CERITA PMI DI QATAR : ‘SANG MUTHAWWA’

Sebagai seorang muslim, di manapun berada, harus bisa bermanfaat untuk orang lain. Kalau kata pepatah arab ‘khairun naas anfa’uhum linnaas’, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.”

Yahya

Nama saya Yahya, putra asli Lampung yang sudah lama merantau di negeri orang, negeri yang dulu punya masa-masa sulit saat mata pencaharian utama hanyalah jual beli mutiara dan ikan. Namun, sekitar tahun 1920-an semuanya berubah saat Allah memberikan anugerah berupa ‘emas hitam’ dan gas alam kepada negeri ini. Tak heran memang jika negeri ini menjadi salah satu peradaban Islam yang maju dan banyak diperhitungkan oleh negara-negara adidaya, meskipun kecil tapi punya peran cukup strategis dalam ruang politik dunia, kalau kata pepatah ‘kecil-kecil cabe rawit’.

Tanggal 8 Oktober 2001 tepatnya, saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di sini. Saya ingat betul bahwa dulu pemerintah Qatar melalui kementerian agamanya memerlukan beberapa orang muadzin dan imam dari Indonesia. Kalau di sini saya biasa dipanggil muthawwa yang secara bahasa artinya seorang relawan. Namun, bukan seperti relawan yang biasa kita jumpai di Indonesia ya sahabat, yang memang merelakan dirinya dalam suatu misi kemanusiaan, tapi saya dan juga teman-teman di sini bekerja untuk selalu memanggil muslimin agar datang ke masjid di setiap waktu sholat. Tak jarang juga kami menjadi imam jika memang partner kami bekerja sedang izin atau sakit, karena di setiap masjid umumnya selalu ada dua imam.  

Sebelum berangkat ke Qatar, saat itu saya bekerja di sebuah yayasan  bernama Al Sofwa di Jakarta Selatan, Lenteng Agung tepatnya. Saat itu datang kabar bahwa ada beberapa perwakilan pemerintah Qatar yang akan datang ke tempat saya bekerja untuk mengadakan tes. Mendengar kabar itu saya pun menyiapkan diri untuk dapat lulus dalam tes. Tak terlalu banyak memang yang mendaftarkan diri saat itu, karena keterbatasan alat komunikasi dan media sosial yang tidak canggih seperti sekarang, maka berkumpullah kurang lebih 70 orang dari berbagai daerah, kemudian bersama mereka saya mengikuti seleksi.  Singkat cerita, alhamdulillah lulus! Tentu hati saya sangat senang dengan kabar ini, karena hanya 7 orang yang lolos dalam seleksi. Saya berharap dengan diterimanya saya di Qatar akan mengubah nasib menjadi lebih baik.

Bersama kawan Muthowa lain di Qatar

Hari demi hari berlalu, namun, kabar keberangkatan tak kunjung datang. Harapan saya untuk berangkat ke Qatar perlahan mulai pudar. ‘Mungkin belum rezeki’ gumam saya dalam hati. Visa yang diberikan pemerintah Qatar kepada saya dan teman-teman pun sudah mati. Manusiawi sekali jika saya mulai pesimis dengan harapan ini. Pekerjaan di yayasan sudah lama saya tinggalkan pada saat dinyatakan lulus tes. Kekhawatiran pun semakin menjadi, karena sudah lewat enam bulan, kabar itu tak kunjung tiba. Tak ada yang bisa saya perbuat kecuali hanya bertawakal kepada-Nya, sambil mencari opsi-opsi lain untuk dapat mendapatkan rezeki.

Bulan berganti bulan, hatipun makin tak karuan, saya hanya pasrah dengan ketentuan-Nya. Saya hanya bergumam dalam hati walaupun belum rezeki, Allah pasti akan ganti dengan yang lebih baik. Hanya itu yang bisa saya katakan pada diri sendiri saat itu, karena dengan demikian saya bisa menerima semua yang Allah tetapkan.

Suatu hari, hati saya tersentak senang, rupanya kabar keberangkatan pun tiba. Alhamdulillah, hanya syukur yang senantiasa saya ucapkan ketika busyro (kabar baik) itu datang. Tak berselang lama, saya dan teman-teman membeli tiket pesawat Gulf Air untuk mengantarkan kami ke Qatar. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah.

