Qatar telah selesai menggelar Piala Dunia 2022 pada 20 November hingga 18 Desember 2022.
Meski telah selesai, Qatar sebagai salah satu negara yang menyediakan beragam hal menarik untuk wisatawan, termasuk terkait kuliner.
Terlebih jika wisatawan ingin mencari tempat makan yang memiliki nuansa atau menu khas Indonesia.
Wartawan Tribun Network, Eko Priyono, berkesempatan mewawancarai Rosowi selaku owner Pearl Of Beirut Restaurant, di Al Khor, Qatar, pada Rabu (21/12/2022).

Restoran yang terletak di Al Khor itu menjadi salah satu tempat makan di negara Qatar yang menyediakan menu khas Indonesia.
Jika Anda ingin mendatangi tempat ini, tentu akan disajikan berupa pilihan menu yang menjadi rekomendasi, yaitu antara lain ikan bakar, dan sate maranggi, dengan harga 40 Qatariyal atau setara dengan Rp 164.000.

Menurut Rosowi, sate maranggi di tempatnya berbeda dari lainnya, sebab daging yang digunakan merupakan pilihan tenderloin.
Rosowi berujar bahwa menu khas Indonesia di tempatnya kerap menjadi pilihan ketiga oleh keseluruhan pengunjung yang datang ke Qatar.
Bukan karena rasa yang kurang nikmat, namun jumlah populasi latar belakang warga negara di Qatar terdiri dari tiga tingkatan, warga Internasional, Filipina, dan Indonesia.
Jika Anda berminat datang, restoran milik Rosowi mulai buka pukul 07.00 waktu Qatar dan tutup pukul 23.00 waktu Qatar.

Diketahui sebelum dijadikan restoran, perjuangan membangun tempat ini diawali dengan Rosowi yang ditawarkan perihal take over atau ambil alih suatu rumah makan di tahun 2012 oleh warga Qatar.
Rosowi pun memulai berpikir untuk merancang niat usaha rumah makan.
Rosowi menceritakan perjalanan dirinya merintis bisnis restoran tersebut kepada jurnalis Tribun Network, Eko Priyono, yang berkesempatan mewawancarainya.
Diawali dengan Rosowi yang ditawarkan perihal take over atau ambil alih suatu rumah makan di tahun 2012 oleh warga Qatar, dirinya memulai berpikir untuk merancang niat usaha rumah makan.
Seusai mendapatkan penawaran, Rosowi menjelaskan tidak serta merta langsung menerima tawaran itu, sebab ketika dilakukan pengecekan, rupanya terdapat beberapa cost atau pendapatan yang tidak menutup sesuai target, minimal untuk kebutuhan.
“Akhirnya setelah dipikir beberapa waktu, saya sepakat mengambil, namun diawal berbisnis, saya belum menjual menu Indonesia,” kata Rosowi.

Seiring berjalannya waktu, Rosowi kemudian melihat di wilayah Al Khor saat itu, belum ada tempat yang menjual makanan khas Indonesia, sehingga ia bersama rekan bisnisnya memulai inisiatif membuatnya.
Bermodalkan ilmu promosi penjualan secukupnya kala itu, Rosowi mengaku lebih melakukan dengan mengejar pelanggan ke rekan-rekannnya di Qatar, hingga komunitas pada wilayah sekitar Al Khor.
Walaupun saat itu sempat menjadi reseller, atau menjual makanan yang sudah jadi dari rekan komunitas, seperti nasi lemak dan ikan bakar balado, karena memang belum memiliki Cheff.
“Akhirnya saat itu, kami rekrut Cheff dari Indonesia langsung dua orang, dan mulai kita produksi, walaupun terdapat Beberapa hambatan di awal,” lugasnya.
Menurut Rosowi, sate Maranggi ditempatnya berbeda dari lainnya, sebab daging yang digunakan merupakan pilihan tenderloin.
Terkait menu lainnya pun juga beragam, terdapat nasi goreng ikan asin, nasi goreng kambin, sate ayam, sate kambing, hingga bebek kremes.
“Untuk harga itu variatif, paling murah itu 12 Qatariyal atau setara dengan Rp 49.200, hingga 120 Qatariyal atau setara dengan Rp 492.000,” pungkasnya.
Sumber : Tribunews.com

















