WAHYU IN QATAR

“Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang diidamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan.” (Mario Teguh)

Wahyu Hidayat

Juni 2012, saya berdiri di gerbang sebuah desa kecil. Setelah menikmati perjalanan bus 50 menit dari Sheffield. Saya tak perlu bertanya pada orang. Karena inilah Edensor yang diceritakan itu. Saya bergegas. Bukan masuk ke desa, tapi menyeberang jalan. Mencapai bukit. Yang dilalui jalan pintas ke Chatsworth House. Dari atas bukit, desa kecil ini lebih terapresiasi. Saya keluarkan buku, dengan judul yang sama dengan nama desa ini.

Ada foto desa itu dalam hitam putih.

Saya bandingkan. Sama.

Tercapai mimpi saya. Alhamdulillah!

Dan mimpi (tentang Edensor) itu jadi nyata.  Selagi ditugaskan untuk sertifikasi di Inggris dalam bidang keselamatan fungsional (sistem terinstrumentasi).

Saya bersyukur, sudah tak terhitung berapa kali saya ditugaskan oleh perusahaan ke berbagai negara untuk memanfaatkan keahlian saya di bidang process safety and risk.

Ditambah keuntungan lokasi Qatar yang sangat dekat ke Eropa, Afrika dan Asia Barat, saya juga menyempatkan diri menyalurkan hobi traveling yang dibarengi hobi fotografi dan blogging (dulu blog saya sering jadi rujukan,  tapi hidup yang semakin sibuk membuatnya terbengkalai).

Tentu saja saya tak perlu menyebut kenikmatan bisa berhaji dan berumrah berkat location privilege Qatar.

Kuberi tahu satu rahasia padamu kawan. Buah paling manis dari berani bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya.

Berada di sini. Semuanya berawal dari mimpi. Mimpi akan bekerja di luar negeri. Mimpi travelling ke tempat-tempat baru. Mimpi mendapatkan jaminan kesehatan dan sekolah anak-anak gratis. Mimpi beribadah ke tanah suci dengan lebih mudah. Mimpi meningkatkan taraf hidup. Dan mimpi-mimpi yang lain.

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia. (Andrea Hirata, Sang Pemimpi) 

Saya masih ingat jelas. Kunjungan pertama saya ke Qatar itu. Di tahun 2008, pada hari pertama puasa Ramadhan, untuk interview di Ras Laffan. Entah interview ke berapa dalam rangka bekerja ke luar negeri. Ada satu yang hilang begitu saja karena users tidak mau mengubah jadwal wawancara. Beberapa karena tidak cocok dengan paketnya, dan beberapa ada yang tidak jelas kelanjutannya.

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil, kata Mario Teguh.

Saya percaya bahwa tiap zaman ada tantangannya masing-masing. Lebih dari 10 tahun yang lalu, setiap proses perekrutan karyawan harus diikuti dengan face-to-face site interview tapi tidak ada namanya document attestation serumit sekarang. Sekarang attestation perlu sementara site interview tidak lagi wajib, cukup video conference.

(Presentasi Process Safety Forum Qatar)

Di tahun 2008 itu, tidak ada yang namanya Uber, jasa delivery, metro dan seterusnya (saya membayangkan mereka yang sudah bekerja di sini dari tahun 1995). Mereka yang awal-awal belum ada kendaraan pribadi seperti harus berusaha benar hanya sekedar untuk keluar cari makan. Cobaan datang ketika musim panas dengan udara seolah keluar dari hair dryer. Ditambah dengan pisah dengan keluarga, di awal-awal bulan di Qatar, ingin rasanya balik kanan pulang kampung. Nyatanya sudah hampir 13 tahun saya masih di sini.

Latar belakang saya teknik kimia tapi kini saya bekerja di bagian process safety and risk (keselamatan proses dan risiko) di sebuah instalasi gas di kota industri Ras Laffan.

