CERITA PMI DI QATAR : SANG PENGEMBARA GURUN

“It’s never too late; never too late to start over, never too late to be happy.”

Ramly Ismail

Setiap orang tentu ingin bahagia dengan berbagai rencana dan upayanya tanpa tahu apa yang akan terjadi esok hari. Tulisan ini merupakan kisah saya, Ramly Ismail, seorang putra Aceh, kelahiran Kuta Binjei, 57 tahun yang lalu.

Merantau dan bekerja di Qatar merupakan keputusan yang sulit dan berani bagi saya karena harus meninggalkan zona nyaman di Indonesia. 

Namun saya mempunyai prinsip “It’s never too late; never too late to start over, never too late to be happy.”

Sebagai lulusan salah satu Sekolah Teknik Menengah di Aceh dan dengan mengandalkan bekal pengalaman kerja di Indonesia pada saat itu, saya diterima bekerja di Qatar Petrochemical Company (QAPCO), bagian Mechanical Rotating-Maintenance Department. Perusahaan milik Qatar ini bergerak di industri petrokimia dan saat ini merupakan produsen terbesar plastic polymer dari minyak dan gas. Saya termasuk angkatan awal para pekerja profesional Indonesia di Qapco yang mulai masuk ke Qatar sejak pertengahan tahun 1999 dan menjadi salah satu yang masih bertahan sampai sekarang. Ketika saya pertama kali tiba di Qatar, negara ini belum maju seperti sekarang.

Saat itu belum banyak gedung menjulang tinggi di Doha. Jalanan juga tidak selebar dan sebagus sekarang. Apalagi angkutan massal seperti kereta bawah tanah, belum ada sama sekali. Sedangkan sekarang ini, menjelang perhelatan Piala Dunia 2022, Qatar sudah berbenah diri dengan pembangunan yang sangat pesat. Beberapa stadion baru telah berdiri tegak.

Jalan bebas hambatan terbentang dari ujung utara Madinat Al-Shamal sampai Abu Samra di ujung selatan dan dari ujung timur di Doha sampai ujung barat di kota Dukhan. Saya kagum dan bangga menjadi saksi atas pembangunan dan kemajuan Qatar yang begitu pesat.

Di Qatar sebagian besar alamnya berupa padang pasir yang menjadi daya tarik tersendiri serta dapat dinikmati oleh penduduknya.

Di sela penatnya bekerja dan untuk mengisi waktu libur, saya senang menjelajahi padang pasir bersama keluarga dan teman-teman. Kegiatan ini saya lakukan untuk menghilangkan kejenuhan sambil menikmati keindahan alam padang pasir. Aktivitas melakukan perjalanan menyusuri gunung pasir menggunakan mobil 4×4 sering disebut dengan ‘Dune Adventure’ yg biasa diistilahkan ‘nge-dune’ oleh kita masyarakat Indonesia.

Dari hobi inilah saya dikenal di kalangan warga Indonesia di Qatar sebagai ahli dalam “nge-dune” 

Aktivitas mengendarai mobil di padang pasir yang halus butiran pasirnya dan luas ini seolah-olah kelihatan mudah, khususnya bagi yang belum pernah mencobanya sendiri. Padahal tantangannya sangat lah banyak dan memicu adrenalin. Tak jarang bagi yang mencoba mengendarai mobil sendiri ke gunung pasir pertama kali, ban mobilnya bisa terperangkap atau tersangkut di pasir yang lunak dan tidak mudah untuk keluar. Terlebih ketika kondisinya sedang menanjak.

Gambar 1 – Nge-dune di Padang Pasir.

Tidak semua mobil bisa dipakai untuk menjelajah padang pasir. Syarat utama dari mobilnya harus mempunyai ground clearance yang tinggi supaya tidak mudah menghantam gundukan pasir yang dapat menyebabkan kerusakan. Penggerak roda minimal AWD (Automatic Wheel Drive) untuk medan yang ringan. Meskipun sebaiknya menggunakan mobil 4WD (4 Wheel Drive).

