KERJA SAMBIL KELILING DUNIA

“Apabila orang bisa kita pasti juga bisa”

Nita Hartanti dan Icha Enelson Iyes

Qatar memang saat ini masih mengandalkan minyak dan gas sebagai tulang punggung perekonomiannya.

Akan tetapi, salah satu visi negara Qatar  adalah menjadi pusat tujuan wisata kesehatan dan olahraga di timur tengah. Tentu saja hal tersebut harus ditunjang dengan infrastruktur dan layanan transportasi udara yang baik. Di sinilah pentingnya peranan bandar udara Hamad International Airport.

Adalah Nita Hartanti dan Icha Enelson Iyes, dua orang pekerja migran profesional dari Indonesia, yang bekerja di bandar udara penting tersebut.  Nita pada awalnya tidak berpikir akan bekerja di Qatar, bahkan waktu itu dia belum tahu kalau ada negara bernama Qatar.

Pada saat itu, dia hanya ikut temannya mencoba melamar posisi sebagai customer service yang ada pada lowongan iklan di sebuah surat kabar. Kebetulan saat itu masa kontrak kerjanya di KLAS (Kuala Lumpur Airport Services) sudah habis.

Karena dia juga bekerja pada posisi yang sama di sana, ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengembangkan karirnya.

Icha, Nita dan the centongers group di saints petersburg Rusia

Senada dengan Nita, Icha awal mulanya tidak berpikir untuk bekerja di Qatar karena negara timur tengah terdengar menakutkan. Dia sebelumnya bekerja di salah satu ground handling ternama, yaitu Jakarta Airport Services (PT. JAS).

Pada tahun 2009 belum terlalu banyak lowongan pekerjaan di luar negeri terutama untuk bekerja di dunia penerbangan. Saat ada lowongan kerja di Qatar, dia pun tidak melewatkannya.

Saat itu dia mencoba melamar melalui PT. Binawan di Jakarta. Aturan pemerintah Indonesia saat itu kalau mau bekerja di luar negeri harus melalui perusahaan penyalur tenaga kerja dan tidak bisa langsung ke perusahaan pencari karyawan. Prosesnya pun cukup panjang dan waktu itu dia diwawancarai langsung oleh perwakilan Qatar airways dari Qatar. Walaupun pihak Qatar Airways mengatakan kami tidak usah membayar untuk proses perekrutan tersebut, sayangnya  perusahaan penyalur tenaga kerja tersebut tetap meminta bayaran atau visa kami ke Qatar akan di tahan.

Untungnya sekarang sudah lebih baik terutama di industri dirgantara, di mana pihak yang melakukan rekrutmen akan langsung mengadakan walk-in interview di hotel berbintang di Jakarta, sehingga pelamar tidak usah membayar perusahaan penyalur tenaga kerja lagi. Dia pun berharap agar kedepannya pemerintah Indonesia dapat memperbanyak hubungan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan profesional di luar negeri, karena selain bisa menambah devisa negara maka bagus juga untuk memberi peluang bagi anak muda yang ingin berkembang lebih maju.

Nita memiliki latar belakang pendidikan dari Akademi Bahasa Asing jurusan Bahasa Inggris. Semua ilmu yang dia dapatkan selama kuliah sangat menunjang pekerjaannya, seperti cara memberikan layanan yang terbaik bagi para penumpang dan cara berkomunikasi dengan penumpang, atasan dan sesama rekan kerja serta rekan di luar pekerjaan.

Lain halnya dengan Icha yang memang lulusan dari jurusan Travel Management di Trisakti dan ketika lulus kuliah langsung bekerja di PT. JAS Jakarta khusus untuk pesawat Qantas Airways, sehingga bekerja di bandara Qatar memang sesuai bidangnya.

Icha, yang bercita-cita saya di masa depan untuk menjadi business woman dan dosen bagi generasi muda Indonesia ini, merasa menjumpai banyak tantangan dalam bekerja di timur tengah. Selain itu, memang harus sabar terhadap penumpang, karena penumpangnya kebanyakan banyak melanggar peraturan, kurang menghargai waktu (suka telat), tidak disiplin dalam hal mengantri, mau menang sendiri dan kurang menghargai orang.

Berdasarkan pengalamannya sebagai petugas bandara, dia punya trik untuk melayani penumpang-penumpang bandel tersebut. Sebagai contoh, apabila pesawat sudah 5 menit lagi mau berangkat dan masih ada penumpang yang mau checkin, kita jangan langsung menolak mereka tapi kita akting pura-pura menelpon kapten dan speaker telpon dihidupkan, sehingga ketika mereka mendengar suara maaf pesawat sudah tutup maka mereka tidak lagi marah-marah dan langsung ke ticketing untuk mengganti tiketnya. Tantangan itu pulalah yang menempanya, sehingga mentalnya menjadi kuat dan tidak menjadi ‘mental krupuk’.

Sedangkan buat Nita yang sudah 13 tahun bekerja di Qatar, melihat kepuasaan dan ucapan terimakasih dari penumpang atas pelayanan yang sudah saya berikan merupakan kebanggan tersendiri dan rasa lelah seharian bekerja akan terbayar hanya dengan melihat senyum kebahagiaan penumpang yang akan pulang atau berangkat ke negara tujuan demi bertemu orang-orang yang terkasih.