Di Qatar inilah, karena ambisi negara yang besar, saya dapat kesempatan berinteraksi dengan tokoh-tokoh process safety dunia yang didatangkan oleh Mary Kay O’Connor Process Safety Center (Texas A&M University). Saya juga merasa terhormat pernah menjadi technical advisory committee member untuk center ini selama beberapa tahun.

Dalam bukunya “You, Inc.” Harry Beckwith menjelaskan bagaimana kita bisa mengemas dan menjual produk paling penting dari diri kita: kita sendiri.

Di Timur Tengah, lingkungan kerja masih berpedoman pada relationship-driven culture”, yang maksudnya hubungan personal menjadi basis interaksi sosial (dan bisnis). 

Maka menjadi sangat penting mengemas diri sendiri untuk membangun relationship.

Mempresentasikan diri kita sebagai seorang yang credible dan reputable. Menjadi seseorang yang sought-after dan reliable. Pun memahami kultur bisnis yang unik karena dasar personal relationship ini.

Bagaimana kalau terjadi perubahan pimpinan atau manajemen? Mulai lagi kita bangun relationship, credibility dan reputation. Begitu seterusnya.

*

Saya sedang berada di Taiwan untuk short assignment 3 bulan, berkaitan dengan proyek kilang kondensat,  ketika kabar gembira itu datang. Bahwa saya dinominasikan untuk memegang posisi manajerial. Promosi kedua selama saya di sini. Kolega saya dari US pernah menasehati saya, bekerjalah melebihi tanggung jawabmu, kerjakan tugas di atas posisimu, maka orang akan melihat kamu sudah bisa mengemban tugas lebih besar. Saya membenarkannya. Dia juga melejit karirnya.

Dalam perjalanannya, posisi manajerial sebagai Head sangatlah berat. Iya ibarat sandwich, yang dagingnya diapit dua roti atas bawah. Mengelola anggota tim dan memuaskan manajemen di atas. Tapi saya beruntung, karena dengan itu ada banyak exposure ke high level management di mana saya belajar cara membangun tim, mendelegasikan tugas, mengelola conflict, menjawab pertanyaan yang sulit, membangun koalisi, mendapatkan support, atau menolak orang tanpa dia kehilangan muka.

*

Setiap dua minggu saya duduk dengan manajer saya, khusus. Berbicara apa saja. Tapi lebih banyak masalah personal daripada masalah pekerjaan. Karena sudah ada meeting regular untuk urusan pekerjaan. Semacam sesi coaching begitulah. Dan dia suka bercanda. Membuat sesi coaching lebih nyaman.

“You cannot come to me with a monkey on your shoulder and ask me to get rid of it”, dia memulai pembicaraan.

“It would simply mean you transfer your problem to me, without you learn from it,” lanjutnya. Saya pernah mendengar istilah monkey ini. Jadi cukup tahu ke mana arah pembicaraannya.

“I know I have to come to you with solutions”

Dia tidak menjawab. Lalu dia menggambar 4 kuadran. Issues/Concern/Risks di kuadran 1 lalu What have been done, dan What left to be done (To Do).

Dan di kuadran terakhir Help/mandate required (from him). Contoh simpelnya, seperti bilang ke bos: bos, saya ada monyet di pundak saya, mengganggu sekali. Sudah saya coba usir pakai tangan dan segala macam, tapi tetap saja. Saya yakin kalo diumpankan pisang dia akan pergi. Saya tidak ada uang untuk beli, apa bisa bantu?

Saya jadi lebih mengerti. Dan itu saya teruskan ke rekan tim saya. Cukup ampuh untuk dipakai ketika ada isu atau masalah dan perlu support dari manajemen.

Dari sesi coaching, kami pernah berbicara juga masalah “procrastination: the action of delaying or postponing something”. Erat kaitannya dengan pencapaian objectives. Kami bicara tentang sebuah video dari Tim Urban berjudul “Inside the mind of a master of procrastinator

(Presentasi di Malaysia)

Intinya, setiap kita adalah Rational Decision-Maker yang berusaha untuk mengerjakan sesuatu yang produktif.

