PERGI KE DUNIA LUAS: CATATAN AKHIR BUKU MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR

Pergilah ke dunia luas, anakku sayang

Pergi ke hidup bebas!

Selama angin masih angin buritan

Dan matahari pagi menyinar daun-daunan

Dalam rimba dan padang hijau  

(Asrul Sani)

Oleh: Ali Murtado

(Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Doha)

  Mudah-mudahan ini bukan sekadar ‘kegenitan romantis’, tapi dari berbagai naskah klasik yang tersedia, kita tahu bahwa nenek moyang bangsa Indonesia memiliki tradisi menjelajah yang kuat. Diaspora “nusantara” (tentu saat itu nama Indonesia belum ada) telah tersebar ke berbagai sudut dunia bahkan sejak zaman pra penjajahan. Kerajaan-kerajaan di nusantara di masa itu misalnya, telah rutin menjelajah dan menjalin kontak dengan berbagai kerajaan di dunia. Di beberapa tempat, bahkan para Diaspora dari nusantara tersebut, bukan hanya melakukan kontak, tetapi juga diam menetap di wilayah yang dijelajahinya.  

   Sayangnya, masa penjajahan di bumi Nusantara, sedikit banyak telah ‘menghentikan’ tradisi emas tersebut. Penjajahan juga telah membuat mentalitas dan rasa percaya diri bangsa-bangsa di Nusantara mengalami defisit. Di periode ini, bangsa kita seperti kehilangan kepercayaan diri untuk keluar, tegak sejajar ketika berhadapan dengan bangsa lain.

Itu pula sebabnya, jika di awal-awal perjuangan pergerakan kemerdekaan, Soekarno dan para pendiri bangsa yang lain, seperti terlihat dalam tulisan dan pidato-pidato mereka, harus bertangkup lumus, berjerih payah menumbuhkan kembali rasa percaya diri bangsa yang lama ditenggelamkan penjajah.  

Setelah kita melewati masa-masa kelam penjajahan, maka sudah saatnya kita meraih kembali kebanggaan yang dulu pernah dimiliki nenek moyang kita. Jika nenek moyang kita dulu menjelajah lebih karena kepentingan dagang, maka diaspora-diaspora modern Indonesia saat ini dapat dan harus melampaui itu semua.

Tentu kepentingan dagang tetap menjadi relevan dan karenanya tidak dapat diabaikan. Tapi diaspora Indonesia saat ini juga dapat mengemban tugas lain yang tak kalah luhur seperti mempromosikan citra, memperkuat jejaring dan melakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan di tanah air.

Di luar itu, penting juga dicatat peran dan kontribusi riil diaspora Indonesia dalam menggerakan perekonomian di tanah air. Pada tahun 2017 misalnya, Indonesia Diaspora Network menyebut jika nilai remitansi yang mengalir ke Indonesia dari diaspora Indonesia di luar negeri mencapai 180 triliun per tahun.

Sebuah angka yang fantastis, meski sebenarnya tidak terlampau mengejutkan mengingat banyak diaspora Indonesia di luar negeri, termasuk di Qatar adalah para pekerja profesional dengan gaji tinggi.

 Selain para Diaspora yang bekerja di berbagai perusahaan, tentu tidak boleh dilupakan juga para Pekerja Migran Indonesia di sektor domestik. Mereka juga berperan besar dalam menggerakan perekonomian di tanah air, antara lain melalui aktivitas remitansi yang mereka lakukan. KBRI Doha memberikan perhatian besar kepada pekerja sektor domestik tersebut antara lain melalui kegiatan pelayanan, pemberdayaan dan advokasi ketika mereka menghadapi masalah.    

Di atas semua itu, Pemerintah telah dan akan terus menempatkan Diaspora Indonesia tidak hanya sebagai objek diplomasi, tetapi juga sebagai subjek atau agen diplomasi di luar negeri. Barangkali inilah yang disebut oleh mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Hassan Wirajudha sebagai total diplomacy, sebuah gerak dan derap langkah diplomasi yang melibatkan seluruh komponen bangsa, tidak terkecuali para Diaspora Indonesia di luar negeri.  

Pada titik ini, anggapan bahwa semakin banyak Diaspora Indonesia di luar negeri akan semakin membuat ‘kekeringan intelektual’ di tanah air, menjadi kurang relevan. Alih-alih akan menyebabkan brain drain, keberadaan masyarakat Indonesia di luar negeri termasuk di Qatar sesungguhnya dapat mendatangkan keuntungan setidaknya dalam tiga sisi; keuntungan ekonomis, keuntungan citra dan keuntungan jejaring. Tentu keuntungan tersebut hanya dapat diperoleh jika ada simbiosis yang saling menguntungkan antara Pemerintah dan para Diaspora Indonesia di luar negeri.

Tugas kita semua adalah menyediakan ekosistem yang tepat untuk tumbuhnya simbiosis tersebut.

Terima kasih. Wassalam.

Artikel Terkait