“Seperti kata Eleanor Roosevelt: The purpose of life, after all, is to live it, to taste experience to the utmost, to reach out eagerly and without fear for newer and richer experience”
Wayan dan Diana Saputra
Apa?
Qatar?
Negara dimana itu?
Bukankah di Arab sering ada konflik?
Suhu gurun pasti panas? Yakin bisa hidup disana? Yakin kamu bisa bahasa Arab? Dan seribu satu pertanyaan berputar putar di kepala kami dan keluarga. Jujur, bekerja di Middle East tidak pernah masuk dalam rencana kami.
Berawal dari pertanyaan pertanyaan di atas akhirnya setelah banyak membaca dan yakin, tawaran untuk bekerja dan bermukim di Qatar 10 tahun yang lalu kami sambut dengan antusias dan penuh syukur.
Kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali, karena itu, walaupun kami sama sekali belum pernah mendengar tentang Qatar, kami memberanikan diri untuk mengambil kesempatan ini. Pada waktu itu kami berencana untuk menghabiskan kontrak kerja selama 2 sampai 4 tahun saja. Ternyata, 10 tahun pun berlalu dan Qatar menjadi rumah kedua kami.

Ketika itu kami berdua masih bekerja di salah satu sekolah Internasional di Jakarta. Berbekal pengalaman dan skill set yang kami miliki, 2 hal itulah yang menjadi faktor penentu pengambilan keputusan untuk mengundurkan diri dari kantor tempat kami bekerja di Jakarta dan pindah bekerja untuk salah satu sekolah internasional di Qatar. Kami tidak khawatir dengan penyesuaian di lingkup pekerjaan yang baru karena kami yakin lingkup pekerjaan yang mirip akan membuat transisi lebih mudah. Kami lebih khawatir akan kehidupan di Qatar dan apakah kami akan sulit beradaptasi di negara ini.
Seperti kata pepatah, masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak. Itulah yang kami lakukan setelah tinggal di Qatar. Tahun pertama adalah masa transisi yang cukup menantang, saat itu Qatar belum seperti sekarang, masih lebih konservatif dan belum banyak hiburan. Datang dari kota metropolitan Jakarta, boleh dibilang kami sedikit gagap budaya.
Belum lagi rasa makanan yang kurang cocok dengan lidah kami dan cara berkendara di jalan raya yang cukup menegangkan karena berbeda dengan cara berkendara di Indonesia.
Yang sangat membantu penyesuaian masa transisi kami adalah karena banyaknya warga Indonesia dan komunitas Indonesia yang sangat beragam di Qatar. Satu hal yang sangat kami syukuri, sehingga semuanya menjadi semakin mudah. Di samping itu lingkup pekerjaan juga 90% sama dengan lingkup pekerjaan di Jakarta, minus pekerja Indonesia tentunya. Saat kami masuk ke kantor baru kami adalah satu satunya pasangan Indonesia di kantor dan itu menjadi tantangan tersendiri karena seolah olah kami membawa bendera Indonesia walaupun sifatnya hanya personal.

