WARNA-WARNI HIDUP DI QATAR

Kesibukan dalam berbagai aktivitas terkait profesi, sosial dan bisnis ini membuat kami merasa betah tinggal di sini dan melewati hari-hari dengan penuh makna.”

(Suripan Soleh)

Nama saya Suripan Soleh. Meski dilahirkan di Demak, Jawa Tengah, saya menamatkan semua pendidikan formal di Lhokseumawe, sekitar 300 km dari Banda Aceh. Di kota ini juga saya bertemu dengan istri saya dan alhamdulillah saat ini kami sudah dikaruniai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan, yang keduanya sudah duduk di bangku kuliah. Sebelumnya, saya bekerja di bagian ammonia PT. Asean Aceh Fertilizer di Lhokseumawe. Pada tahun 2002 timbul keinginan untuk mengubah nasib dengan mengajukan lamaran pekerjaan di Qatar dan diterima di Qatar Fertiliser Company (Qafco).  

Selama lebih dari 18 tahun bekerja di perusahaan ini, banyak  sekali pengalaman yang saya peroleh, baik dari sisi skill pengoperasian pabrik juga pengalaman berinteraksi dengan rekan-rekan kerja yang berasal dari berbagai bangsa, seperti India, Pakistan, Banglades, Philipina,  Mesir, Lebanon, dan beberapa negara yang lain. Masing-masing bangsa tersebut tentu mempunyai karakter yang berbeda-beda satu sama lain dan sudah barang tentu kita harus pandai-pandai membawa diri, seperti kata pepatah, ‘Pandai-pandailah meniti buih, agar selamat badan sampai ke seberang’. Kalau kata anak zaman now: jangan mudah baper, alias gampang tersinggung. Terjadi gesekan-gesekan kecil dengan rekan itu hal biasa dengan perbedaan latar belakang  dan juga kemampuan berbahasa Inggris kita, yaitu perbedaan dalam hal intonasi, penekanan dan bahkan pengucapan sebuah kata dalam bahasa Inggris yang kadang-kadang menjadi bahan “candaan”.

(Bekerja saat mengontrol pabrik)

Terutama  di masa-masa awal tinggal di Qatar, selain tuntutan adaptasi budaya kita juga harus bisa beradaptasi dengan iklim. Qatar sebagaimana negara di kawasan Timur Tengah yang lain, juga beriklim gurun, yang artinya 6 bulan musim panas dan 6 bulan musim dingin, dengan temperatur udara yang kadang mencapai 47⁰ C dan kelembaban udara yang mencapai 85%  membuat kita yang bekerja di luar ruangan sangat tidak nyaman, dengan keringat yang membanjiri badan sampai membasahkan semua lapisan pakaian. Tentu ini bikin pressure tersendiri,  apa lagi bila kondisi pabrik sedang dalam trouble. Sebaliknya, di musim dingin, suhu udara bisa menusuk tulang dengan kisaran 5⁰-7⁰ C di malam hari.  Meski  tidak sampai turun salju,  bagi  yang biasanya hidup di negara khatulistiwa, ini tentu jadi ujian fisik juga bagi kita.

Melewati hari-hari pertama di Qatar terasa berat buat saya. Bukan karena iklim karena saat kami tiba di bulan November 2002, hawa lagi sangat cocok, karena  peralihan dari musim panas ke musim dingin. Jadi sudah tidak lagi  panas tapi belum begitu dingin. Yang berat justru karena harus tinggal di Bachelor Camp karena keluarga belum boleh ikut. Pengalaman harus terampil menyiapkan masakan sendiri merupakan tantangan tersendiri. Lidah belum bisa menyesuaikan diri dengan cita rasa Arab dan India yang rumah makannya tersebar di Mesaieed. Sementara rumah makan Indonesia satu-satunya hanya lah Restoran  Qatindo yang letaknya di Doha, sekitar 30 km dari Mesaieed. Tidak terpikir untuk sering makan dan bungkus makanan dari sana, karena kami semua belum memiliki mobil sendiri.

