“Dengan berbuat baik dan membantu orang lain, ia merasakan kepuasan tersendiri yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata”
Syarif Achmad, S. Si, MMSI (Founder)
“Hampa. Sepi. Lonely. Itulah perasaan saat pertama kali tiba di Qatar.” Demikian Syarif memulai cerita sebagai salah satu pekerja migran Indonesia di bidang teknologi informasi. Tidak pernah terbayangkan bahwa ia akan tinggal dan bekerja di sini. Pun saat menerima panggilan wawancara, ia belum tahu bagaimana bentuk negara ini. Hanya tim sepak bolanya dan penyelenggaraan Asian Games di Qatar pada tahun 2006 yang pernah didengarnya sedikit.
Syarif adalah lulusan dari Universitas Gadjah Mada di Jurusan Ilmu Komputer. Setelah menyelesaikan kuliah, ayah dari tiga anak ini memulai karirnya di Elnusa Geosains, sebuah perusahaan oil & gas services anak perusahaan Pertamina. Selanjutnya ia pindah ke Lotus Corporation yang kemudian diakuisisi oleh IBM. Setelah berkarir di IBM Indonesia sekitar hampir 8 tahun, akhirnya ia direkrut oleh Qatar Petroleum, sebuah perusahaan minyak dan gas milik Pemerintah Qatar, yang sedang melakukan ekspansi sehingga sangat pas dengan keahlian Syarif di bidang teknologi perangkat lunak.
Saat tiba pertama kali pada tahun 2007 itulah ia merasakan kesendirian, karena tidak memiliki kenalan atau pun teman sebelumnya di sini. Pada saat itu hanya ada peta kertas seukuran kertas A3 yang menuntunnya menyusuri kota Doha tempat ia tinggal. Ia pun mencoba mencari wajah-wajah melayu di masjid, akan tetapi nihil. Sebagian besar yang ditemuinya di masjid adalah orang Arab dan orang dari Asia Selatan. Komunitas Indonesia sendiri terbilang sedikit, sekitar 30 ribu orang saja yang tersebar di seluruh kota seantero Qatar.
Akhirnya ia pun mendapatkan ide dengan mencoba memakai baju koko ketika sholat maghrib di hari pertamanya di Qatar, dengan harapan bahwa ia akan lebih mudah dikenali. Usaha ini pun membuahkan hasil. Sepulangnya dari masjid, ia langsung disapa beberapa orang Indonesia yang juga baru selesai menunaikan sholat maghrib. Dia pun sangat bersyukur, bisa mendapatkan teman baru di hari-hari awal di Qatar. Perasaan hampa dan asing itu pun perlahan hilang. Tergantikan oleh perasaan optimis.
Situs TentangQatar.com
Berdasarkan pengalaman itulah, maka ia pun terinspirasi untuk membuat sebuah blog yang berjudul TentangQatar. Di blog ini ia menceritakan semua pengalamannya selama di Qatar berikut beberapa tips untuk pembacanya yang berencana untuk hijrah ke Qatar. Ia berharap para pendatang baru tersebut dapat beradaptasi dengan lebih cepat. Pada saat itu, informasi mengenai Qatar sangatlah sedikit dan susah dicari dan kebetulan teknologi blogging sedang booming. Blog ini berisi segala macam informasi negara ini, antara lain seputar biaya hidup, harga sewa rumah, pengurusan imigrasi, SIM, tentang mencari sekolah anak, harga sewa rumah, layanan kesehatan, dan lain-lain. Blog TentangQatar mendapatkan penghargaan Internet Sehat Blog Award pada tahun 2009 untuk kategori Citizen Journalism Blog.
Dengan banyaknya pertanyaan dalam blog tersebut, akhirnya pada tahun 2008 milis tambahan TentangQatar dibuat untuk menampung pertanyaan-pertanyaan, diskusi, dan berbagi informasi seputar kehidupan di Qatar. Akan tetapi ternyata setelah berjalan beberapa waktu, banyak juga diskusi di milis tersebut yang membahas negara lain di Timur Tengah. Karena ternyata banyak juga orang-orang yang mencari informasi tentang Dubai, Abu Dhabi, Kuwait dan lain-lain ‘nyasar’ ke milis ini. Beruntung, banyak dari anggota milis ini yang mencapai lebih 2000 orang, berasal dari tempat-tempat yang dimaksud, sehingga bisa memberikan masukan dan jawaban berdasarkan pengalamannya masing-masing.
Tidak berhenti di situ, bekerja sama dengan Pengajian Madani, pria kalem ini beberapa kali melakukan acara ‘Ahlan’, yang berarti ‘selamat datang’. Ini merupakan acara informal yang berisi orientasi untuk semua warga Indonesia yang baru saja datang ke Qatar. Semua peserta akan mendapatkan informasi dan juga dapat bertanya-jawab secara bebas mengenai lika-liku kehidupan di Qatar. Kegiatan ini tidak hanya diminati oleh yang baru saja pindah karena orang yang sudah lama tinggal pun ikut dalam acara ini untuk sekedar menambah teman, silaturahmi dan menambah wawasan.
Kehidupan Professional
Sebagai seorang tenaga profesional, ia bekerja dengan rekan dari berbagai bangsa di kantornya. Pada tahun-tahun awal di Qatar, di departemen tempat ia bekerja, hanya ia seorang yang berasal dari Indonesia. Hal ini dijadikannya sebuah motivasi untuk bekerja dengan lebih baik, sehingga dapat bersaing secara positif dengan rekan-rekan sekantor dari negara-negara lain.
Tidak heran apabila sejak tahun 2008, ia sering mendapat penghargaan dari perusahaan atas pencapaian kinerjanya dan target proyek yang signifikan, pekerjaan dengan kualitas tinggi yang melebihi ekspektasi dan hasil kerja yang memberikan citra baik bagi perusahaan.
Dengan prestasi yang ia dapat tiap tahun di perusahaan, ia ingin menunjukkan bahwa tenaga kerja profesional Indonesia mampu bersaing dengan bangsa lain di pentas global.
Syarif juga terus berusaha meningkatkan ilmu dan keahliannya agar tidak ketinggalan. Pada tahun 2010, ia berhasil mendapatkan sertifikasi manajemen proyek internasional, yaitu sertifikat Project Management Professional (PMP). Pada tahun 2014, ia juga melanjutkan pendidikan ke jenjang master di bidang manajemen sistem informasi, karena ia sadar betul bahwa kedepannya ilmu ini akan sangat dibutuhkan. Ia mengambil kuliah S2 ini di Universitas Bina Nusantara (Binus).
Kebetulan pada saat itu Binus membuka program MMSI kelas khusus untuk WNI di Qatar. Tesisnya, yang membahas tentang penerapan ‘komputasi awan’ dalam hubungannya ke daya saing bisnis di industri kreatif Indonesia, bahkan lolos publikasi di salah satu jurnal internasional yang terindeks scopus, yaitu International Journal of Business Information System.
Kehidupan Sosial dan Suka Duka
Tidak hanya di kantor, dalam kesehariannya ia juga aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia pernah pernah aktif sebagai salah satu pengurus di ZIS Qatar, organisasi masyarakat Indonesia yang melakukan pengumpulan, pengelolaan dan pendistribusian zakat, infaq sedekah dan wakaf dari warga negara Indonesia. Saat ini ia juga menduduki posisi sebagai sekretaris dari kepengurusan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) di Qatar.
Ia juga aktif di beberapa tim dan komunitas lain yang ia bentuk, antara lain Tim Haji Indonesia dari Qatar, Komunitas Sharing Kuliah, berbagai kepanitiaan untuk seminar, lokakarya, acara perlombaan menulis, photografi, seni budaya dan lain-lain. Ia juga pernah beberapa kali menjadi pembicara seminar, antara lain workshop Safe Internet for Family di Qatar Islamic Cultural Center dan Internet Ramah Keluarga di KBRI Doha.
Pada tahun 2011, ia mendirikan Yayasan SYIFA (Sahabat Yatim dan Dhuafa) yang berlokasi di Blora, Jawa Tengah bersama rekan-rekannya dalam jamaah pengajian Bin Omran. Sampai saat ini sudah tiga orang mahasantri, demikian ia menyebut anak-anak santri yang melanjutkan ke perguruan tinggi, yang sudah lulus.

