“Jangan pernah takut mencari ilmu dan penghasilan selama mempunyai niat yang baik. Dan jangan lupa dengan teman sebangsa dan setanah air, terus mempererat persaudaraan dan persatuan selama di luar negeri. Jangan masing-masing sendiri”
Indra Nuciana Soeryana
Tampak lelaki berbadan tinggi tegap itu memasuki sebuah aula besar berukuran kira-kira 10×8 meter mengenakan seragam putih dengan balutan topi ala seorang Chef (koki). Memantau persiapan hidangan di meja buffet prasmanan. Dia adalah seorang diaspora Indonesia bernama Indra Nuciana Soeryana. Pria yang biasa disapa Chef Indra ini akan selalu kita temui di restoran Al-Mahara Al-Banush Club-Mesaeed (Gambar 1).

Jangan heran saat menemuinya di kantin aroma masakan yang menyelinap di balik celah pintu dapur menguar apalagi beberapa pelayan hilir mudik menghidangkan menu menuju restoran. Kepulan asap dan aroma hidangan akan menggugah lidah kita untuk segera mencicipi hasil racikan masakannya (Gambar 2).
Sebagai kepala dapur di kantin Al-Mahara. Chef Indra mengatur semua amunisi persediaan bahan makanan mulai dari aneka macam rempah/bumbu hingga bahan makanan yang akan diolah. Jadi bisa dibayangkan yah begitu sibuknya Chef yang satu ini.
Pria lulusan jurusan Food Production di Lembaga Pendidikan Perhotelan LPP PHRI sebuah lembaga pendidikan yang saat itu di bawah lembaga Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) NHI ini mengawali karirnya bekerja di sebuah hotel di Jakarta dan Riyadh selama setahun. Kemudian bekerja di kota Dubai pada tahun 2000. Siapa yang tidak mengenal Dubai sebagai kota metropolitan di kawasan Uni Emirat Arab. Kesempatan bisa singgah apalagi bekerja mandiri untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu yang ia peroleh di bangku kuliah tidak disia-siakan oleh Chef Indra.

Gambar 2 – Chef Indra sedang memasak
Silih berganti kesempatan berkarya hadir dalam kehidupannya, tahun 2006 pria asli Serang ini menjejakkan pertama kali langkahnya di bumi Qatar negeri yang dulu terkenal sebagai penghasil mutiara.
Senyum mengembang terpancar dari raut muka pria ini saat bercerita perjalanan karirnya diterima dengan hangat di Hotel Ritz Carlton-Doha. Namun itu tidak berlangsung lama hanya bertahan selama setahun di Doha. Menurut pepatah kalau sudah rejeki tidak akan lari kemana. Maka pada tahun 2008 bumi Qatar memanggilnya kembali mungkin negeri padang pasir ini merindukan pria bertubuh tinggi ini, yang jelas ramuan masakannya akan selalu dirindukan oleh para expatriat dari Asia khususnya dari Indonesia.
Chef Indra menuturkan dengan runut bagaimana pengalaman pertama kali menjejak di negeri Qatar. Menurutnya Qatar waktu itu belum berkembang tidak seperti saat ini. Maka untuk memperoleh rempah-rempah termasuk bahan olahan khas Indonesia masih sulit didapat. Kita pasti bisa membayangkan bagaimana negeri ini mungkin sejauh mata memandang hamparan padang pasir yang gersang dan panas. Bangunan-bangunan pun belum tampak semegah saat ini. Suasana sepertinya masih sepi tidak seramai dan sepadat saat ini. Karena di Qatar semua rempah-rempah tersedia sudah dalam bentuk kemasan bubuk beda dengan bumbu -bumbu Indonesia yang masih dalam keadaan utuh dan segar.
Menurut Chef Indra soal bahan makanan tidak menjadi masalah hanya ada perbedaan saja saat mengolahnya. Termasuk dari segi selera sebetulnya menu Indonesia sama saja dengan selera lokal hanya saja ia sesuaikan dengan selera lokal yang kurang menyukai rasa pedas. Namun beberapa bangsa ada juga menyukai rasa gurih dan sedikit pedas jadi lebih kurangnya pun menyukai cita rasa masakan Indonesia. Lama kelamaan banyak yang menyukai menu masakan Indonesia.
Chef Indra pun mengucapkan banyak terimakasih kepada pemerintah Indonesia yang telah menyuplai bahan makanan dari Indonesia bisa masuk ke Qatar. Dengan begitu kita masih bisa merasakan cita rasa orisinil khas indonesia.
Menetap tiga tahun di Qatar akhirnya melepas masa lajangnya dengan menikahi Gina Veluya. Dan sekarang telah dikaruniai dua orang putri cantik yang mewarnai hidupnya yaitu Princess Isabella usia 8 tahun dan anak kedua Angelica Cassandra.

Gambar 3 – Berfoto dengan koki bangsa lain
Sepanjang perjalanan hidupnya menjadi seorang Chef yang handal setiap harinya menyediakan berbagai menu di restoran Al-Mahara. Menu yang ia sajikan tidak khusus untuk Indonesia saja namun juga ditujukan untuk bangsa yang lain. Di perusahaan QAFCO memiliki hampir 30 warga negara karyawan yang terdiri dari berbagai bangsa (Gambar 3). Baginya suatu kehormatan besar bisa memperkenalkan makanan khas Indonesia ke khalayak ramai. Ada satu kesulitan saat memperkenalkan makanan khas Indonesia.
Misalnya rendang daging. Karena konsumen yang selalu berkunjung ke Al-Mahara bukan kalangan bangsa Indonesia saja agar mudah dan hangat terdengar di telinga bangsa lain. Chef Indra merubah nama menu rendang daging dengan menggunakan bahasa Inggris misal rendang menjadi Beef Stew with Coconut Milk. Nama itu ia ambil dari komposisi bahan dasar yang digunakan.
Sambil tersenyum Chef Indra mengatakan bahwa selama ia bekerja sebagai Chef bahwa menu yang rata-rata menjadi favorit karyawan Qafco adalah nasi goreng dan rendang daging. Dengan suaranya yang khas sambil santai ia mengatakan, “nasi goreng hampir semua di seluruh dunia orang suka.”
Satu pesan dari pria berkacamata ini bagi siapa saja warga Indonesia yang hendak berpetualang mencari pengalaman ke luar negeri.
“Jangan pernah takut mencari ilmu dan penghasilan selama mempunyai niat yang baik. Dan jangan lupa dengan teman sebangsa dan setanah air, terus mempererat persaudaraan dan persatuan selama di luar negeri. Jangan masing-masing sendiri.”
Pesan yang indah yang perlu menjadi renungan dan pegangan bagi seluruh warga Indonesia yang sedang merantau di negeri orang.
Ingin mengenal jauh siapa itu Chef Indra atau mencicipi hasil racikan masakannya?
Silakan bisa menemuinya di restoran Al-Mahara di Mesaeed.
SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

















