SANG DESAINER GRAFIS TINGKAT DUNIA

“Hormati dan sayangi kedua orang tuamu, Insya Allah rezekimu dimudahkan.”

Rendra Adi Pramudya, ST

Section Head Creative Solution – Al-Jazeera TV

Di sela-sela kesibukannya sebagai karyawan salah satu stasiun TV bergengsi di dunia. Pria asli sunda ini menuturkan kisah perjalanan karirnya hingga terdampar di negeri padang pasir ini. Sebutlah nama lengkapnya Rendra Adi Pramudya, ST. dia merupakan lulusan program diploma pada Program Studi Instrumentasi Elektronika Fakultas MIPA Universitas Indonesia, yang kemudian dia lanjutkan ke program S1 di universitas lain.

Karirnya dimulai dengan menjadi guru privat bimbingan belajar untuk siswa SMP / SMA, dan juga pernah menjadi asisten dosen di Politeknik Tugu, Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Sebelum singgah di negeri Qatar, Pak Rendra telah terjun di dunia penyiaran sejak tahun 2000 dimana dia bekerja pada salah satu televisi swasta Indonesia di kawasan Kedoya, Jakarta Barat.

Di tempat tersebut beliau bekerja sebagai operator studio selama beberapa tahun. Kemudian dia mulai mencoba pindah ke bidang komputer grafis hingga tahun 2006, yang ternyata membuatnya betah hingga sampai sekarang. Setelah memiliki cukup pengalaman, dia pun mengundurkan diri dari perusahaan yang selama ini menjadi tempat ia berkarya dan menerima tawaran kerja dari sebuah perusahaan TV kabel, Astro Indonesia. Sayangnya karirnya di perusahaan tersebut tidak berlangsung lama. Dia hanya bekerja disana selama sebulan, karena ada tawaran dan rekomendasi untuk bekerja di Timur Tengah. Kesempatan itu pun tidak di sia-siakan oleh pria berkacamata ini.

Suasana di kantor tempat Rendra bekerja

Maka pada tahun 2006 pertama kali ia menjejakkan langkah karirnya di Kota Dubai, Uni Emirat Arab. Dia bergabung dengan Middle East Broadcasting Centre atau dikenal dengan nama MBC. MBC adalah perusahaan konglomerasi penyiaran terkenal di dunia arab yang memiliki beberapa saluran dengan brand MBC dan Al Arabiya. Bagi yang pernah merantau di negara-negara Timur Tengah sudah pasti tidak akan asing dengan stasiun TV ini. Tiga tahun merantau di negeri orang tetap membuat pria berkacamata ini ingat kembali dengan kampung halamannya. Setelah masa kontraknya di MBC berakhir, pada tahun 2009 dia kembali ke tanah air.

Di Jakarta, Pak Rendra bergabung dengan VIZRT (www.vizrt.com), sebuah perusahaan perangkat lunak multimedia khusus untuk broadcasting yang berpusat pusat di Bergen, Norwegia. Di Indonesia ada banyak klien-klien perusahaan tersebut yang merupakan stasiun-stasiun TV lokal, seperti METRO TV, SCTV, TransTV, TPI (sekarang MNCTV), RCTI, Jak TV,  Bloomberg Indonesia (kini sudah tutup) dan Berita satu. Di Perusahaan ini dia bekerja sebagai konsultan dan menjadi perwakilan untuk Indonesia dan Asia Tenggara yang waktu itu berpusat di Jakarta.

Selain bersinergi dengan perusahaan dalam negeri, VIZRT juga bermitra dengan perusahaan-perusahaan penyiaran yang ada di wilayah Asia tenggara, diantaranya Astro, ABS-CBN dan Channel News Asia. Oleh karena itulah, dia sering bertugas ke berbagai negara di Asia, seperti Thailand, Filipina, Hongkong dan Singapura untuk melakukan berbagai proyek dan dukungan produk. Salah satu proyek terakhirnya dengan VIZRT adalah dengan Lotte Home Shopping Channel yang dikerjakan selama tiga bulan di Seoul, Korea Selatan. Pengalaman berharga ini memberikannya banyak pengalaman untuk menjadi lebih menguasai dan ahli dalam pengoperasian perangkat lunak ini.

Pada tahun 2010, temannya di Dubai memberikan rekomendasi kepadanya untuk mencoba melamar ke sebuah televisi ternama yang berkantor pusat di Qatar, yaitu Al Jazeera TV. Akhirnya dia pun dipanggil ke Doha untuk melakukan wawancara kerja. Berbekal keahlian yang diperoleh selama di VIZRT, dia pun diterima sebagai Senior Graphic Designer di stasiun TV ini. Pengalamannya dalam merancang dan menggunakan sistem VIZRT merupakan aset yang sangat berharga bagi Al Jazeera, karena seluruh sistem grafis untuk siaran udara Al-Jazeera menggunakan system VIZRT.

Sejak bekerja di Al-Jazeera TV beberapa kali dia ditugaskan untuk menyiapkan dan mengatasi masalah teknis sistem tersebut di berbagai kantor cabang Al-Jazeera di seluruh dunia, seperti di London dan Washington DC pada saat pemilu Amerika Serikat pada tahun 2012. Hingga saat ini dia akhirnya dipercaya sebagai Section Head Creative Solution di perusahaan tersebut. Selain itu, dia juga aktif dalam mengadakan pelatihan untuk karyawan lainnya dalam hal penguasaan sistem VIZRT.

Awalnya Pak Rendra merupakan satu-satunya pegawai di sana yang berasal dari Indonesia. Akan tetapi dia tetap bisa menunjukkan prestasi, khususnya dengan keahliannya dalam bidang coding. Salah satu pengalaman yang berkesan adalah pada saat dia mengembangkan sistem kontrol untuk presenter di iPad. Pada tahun 2010 itu, hal ini merupakan hal yang masih sangat jarang. Oleh karena prestasinya tersebut, dia pun mendapatkan penghargaan pelaku inovasi di perusahaan tersebut.

Rendra di Doha dengan gedung-gedung pusat bisnis Qatar

Salah satu poin penting buatnya saat menjejak di negeri Qatar ini adalah keinginan untuk ibadah umrah sudah menari-nari di pelupuk matanya. Kadang dia membayangkan bisa berangkat menuju Mekah dengan membawa kendaraan sendiri, dan semua impian itu pun akhirnya terwujud. Alhamdulillah, niatnya terlaksana untuk berangkat untuk hingga dua kali.

Hal lain yang membuatnya betah untuk tinggal di Qatar adalah suasananya yang Islami dan kebebasan dalam melakukan pengajian dengan warga negara Indonesia lainnya.

Apalagi ada banyak orang Indonesia yang menjadi imam masjid di Qatar, yang salah satunya adalah Ustadz Muslihin yang sering menjadi imam di masjid dekat rumahnya. Kehangatan ini membuatnya merasa seperti berada di tanah air. Selain itu, dia merasa bahwa Qatar merupakan negara yang sangat aman dan nyaman untuk dia dan keluarga.

Kepada seluruh diaspora Indonesia, dia berpesan untuk tetap cinta, bangga dan bela tanah air dan bangsa dimanapun Anda berada. Kepada generasi muda Indonesia, “Hormati dan sayangi kedua orang tuamu, Insya Allah rezekimu dimudahkan.”

Sumber : Buku Mutiara Inspirasi dari Qatar

Artikel Terkait
Cerita dari Qatar

CERITA DARI DOHA

“Seperti kata Eleanor Roosevelt: The purpose of life, after all, is to live it, to taste experience to the utmost,

Read More »