“Tetap semangat berkarya, tidak ada istilah terlambat untuk memulai hal baik, tidak ada istilah tidak bisa jika kita kita mau”
Dhani Miza Kusdaniva

Saya berharap semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat, inspirasi, motivasi dan edukasi terhadap para pembaca sehingga berani mengambil keputusan dan berani memulai berkarya dimanapun kita berada.
Semoga memberikan refleksi bahwa pekerja Migran dari Indonesia bisa sukses berkiprah di luar negeri khususnya di negeri Qatar, baik dalam kiprah sebagai pekerja profesional dan dalam pengembangan potensi diri dalam berkarya khususnya di YouTube.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai karya.
Selama di Indonesia, selain gemar berolahraga khususnya bermain sepakbola, saya juga aktif dalam kegiatan-kegiatan di alam terbuka seperti hiking, camping atau naik gunung. Hal yang tentunya tidak akan saya temui di Qatar kelak.
Bertahun-tahun saya mendaki gunung dari yang terdekat hingga yang terjauh, namun tidak satupun yang saya buatkan dokumentasi perjalanan melalui sebuah video. Hanya bisa membuatkannya slideshow dari kumpulan foto yang saya ambil. Itu sih biasa saja, cukup menggunakan aplikasi gratisan di HP dengan kualitas hasil seadanya.
Sejak itu terlintas di benak saya keinginan untuk membuat channel di situs YouTube. Hanya saja, bagaimana saya memulainya? Perangkat apa yang saya harus miliki dan seperti apa konsepnya?
Banyak sekali hal-hal di benak saya yang menjadi tembok seolah-olah menghambat saya untuk memulai membuat konten video di YouTube.
Menjadi YouTuber di Qatar!
Sejak tinggal di Qatar saya sering sekali berkunjung ke tempat-tempat menarik dan selalu mengabadikan setiap momen melalui foto. Kembali lagi ke bahasan diatas, saya selalu membagikannya di jejaring sosial facebook, twitter atau Instagram. Narsis atau kepingin tetap Eksis? Apalah itu asal tidak merugikan orang lain. Eh, tadi bahas tentang sosial media, sepertinya ada yang belum disebutkan, bagaimana dengan kanal YouTube? Ya, seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa saya ingin membuat semacam dokumentasi selama saya dan keluarga tinggal di Qatar, agar suatu saat kelak ketika kita tidak lagi tinggal di Qatar bisa kita kenang bersama.
Duduk di kursi goyang sambil gendong cucu menyaksikan video-video yang dulu kita buat, saat tinggal di Qatar, melihat tumbuh kembang anak hingga dewasa. Ahh memang terlalu jauh, tetapi sepertinya indah dibayangkan. Namun mengapa hanya ada dalam bayangan saja? Bagaimana dengan aktualisasinya?
Terlalu lama membayangkan tanpa karya nyata membuat saya seperti dalam jeratan hutang. Hutang yang harus saya lunasi. Hingga lebih dari 3 tahun lamanya, hutang itu sepertinya perlahan saya bayar lunas.
November 2019 tepatnya di minggu ke-3 bulan itu, keponakan saya tiba-tiba membagikan sebuah tautan di Grup WhatsApp keluarga yaitu link channel YouTube-nya bersamaan dengan video yang dia buat bersama teman-teman sekolahnya.
Wow!
Hebat juga keponakanku sudah memulainya dengan karya yang bagus. Sementara untuk saya, hanya tertulis dalam buku perencanaan saja. Ya, rencana membuat kanal YouTube. Koma!
Loh mengapa koma? karena kemudian saya lanjutkan barisan tulis di buku perencanaan itu dengan alur yang jelas.
“Bhie, kapan mau mulai? Keponakanmu udah jadi YouTuber duluan. Mumpung kita di Qatar” Saya ingat ketika istriku mengatakannya!
Di saat bersamaan, saya mulai mencari referensi dan pengetahuan tentang dunia per-YouTube-an dan tentunya belajar bagaimana membuat video yang bagus, meng-edit-nya, menambahkan efek dan lainnya. Saya dapatkan banyak sekali sumber yang membimbing saya untuk 2 hal, yaitu bagaimana membuat konten video yang bagus dan cara main di YouTube.
Di hari pertama, rasanya senang sekali bisa walau hanya menambahkan teks dan efek sederhana dalam video saya. Kemudian saya jawab tantangan istri saya dengan menunjukan karya video durasi pendek yang berhasil saya buat dalam waktu singkat.
Oke, untuk proses produksi hingga menjadi sebuah konten sederhana sudah saya kuasai, paling tidak cukup 25% pemahaman hingga video layak ditonton dan di upload di YouTube. Hal lainnya yang perlu dimatangkan adalah konsep kanal YouTube apa yang akan saya jadikan pedoman. Setidaknya memerlukan berhari-hari untuk menentukan konsep yang sesuai dengan keinginan saya.
Maka saya ikrarkan nama “DHAN HOLIDAY” menjadi Channel YouTube saya dengan konsep sederhana yaitu tentang aktivitas selama libur bekerja di Qatar. Konten-nya bisa travelling atau jalan-jalan di Qatar, membuat review tentang tempat-tempat menarik untuk dikunjungi di Qatar, acara-acara komunitas khususnya WNI di Qatar dan lain sejenisnya.
