JALAN HIDUP MEMBUAT SAYA TERBANG

“Keistiqomahan, konsistensi dan kerja keras adalah hal mutlak yang dibutuhkan dalam menggapai cita-cita dan keberhasilan. Ridho dan restu orang tua serta dukungan istri dan anak-anak membuat segala hal menjadi mudah dan lancar. Dan Doa kepada Allah Yang Maha Esa adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan setiap insan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat”

Captain Saptaji Noor Ariwijaya

“Kapten Aji”, begitulah teman-teman saat ini biasa memanggil saya. Saya adalah Saptaji Noor Ariwijaya, seorang anak yang lahir dan tumbuh besar di Daerah Istimewa Yogjakarta.

Saya berprofesi sebagai kapten pilot pada sebuah maskapai penerbangan nasional Qatar. Jalan hidup membawa saya terbang ke berbagai belahan dunia, dan saat ini mengemudikan maskapai nasional Qatar.

Maskapai Qatar ini merupakan sebuah maskapai internasional yang dinobatkan sebagai ‘Maskapai Terbaik Dunia’ oleh Penghargaan Maskapai Dunia 2019. Juga dinobatkan sebagai ‘Maskapai Penerbangan Terbaik di Timur Tengah’, ‘Kelas Bisnis Terbaik Dunia’ dan ‘Kursi Kelas Bisnis Terbaik’. Bahkan Bandara Internasional Hamad (HIA), yang merupakan base Qatar Airways, kini menduduki peringkat ‘Bandara Terbaik Ketiga di Dunia’ diantara 550 bandara di seluruh dunia, sebagaimana yang dievaluasi oleh SKYTRAX World Airport Awards 2020.

Bagaimana saya bisa menjadi seorang pilot di Qatar?

Tidak pernah terbayang sebelumnya saya akan berprofesi seperti profesi saya saat ini. Juga tidak terbayang saya akan bekerja di perusahaan penerbangan internasional tempat saya bekerja saat ini. Jangankan terbayang, bermimpi pun tidak.

Beragam cerita dan angan tentu dialami oleh setiap anak saat masa kecil mereka. “Pesawat,…minta uangnya…!”, demikian biasanya seorang anak berteriak saat mereka melihat pesawat terbang melintas di langit diatas mereka. Saya pun begitu. Saat melihat pesawat terbang saya merasa sangat senang dan bahagia. Itulah mula saya mulai berharap suatu saat saya dapat menjalankan pesawat. Cita-cita seorang anak kecil.

Seiring berjalannya waktu, saya terus bercita-cita menjadi pilot. Walaupun dengan asa yang sangat rendah. Karena saat saya mulai tumbuh, saya menyadari bahwa menjadi seorang pilot membutuhkan sekolah khusus dengan biaya yang sangat besar.

Semenjak lulus SMA, saya selalu berharap bisa melanjutkan pendidikan tanpa biaya. Penyebabnya adalah karena saya adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara dan saat itu ayah saya masih menyekolahkan lima orang anaknya. Bapak dan ibu saya berprofesi guru; tentu cukup berat menanggung biaya pendidikan untuk kami semua putra-putrinya.

Dengan usaha keras dan bantuan Allah SWT, saya bersyukur diterima pada jurusan Teknologi Industri Pertanian di Universitas Gadjah Mada, sebuah universitas negeri di kota Yogyakarta. Saya pun menjalani program pendidikan disana. Namun di sela-sela kuliah, saya menyempatkan diri  ikut seleksi untuk mendapatkan beasiswa (scholarship) penerbang. Tanpa diduga, saya dinyatakan lulus seleksi dan mendapatkan biaya pendidikan sekolah penerbangan dari Merpati Nusantara Airlines, salah satu maskapai nasional Indonesia saat itu. Ini terjadi pada tahun 1992.

Sungguh sesuatu yang tak terduga, yang berawal dari keyakinan bahwa Allah ta’ala akan mendatangkan rejeki yang arahnya tidak disangka-sangka.

Saya pun berbicara dari hati ke hati untuk mendapat restu dari bapak dan ibu saya. Dengan berbekal ikhlas dan ridho orang tua, saya melepaskan pendidikan saya di UGM dan mengikuti pendidikan penerbang di New Zealand.  Dengan restu orang tua, saya yakin semua akan menjadi mudah.

Inilah awal mula saya mengenal dunia penerbangan. Saya kemudian menjadi lebih cinta pada profesi ini saat saya menjalani pendidikan penerbangan di Flightline Aeronautical College Ltd. Auckland, New Zealand dari tahun 1992-1994. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi paham dan dari paham lama-lama menjadi cinta. Demikianlah proses terbentuknya rasa cinta pada profesi saya pada penerbangan.

Apakah menjadi seorang pilot itu sulit?