Sayangnya kita juga punya seekor Instant Gratification Monkey. Yang berusaha mengambil alih sisi rasional dan produktif menjadi kesenangan semu sesaat. Kita diajak ke “Dark Playground” untuk melakukan kegiatan bersenang-senang ketika kita seharusnya bekerja.

Alhasil banyak pekerjaan tertunda dan objectives tidak tercapai/maksimal. Hanya gara-gara kesenangan semu sesaat.

Bisa berupa gangguan grup WhatsApp, bisa gangguan baca berita, atau keperluan pribadi lainnya yang berlebihan atau berketerusan, dst.

Yang bikin Monkey ini takut hanyalah Panic Monster. Yang muncul ketika deadline mulai mendekat – mengusir Monkey dan membiarkan Rational Decision-Maker pegang kendali lagi. Tapi mengandalkan Panic Monster melulu, tidak baik, tidak berkelanjutan. Kita tidak harus menunggu deadline sudah dekat untuk menyelesaikan pekerjaan.

Benar yang dikatakan Mario Teguh:

Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang diidamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan.

Lagi-lagi sebuah pembicaraan yang simpel tapi melekat.

Di karir Anda, carilah coach.

*

Adakah tricks and shortcuts in career? Seorang young engineer pernah bertanya pada saya.  There is none.

Semua perlu usaha. Ada prosesnya.

Kerja dan karir tidaklah semulus melihat slip gaji setiap akhir bulan. Ketika saya dipanggang di meeting dengan management. Ketika harus mengabarkan kepada team member bahwa dia bagian dari pengurangan, ketika melihat nama-nama yang familiar tercoret, ketika berperang mempertahankan penilaian akhir tahun. Ketika…ketika…ketika.

Demikian juga ketika melihat sekeliling, ke kampung halaman, teman-teman sesama kuliah yang sudah berada pada level management yang tertinggi. Sementara di sini berada pada posisi yang sama bertahun-tahun dan glass ceiling masih ada. Yang menghibur, seperti kata teman saya, yang penting posisi prajurit gaji jenderal. Saya tidak benar-benar setuju (karena itulah konsekuensi bekerja di middle east) tapi cukup membuat saya bersyukur. Even your dream career will have downsides. Tidak semulus itu, Ferguso!

*

Tidak selamanya kita akan berkarya di Qatar. Ada waktunya kita menutup babak di sini. Entah karena posisi yang dinasionalisasi. Entah karena pengurangan karyawan. Atau memang saatnya tiba untuk pensiun.

Saya telah menjadi saksi beberapa orang dekat yang menjalani semua yang di atas. Salah satu saran terbaik dari mereka adalah prepare your own exit strategy. Disiapkan di sini. Selagi lengang. Jadi tidak kaget ketika waktu datang, dan kepulangan ke tanah air baik untuk kembali berkarya maupun pensiun menjadi lebih mulus.

Meanwhile, selagi di sini ada baiknya kita menikmati hidup di Qatar. Biar tidak menyesal ketika sudah pulang ke tanah air, kenapa dulu tidak melakukan ini itu ketika masih di sana. Memanfaatkan lokasi strategis Qatar dengan mengunjungi tempat-tempat impian.

Menjalankan hobi baru atau lama. Berbaik-baik dengan teman-teman seperantauan (yang bikin saya betah hingga sampai jalan 13 tahun). Tidak lupa memperluas jaringan. Tidak lupa untuk senantiasa belajar, mengupgrade diri. Tidak lupa menggapai mimpi. Dan tidak lupa bersyukur dan beribadah dalam bekerja. Agar lelahnya berpahala dan berkah.

Buku Mutiara Inspirasi dari Qatar

Artikel Terkait
Kehidupan

Qatar Smart Country

Melalui program TASMU Smart Qatar, Ministry of Communications and Information Technology Qatar membangun kota berbasis teknologi! Upaya Program TASMU Smart

Read More »