MENERBANGKAN PESAWAT DARI DARAT

“Yakinlah bahwa kemampuan berkarya di dunia kerja tidak sepenuhnya ditentukan dari latar belakang akademis. Jika ada peluang pekerjaan dengan syarat dan kriteria tertentu, selama kita yakin sanggup memenuhi kriteria tersebut harus percaya diri untuk mencoba, jangan pernah pesimis untuk mencoba

Agustina (Astrid) Sumayouw

Lead Training Officer – Qatar Aviation Services, Qatar Airways

Perjalanan dengan pesawat udara identik dengan bandara yang penuh hiruk pikuk urusan tiket, check-in, bagasi, boarding, terbang dan mendarat. Nah, orang-orang yang bekerja di bandara tetapi tidak ‘terbang’ itulah para ground office staff. 

Nama saya Agustina Sumayouw, lebih sering dipanggil Astrid. Saya merupakan salah satu dari mereka.

Saya lulusan Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) Negeri 1 di Jakarta Jurusan Usaha Perjalanan Wisata (UPH) tahun 1997. Memang tidak mudah juga untuk bisa masuk sekolah ini. Proses seleksi masuk sangatlah ketat, mulai dari tiap wilayah di seluruh provinsi di tanah air, karena merupakan ini adalah satu-satunya sekolah menengah pariwisata negeri pada saat itu.

Pada tahun kedua di SMIP Negeri 1 yang sekarang lebih dikenal dengan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMK) 57 Ragunan ini saya mendapatkan kesempatan magang di berbagai agen perjalanan terkenal di Jakarta. Di tahun terakhir sekolah, saya bisa magang di Sempati Air. Inilah awal kedekatan saya dengan dunia penerbangan.

Sebulan setelah lulus sekolah, saya diterima bekerja di ground office Jakarta Airport Services (PT. JAS). Di perusahaan ini juga pengalaman dan keterampilan saya dibina dengan mengirimkan saya berkali-kali untuk kursus langsung bersama team keimigrasian Australia (DIMIA) di Sydney dan Canberra, Australia. Di sinilah saya banyak mengantongi ilmu keimigrasian, manajemen transportasi udara dan ilmu pelatihan yang baik dan benar. Setelah bekerja selama 8 tahun, saya mulai berpikir untuk mencari peluang kerja di tempat lain, khususnya di luar negeri.

Harapan untuk bekerja di luar negeri muncul ketika Qatar Airways membuka lowongan kerja di Jakarta. Lamaran ke berbagai maskapai penerbangan lainnya juga saya layangkan. Melalui proses yang panjang akhirnya pada tanggal 3 Maret 2004 menjadi awal saya bergabung di Qatar Aviation Services (QAS) sebagai staf bagian check-in counter. QAS merupakan anak perusahaan Qatar Airways yang salah satu layanannya adalah ground handling. Para WNI yang sudah tinggal di Qatar pada saat itu pasti deh mencari saya ketika mereka akan mudik ke tanah air hehehe.

Bekerja di bagian check-in counter tidak membuat saya berhenti melihat peluang yang lebih baik dalam bekerja. Di sini selama kita menunjukkan kemampuan terbaik dalam bekerja dan dapat menyelesaikan pekerjaan secara tepat waktu pasti akan mendapat penghargaan yang lebih baik. Kuncinya adalah bukan hanya kerja keras, tetapi juga kerja cerdas. Dengan kerja keras apa yang kita kerjakan pasti bisa mencapai target yang diharapkan dan selesai tepat waktu. Namun dengan kerja cerdas, maka kita juga mampu melihat peluang pekerjaan untuk menjajaki kemampuan kita, berani mencoba hal baru sehingga tidak monoton diam di tempat. Konsisten melakukan kerja cerdas, dalam 2 tahun saya mendapatkan promosi jabatan, berkelanjutan hingga sekarang menempati posisi sebagai lead training officer yang bertanggung jawab langsung kepada manajer. Tugas saya adalah mengawasi, mengatur dan memimpin tim bagian pelatihan. Inilah pencapaian terbaik saya hingga saat ini.

Sebagai training officer saya harus menyiapkan materi dan penjadwalan training bagi seluruh karyawan dengan berbagai macam jenis pekerjaan. Materi utama adalah Departure Control System  yang merupakan sistem komputer yang secara kompleks mengatur seluruh proses penerbangan penumpang sejak reservasi tiket hingga terbang sampai di tujuan. Selain itu saya juga menangani dan mengatur jadwal pelatihan tentang benda berbahaya, kontrol beban dan keseimbangan pesawat, peralatan pendukung di darat, sampai dengan keahlian kepemimpinan dan manajerial.

Dari tugas pekerjaan ini pula lah saya mendapat kesempatan untuk berkeliling dunia. Dimanapun Qatar Airways membuka ground handling baru, kesana pula saya bertugas untuk melakukan pelatihan sistem kontrol keberangkatan system terhadap ground staff-nya. Begitu pula jika ada maskapai yang membuka ground handling baru di Qatar, saya ditugaskan untuk membantu mereka mempersiapkan sistemnya hingga melatih personilnya.

