“Saya menilai bahwa sepak bola bukan saja mengajarkan bagaimana menendang bola dengan tepat, mengoper kepada kawan, menendang ke arah gawang dan mencetak gol, tetapi sepak bola juga mengajarkan berbagai hal antara lain bagaimana membangun kejujuran, bekerjasama dalam tim, menghargai orang lain, sikap disiplin, sifat menghargai waktu dan nilai-nilai lain dari sebuah olah raga bola”

Muhammad Yunus Bani
Pelatih Sepak Bola Junior, Pemegang Lisensi Kepelatihan UEFA
Ada kenangan antara saya dengan Fakhri Husaini, yang kini menjadi pelatih Tim Nasional Sepak Bola Indonesia. Ketika itu dia menawarkan saya untuk mengikuti seleksi Tim PSSI Junior di Banda Aceh.
Awalnya saya mempertimbangkan hal itu, karena saya memang sangat menyenangi sepak bola sejak dari kecil.
Tetapi saya berada dalam dua pilihan antara menjadi pemain sepak bola atau menjadi karyawan pada sebuah perusahaan penghasil LNG di Arun Aceh. Pilihan saya adalah menjadi karyawan dan bekerja di LNG Arun yang kemudian membawa saya menginjakkan kaki pada bulan Juni 1998 di Qatar. Andai pada saat tawaran bergabung itu saya memilih bergabung dengan Tim PSSI Junior, mungkin cerita dan kisah ini tidak akan pernah ditulis.
Muhammad Yunus Bani, begitu orang tua saya memberikan nama ketika saya dilahirkan pada tanggal 25 Juni 1964 di Langsa, Aceh Timur di pantai timur Sumatera. Sepak bola adalah olahraga yang sangat saya senangi dan saya tekuni sejak saya masih di sekolah dasar di usia 7 tahun. Masih teringat ketika saya mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (POPSI) di Jakarta mewakili Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang menjadi pengalaman pertama saya bertanding di tingkat nasional. Walaupun pada saat itu saya tidak mendapatkan gelar juara, namun sepulang dari POPSI saya diajak bergabung dengan Persatuan Sepak Bola Langsa (PSBL) Junior.
Disinilah kemampuan bermain sepak bola saya mulai diasah dengan mengikuti latihan yang teratur agar menjadi pemain sepak bola profesional di masa depan. Di PSBL Junior ini saya pernah menjadi juara liga junior se provinsi Daerah Istimewa Aceh kemudian mengikuti babak 16 besar PSSI di Palembang dan membawa saya bergabung dengan PSBL Senior saat saya masih bersekolah di SMA. Setamat SMA tahun 1982 saya mendapatkan kesempatan bergabung dengan Exxon Mobil Oil di Lhokseumawe yang merupakan awal karir saya bekerja di dunia minyak dan gas.
Pindah dan bekerja di Lhokseumawe tidak menghalangi saya bermain sepak bola, malahan saya punya kesempatan bergabung dengan Persatuan Sepak Bola Lhokseumawe (PSLS) di samping juga bergabung dengan klub sepak bola Exxonmobil. Pada saat inilah saya mengikuti berbagai turnamen sepak bola yang salah satunya adalah turnamen sepak bola antar karyawan yang dikenal dengan Liga Karya. Penampilan saya di Liga Karya ini yang membuat saya ditawarkan oleh Fakhri Husaini bergabung dengan Tim PSSI Junior, saat itu Fakhri sudah bergabung dengan klub Bina Taruna Jakarta.
Setelah bergabung dengan Exxonmobil selanjutnya saya mendapatkan kesempatan bergabung dengan PT Arun LNG di bagian operasional. Pengalaman saya bekerja di PT Arun ini membawa saya bisa bergabung dengan salah satu perusahaan LNG di Qatar, Qatargas. Bergabung dengan Qatargas, saya diberikan fasilitas akomodasi di Al Khor Community yang saat itu hanya ada beberapa rumah yang baru selesai dibangun.
Menariknya, ketika bekerja dengan perusahaan gas alam cair ini bakat dan kegemaran saya bermain bola tersalurkan dengan baik. Kami diberi fasilitas untuk berlatih tiga kali seminggu di lapangan sepak bola Al Khor Sport Club yang saat itu masih bernama AL Taawun Sport Club. Tidak hanya itu, saya juga bergabung dengan klub sepak bola perusahaan yang juga pernah mempunyai liga antar perusahaan di bawah Qatar Petroleum.
Tampil di liga antar perusahaan ini nama saya mulai dikenal sebagai pemain sepak bola, walaupun tidak menjadi juara saya beberapa kali mendapat gelar sebagai man of the match. Bermain sepak bola juga membuat saya berpikiran untuk mencoba mengembangkan bakat anak Indonesia di Al Khor Community dalam bermain sepak bola. Ternyata banyak anak-anak Indonesia yang punya bakat dan kemampuan yang baik dalam bermain sepak bola.
Saya memulai melatih mereka di Al Khor Community di lapangan yang tersedia, sebelum akhirnya Al Khor Community kemudian meminta saya untuk membentuk klub junior Al Khor Community. Al Khor Community sangat mendukung kegiatan sepak bola ini sebagai salah satu fasilitas yang diberikan kepada karyawan dan keluarganya. Banyak sekali anak-anak yang berminat mengikuti klub sepak bola ini, termasuk beberapa anak karyawan Indonesia yang saat ini bermain di klub profesional di Qatar.