Semua pekerjaan itu sulit, karena setiap pekerjaan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan tertentu. Namun tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau belajar. Jenis pekerjaan apapun, kuncinya harus mau belajar. Ini selaras dengan pepatah sunda “Cikaracak ninggang batu laun laun jadi legok”, yang artinya usaha yang dilakukan secara terus menerus, lama-kelamaan pasti akan membuahkan hasil. Keistiqomahan, konsistensi dan kerja keras pada suatu saat pasti akan memberikan hasil.

Setelah lulus dan resmi menjadi seorang pilot, pada tahun 1994 hingga tahun 2002 saya mengabdi sebagai First Officer F28 di Merpati Nusantara Airlines. Ada suatu kenangan yang tak terlupakan saat masih bekerja untuk Merpati Nusantara. Sekitar tahun 1995, saat itu kakak nomor lima saya baru memiliki anak pertamanya di Sangatta – Kalimantan Timur. Bapak dan ibu saya ingin terbang menengok cucunya.

Karena ingin bersama-sama orang tua, saya mengajukan permintaan penerbangan dengan rute Jogja – Surabaya – Balikpapan pada atasan yang akhirnya disetujui. Saya sangat bahagia karena bisa terbang membawa kedua orang tua. Apalagi itu adalah penerbangan pertama bagi ibu saya.

Kebahagiaan bertambah lagi karena saat itu saya mendapatkan izin dari kapten untuk mengundang kedua orang tua saya untuk bisa berkunjung ke dalam ruang kokpit pesawat.

Saat itu belum ada larangan berkunjung ke kokpit sehingga bapak dan ibu saya boleh masuk ruang kokpit.

Nampak binar-binar kebahagiaan pada mata bapak dan ibu, yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Bapak pun bercerita bahwa ibu sempat meneteskan air mata karena terharu saat pesawat lepas landas karena ini adalah penerbangan pertama bagi ibu dan yang menjadi pengemudi pesawat adalah anaknya sendiri.

Masya Allah, sungguh kemudahan datangnya dari Allah. Dan semua menjadi mudah dengan adanya doa kedua orang tua.

Pada tahun 2002 hingga tahun 2004 saya pindah tugas ke maskapai Citilink sebagai First Officer F28. Setelah itu saya berpindah tugas menjadi pilot maskapai Garuda Indonesia di tahun 2004 hingga 2007 sebagai First Officer B737. Kita tahu, Garuda adalah sebuah maskapai kebanggaan rakyat Indonesia.

Pengalaman demi pengalaman saya jalani dengan bahagia meski masih ada yang hal terpendam dalam hati. Ibarat sebuah gelas, saya baru setengah terisi. Saya berkeinginan meraih pengalaman lebih lagi didunia penerbangan ini.

Tahun 2006, saya melakukan umrah. Ada perasaan sangat membahagiakan tiap kali beribadah di Masjidil Haram, yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Tumbuh keinginan untuk bisa senantiasa berkunjung ke Masjidil Haram. Pada saat itulah muncul niat kuat tak terhingga dan saya berdoa memohon kepada Allah untuk dimudahkan dan di’dekat’kan kepada Makkah dan Madinah.

Beberapa waktu kemudian, seorang teman menginformasikan tentang adanya lowongan pilot pada perusahaan Qatar Airways. Saya pun mencoba keberuntungan dan merasa bahwa ini mungkin akan menjadi jawaban dari doa yang pernah saya panjatkan, yaitu agar saya didekatkan dengan tanah suci. Ini membuat saya semakin semangat untuk bergabung diperusahaan ini.  Saya juga mendapat dukungan yang besar dari istri dan anak-anak. Dan alhamdulillah, setelah menjalani tes saya bisa lulus dan diterima untuk menjadi pilot di maskapai kebanggaan rakyat Qatar yang berwarna marun dan bersimbol Arabian oryx (national animal of Qatar). Pada tahun 2007 hingga tahun 2014 saya bekerja sebagai sebagai FO/Captain A319/320/321. Lalu di tahun 2014 hingga sekarang, saya bekerja sebagai Captain Boeing B787.

Alhamdulillah, di maskapai nasional Qatar ini, saya merasakan banyak pengalaman terbang di berbagai belahan dunia.

Itulah kisah saya. Yang ingin saya bagikan kepada para pembaca sekalian, bahwa keistiqomahan, konsistensi dan kerja keras adalah hal mutlak yang dibutuhkan dalam menggapai cita-cita dan keberhasilan.

Ridho dan restu orang tua serta dukungan istri dan anak-anak membuat segala hal menjadi mudah dan lancar. Dan Doa kepada Allah Yang Maha Esa adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan setiap insan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat. Selamat meraih masa depan yang gemilang dan salam sukses!

Artikel Terkait