Iqbal Mochtar
Juni 2006. Pesawat Qatar Airways yang menerbangkan saya dari Jakarta mendarat di bandara Doha, Qatar pukul 11 siang. Begitu keluar dari pintu pesawat, saya terkejut. Saya langsung diterpa udara kering dan angin panas. Pemandangan sekeliling bandara kering; tidak hijau dan luas seperti bayangan saya. Negara ini pasti amat kering! Setidaknya, itulah kesan pertama saya saat menginjakkan kaki pertama kali di Qatar. Belakangan saya baru tahu bahwa saat saya mendarat memang merupakan musim panas (hot summer). Pada musim panas, suhu udara kadang mencapai 50o Celcius. Saat tiba, saya dijemput perwakilan institusi dimana saya akan bekerja dan diantar ke hotel. Setelah beristirahat beberapa jam, saya keluar hotel dan memulai interaksi dengan kehidupan di Qatar. Inilah persentuhan awal saya dengan negeri kecil nan makmur bernama Qatar.
Saya tampaknya merupakan dokter Indonesia pertama yang bekerja formal di Qatar. Sepanjang yang saya ketahui, sebelum saya belum ada dokter Indonesia yang berkiprah formal di negeri ini. Saat saya tiba, memang ada beberapa dokter wanita yang ada disini. Namun mereka tidak bekerja secara formal; mereka mendampingi suaminya yang bekerja. Setelah saya, mulailah berdatangan beberapa dokter Indonesia lain. Namun jumlahnya masih bisa dihitung jari. Saat tulisan ini dibuat, terdapat 10 dokter Indonesia yang berada di Qatar. Tiga diantaranya bekerja secara formal dan sisanya mengikuti suami bekerja sambil melakukan berbagai kegiatan informal.
Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkan akan berkiprah di Qatar. Setelah menyelesaikan sekolah di Australia dan Inggris, saya balik ke Indonesia dan rencana bekerja disana. Sekitar setahun di Indonesia, lowongan bekerja di Qatar datang dan saya pun mencoba mendaftar. Alhamdulilah, setelah menjalani sejumlah tes, saya dinyatakan lulus dan dapat bekerja di negeri ini. Saat ini, license saya bekerja adalah sebagai Associate Cardiology. Jadi saya rutin memeriksa dan mengobati pasien. Disamping melakukan pelayanan kesehatan kerja atau Occupational Medicine.
Sejujurnya, saya bersyukur dapat menjadi saksi bagaimana sebuah negara berkembang sangat cepat. Dalam masa 15 tahun bekerja disini, saya menyaksikan bagaimana negara ini melakukan transformasi pembangunan yang sangat masif di berbagai bidang, termasuk pembangunan infra- dan suprastruktur, ekonomi, sumber daya manusia dan pola pikir. Saat saya tiba, Qatar masih belum semaju dan semodern ini. Kini, Qatar menjadi salah satu negara yang memiliki tingkat pendapatan perkapita terbesar di dunia. Bandaranya kini menjadi salah satu bandara terbaik dan teramai dunia, amat luas dan dibangun dengan landscape dan arsitektur yang indah. Ibukotanya, yaitu Doha, telah dinobatkan menjadi kota kedua teraman di dunia. Ini sebuah legacy, yang dibangun dalam waktu yang relatif singkat.
Sektor kesehatan Qatar sangat maju dan memiliki standar tinggi. Bukan hanya fasilitas, tetapi juga sistem dan sumber dayanya. Negeri ini memiliki sejumlah rumah sakit bereputasi internasional. Salah satunya adalah Sidra Medicine Hospital. Ini adalah sebuah rumah sakit taraf internasional yang menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan terbaik dan berkualitas tinggi dibidang kesehatan ibu dan anak. Negeri ini juga memiliki Aspetar hospital, yang khusus menangani gangguan muskulosekeletal terutama pada atlet. Kedua rumah sakit ini sangat megah dan dikawal oleh dokter spesialis atau konsultan yang sangat mumpuni di bidangnya. Sebagian besar dokter-dokternya adalah dokter senior yang lulus atau mendapat sertifikasi di Inggris, Amerika atau Kanada. Negeri ini juga memiliki berbagai universitas terbaik dan bertaraf internasional. Salah satunya adalah Well Cornell University. Ini adalah cabang Well Cornell Medicine, Amerika Serikat, yang merupakan salah satu pusat pendidikan kedokteran terbaik dunia.
Dokter yang bekerja di Qatar berasal dari berbagai negara dan memiliki latar belakang berbeda. Dokter-dokter lulusan Inggris, Amerika, Kanada cukup banyak yang bekerja disini. Plus dokter lulusan negara-negara lain termasuk dari India, Pakistan, Mesir, Sudan dan Filipina. Meski berasal dari berbagai negara dan latar belakang berbeda, semua tenaga kesehatan ini memiliki tingkat credential dan kualitas pelayanan yang terstandarisasi. Qatar memang sangat menjaga kualitas tenaga kesehatan mereka. Dan upaya ini mereka terapkan sejak proses rekrutmen awal. Ketika seorang akan bekerja sebagai dokter atau tenaga kesehatan, tahap pertama yang harus mereka lewati adalah credentialing. Ijazah dan pengalaman kerja mereka akan diverifikasi oleh sebuah lembaga internasional khusus untuk pengecekan ijazah dan dokumen. Lembaga ini akan melakukan pengecekan langsung ke universitas atau institusi tempat tenaga kesehatan lulus atau bekerja sebelumnya. Berdasar proses verifikasi langsung ini, lembaga verifikasi akan memberikan laporan dan klarifikasi kepada institusi yang akan mempekerjakan terkait apakah ijazah atau pengalaman kerja yang disebutkan dalam dokumen adalah valid dan benar. Cukup banyak tenaga kesehatan yang tidak berhasil lolos dalam proses ini.