Faktor lain yang mempengaruhi adalah torsi mobil yang besar supaya memudahkan dalam menjelajah gunung pasir. Tidak cukup dengan kondisi mobil tetapi tipe ban yang digunakan dan pengaturan tekanan ban juga sangat berpengaruh terhadap performa dari penjelajahan tersebut. Faktor penting lainnya adalah kepiawaian sang sopir. Untuk medan yang berat, yang banyak tanjakan dan turunan, mempunyai kemiringan curam, tidak dianjurkan untuk sopir pemula. Apalagi kondisi di padang pasir yang tidak ada rambu-rambu lalu lintas menyebabkan tingkat kecelakaan sangat tinggi.

Selain kendaraan Nissan Patrol saya yang mempunyai performa bagus untuk medan berat ditambah pengalaman dengan jam terbang di padang pasir, saya sudah terbiasa dan hafal lika-liku padang pasir di Qatar. Mungkin karena itulah saya selalu dipercaya setiap kali ada tamu dari Indonesia yang ingin merasakan petualangan di padang pasir.

Bagi saya, ada kebahagiaan tersendiri jika dapat memberikan ‘Taste of Qatar’ pada tamu-tamu tersebut.

Gambar 2 – Inland sea, sebuah selat yang nampak seperti danau (sumber: Google Map)

Saya pernah dipercaya membawa rombongan menteri, gubernur, ustadz, pejabat negara, pengusaha, artis dan para tokoh lainnya yang pernah berkunjung ke Qatar.

Inland Sea atau kadang disebut Khor Al-Udeid merupakan teluk yang menjorok jauh ke daratan sehingga seperti danau luas atau laut di tengah padang pasir. Lokasinya di dekat perbatasan antara Qatar dengan Arab Saudi. Inland Sea mempunyai pemandangan sangat indah terlebih saat matahari terbenam. Gunung pasir yang halus di sisi darat, dan langsung berbatasan dengan laut yang menjorok ke darat. Ombaknya kecil dan banyak ikannya. Tempat ini merupakan tempat favorit wisata, kemping dan memancing. Di musim dingin, daerah Inland Sea ini sangat padat sekali dengan penduduk dan turis.

“Setiap orang tentu ingin berbuat baik dan masing-masing mempunyai ke-khas-an tersendiri”. Yang bisa saya lakukan adalah mengajak keluarga, teman dan tamu dari Indonesia menjelajah padang pasir hingga ke Inland Sea. 

Bersama teman kerja, saya mendirikan sebuah rumah makan bercita rasa Indonesia. Ide ini muncul pada awal tahun 2004 ketika saya merasa kesulitan mencari makanan Indonesia dan tempat berkumpul warga Indonesia yang tinggal di Qatar. Di negeri yang jauh dari tanah air, makanan seperti pecel, lontong sayur, sate, rendang bahkan sampai semur jengkol, menjadi hal yang sangat dirindukan. Apalagi buat ‘Bachelor’- istilah bagi para pekerja yang tanpa keluarga di Qatar.

Hari libur Jum’at dan Sabtu merupakan saatnya memburu makanan Indonesia.

Alhamdulillah hingga saat ini usaha rumah makan yang bernama ‘Central Restaurant’ tersebut tetap bertahan hidup.

Bahkan sangat populer tak hanya bagi warga Indonesia saja, tetapi juga bagi warga Malaysia, Singapura, India, Arab, Filipina dan bangsa lain.

Gambar 3 – Saya dan istri di gurun pasir

Saya memiliki dua orang putri dan tiga orang putra. Putri pertama saya telah menikah, bekerja dan memiliki usaha serta menetap di Qatar.

Namun saya sadari bahwa Indonesia adalah tempat yang paling dirindukan untuk kembali. Kembali membawa ilmu yang sudah dimiliki untuk membangun tanah air tercinta.

Satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada para generasi muda Indonesia bahwa “Kehidupan berawal dari keberanian kita meninggalkan zona nyaman. Jangan merasa puas dengan keadaan sekarang karena selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.”

“Don’t settle down and sit in one place. Move around, be nomadic, make each day a new horizon”. (Jon Krakauer).

Salam nge-dune!

SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

Artikel Terkait