PENDIDIKAN ADALAH INVESTASI TERBAIK UNTUK MASA DEPAN

“Education: the most powerful and the best investment in our future”.

Susila Cahyono – Sr. Planning Engineer

Saya dibesarkan di lingkungan di mana bersekolah tinggi atau pendidikan tinggi adalah sesuatu yang tergolong langka. Bukan saja karena ketidakmampuan secara finansial tetapi juga karena budaya yang masih sulit untuk menerima bahwa bersekolah adalah untuk masa depan yang lebih baik, bekal di masa yang akan datang.

Saya dilahirkan di kota kecil Juwana, 12 km sebelah timur kota Pati, Jawa Tengah. Yang biasa orang tahu, kota ini yang terkenal dengan oleh-oleh khasnya, bandeng duri lunak.  Kurang dari 20% teman SD saya yang melanjutkan sekolah. Mereka memilih menjadi nelayan buritan dengan mimpi bisa naik menjadi nakhoda kapal nelayan yang menjanjikan, atau sekedar membantu orang tua melakukan pekerjaan di tambak atau bagi yang perempuan tidak lama lagi mereka segera menikah.

Singkat cerita, berkat papan pengumuman Kantor Kepala Desa yang berlokasi di sebelah tempat sekolah saya SDN 1 Trimulyo, inspirasi sederhana dari mengidolakan Habibie menjaga asa saya untuk tetap sekolah. Ya, Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie, Menteri Riset dan Teknologi di Kabinet Pembangunan III (1978 – 1983). Guru SD saya menjelaskan bahwa beliau adalah seorang insinyur yang bisa bikin pesawat terbang. “mBesok aku yen wis gedhe, kepingin dadi insinyur, insinyur kang bisa nggawe kapal lan montor mabur” pikir saya, menirukan lagu masa kecil di desa.

Akhirnya, saya menjejakkan kaki pertama kali di Bandung bulan Agustus 1987 ketika saya dinyatakan diterima di ITB Institut Teknologi Bandung, impian anak-anak SMA jaman itu untuk menjadi insinyur. Rasa syukur yang membuncah ini tidak hanya saya rasakan sendiri tetapi juga terlihat keluarga besar saya. Dukungan mereka adalah amunisi tersendiri keberangkatan saya ke Bandung ketika itu, di saat teman-teman saya lebih pragmatis saja memilih dengan langsung bekerja yang mereka bisa demi menghasilkan uang.

Kuliah di ITB tentu bukan hal yang mudah, tingkat persaingan jauh lebih keras dari yang saya bayangkan. Ketika hasil nilai pertama diumumkan, saya semakin menyadari bahwa saat ini bukanlah waktu yang sama dengan ketika masih di SMA yang dengan belajar keras sedikit, maka dengan mudah mengalahkan saingan-saingan untuk menjadi yang terbaik di sekolah. Dalam hal ini, saya menyadari sepenuhnya bahwa di atas langit ada langit. Kuliah di ITB dari tahun 1987 dan lulus tepat waktu 4.5 tahun lebih cepat dari rata-rata mahasiswa pada waktu itu. Dari 150 mahasiswa satu jurusan yang lulus 4.5 tahun kurang dari 10 orang.

Qatar Petroleum (QP) tempat saya saat ini bukan perusahaan pertama dimana saya bekerja. Setidaknya saya sudah berganti perusahaan-perusahaan beberapa kali. Setelah lulus ITB sempat ditawari menjadi dosen, tetapi sesuai cita-cita saya justru saya sempat memilih bekerja di IPTN perusahaan di bawah pimpinan Pak Habibie ketika itu, setelah melewati beberapa tahapan test dan interview saya diterima di bagian airframe design & analysis. Pekerjaan yang dilakukan adalah merupakan dari project N-250 saat itu. Meski hanya beberapa bulan bergabung dengan IPTN, saat N-250 mengudara pertama kali di tahun 1995 emosi dan rasa haru ikut terbawa bersama rasa syukur. Pas sekali dengan  lagu yang sering saya nyanyikan saat SD, “mBesok aku yen wis gedhe, kepingin dadi insinyur sing nggawe montor mabur”.

Saya kemudian melanjutkan berkarir di bidang oil & gas dengan memulai bekerja di ARCO Indonesia, selama kurang lebih 5 tahun untuk kemudian berpindah ke Unocal (Chevron) kurang lebih 5 tahun juga sebelum akhirnya bergabung dengan ConocoPhillips Indonesia kurang lebih 2 tahun. Pada bulan Juni/Juli 2006, saya dipanggil untuk interview “face to face” di Doha, ke kantor QP, yang pada akhirnya melalui proses yang lumayan panjang, di bulan Oktober 2006 resmi memulai pekerjaan sebagai Sr. Planning Engineer untuk Offshore Projects di Qatar.