Wisata gurun pasir bersama komunitas Indonesia
Baginya Qatar sudah menjadi rumah kampung halaman kedua. Ia merasakan bagaimana Qatar mengalami perkembangan yang sangat pesat bila dibandingkan dengan tahun-tahun ia datang. Pembangunan semakin semarak dan mengalami percepatan setelah Qatar ditunjuk FIFA untuk menyelenggarakan World Cup 2022.

Nonton MotoGP di Sirkuit Lusail
Qatar juga ‘rumah’ yang aman dan nyaman baginya dan keluarga. Pada tahun 2019 Qatar dinobatkan sebagai negara teraman dengan skor Global Crime Index terendah di dunia oleh Numbeo. Selain faktor keamanan, kondisi Doha tempat mereka tinggal yang asri juga menjadi salah satu yang membuat mereka betah.

Di Qatar hari liburnya adalah Jum’at dan Sabtu. Hal ini memungkinkan bapak tiga anak ini melakukan sholat Jumat bersama dengan anak-anaknya yang kebetulan semuanya laki-laki. Ia pun merasakan kedekatan yang lebih dengan keluarga, karena sore hari sudah bisa tiba di rumah, sehingga ia masih sempat membantu membuat pekerjaan rumah anak, mengantar mengaji, dan –lain-lain. Ini bisa dilakukan karena jalanan kota Doha yang relatif tidak macet dan jam kerja yang berakhir jam 3.30 sore. Keunggulan ini tidak bisa ia rasakan waktu tinggal dan bekerja di Indonesia.
Walaupun Qatar berada di Timur Tengah dengan suhu yang ekstrim, pemerintah Qatar berusaha menyediakan taman-taman yang indah dengan rumput-rumput yang hijau dan pohon-pohon untuk penduduknya beraktivitas dengan keluarga. Di setiap taman disediakan fasilitas-fasilitas penunjang secara gratis, seperti taman bermain anak dan alat untuk olahraga.
Disinilah ia dapat mengamalkan pesan salah satu gurunya yang berasal dari hadis Rasulullah SAW yaitu “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Dengan berbuat baik dan membantu orang lain, ia merasakan kepuasan tersendiri yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Ia pun berpesan untuk semua pembaca untuk selalu menunjukkan bahwa kita bangsa Indonesia mampu berprestasi dengan memberikan karya terbaik kapanpun dan dimanapun. Dengan prestasi yang ia dapat tiap tahun di perusahaan, ia ingin menunjukkan bahwa Indonesia mampu mengirim tenaga profesional dan mampu bersaing dengan bangsa lain.
Sumber : Mutiara Inspirasi dari Qatar

