Salah satu momen penting dan berkesan selama saya berkarir adalah ketika operasional bandara internasional Hamad Qatar pindah ke lokasi baru. Proyek besar ini melibatkan lebih dari 20 perusahaan terkemuka dari berbagai negara. Salah satu tantangannya adalah memindahkan ground equipment melalui darat yang melibatkan banyak instansi terkait di Qatar.

Apa yang sudah dicapai memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Pengalaman saya membuktikan hasil dari kerja cerdas. Tantangan yang harus kita hadapi adalah selalu ambil kesempatan selagi kita mampu melakukannya dengan percaya diri. Penilaian terhadap kita di sini benar-benar dilihat dari kemampuan kita menyelesaikan pekerjaan, jadi tidak perlu khawatir dengan latar belakang akademis yang kurang relevan.

Yakinlah bahwa kemampuan berkarya di dunia kerja tidak sepenuhnya ditentukan dari latar belakang akademis. Jika ada peluang pekerjaan dengan syarat dan kriteria tertentu, selama kita yakin sanggup memenuhi kriteria tersebut harus percaya diri untuk mencoba, jangan pernah pesimis untuk mencoba. Motto saya dalam kehidupan bekerja adalah adalah Ora Et Labora (Bekerja dan Berdoa). Ora et Labora adalah etos hidup bagi orang yang tidak berpangku tangan dan berdoa saja, karena Tuhan tidak bisa mengambil alih sepenuhnya yang menjadi tanggung jawab makhluk ciptaan-Nya. Dengan motto ini saya bekerja dengan niat melayani sesama demi kehidupan dan menyenangkan hati Sang Pencipta.

  Saya melihat orang Indonesia umumnya dinilai sangat positif yaitu berkarakter sopan, baik, pintar, penurut, dan beretos kerja tinggi. Akan tetapi mereka cenderung sangat pendiam atau kurang aktif. Para kolega banyak tak menyangka saya orang Indonesia, karena karakter pendiam itu tak terlihat (hahaha). Ya, saya lebih suka bersikap tegas dan percaya diri. Itu salah satu modal penting yang harus ditunjukan di lingkungan kerja. Modal sebagai sosok berkarakter baik dan kuat harus dapat ditonjolkan dengan baik. Memang perlu mendobrak citra untuk menunjukkan bahwa kita mampu bersaing secara profesional, berani mempromosikan diri.

Bekerja di QAS yang notabene berada dunia arab, saya sama sekali tidak merasakan perbedaan perlakuan secara gender. Bekerjasama dengan kolega dari berbagai negara dengan kurang lebih 120 kebangsaan dan beragam agama, kinerja kita betul-betul dinilai secara profesional. Sebagai penganut Kristiani saya melihat toleransi yang sangat tinggi terhadap berbagai agama ditunjukkan baik di tempat kerja maupun lingkungan sosial di Qatar ini. Tidak pernah mendapat kesulitan untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing masing dan saling menghormati antar agamanya luar biasa membuat situasi nyaman.

Melewati 17 tahun bekerja di Qatar, disini pula saya menemukan pasangan hidup seorang warga negara Inggris. Dalam hubungan bermasyarakat saya aktif dalam beberapa komunitas warga Indonesia. Komunitas tempat saya beraktifitas adalah komunitas Kristen Indonesia, Komunitas Keluarga Qatar Airways. Aktif di acara keagamaan menjadi bagian majelis dan wakil ketua dari gereja Shalom Fellowship Church (SFC). Saya juga aktif beribadah di SFC dan Anglican Church of Epiphany Qatar.

Foto bersama keluarga Shalom Fellowship Church Qatar

 Pengalaman kenegaraan dan bermasyarakat yang sangat menarik dan berharga buat saya selama di Qatar adalah ketika bergabung dengan Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) pada Pemilu tahun 2019. Pengalaman ini menjadi sangat berkesan, karena saya yang biasa berkecimpung di komunitas sosial dan charity mendapat kesempatan ikut dalam urusan politik tanah air. Aktif ikut serta dalam berbagai kegiatan komunitas membuat keseharian kita yang sibuk dengan urusan pekerjaan menjadi lebih berwarna, tidak monoton dan membosankan dan juga sangat baik untuk kesehatan mental segala sesuatu harus seimbang biar betah dan kuat iman di Qatar.

Foto bersama rekan-rekan

Panitia Pemilihan Luar Negeri Qatar

Motivasi saya ketika bekerja disini antara lain untuk membantu membantu ibu saya dan adik saya sekolah. Ketika itu terpenuhi saya harus memupuk motivasi baru yang membawa semangat baru. Puji Tuhan, di negeri Qatar saya mendapat pekerjaan lebih baik, mencapai titik aman dalam kehidupan saya.

Saat ini adalah waktu saya untuk lebih banyak melayani sesama masyarakat, salah satunya lewat cerita. Semoga tulisan ini meninggalkan setitik motivasi buat orang lain yang masih berjuang.

Artikel Terkait