Setibanya di Qatar, saya disambut hangat dengan perwakilan dari kementerian tempat di mana saya bekerja. Pelukan ukhuwah islamiyyah semakin menghangatkan suasana saat itu. Setelahnya, saya dan kawan-kawan dibawa ke suatu masjid di daerah Muntazah. Selama tiga hari beradaptasi dengan alam yang baru, orang-orang yang baru, termasuk dengan makanan, semuanya terasa asing. Oh, ternyata ini toh Qatar, bisikku dalam hati. Sebelum sampai di sini, saya hanya mendengar orang bercerita tentang panas dan gersangnya daerah teluk, dan nyatanya memang begitu, persis seperti yang mereka ceritakan, bedanya di bulan ketika saya sampai disini panasnya sokhro (padang pasir) sudah berangsur turun.

Oh iya, ada cerita unik saat berada di penampungan. Suatu hari ada orang Mesir yang menyapa kami, sudah menjadi hal yang biasa di sini, ketika ada orang baru mereka ramah dan suka membantu. Saat itu dia datang dengan membawa roti yang sangat besar, saya sampai tertawa melihat roti itu karena saking besarnya. Belum pernah menemukan di mana pun roti sebesar itu. Setelah bertegur sapa, dia pun langsung menyodorkan rotinya. Tapi sebelum dilahap, saya kenakan roti itu sebagai topi, wah, ternyata muat. Dan banyak hal unik lainnya yang saya temukan di saat awal tinggal di sini.

Setelah tiga hari berada di masjid, saya menjalani tes kesehatan. Tes ini wajib untuk semua orang yang datang dari luar untuk memastikan tidak ada penyakit yang berbahaya apalagi menular. Kalau sekiranya gagal dalam tes ini, sudah dipastikan harus langsung kembali ke negara asalnya dan tidak bisa bekerja di sini.

“Wah, ketat juga ya,” bisikku.

Tapi alhamdulillah saya lulus, meskipun ada sedikit rasa khawatir karena memang tak pernah sebelumnya saya tahu kondisi terakhir kesehatan saya.  

Bersama Dubes RI Doha 2020 Bp M Basri Sidehabi

Setelah semua prosedur dijalani, kami disebar ke berbagai daerah di Doha. New Rayyan adalah tempat pertama yang saya singgahi untuk bekerja sebagai muazin dan imam. Qatar saat itu sangat berbeda dengan yang sekarang. Saya menjadi saksi perkembangan yang begitu pesat selama hampir dua dekade. Dulu sangat jarang rumah di sekitar masjid saya, hanya hamparan tanah gersang yang menjadi pemandangan sehari-hari. Saya mulai merindukan kampung halaman yang begitu asri.

Tak terasa, tiga bulan sudah saya menjalani tugas sebagai imam. Saya benar-benar rindu sekali dengan suasana di Indonesia. Pasalnya, selain alamnya yang berbeda, saya pun belum pernah bertemu dengan orang Indonesia. Hingga suatu hari dipertemukan dengan Pak Makmun yang bekerja di salah satu Syekh di sini. Saat itu kami bertemu di KBRI. Rasanya senang sekali bisa bertemu orang Indonesia lagi. Meskipun tak pernah kenal sebelumnya, tapi rasa senasib sepenanggungan itu yang membuat kami seperti sudah kenal lama. Sebulan setelah bertemu Pak Makmun, saya pun bertemu dengan seorang supir orang Indonesia, uniknya dia yang datang ke masjid saya. Usut punya usut ternyata ketika dia mengendarai mobil dia mendengar suara adzan saya. ‘Khas azan Indonesia,’ katanya.  Rupanya dia mengenali suara adzan yang biasa dilantunkan oleh muazin di Indonesia. Alhamdulillah, saya semakin senang karena banyak bertemu orang Indonesia.

Tak mudah memang bergaul dan bersosial langsung dengan orang Arab. Perlu waktu untuk bisa paham adat dan kebiasaan mereka. Sering saya temui mereka mengetuk pintu rumah dengan keras, sangat mengganggu telinga rasanya. Tapi belakangan saya tahu bahwa memang itu sudah jadi kebiasaan mereka, sudah jadi adat kalau mengetuk pintu cukup keras. Pernah juga saya dipanggil oleh mereka, tapi kok rasanya seperti dipanggil di dalam hutan saja, keras sekali, hehe. Lagi-lagi memang itu sudah jadi hal yang biasa di antara mereka. Cukup kontras memang dengan adat orang Indonesia yang lembut dan penuh kesopanan. Tapi alhamdulillah, lama-lama kuping saya jadi tebal, hati pun juga begitu, hehe, tak mudah tersinggung lagi.

Berbulan-bulan saya dan kawan-kawan seperjuangan menanti untuk mendapatkan kepastian agar dapat membawa keluarga kami di Indonesia ke sini. Rasa kangen itu selalu timbul dan semakin dalam. Bagaimana tidak? Saat itu untuk bisa berkomunikasi dengan mereka saja masih sangat sulit dan mahal. Handphone pun masih jarang, maka saya biasa menghubungi mereka lewat telepon umum. Saya masih  ingat saat itu biaya satu menit menelpon ke Indonesia bisa sampai empat Qatari Riyal! Sungguh sangat mahal, saya tak sanggup menghubungi mereka terlalu lama, kalau tidak saya bisa tak makan sebulan, hehe.