Pernah suatu hari saya mengirim anak-anak di Al Khor Community mengikuti turnamen antar sekolah di Qatar yang diadakan oleh Qatar Ministry of Education and Higher Education, kami bermain di beberapa wilayah di Qatar.
Dalam pertandingan antar sekolah ini anak-anak Indonesia memberikan penampilan terbaik mereka dan membuat kagum pencari bakat sepak bola di Qatar termasuk dari Qatar Football Association (QFA). Hasil dari turnamen ini membuat saya sering dihubungi oleh orang-orang dari QFA.
Saya menjalin hubungan baik dengan QFA, sehingga membuka peluang bagi anak-anak karyawan Indonesia untuk bermain di Aspire Academy dan menjadi pemain profesional di Qatar. Melalui QFA ini juga saya sering mendapatkan fasilitas untuk mengajak warga Indonesia menonton sepak bola di Qatar secara gratis. Untuk diketahui, menonton sepak bola bukan menjadi kegemaran utama warga Qatar dan sering kali kita bisa menonton sepak bola secara gratis, diberikan transportasi jemput antar dan bahkan diberikan makanan dan minuman selama menonton bola.
Berbagai kemudahan inilah yang mendorong saya untuk mengajak beberapa warga Indonesia di kota lain untuk membentuk klub sepak bola terutama klub sepak bola junior. Saya berpendapat bahwa membentuk klub sepak bola bukan hanya semata untuk bermain dan bertanding, tetapi juga untuk menjadi ajang pertemuan dan silaturahmi antar warga Indonesia sebagai perantau di Qatar. Dari beberapa kali pertemuan ini, saya dan beberapa orang penggiat sepak bola membentuk Indonesian Football Association in Qatar (IFQ) sebagai lembaga resmi sepak bola warga Indonesia di Qatar di bawah QFA.

Perkenalan dan komunikasi saya dengan QFA juga membawa saya mendapatkan beberapa kesempatan untuk mengikuti kursus kepelatihan di Eropa antara lain Analysis of Opponent International Coaching di Belanda dan The UEFA Level C and B Coaching di Belfast – Irlandia. Melalui QFA juga saya mendapatkan kesempatan menjadi mitra di Talent Centre Department Aspire Academy, melatih secara paruh waktu di Duhail Junior Football Club hingga saat ini. Saya sampai saat ini juga masih aktif sebagai Head of Al Khor Community Football Club.
Mengapa dunia kepelatihan ini menjadi perhatian serius saya? Saya menilai bahwa sepak bola bukan saja mengajarkan bagaimana menendang bola dengan tepat, mengoper kepada kawan, menendang ke arah gawang dan mencetak gol, tetapi sepak bola juga mengajarkan berbagai hal antara lain bagaimana membangun kejujuran, bekerjasama dalam tim, menghargai orang lain, sikap disiplin, sifat menghargai waktu dan nilai-nilai lain dari sebuah olah raga bola. Bermain bola bukan hanya bagaimana saya menjadi pencetak gol, tetapi bermain dengan prinsip satu untuk sebelas dan sebelas untuk satu, sebuah harmoni indah dalam menguasai lapangan seluas 7140 meter persegi.
Saya sudah mencapai beberapa hal yang membanggakan dari sepakbola, olahraga yang saya tekuni sejak dari sekolah dasar hingga saat ini. Namun demikian, saya masih punya keinginan dan cita-cita yang besar untuk berkarya di olahraga ini. Saya masih ingin melihat Sang Merah Putih, bendera kebangggan kita itu dikibarkan dengan diiringi lagu Indonesia Raya sebagai tanda Indonesia menjuarai salah satu turnamen internasional. Sebagai pemegang kepelatihan Lisensi D di PSSI, saya berkeinginan suatu saat dipercaya memegang pelatih PSSI untuk pertandingan tingkat internasional. Saya percaya kita punya kemampuan untuk mencapai itu asal kita bersama dalam satu langkah mencapai cita-cita itu.
Saya sangat yakin, karena saya telah berhasil menggali potensi anak-anak Indonesia di Qatar, sehingga mereka dapat bermain di berbagai klub profesional baik di Qatar maupun di Indonesia. Ada kebanggaan tersendiri ketika menonton mereka di lapangan hijau atau melalui layar televisi ketika mereka bertanding di luar Qatar, dan kebanggaan itu akan menjadi lengkap kalau suatu saat saya bisa membawa klub Indonesia kembali menunjukkan eksistensinya di pentas internasional.
SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

















