“Meskipun hanya sebuah hobi jika ditekuni serius akan membuahkan hasil terbaik. Tetap semangat dan tidak mudah menyerah”
Mustafa Kamalullah

Pekerjaan menganalisis sepertinya menjadi bagian dari jalan hidup saya. Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Teknologi Industri di Banda Aceh, saya bekerja di laboratorium PT. Arun NGL Co Lhokseumawe. Berbekal pengalaman 10 tahun bekerja di sana, saya, Mustafa Kamalullah, kemudian hijrah ke Qatar dan bekerja pada sebuah oil & gas company, QatarGas. Saya pertama kali tiba di Qatar di awal tahun 1999. Kenapa ke Qatar? Alasannya sederhana namun mendalam; supaya lebih dekat ke tanah suci Mekah.
Pekerjaan di laboratorium yang identik dengan hal analisis dan quality control, rupanya merembes pada hobi saya yang tidak jauh dari menganalisis objek namun kali ini dari balik lensa kamera. Fotografi, jadi hobi yang saya tekuni di luar kesibukan bekerja sehari-hari.
Berbekal kamera saku, pada era 90an, saya sudah senang mendokumentasikan berbagai hal, baik acara keluarga maupun objek wisata. Saya belajar memotret secara otodidak dari berbagai buku dan majalah salah satunya adalah majalah Fotomedia. Saya terus belajar teknik fotografi dan mencoba berbagai tipe kamera LSR hingga aktif berbagi informasi dan pengalaman dengan penggiat fotografi lainnya di fotografer.net. Hobi ini tidak terhenti meski saya sudah tinggal di Qatar.
Awal-awal saya tinggal di Qatar, dunia fotografi dan penggiatnya belum sepesat sekarang. Walaupun telah terbentuk Qatar Photography Society (QPS), di mana saya pernah menjadi anggotanya, namun jumlah anggotanya tidak begitu banyak, kegiatannya pun sedikit. Meski begitu, saya tidak sendiri, beberapa rekan Indonesia memiliki hobi yang sama. Kami sering hang out, kumpul bersama, bersilaturahmi sembari mencari objek-objek menarik yang bisa kami bidik.
Meskipun kultur budaya setempat membatasi objek fotografi namun tidak membuat kami kehilangan kreativitas dalam berkarya. Spot fotografi yang paling sering didatangi adalah Souq (pasar tradisional di Qatar), alam padang pasir yang terhampar luas gurun dan pantai. . Beberapa karya fotografi saya dan kawan-kawan kerap berpartisipasi dan mendapat penghargaan dalam berbagai kompetisi, seperti American Art Festival dan Al Thani award. Selain itu, kegiatan memotret lebih banyak dilakukan pada saat ada acara gathering warga Indonesia. Acara bazar, pesta perkawinan, kegiatan keagamaan, safari dakwah para ustadz, pertemuan masyarakat dengan pejabat dari Indonesia, perayaan hari raya, acara agustusan, dan lain sebagainya tidak luput dari kamera saya.
Keaktifan memotret di berbagai acara untuk dokumentasi membuat saya dekat dengan KBRI dan Permiqa (Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar). Peralatan fotografi yang saya miliki menjadi modal terbaik ketika didaulat bertugas mendokumentasikan acara – acara di bawah koordinasi KBRI. Meliput acara kenegaraan dan diplomatic event dalam rangka peringatan hari kemerdekaan RI, pesta kebudayaan hingga kegiatan tamu negara. Berawal dari sini pula kesempatan langka saya peroleh, mendokumentasikan acara kunjungan kerja Presiden RI ke-6 Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono selama dua hari di Qatar pada 30 April – 1 Mei 2006. Sungguh kehormatan dan bukan tugas main-main mendapat kepercayaan sebagai fotografer resmi dari KBRI Doha yang saat itu dipimpin duta besar bapak Abdul Wahid Maktub (beliau menggantikan Dubes sebelumnya, yaitu bapak Edy Suryodiningrat yang telah habis masa tugasnya dan kembali ke Indonesia).
Hanya diberitahu sekitar 2 minggu sebelum kedatangan Bapak Presiden saya langsung menyanggupi mengemban tugas ini. Sebelum hari H mendapat briefing protokoler terkait kedatangan presiden tersebut termasuk seragam yang digunakan, hal yang boleh dan tidak boleh dilakukannya dan lain lain. Beberapa hal yang saya masih ingat sebagai fotografer resmi adalah pakaian harus sopan dan rapi, boleh memakai rompi (tidak harus jas), boleh memakai flash, tidak boleh berlari, menjaga jarak, tidak bersuara keras atau bicara yang tak perlu.
Pada pagi hari H kami (saya dan staf KBRI lainnya) sudah berkumpul di kantor kedutaan . Bersama-sama berangkat menuju bandara Hamad Internasional Airport (HIA) gedung kedatangan tamu VIP. Sekitar jam 10.00 waktu Qatar pesawat RI-1 mendarat di HIA. Presiden SBY disambut langsung oleh Emir Qatar saat itu His Highness Hamad bin Khalifa Al Thani. Saya bersama fotografer lain dari berbagai media, dengan gear masing masing sudah siap mengambil ancang-ancang, sejak dari mendaratnya pesawat sampai presiden keluar dan disambut oleh Emir dan seterusnya.
Saat itu, saya membawa gear dua body kamera dan beberapa lensa lebar dan telezoom. Lensa lebar untuk pemotretan jarak dalam jarak dekat. Sedang lensa tele zoom untuk pemotretan jauh, misalnya saat presiden dan rombongan baru keluar dari dalam pesawat. Jarak saya dan objek yang difoto saat itu antara 20 – 30 meter. Saya larut dalam pemotretan. Merekam setiap momen penting yang sedang berlangsung menjadi fokus penting objek jepretan kamera saya. Sejak turun dari pesawat hingga tiba di hotel, saat bersalaman, bercakap-cakap, jalan bersama, suasana sekeliling, para pendamping yang menyertai, bersama pak Dubes, para pengawal, dan seterusnya.
Satu satunya moment yang saya tidak bisa ikut serta adalah saat presiden bersama rombongan mendatangi Emiri Diwan (istana emir Qatar) karena yang hadir ke sana adalah orang orang tertentu, selain presiden sendiri. Hanya fotografer istana yang diijinkan mengabadikan suasana di sana