Pengajian Tebar Dakwah bersama Komunitas PMI Qatar

Menjadi angkatan pertama memang tidak mudah, saya dan kawan-kawan menjadi representasi Indonesia dalam bidang ini. Kami harus menunjukkan kepada para petinggi tempat kami bekerja bahwa kami putra-putra Indonesia tak kalah baik dengan bangsa lain. Alhamdulillah, usaha kami berhasil membuat para jamaah masjid dan orang-orang di sini merasa nyaman dengan kami. Walhasil, untuk yang kedua kalinya Auqof mendatangkan sembilan orang wakil dari Indonesia untuk membersamai kami di sini. Sampai pada hari ini, ada sekitar 60 imam dari Indonesia yang berperan untuk membantu Auqof dalam memakmurkan masjid-masjidnya di seantero Qatar. Alhamdulillah.

Sebagai seorang muslim, saya juga punya moto bahwa di manapun saya berada, saya harus bisa bermanfaat untuk orang lain. Kalau kata pepatah arab ‘khairun naas anfa’uhum linnaas’, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Maka sudah menjadi kebiasaan saya selaku orang Indonesia guyub dengan diaspora yang ada di sini.

Tujuannya tentu untuk lebih memperkuat hubungan persaudaraan sesama muslim dan juga mempererat rasa kebangsaan. Ada rasa bahagia memang jika berkumpul bersama, tak jarang saya merasa tak berada di Qatar karena suasana kekeluargaan menyergap masuk ke dalam sanubari. Sapaan dan senyuman merekalah menjadi pengobat rindu pada keluarga di Indonesia.yang membuat hati ini cukup banyak terobati karena rasa rindu keluarga yang selalu menyelimuti diri ketika itu, juga biasanya selalu ada makanan khas yang selalu membawa diri bernostalgia saat masih di Indonesia. Memang tak ada duanya kalau soal rasa, maklum, di sini tidak semudah di kampung untuk hanya sekedar mencari nasi uduk, sate, atau makanan khas lainnya.

Berkumpulnya dengan diaspora Indonesia bukan hanya sekedar ngobrol dan makan, tapi dengan izin Allah saya dapat berperan dalam pembentukan beberapa organisasi pada saat itu. Misalnya, diamanahi untuk menjadi pengurus bimbingan haji dan umroh untuk warga Indonesia, juga ikut serta dalam membentuk kajian-kajian dakwah untuk para pekerja Indonesia yang nantinya meluas menjadi satu program yang dinamakan Tebar Dakwah. Alhamdulillah, mereka merespon positif agenda-agenda dakwah ini dan masih berjalan hingga sekarang. Saya merasa sangat senang, semoga saya juga kebagian pahala dari apa yang saya dan teman-teman perjuangkan di awal.

Karena bagi saya, di manapun berada harus bisa bermanfaat untuk orang sekitar, bahkan jika ada kesempatan harus menjadi pelopor dari sebuah kebaikan.

Saya ingin berpesan kepada diaspora Indonesia di manapun berada, bahwa marilah kita bersama membangun citra negeri yang sama-sama kita cintai ke arah yang lebih baik. Berikanlah yang terbaik untuk tempat di mana kita bekerja saat ini apapun jenis profesinya. Tunjukkan pada dunia bahwa kita bangsa besar yang mampu bersaing dengan bangsa lain dan memiliki sejarah dan tujuan jangka panjang. Taati aturan dan rambu-rambu yang berlaku di tempat kita bekerja dan sebisa mungkin jangan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan diri, keluarga, dan nama baik bangsa.

Benar apa kata pepatah, bahwa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Harumkan nama bangsa sebagai abdi kita padanya. Akhirul kalam, semoga apa yang saya berikan dari pengalaman saya memberikan manfaat dan inspirasi bagi para pembaca. Jika ada yang baik hakikatnya bukan dari Yahya, tapi jika ada yang sebaliknya maka maafkan saya karenanya. Selamat bertugas, semoga sukses meraih masa depan yang gemilang, Amin.  

Sumber : Buku “Mutiara Inspirasi dari Qatar

Artikel Terkait
Cerita dari Qatar

SUKSES DENGAN TERUS BELAJAR

“Auditor Internal ini  jumlahnya sedikit tapi memiliki akses langsung ke pusat keputusan dan informasi sebuah perusahaan. Tidak mudah untuk meraih

Read More »