“Saya beruntung sekali, meski jauh dari tanah air, saya dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa dan tak pernah habis dalam menebarkan cinta. Bukan hanya cinta kepada keluarga dan tempat mereka bekerja, tetapi juga cinta kepada tanah airnya yang berjarak puluhan ribu kilometer dari tempat mereka berada sekarang”

Dian Natalia Sudanika
Tanggal 22 maret 2008 adalah hari bersejarah bagi keluarga kami. Di hari ini saya dan keluarga menjejakkan kaki pertama kali di Doha. Sebuah babak baru kehidupan keluarga kami, The Sudanika dimulai. Saya bersama dua anak saya, Dravinda (Dinda) yang waktu itu berusia 13 tahun dan Diovandi (Dandi) yang masih SD akhirnya menyusul suami saya Deni Sudanika yang sudah berangkat dua bulan lebih awal ke negara mungil ini untuk memulai karirnya di Dolphin Energy, sebuah perusahaan gas milik pemerintah negara tetangga Qatar, Abu Dhabi.
Mengawali kehidupan baru di Qatar tidaklah mudah, ada banyak sekali kesibukan,salah satunya adalah mencari sekolah untuk anak-anak. Kebetulan waktu itu sudah masuk ke kuartal ketiga kalender pendidikan di Qatar, sehingga untuk mencari sekolah yang bisa menerima agak susah. Alhamdulillah berkat bantuan dan informasi dari teman-teman sesama perantau dari Indonesia, anak-anak bisa diterima di sekolah walaupun terpaksa harus di sekolah yang berbeda. Setelah menjalani sekolah beberapa waktu, akhirnya mereka bisa masuk di sekolah yang sama.
Kami sekeluarga menyukai seni. Dari Indonesia, anak kami Dinda sudah mengikuti kursus piano. Begitu pula setelah pindah ke Qatar, Dinda melanjutkan kelas pianonya di International Music Center (IMC), salah satu lembaga kursus seni yang berada di dekat bandara Doha yang lama. Selain piano, IMC juga menyelenggarakan beragam kursus seni lainnya, salah satunya adalah ballet.
Mengetahui bahwa Dinda memiliki keahlian di dunia ballet, IMC memintanya untuk menjadi guru balet untuk level pemula. Sejak saat itulah Dina setiap hari Sabtu sibuk di IMC, selain untuk belajar piano juga untuk mengajar ballet. Atas permintaan beberapa orang Indonesia di Qatar, akhirnya Dinda juga menyelenggarakan kelas ballet di rumah saya setiap hari Jumat pagi. Selain itu, dia juga sering diajak ikut aktif di acara-acara kesenian yang diadakan oleh KBRI Doha.
Saya beruntung sekali, meski jauh dari tanah air, saya dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa dan tak pernah habis dalam menebarkan cinta. Bukan hanya cinta kepada keluarga dan tempat mereka bekerja, tetapi juga cinta kepada tanah airnya yang berjarak puluhan ribu kilometer dari tempat mereka berada sekarang.
Untuk urusan terakhir ini, Saya ingin menyebut satu nama (almarhum) Pak Iwan. Sebenarnya pekerjaan tetap Pak Iwan adalah seorang supir taksi Karwa. Karwa adalah perusahan di Qatar yang bergerak di bidang transportasi, antara lain bus kota, sekolah mengemudi dan operator taksi. Selain rutin mengantar penumpang kesana kemari dengan taksinya, Pak Iwan juga memiliki hobi dan keahlian lain yaitu memainkan berbagai alat musik.
Bersama Pak Iwan lah anak-anak kami, Dinda dan Dandi, melanjutkan pelajaran bermain musik, seperti piano, gitar dan lainnya. Hampir setiap tahun kami mengadakan konser kecil-kecilan di rumah kami untuk menampilkan kemampuan seni anak-anak, antara lain grup band asuhan pak Iwan dan juga grup ballet anak-anak asuhan Dinda.
Selain konser di rumah, bersama pak Iwan kami juga sering mengisi acara kesenian di kegiatan-kegiatan KBRI. Pak Iwan pun pernah membimbing ibu-ibu dalam dalam mengembangkan kesenian asli Indonesia, angklung. Ibu-ibu pemain angklung ini tergabung dalam perkumpulan Indonesian

Ladies Angklung. Kesenian angklung ini sudah sering ditampilkan, baik dalam acara untuk warga Indonesia maupun acara antar negara, seperti 24th Arabian Gulf Cup pada tahun 2019.
Selain aktif di kesenian, saya juga aktif di berbagai kegiatan lain, seperti Indonesian Ladies Bowling Qatar (ILBQ), pengajian Salwa, dan lain-lain. Sampai pada suatu saat Pak Edwin Kurniawan (Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar VIII) meminta saya untuk membantu Permiqa untuk menjadi Kepala Bidang Seni Budaya.
Selama dua tahun bertugas di Permiqa VIII (2016-2018), banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Ada banyak kegiatan-kegiatan seni budaya yang dilakukan, baik di lingkungan komunitas Indonesia dan juga kegiatan-kegiatan Cultural Performance yang diadakan Qatar, dimana kita sering menampilkan beragam kesenian asli Indonesia, baik tarian, angklung, nyanyian, silat, dan lain-lain.

Selesai masa periode Permiqa VIII, Pak Prihandoko Saputro (Ketua Permiqa IX) kembali meminta saya untuk menjabat di Permiqa di bidang Seni Budaya. Masya Allah, dengan kemampuan saya yang apa adanya ini, saya masih diberi kepercayaan untuk membantu kegiatan Seni Budaya Permiqa di periode IX tahun 2018-2020. Alhamdulillah, di kepengurusan Permiqa IX ini semakin banyak kegiatan Seni Budaya yg melibatkan komunitas Indonesia. Pemerintah Qatar, dengan Supreme Committee nya utk World Cup 2022, selalu melibatkan kita dalam acara-acara penampilan budayanya. Ministry of Interior (MoI) Qatar juga selalu mengundang kita untuk acara rutin Qatar National Day setiap tahunnya.
Selain itu, juga ada beberapa kegiatan-kegiatan di Katara Cultural Village dengan Cultural Diversity-nya, Summer Festival, dan beberapa kegiatan internasional lainnya yang berhubungan dengan cultural performance yang banyak melibatkan komunitas Indonesia. Bahkan dalam beberapa ajang kompetisi olahraga tingkat internasional, kita juga selalu ikut berperan serta aktif di panggung yang disediakan, seperti lomba berkuda Chi Al-Shaqab Competition dan Longines Global Championship.

Dan pastinya kita juga terus aktif dalam mendukung kegiatan Seni Budaya di KBRI Doha dan komunitas Indonesia, seperti Diplomatic Reception, Asean dan Asian Night, Wonderful Indonesia, One Day Football Tournament, Indonesian Expo, dan lain-lain. Indonesian Night merupakan Puncak acara kegiatan seni budaya yang melibatkan seluruh pegiat seni Indonesia di Qatar. Acara ini yang diadakan di Drama Theater Katara pada bulan Desember 2019 ini memang dibuka untuk umum dalam rangka memperkenalkan beragam budaya Indonesia dalam satu malam.
Semoga kami semua masih terus bisa tetap berkarya, berlatih, untuk selalu mendukung kegiatan, melestarikan dan memperkenalkan seni budaya Indonesia di lingkungan Internasional, di Qatar khususnya.
(Catatan kecil dari seorang ibu rumah tangga lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Surabaya, yang pada akhirnya lebih banyak terlibat di bidang seni dan budaya)
SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

