Kunjungan Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Qatar 2006 (Dok Pribadi)
Demikian pula saat kunjungan presiden RI ke 7, bapak Joko Widodo di tahun 2016 saya kembali diminta untuk menjadi fotografer resmi KBRI meliput acara kunjungan beliau. Kunjungan presiden Joko Widodo terjadi saat KBRI Doha dipimpin oleh Duta Besar LBBP Bapak Dedi Saiful Hadi. Sambutan pemerintah Qatar terhadap presiden Joko Widodo nyaris sama dengan yang dilakukan kepada presiden RI yang telah berkunjung sebelumnya, Soesilo Bambang Yudoyono. Kalaupun ada perbedaannya adalah, pada saat kunjungan presiden Joko Widodo, bandara Qatar yang baru Hamad International Airport telah beroperasi. Adapun sambutan terhadap presiden SBY masih dilakukan di bandara yang lama. Selain agenda kenegaraan, saat kunjungan presiden Joko Widodo ke Qatar juga dilangsungkan pertemuan dengan masyarakat Indonesia Qatar di Wisma Indonesia. Tidak banyak orang mendapat kesempatan baik menyambut kepala negara bahkan langsung mendokumentasikan kegiatannya, hal ini saya rasakan sebagai buah manis dari kecintaan dan keseriusan saya terhadap dunia potret memotret
Tinggal di Qatar membuat saya berkesempatan untuk berwisata ke berbagai negara. Pengalaman touring bersama keluarga dan sahabat pada tahun 2010 menempuh jalan darat sejauh 15 ribu km dari Qatar-Saudi – Syria – Yordania – Turki selama satu bulan. Sepanjang perjalanan, berbagai objek menarik berhasil saya dokumentasikan. Seperti situasi pemandangan dan situs menarik di Syria sebelum krisis berkecamuk di negara tersebut menjadi sebuah karya dokumentasi yang menarik dan tak terlupakan.
Foto-foto kunjungan kenegaraan presiden, social gathering sampai oleh-oleh objek menarik touring saya bagikan secara luas di media sosial . Senang sekali jika karya saya bisa dinikmati dan diambil manfaatnya, tak perlu water mark. Banyak peristiwa dengan keasyikan tersendiri saat mengabadikannya. Cukuplah saya bagikan foto-fotonya, pictures tell story!. Meskipun saat ini saya sudah mengurangi kesibukan memotret namun tetap siap berbagi ilmu dan pengalaman kepada para penggiat fotografi terutama para pemula yang ingin sukses mengembangkan bakat dan hobinya.

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Qatar di tahun 2016 (Dok. Pribadi)
Dunia fotografi sudah banyak berkembang, memotret tidak lagi harus menggunakan kamera digital /analog, berbagai jenis telepon genggam sudah dilengkapi kamera canggih. Namun demikian satu hal perlu saya ingatkan agar para peminat fotografi tetap mempelajari teknik dasar fotografi,. Kamera hanyalah alat bantu, objek menarik, sense dan skill yang memadai dari sang fotografer akan mampu menghasilkan karya foto yang bagus untuk dinikmati.
Tujuan dan motivasi hijrah ke Qatar agar dekat ke tanah suci telah Allah kabulkan ,kami berangkat menunaikan ibadah haji di tahun 2000.
Melewati 20 tahun bekerja di Qatar kemudian mendapat kesempatan berharga dari sebuah hobi membawa saya pada satu kesimpulan bahwa meskipun ‘hanya’ sebuah hobi jika ditekuni serius akan membuahkan hasil terbaik. Tetap semangat dan tidak mudah menyerah.
Cekrek!
SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

















