CERITA PMI DI QATAR : BUKAN JALAN BIASA

“Saya sadar betapa pentingnya bergaul dengan orang-orang berpikiran maju dan positif, bukan sekedar haha hihi karena pendidikan dan pengalaman sesungguhnya adalah investasi”

Gambar 1 – Kharisa Rachmasari, Ketika lulus dari NYUAD

Nama saya Kharisa. Lahir dan besar di Magelang dalam lingkungan budaya Jawa. Dari kecil, saya tinggal bersama ibu, kakek dan nenek. Ayah saya bekerja di sebuah kantor di Jakarta dan sering pergi ke luar pulau mengunjungi wilayah terpencil Indonesia.

Beliau pulang ke Magelang seminggu atau dua minggu sekali, sementara ibu saya bekerja kantoran di Magelang. Orang tua saya sepakat bahwa lingkungan di Magelang lebih kondusif untuk pertumbuhan saya dan kakak saya. Dari kecil, saya dan kakak saya sudah belajar berkirim surat dengan bapak. Bukan hanya sekedar tanya kabar, tapi lebih karena minta buah tangan. Kini, surat-surat itu masih tersimpan rapi di laci meja bapak. Saya dan kakak merupakan partner in crime.

Kami bermain dan tertawa bersama, menangis pun kadang berdua. Tumbuh dalam keluarga yang sibuk membuat saya belajar arti quality time. Beberapa jam di waktu petang yang saya habiskan dengan ibu, kami gunakan untuk ngobrol, tanya kabar, bercerita kegiatan seharian sambil belajar.

Ketika saya lebih dewasa, saya sadar bahwa apa yang ibu saya lakukan merupakan sebuah pengorbanan di balik cinta dan kasih sayang. Saya menyaksikan sendiri beberapa orang tua yang cenderung menyepelekan pentingnya komunikasi dengan anak sejak dini, sekalipun waktu luang mereka miliki.

Sampai saat ini, sejauh apapun saya pergi di belahan bumi, jarak dan perbedaan waktu tidak menjadi halangan bagi kami untuk selalu bersilaturahmi. Pada akhirnya, sesibuk apapun saya bekerja, selalu ada waktu untuk orang tua, orang-orang tercinta.

Keinginan saya untuk kuliah di luar negeri dengan beasiswa sudah tertanam sejak lama. Awalnya, terinspirasi dari bapak karena beliau bekerja keliling Indonesia. Beliau pernah berkata ketika saya masih TK bahwa nanti saya bukan hanya keliling Indonesia tapi juga dunia. Benar saja, kata-kata itu terus terngiang. Saya berusaha melakukan yang terbaik di sekolah, sampai akhirnya, alhamdulillah, mendapat beasiswa sejak SMA hingga kuliah.

Negara pertama yang saya singgahi untuk kuliah adalah United Arab Emirates, tepatnya di kota Abu Dhabi. Setelah SMA, saya kuliah di New York University in Abu Dhabi (NYUAD), salah satu portal campus New York University yang berpusat di New York (Gambar 1). Dengan beasiswa penuh, saya berkesempatan untuk juga belajar di negara-negara lain termasuk Inggris, Argentina, dan tentunya Amerika Serikat.

Bukan sekedar jalan-jalan, tetapi juga mengenal kearifan lokal sambil mengambil mata kuliah sesuai minat dan kebutuhan. Teman-teman kuliah saya juga berasal dari berbagai negara dari penjuru dunia. Makan di kafetaria berasa kumpulan Perserikatan Bangsa Bangsa. Di sini saya bertemu dengan teman-teman terbaik yang mendorong dan mendukung saya untuk mengejar mimpi dan cita-cita.

Sekarang saya sadar betapa pentingnya bergaul dengan orang-orang berpikiran maju dan positif, bukan sekedar haha hihi karena pendidikan dan pengalaman sesungguhnya adalah investasi. Dari explorasi selama kuliah di sini, saya jadi mengenal passion saya. Dari sini pula saya belajar sistem pendidikan di Amerika Serikat yang berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia.

Dalam sistem Amerika, untuk bisa masuk sekolah kedokteran, hukum, atau farmasi misalnya, peminat harus menyelesaikan kuliah setingkat S1 sebelum mendaftar. Oleh karena itulah saya baru masuk sekolah kedokteran setelah menyelesaikan S1 dengan pre-medical track, mayor biologi dan minor di bidang ekonomi.

Ketika saya berada di Abu Dhabi dan mengeksplorasi pilihan sekolah kedokteran yang ada, muncul nama Weill Cornell Medicine – Qatar. Saya putuskan ini menjadi tempat selanjutnya untuk belajar.