Seminggu kemudian, saya membuat karya pertama saya kala itu bertepatan dengan tournament regional sepakbola bertajuk “GULF CUP 2019”. Di pertandingan pertama, tim kesebelasan tuan rumah Qatar membuka turnamen dengan bertanding melawan tim Irak.
Tidak banyak yang saya siapkan, hanya modal keinginan dan alat seadanya. Mengingat juga akan sedikit repot membawa keluarga beserta 2 anak, apalagi yang paling kecil masih menggunakan kereta dorong bayi beserta perbekalannya yang rumit. Kamera DSLR yang saya andalkan untuk membuat video dengan kualitas cukup bagus ternyata tidak bisa dibawa masuk ke dalam stadion, hanya tim media terdaftar atau yang mengantongi izin khusus sajalah yang boleh menggunakan kamera professional ke dalam stadion. Ternyata untuk hal yang satu ini, dengan alasan privasi, negara Qatar menerapkan aturan yang cukup ketat dengan banyaknya restriksi atau pembatasan khususnya di sarana publik.
Alhasil, saya merekamnya hanya menggunakan kamera HP kentang dengan resolusi yang tidak lebih baik dari kamera DSLR paling jadul sekalipun. Lebih baik daripada tidak sama sekali. Tidaklah mengapa untuk memulai membuat konten YouTube perdana.
Perjuangan mendapatkan 1000 subscribers + 4000 jam tayang.
Sejak awal saya diwanti-wanti oleh istri, supaya menjadikan kanal YouTube ini sebagai pemacu kreatifitas dalam berkreasi dan sebagai sarana gratis agar video-video itu tersimpan untuk selamanya (selama hayat dikandung YouTube) yang kelak akan dikenang di masa-masa mendatang. Jika nanti kanal YouTube nya bisa mendapat banyak subscriber dan menghasilkan uang, anggap saja itu bonus dari jerih payah kerja keras banting tulang jungkir balik selama membuat karya.
Tapi bagi saya, tetap saja selalu terbayang situasi ideal jika hobby ini juga menghasilkan uang walaupun seperti menjalankan misi tidak mungkin karena betapa sulitnya mendapatkan monetisasi dari YouTube. Syarat monetisasi itu sendiri yaitu mutlak harus memenuhi minimal mendapatkan 1000 subscriber dan memperoleh 4000 jam tayang dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
Maka teruslah giat membuat video dan meng-upload nya di YouTube, sambil mengoptimalkan SEO atau “Search Engine Optimization” agar video kita bisa ditemukan oleh banyak pengguna YouTube, khusus hal ini, hingga saat ini pun boleh dikata belum separuhnya saya fahami.
Singkat cerita, serius menggarap kanal YouTube ini selama 9 bulan lamanya, Alhamdulillah saya bisa mencapai lebih dari 1000 subscriber dan 4000 jam tayang yang merupakan mutlak syarat monetisasi.
Di awal September 2020, saya mendapatkan email pemberitahuan dari Google tawaran untuk bergabung dalam program kerjasama kemitraan dengan YouTube atau istilah populernya program monetisasi. Setelah saya ajukan kemitraan dengan YouTube, maka kanal YouTube saya kemudian masuk tahap peninjauan. Pihak YouTube akan melakukan auditing, review dan lainnya memastikan kesesuaian dengan pedoman kebijakan yang ditetapkan YouTube, kemudian tidak ada pelanggaran hak cipta setelah syarat mutlak tadi terpenuhi.
Begitu ketatnya proses peninjauan dari YouTube hingga tidak sedikit yang mengalami proses peninjauan hingga berbulan-bulan atau bahkan mendapat penolakan dikarenakan ada pelanggaran terhadap pedoman kebijakan YouTube yang isi pasal-pasalnya banyaknya bukan main.
Alhamdulillah berhasil di Monet!
Tidak lebih dari 24 jam proses peninjauan akhirnya Kanal YouTube saya disetujui, yang artinya saya bekerjasama dengan YouTube dalam program monetisasi, maka saya memberi hak kepada pihak YouTube untuk memasang iklan dalam setiap video yang saya upload di YouTube.
Dan penghasilan YouTube yang didapat melalui pemasang iklan tersebut akan dibagikan kepada si pemilik channel YouTube dalam nominal dan perhitungan yang ditentukan. Singkatnya begitu.

Hingga tulisan ini saya buat, saya memiliki hampir 5000 subscriber dan sudah mendapatkan penghasilan melalui YouTube, memang angkanya belum banyak namun terus berkembang setiap harinya walaupun perlahan. Tidaklah mengapa, sungguh saya menikmati setiap prosesnya.
Jika saya hanya berorientasi kepada banyaknya subscriber, sejak awal saya akan membuat konsep channel gaming atau hal lainnya yang cenderung lebih mudah menaikkan angka pemirsanya.
Tetapi saya ingin menjalankannya sesuai dengan hasrat dan kesesuaian saya.
Dalam penulisan buku ini, banyak sekali saya rasakan kekurangannya, semoga sedikit yang saya bagikan membawa cukup manfaat bagi rekan-rekan pembaca. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan.
Tetap semangat berkarya, tidak ada istilah terlambat untuk memulai hal baik, tidak ada istilah tidak bisa jika kita kita mau. Mau mencobanya dan mau belajar.
Salam.
Dhani
Wakra, 27 Desember 2020
Sumber Buku Mutiara Inspirasi dari Qatar