Setelah terbukti ijazah dan dokumennya valid dan benar, proses selanjutnya yang harus diikuti adalah mengikuti ujian standarisasi. Tiap profesi menjalani ujian berbeda. Untuk dokter umum, mereka harus mengikuti ujian standarisasi yang disebut prometric internasional dimana ujian ini menguji kemampuan pengetahuan dan keterampilan mereka. Kira-kira sama dengan ujian PLAB di Inggris atau USMLE di Amerika. Setelah lulus dari ujian standarisasi ini, barulah tenaga kesehatan diberikan surat izin praktek atau bekerja yang berlaku dua tahun dan harus diperbaharui setiap dua tahun. Khusus untuk dokter spesialis, setelah proses verifikasi ijazah mereka tidak harus mengikuti ujian prometrik. Namun proses exemption ini harus disetujui oleh Ministry of Public Health dan rumah sakit atau institusi tempat mereka akan bekerja.
Saya alhamdulillah telah bekerja di Qatar selama lebih 15 tahun. Dan saya bersyukur saya bekerja pada sebuah institusi yang memberikan kesempatan kepada stafnya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Sambil bekerja di institusi ini, saya melanjutkan pendidikan saya dan berhasil meraih beberapa gelar pendidikan lain, termasuk master dan doktor saya. Saya juga beberapa kali dikirim oleh institusi untuk mengikuti sejumlah kursus, termasuk di Perancis dan Dubai. Bukan hanya institusi saya, berbagai institusi kesehatan lain di Qatar juga menganut prinsip yang sama, yaitu sangat menghargai dan memberi kesempatan stafnya untuk meningkatkan kapasitas intelektual dan pelayanannya lewat training, kursus atau continuous professional development lain.
Saya sering ditanya teman-teman tentang apa yang membuat saya betah di Qatar.
Pertama, sejak selesai pendidikan dokter tahun 1994, saya memang telah bercita-cita untuk bekerja di luar negeri. Bagi saya, bekerja di luar negeri memiliki keunikan dan tantangan tersendiri. Sangat challenging. Dan alhamdulillah, Allah ta’ala memberikan saya kesempatan untuk menggapai keinginan ini. Sebelum di Qatar, saya memperoleh beberapa beasiswa yang memberikan kesempatan saya menjalani studi di luar negeri. Kedua, Qatar memberikan remunerasi dan reward yang cukup baik bagi dokter. Beda dengan remunerasi yang didapat oleh rata-rata dokter yang bekerja di negara berkembang. Dengan remunerasi yang cukup baik ini, dokter dapat berkonsentrasi penuh melayani pasien tanpa harus melakukan pekerjaan sambilan. Ketiga, saya merasa Qatar merupakan negara kondusif untuk perkembangan anak, terutama terkait aspek religius-spiritual.
Di Qatar, situs-situs internet yang vulgar diblok. Masjid tersebar dimana-mana sehingga mudah untuk beribadah, bahkan termasuk saat sementara shopping di mall atau souq. Kota Mekkah dan Madinah juga relatif tidak jauh dari Qatar. Sebelum negara ini diblokade, kami rutin mengunjungi Mekkah dan Madinah untuk umroh dan haji. Kadang menggunakan pesawat, tetapi kadang juga menggunakan bus atau mobil pribadi. Keempat, Qatar termasuk salah satu negara teraman di dunia. Disini, anak-anak dapat keluar malam bersama teman-temannya secara tanpa ada kekuatiran akan terjadi tindakan kriminal. Saya dan keluarga telah merasa cocok dengan ambient Qatar, termasuk cara hidup dan pergaulan sosial. Anak-anak saya tumbuh dan besar disini. Mereka telah menganggap Qatar sebagai second home country mereka. Saat berlibur ke tempat lain, mereka sering ingin cepat-cepat balik Qatar. Intinya, negeri ini telah rumah kedua kami.
Sebagai penutup, saya mengajak teman-teman dokter dan tenaga kesehatan Indonesia untuk mencoba berkiprah di Qatar. Siapa tahu Allah menakdirkan teman-teman untuk berkiprah disini. Sekiranya teman-teman berminat dan ingin mendapat informasi lanjut, saya dapat dihubungi pada email: muhammad.mochtar03@alumni.imperial.ac.uk.

Menjadi anggota Front Line Team Penanggulangan Covid-19 pada industri minyak dan gas, Qatar.

Menjadi Continuous Professional Development (CPD) Lead, Healthcare Practitioners, Perusahaan Minyak dan Gas, Qatar

Menjadi narasumber Kompas TV, Indonesia

Menjalani International Fellowship pada bagian Cardiac Imaging, Massachusetts General Hospital-Harvard University, USA

Menjadi wisudawan IPK tertinggi, Spesialis Kedokteran Okupasi (Occupational Medicine Specialist), Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia

