Untuk mendapatkan SIM Qatar, kami harus mengambil minimal 36 jam kursus menyetir di sekolah mengemudi resmi dan lulus parkir mundur L, S, dan P serta road test. Di samping itu, kecanggihan teknologi komunikasi belum seperti sekarang dimana kita bisa voice dan bahkan video call dengan keluarga di Indonesia. Dulu kami hanya bisa kirim sms dan bila ingin bicara langsung, kami harus ke wartel yang hanya ada di Doha. Untuk ini, kami harus menunggu jadwal libur kerja dan menumpangi bis kuning GMC reot terus jadi langganan pekanan kami. Dan waktu favorit kami selalu berangkat di malam hari. Mungkin biar tidak ketahuan orang bahwa bis yang kami tumpangi adalah  bis reot murah meriah. Tidak peduli apakah di Indonesia saat itu sudah tengah malam atau tidak, karena perjuangan untuk sampai di wartel saja sudah membuat kami lupa bahwa Indonesia lebih duluan 4 jam waktunya dengan Qatar.

Walhasil, mata kami masih segar-segar, sementara pihak yang di Indonesia melayaninya dengan  terkantuk-kantuk. Hahaha.

Alhamdulillah 4 bulan kemudian ketika sudah resmi melewati masa percobaan dan menjadi karyawan resmi, saya bisa pulang menjemput keluarga.

Dan fase setelah ini menjadi lebih semangat dengan  mewarnai hari-hari dengan berbagai aktivitas dengan keluarga.

Aktivitas Sosial dan Bisnis.

Saya teringat awal mula terlibat aktivitas sosial di sini. Saat menjelang penyelenggaraan Asean Games di Qatar, pihak transportasi Qatar mendatangkan banyak supir taksi dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Mereka ini diperkerjakan sebagai supir taksi resmi selama Asean Games dan bahkan banyak yang kemudian melanjutkan kontrak dan menetap dan bekerja di sini. Saat itu pendatang  Indonesia belum sebanyak sekarang.

Dan rasa senasib sepenanggungan di antara kita masih sangat besar. Saya dengan beberapa teman menggalang dana untuk disumbangkan kepada mereka supaya mereka bisa mengirim lebih untuk keluarga mereka di Indonesia. Mendengar keluh kesah mereka dan membantu kesusahan yang mereka hadapi. Tak lama berselang, mulai banyak didatangkan kontraktor-kontraktor dari Indonesia untuk pengerjaan proyek pembangunan jalan dan juga bandara baru Qatar. Kami langsung antusias membantu dan memberi perhatian kepada mereka,  terutama saat bulan puasa dan lebaran.

Karena kontraktor- kontraktor ini tidak diperbolehkan membawa keluarga karena gaji bulanan tidak mencapai  QR 2000 per bulan, kami terbayang bagaimana rasanya tidak bisa mencicipi masakan Indonesia terutama saat Ramadhan dan Hari Raya. Kami menggalang ibu-ibu untuk bikin kolak, lontong sayur, bakso, dan lain-lain untuk dikirim ke mereka.

Dari sini lah, saya dan beberapa teman terpikir untuk membuka bisnis. Banyak kebutuhan orang Indonesia yang belum terpenuhi oleh toko atau restoran yang ada. Kami pernah membuka toko food stuff, yang menyediakan bahan makanan, sayur dan buah khas Indonesia.

Pernah juga membuka restoran Indonesia, yang menyediakan berbagai masakan khas Indonesia yang mustahil kita temukan di restoran Arab atau India bahkan di restoran Asia mana pun.  Pernah pula kami membuka salon khusus wanita dengan mendatangkan pekerja-pekerja salon dari Indonesia. Meski pada akhirnya semua tutup alias sukses yang tertunda.

Kami merasa senang telah mendapatkan begitu banyak pengalaman hidup di Qatar. Kesibukan dalam berbagai aktivitas terkait profesi, sosial dan bisnis ini membuat kami merasa betah tinggal di sini dan melewati hari-hari dengan penuh makna. Dan tanpa terasa, saat ini sudah 18 tahun. Semoga keberkahan terus Allah anugerahkan untuk kita semua sebagai bekal hidup kita di akhirat nanti. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

*** Mutiara Inspirasi dari Qatar ***

Artikel Terkait
Kehidupan

Kajian Islam di Qatar

Memasuki bulan terakhir dalam kalender Hijriyah, yaitu Dzulhijjah, umat Muslim di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Idul Adha dan

Read More »