (community leader), dan pengelola manajemen (manager). Seiring dengan berkembangnya dunia kedokteran di tanah air, karakter dokter bintang lima ini berkembang menjadi Seven Stars Doctor (dokter bintang tujuh) dengan tambahan kompetensi yang diharapkan menjadi solusi kebutuhan kesehatan di waktu mendatang, yakni peran dokter sebagai peneliti (researchers) serta memiliki iman dan taqwa (faith and piety).

            Konsep profil ideal dokter ini memberi kesan mendalam bagi saya, termasuk karena semua materi tersebut digaungkan guru-guru saya pada masa awal pendidikan saya di fakultas kedokteran. Ketertarikan saya dalam bidang pendidikan kesehatan adalah bentuk aplikasi konsep dokter bintang limayang sayangnya belum banyak digarap oleh teman sejawat lain. Menurut saya, dokter yang baik seharusnya peduli dengan kondisi lingkungan masyarakat secara umum. Dokter yang “sempurna” bukan hanya ada di dalam ruang praktek saja, namun seharusnya juga berperan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, walaupun sudah melepas jas putihnya. Pendidikan kesehatan bertujuan melakukan pencegahan dini atas beragam penyakit. Mencegah penyakit / tindakan preventif, merupakan penatalaksanaan termudah, termurah, dan terbaik, terutama bila dibandingkan dengan pengobatan. Dan kiprah saya dibidang pendidikan kesehatan masyarakat inilah yang menjadi tema pengabdian saya di komunitas warga negara Indonesia di Qatar.

***

Saya memulai kegiatan penyuluhan dan edukasi untuk komunitas Indonesia di Qatar pada tahun 2012. Pada bulan November 2013 saya merintis program Islamic Sex Education (ISE), yaitu pendidikan kesehatan reproduksi berbasis nilai agama, yang ditujukan untuk generasi muda muslim Indonesia, orang tua atau pendidik muslim.  Materi ISE tersebut menjadi materi referensi para dokter muslim lainnya yang ingin memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi di berbagai komunitas di tanah air. Setelah itu, saya terlibat dalam berbagai event, seperti menjadi pembicara utama dalam perayaan hari Kartini yang diadakan oleh Dharma Wanita Pusat (DWP) KBRI Doha, pembicara tamu dalam kegiatan sosialisasi Pemilu oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri Doha untuk komunitas WNI di Qatar dan banyak lagi seminar lain yang tak terhitung jumlahnya.

Tidak hanya rutin mengisi edukasi kesehatan dalam berbagai event yang diselenggarakan oleh komunitas WNI di berbagai kota di Qatar, saya juga aktif memberikan edukasi dalam dunia maya. Terhitung sejak tahun 2016 saya aktif menghasilkan “konten edukatif” dalam bidang kesehatan yang dikemas menjadi bentuk infografik, foto, gambar animasi maupun bentuk video.

Menurut saya, wawasan pengetahuan kesehatan masyarakat yang minim menjadi pemicu banyak orang mendatangi pengobatan non medis. Akibatnya, kualitas kesehatan Indonesia masih jauh dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Dengan semakin menjamurnya hoaks kesehatan yang menyebar di sosial media, saya terpacu untuk juga mempelajari dan mendalami bidang multimedia untuk menghasilkan konten original sesuai dengan ilmu kedokteran.

Pada bulan September 2019, saya bergabung dengan Alzheimer’s Indonesia (ALZI) dan dipercaya menjadi Koordinator Wilayah Doha-Qatar (dikenal dengan ALZI-DOHA), yang merupakan perwakilan resmi ALZI di Qatar. Tidak hanya aktif sebagai chapter manager, saya juga menjadi anggota resmi Divisi Riset dan Science dari Alzheimer’s Indonesia sejak tahun 2020. Dibawah naungan ALZI ini, kami melaksanakan berbagai jenis kegiatan, diantaranya FUNDAY, yaitu kegiatan perdana ALZI-DOHA yang diadakan di bulan Januari 2020. Dengan beranggotakan panitia lintas sektor, peserta FUNDAY mengikuti FUN Talkshow, FUN Gym (senam otak), FUN Check up (pemeriksaan kesehatan), FUN Angklung, dan FUN Tasy (virtual reality booth dimana peserta dapat merasakan sensasi pengalaman visual  menjadi orang dengan demensia). Banyak lagi kegiatan yang kami lakukan terkait pencegahan penyakit Alzheimer.

Pada September 2020, ALZI DOHA juga berpartisipasi dalam Arabic Webinar peringatan World Alzheimer’s Month 2020, sebuah kolaborasi Hamad Medical Corporation, RAHA, dan Oman Alzheimer’s Society. Bersama dengan tim dari Qatar National Dementia Plan, ALZI DOHA turut serta dalam jumpa pers 21 September 2020 untuk mensosialisasikan program “Qatar turns purple”, di mana gedung-gedung ikonis Doha berwarna ungu untuk meningkatkan kesadaran tentang Demensia.

Masa pandemi COVID 19 tidak menghambat saya untuk tetap aktif memberikan edukasi kesehatan secara online, baik dalam bentuk webinar maupun kuliah whatsapp kepada warga Indonesia, baik di Qatar maupun tanah air terkait penyakit COVID-19. Dan atas publikasi program-program tersebut, saya mendapat kehormatan menjadi perwakilan tenaga kesehatan Indonesia dalam video singkat protokol pencegahan penyakit COVID-19 dari Ministry of Public Health (MOPH) Qatar pada bulan Maret 2020. Video tersebut di posting dalam akun media sosial resmi MOPH Qatar, HMC, dan juga Gulf Times Newspaper.

Pada bulan Desember 2020 dan Januari 2021, saya berkesempatan menjadi narasumber dalam dua webinar peringatan hari Ibu dan HUT DWP KBRI Khartoum (Sudan) dengan topik : Peduli Kesehatan Reproduksi Perempuan dengan peserta terdiri dari warga negara Indonesia di Sudan, Iran, Pakistan, dan lainnya.

Untuk itu, saya ingin mengajak semua pihak dari berbagai bidang ilmu, untuk berbagi pengetahuan sekecil apapun, sepanjang itu memberikan hasil positif.

Menurut saya, selain untuk memanfaatkan ilmu yang sudah didapat, berbagi ilmu juga dapat membawa kebaikan dan manfaat bagi orang lain.

Bagi saya, status tidak bekerja secara formal bukanlah kendala dalam memanfaatkan ilmu.

Selain itu, sebagai ibu rumah tangga, sangat penting untuk bisa membagi waktu secara tepat antara kewajiban di rumah dan berkarya, berkontribusi dan berbagi dengan orang lain.

Be positive. Be inspiring.”

Artikel Terkait