Tentu sebelum bergabung dengan QP, saya sudah banyak bertanya dan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari teman, kolega yang sudah lebih dahulu pindah bekerja dan tinggal di Luar Negeri. SWOT analysis singkat pun sudah dilakukan dengan keluarga sebelum memutuskan bergabung dengan QP. Ada beberapa hal yang menjadi alasan selain kompensasi dan benefit tentunya, kenapa akhirnya memilih bekerja dan tinggal di luar negeri utamanya, diantaranya adalah adanya kesempatan lebih banyak terhadap akses, pengalaman, networking, dan lain-lain. Kesempatan anak bersekolah dasar dan menengah di luar negeri juga memberi peluang yang lebih besar terhadap tingkat mutu pendidikan, literasi dan assertiveness. Ini tentu selaras dengan investasi terbaik keluarga yang saya angkat menjadi judul tulisan ini. Saya juga mempunyai waktu lebih banyak untuk keluarga, ibadah dan aktivitas di luar pekerjaan. Ini tidak bisa dibeli.

Saya merasakan pengalaman di Jakarta sebelumnya karena kemacetan di jalan, setidaknya 3-4 jam waktu saya setiap hari terbuang percuma. Kesempatan lain yang tidak bisa ditemui jika bekerja di tanah air adalah dimungkinkannya melaksanakan umrah berkali-kali dengan keluarga bahkan setahun bisa dua kali, setiap libur panjang sekolah anak-anak. “Fabiaayyi alaa’i rabbikuma tukadzdzibaan” dan Nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan?

Dengan bergabungnya di divisi Offshore dan Major Projects saya berkesempatan ikut menyelesaikan beberapa pekerjaan projects kategori-1 yang artinya memiliki tingkat criticality yang tinggi, di antaranya adalah Common Cooling Water Project (CCWP) untuk Rasgas dan Qatargas mega train yang baru saat itu, Offshore platform NFA-Wellhead Platform #3 (NFA-WHP3) dan beberapa project lainnya.

Kedua project di atas memberi kesempatan kepada saya dengan tugas overseas beberapa kali di luar Qatar. Pertama kali adalah dalam misi pelaksanaan detail design untuk CCWP Project di Abu Dhabi, UAE selama 6 bulan. Penugasan di luar negeri berikutnya di Dubai McDermott selama 12 bulan dan sukses mengeksekusi project Jacket untuk NFA-WHP3 tepat waktu, dan sesuai anggaran, salah satu project offshore tersukses di QP. Penugasan berikutnya di Malaysia selama 13 bulan untuk Topside project detail design di kantor Worley-Parson Malaysia, sebelum akhirnya penugasan ke China selama kurang lebih 18 bulan di kota Qingdao, Northeastern China, sepelemparan bola dari Seoul, Korea Selatan. Total dari awal 2015 sampai Januari 2019 sekitar 4 tahun, sebagian besar saya berada di luar negeri dan hanya kembali ke Doha ketika berhak cuti menemui keluarga setiap 2 bulan atau keluarga yang menemui saya di tempat penugasan sesuai aturan kantor.

Alhamdulillah hal ini Allah Yang Maha Kuasa memberi nikmat dan kesempatan yang luar biasa. Anak pertama lulusan ITB, sudah bekerja dan saat ini dalam persiapan untuk berangkat ke USA untuk meneruskan Master degree-nya di University of Pennsylvania, dengan memperoleh salah satu beasiswa terbaik di Indonesia saat ini yaitu beasiswa LPDP. Anak kedua, Alhamdulillah lulus dari one of best economics school, London School of Economy di UK, dan saat ini sudah bekerja di salah satu Global Research Center ternama yang menjadi tempat impian freshgrad dibidang ekonomi untuk memulai karirnya.

Saya merasakan pendidikan dapat meningkatkan taraf kesejahteraan, kesehatan, pemberdayaan, dan pekerjaan lebih baik, yang pada gilirannya akan membangun masyarakat yang lebih cerah.

Ternyata apa yang dikatakan almarhum ayah saya, sekian puluh tahun lalu, “Warisan terbaik yang aku tinggalkan ke kamu adalah kesempatan bersekolah”. Dan itu benar.  Untuk itu, jangan ragu untuk berinvestasi terbaik dengan memberikan kesempatan dan akses sekolah yang terbaik pula untuk anak-anak kita, “Education: the most powerful and the best investment in our future”.

Doha, 09 Jan 2020

Mutiara Inspirasi dari Qatar

Artikel Terkait