Weill Cornell Medicine – Qatar merupakan sekolah kedokteran di Qatar hasil kerjasama antara Cornell University yang berbasis di New York, Amerika Serikat dan Qatar Foundation.

Sekolah ini menggunakan kurikulum dan materi kedokteran yang sama dengan Weill Cornell Medicine di New York.

Profesornya bisa dibilang lebih bervariasi karena kami berkesempatan untuk belajar langsung dari professor tetap di Weill Cornell Medicine Qatar yang rata-rata telah berpengalaman di berbagai institusi di Amerika, Kanada, Inggris, Australia, atau New Zealand dan profesor dari Weill Cornell Medicine di New York yang diterbangkan langsung dari sana ke Qatar untuk setiap modul.

Tahun pertama dan kedua berisi teori dan anatomi, tahun ketiga dan keempat digunakan untuk praktek langsung di rumah sakit rujukan terbesar di Qatar serta di rumah sakit di New York, Amerika Serikat. Belajar kedokteran di Weill Cornell Medicine Qatar memberikan pengalaman luar biasa. Di Qatar dan di Amerika saya berkesempatan untuk mempelajari berbagai macam penyakit menular dan tidak menular dari para pasien dengan beragam latar belakang serta belajar ilmu untuk menganalisis dan menerapkan evidence based medicine melalui sarana dan prasarana yang tersedia.   

Sebagai catatan, seperti diketahui, di wilayah Timur Tengah, Eropa, dan Asia, biasanya program kedokteran merupakan tingkat pendidikan yang ditempuh setelah SMA. Berbeda dari Weill Cornell Medicine di New York, Weill Cornell Medicine  Qatar menyiapkan khusus program pre-medical track yang bisa diselesaikan selama 2 tahun.

Program pre-medical track ini bertujuan untuk mengakomodasi siswa lulusan SMA yang ingin masuk ke Weill Cornell Medicine – Qatar tanpa melalui program S1 sebagaimana umumnya program di Amerika. Siswa program ini baru bisa mendaftar ke program kedokteran setelah menyelesaikan program pre-medical track dan memenuhi tes serta persyaratan masuk program kedokteran. Sebagian besar teman angkatan saya adalah siswa lulusan pre-medical track ini. Ada sekitar 7 orang dari 50an mahasiswa satu angkatan yang menyelesaikan S1 di universitas lain di Qatar, Amerika, Singapura, atau Kanada sebelum masuk ke Weill Cornell Medicine – Qatar.

Di bawah naungan Qatar Foundation, kualitas dan fasilitas pendidikan di Qatar terus ditingkatkan. Qatar Foundation bekerja sama dengan beberapa universitas top dunia membangun universitas-universitas di Qatar.

Berlokasi di Education City, mahasiswa berbagai jurusan tinggal dan belajar. Biaya kuliah di Weill Cornell Medicine Qatar setara dengan biaya kuliah kedokteran di Amerika. Bedanya, Qatar Foundation punya cara untuk membantu mahasiswa menutupi kebutuhan biaya, asalkan acceptance letter sudah di depan mata.

Setelah mendengar pengumuman bahwa saya diterima, saya dihubungi oleh pihak universitas yang menawari financial aid. Ini merupakan program beasiswa berdasarkan kebutuhan finansial, yang nantinya setelah lulus bisa dibayarkan berangsur secara tunai atau dalam bentuk kesediaan bekerja di Qatar.

Tidak perlu khawatir karena sekalipun dibayarkan dalam bentuk pengabdian bekerja di Qatar, pendapatan sebagai dokter akan tetap diberikan. Ada juga bentuk beasiswa berdasarkan prestasi akademis.

Untuk bisa mendaftar jenis beasiswa ini, mahasiswa harus sudah menyelesaikan minimal satu semester di sana. Pada akhirnya, saya mendaftar dua-duanya dan alhamdulillah mendapatkan keduanya di tahun yang berbeda.

Saya lulus kedokteran di tahun 2018 dan berhasil mengambil residensi penyakit dalam di New York, Amerika Serikat.

Gambar 2— Ketika saya lulus dari WCMQ

Begitu banyak cerita selama di Qatar. Mulai dari kumpul bersama teman-teman, menginisiasi program mengajar Bahasa Inggris untuk pekerja migran, sampai menjadi resepsionis sebagai pekerjaan sampingan. Di sini pula, saya mengenal orang-orang berhati baik yang menginspirasi dan menemukan keluarga baru sekalipun jauh dari rumah. Suka duka di Qatar benar-benar menjadi warna kehidupan yang akan terus saya kenang.

SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

Artikel Terkait
Cerita dari Qatar

TAK PERNAH MENYERAH

(Banyu Ardiansyah) “Saya percaya, jika kita yakin dengan kemampuan diri sendiri serta mau banyak belajar, maka Allah SWT akan membantu

Read More »