(Saat Nita berburu Aurora Borealis di Lapland, Finlandia)

Qatar merupakan negara muslim yang moderat, karena banyak sekali expatriat yang bekerja di sini dalam segala bidang pekerjaan. Maka Icha semakin terbuka pikirannya, bahwa negara ini bukanlah negara yang mengerikan tapi negara yang maju. Qatar dapat menunjukkan diri sebagai negara yang bertoleransi tinggi yang mana semua agama ada dan dihormati di sini. Padahal awalnya dia sempat berpikir bahwa Qatar akan menjadi negara yang strict dalam hal berpakaian. Ternyata Qatar memperbolehkan expatriat berpakaian modern asal sopan. Selain mengagumi betapa bersihnya negara ini, dia juga memuji penegakan hukum, sehingga expatriat yang tinggal di Qatar berusaha untuk tidak melanggar peraturan.

Salah satu pengalaman menarik yang dialami oleh Nita selama tinggal di Qatar adalah bertemu dengan salah satu aktor terbaik Indonesia, Reza Rahadian.

Walaupun Nita merasa  bukan  penggemar berat aktor tersebut, tapi Alhamdulillah dia merasa senang dikasih kesempatan berfoto, ngobrol, dan bahkan satu pesawat dengan Reza.

Akan tetapi, dia juga mengalami kejadian yang sangat menyedihkan, yaitu pada saat dia mendengar kabar duka saat ayahandanya tercinta menghadap Sang Pencipta. Karena adanya peraturan perusahaan yang melarang karyawan menggunakan handphone pribadi saat bekerja pada saat itu, dia terlambat mendapatkan kabar duka tersebut.

Pada saat pesan dikirim dia sedang bertugas dan tidak bisa pulang secepatnya, sehingga dia hanya bisa menyaksikan makam ayahanda saja.

Selain bekerja, Nita menjalin silaturahmi dengan sesama WNI di Doha, entah itu hanya kumpul-kumpul makan di suatu tempat, mengadakan arisan, atau pun juga mengunjungi acara. Tapi yang paling penting, bekerja di Qatar telah memudahkannya untuk menyalurkan hobi jalan-jalan ke luar negeri. Dia sudah mengunjungi kurang lebih 40 negara, termasuk juga bisa menjalankan ibadah umroh yang sudah menjadi cita-citanya sebelum berangkat ke Qatar.

Nita — bersama aktor Reza Rahardian

Walaupun sudah dua kali menjalankan ibadah umrah, dia masih berharap untuk masih terus diberi kesempatan untuk mengunjungi Ka’bah. Sedangkan Icha yang mempunyai hobi saya olahraga, musik, dance, membaca buku, menonton film dan sukarelawan. Walaupun tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan karena jadwal kerja yang shift, Icha tetap aktif di  komunitas sepak bola wanita Qatar airways dengan posisi sebagai kiper. Sedangkan pada saat liburan, dia  biasanya menjadi sukarelawan untuk mengajar anak anak di Afrika atau di belahan dunia lainnya.

Icha dan tim sepak bola putri Qatar Airways

Terakhir, Icha memberikan tips untuk untuk anak muda Indonesia yang mau bekerja di luar negeri terutama dunia penerbangan. Tips pertama adalah untuk memperkuat bahasa Inggris (yang penting bisa komunikasi) dan hati yang mau bekerja dan melayani. Tips kedua adalah agar memiliki mental untuk bisa maju dan tidak takut sebelum mencoba.

Apabila orang bisa kita pasti juga bisa. Selanjutnya, dia mendorong untuk mengambil peluang bekerja di luar negeri kalau tidak ada kesempatan di negeri sendiri, mumpung masih muda untuk terus belajar dan bekerja sebanyak-banyaknya dari lingkungan kerja, sehingga dapat diambil sisi positifnya yang nanti bisa diterapkan di negeri sendiri.

Icha berharap kedepannya pemerintah Indonesia banyak membuka peluang kerjasama di bidang industri yang profesional, sehingga akan mengangkat derajat dan martabat negara kita sendiri di mata negara lain dan mengurangi pengiriman tenaga kerja yang bekerja di rumah tangga.

Icha menjadi pengajar sukarelawan di Daressalam, Tanzania, Afrika

Sedangkan Nita berpesan bagi yang ingin kerja di Qatar atau negara lainnya agar terus bermimpi dan tetap berdo’a dengan kesungguhan untuk cita-cita yang diidamkan. Dia sendiri dulu bermimpi untuk bisa umroh dan jalan-jalan ke luar negeri sudah tercapai, dan tentu saja sambil mengumpulkan pundi-pundi uang yang bisa kita kirim untuk keluarga di tanah air.

*Ditulis ulang oleh Syarif Achmad berdasarkan pengalaman dari kedua nara sumber.

Artikel Terkait
Aturan Bekerja

Batas Usia Kerja di Qatar

Qatar, sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di kawasan Gulf, menarik ribuan profesional dan pekerja dari berbagai belahan

Read More »