Tahun kedua dan tahun-tahun berikutnya, kami mulai terbiasa dan menikmati kehidupan baru kami di Qatar.
Di tahun-tahun itu pula kami mulai berkenalan dan bergabung dengan komunitas-komunitas warga Indonesia di Qatar. Untuk menyalurkan hobi sepakbola yang sudah dilakukan sejak lama, Wayan bergabung dengan komunitas sepakbola warga Indonesia di Qatar, IATMI Football Team, disusul dengan komunitas IQAN (Indonesian Angler Community), dan IJON (Indonesian Jeep Owners). Diana juga bergabung dengan kegiatan ibu-ibu di Qatar dan mengikuti kelas kelas online untuk menambah wawasan.
Kami berdua sangat menyukai outdoor activities, aktivitas seperti hiking, scuba diving dan traveling adalah aktivitas yang rutin kami lakukan saat pulang ke Indonesia. Ketika pandemi melanda seluruh dunia dan traveling menjadi hal yang tidak mungkin, kami pun mulai menjajaki aktivitas scuba diving di Qatar, bergabung bersama Nusa-Q, komunitas scuba divers Indonesia dan menjelajahi bawah laut Qatar. Dan ketika musim dingin tiba dan aktivitas scuba diving menjadi lebih ‘menantang’ karena cuaca, air laut dan suhu di kedalaman laut yang sangat dingin, kami mulai mencoba aktivitas lain yaitu bersepeda. Bergabung bersama Pesepeda Qatar (PQ) dan Raurus Cycling Club (RCC), kami mulai giat bersepeda dan mencoba fasilitas cycling track yang tersedia di Doha dan sekitarnya.
Tidak hanya bersepeda santai namun kami juga mengikuti cycling race Ooredoo Road of Champions (ROC) 2020 dan Virtual Race Piala Duta Besar RI untuk Qatar, Bapak Ridwan Hassan yang diselenggarakan selama satu bulan di bulan Desember 2020. Di lomba ini Wayan berhasil mencapai jarak di atas 1000 km dalam satu bulan dan selesai di posisi ke 8 sementara Diana berhasil mencapai jarak 966 km dalam satu bulan dan menjadi juara 1 kategori Jarak Terjauh Wanita. Kesibukan bekerja dan aktif bersama komunitas-komunitas warga Indonesia di Qatar inilah yang membawa warna dan dinamika baru dalam kehidupan kami.

“Semua pengalaman ini kami dokumentasikan dan bagikan”
Ketika pandemi COVID-19 semakin menjadi, pemerintah Qatar memberlakukan pembatasan pembatasan, menutup area publik dan menghimbau seluruh warga untuk diam di rumah. Sekitar 4 bulan kami diam di rumah dan hanya keluar untuk belanja bulanan dengan protokol kesehatan dan kebersihan yang sangat ketat. Diam di rumah bukan berarti tidak bisa beraktivitas, di sela sela kesibukan bekerja kami ingin terus mencoba hal baru dan tetap produktif.
Berawal dari membuat konten Instagram, kemudian kami belajar membuat video dengan memakai gaya bercerita, dengan teknik pengambilan gambar dan pencahayaan yang serius untuk dishare di Youtube, dan dibantu masukan dari beberapa teman, lahirlah channel Youtube kami yang bernama ‘Cerita Dari Doha’.
Alhamdulillah channel kami diterima dengan baik dan dalam waktu 2 bulan subscriber channel Cerita dari Doha sudah mencapai 1500 lebih. Melalui Cerita Dari Doha kami ingin bercerita mengenai kegiatan kami bersama komunitas warga Indonesia di Qatar, dengan harapan bisa menjadi inspirasi dan menambah semangat teman teman yang menonton untuk terus beraktivitas positif dan juga untuk memperkenalkan komunitas komunitas yang ada di Qatar dan mengajak warga Indonesia di Qatar untuk bergabung di komunitas komunitas ini.

Selain bercerita tentang kegiatan dan kehidupan di Qatar, sejalan dengan hobi traveling, kami juga ingin memperkenalkan Qatar dan tempat tempat wisata yang bisa dikunjungi selama berada di Qatar. Supaya tidak ada lagi yang bertanya: Apa? Qatar? Negara dimana itu? Bukankah di Arab sering ada konflik? Nah semoga melalui ‘cerita’ kami, terjawablah semua pertanyaan pertanyaan itu. Channel Cerita dari Doha masih baru, dan walaupun banyak orang bilang bahwa kami adalah youtuber, bagi kami yang terpenting adalah kepuasan diri sendiri untuk terus mencoba hal hal baru. Dan ketika mencoba hal yang baru, selalu berikan upaya yang maksimal.
Semoga kedepannya channel Cerita Dari Doha bisa terus menjadi inspirasi dan diterima dengan baik.
Seperti kata Eleanor Roosevelt: The purpose of life, after all, is to live it, to taste experience to the utmost, to reach out eagerly and without fear for newer and richer experience.
Salam!
Wayan dan Diana Saputra
(Cerita Dari Doha)

















