KISAH SUKSES SANG AKUNTAN MENGELOLA KARIR DAN KELUARGA

If the world is too big for you to change things, do it by being good to yourself, then to your family, then to your society, and so on. We are just one among billions of people in the world, but we should believe that our one right action can change the world.

(Shinta Komalasari, SE Akt. PMP, MBA, Ph.D)

Diaspora Indonesia di Qatar tak hanya didominasi oleh para pria, ada pula beberapa wanita asal Indonesia yang patut dibanggakan. Prestasinya pun tak kalah bersaing dengan wanita-wanita asal negara lain. Salah satunya adalah Shinta Dewi Komalasari, wanita berdarah asli Palembang, Sumatera Selatan.

Atas referensi seorang sahabatnya yang telah lebih dulu bekerja di Qatar, Shinta bersama keluarganya memutuskan pindah dengan niat agar mudah melaksanakan haji dan umrah. Karena secara letak geografis Qatar sangat dekat dengan Saudi. Niat awalnya pun hanya ingin bekerja 2 hingga 3 tahun saja.

Pertama kali menjejakkan kaki bersama keluarganya di Hamad Old Airport dini hari, 10 November 2008–dijemput oleh karyawan perusahaan RasGas yang kini berubah nama menjadi Qatargas. Esok paginya pukul 7, tanpa sempat istirahat, ia dijemput dari penginapannya menuju tempat kerja barunya, di kawasan Ras Laffan. Jarak Doha ke Ras Laffan 88 kilometer ditempuh kurang lebih 1.5 jam. Sepanjang mata memandang di kanan-kiri jalan hanyalah padang pasir tandus.  Memasuki kawasan tempat kerjanya, Shinta melalui 2 pintu dengan pemeriksaan keamanan yang ketat.

Bersama suami, Heri Kartono dan Dubes RI untuk Qatar, Bapak Ridwan Hassan dan ibu Lita Kadartin

Dalam benaknya muncul berbagai pertanyaan, “Akankah Saya sanggup menikmati perjalanan yang membosankan ini setiap hari? Bagaimanakah watak atasan dan rekan-rekan kerja saya nanti?

Bagaimana pula dengan bawahan-bawahan saya nanti, akankah mereka mau dan bisa bekerja sama dengan atasan wanita seperti saya?” Semua pertanyaan itu ia pasrahkan kepada Allah SWT Sang Maha Penolong. Hingga kini tak terasa sudah memasuki tahun ke-13 di Qatar, Shinta selalu bersyukur atas nikmat Allah yang menjejakkan kakinya di negeri Qatar.

Sebelum akhirnya bergabung di perusahaan multinasional minyak dan gas bumi QatarGas, Shinta pun berpengalaman di beberapa perusahaan minyak dan gas bumi di tanah air. Shinta memulai karirnya di tahun 1991 sebagai pegawai paruh waktu sebelum dia menyelesaikan kuliah sarjananya pada perusahaan kontraktor PT Dwipa Konektra sebagai staff di Departemen Keuangan di Palembang. Setelah lulus kuliah dari Universitas Sriwijaya jurusan Akuntansi di tahun 1994, dia hijrah ke Jakarta dan bergabung pada perusahaan bisnis IT yang bergerak di bidang perangkat lunak dan perangkat keras IBM (International Business Machine) dengan jabatan terakhir sebagai senior akuntan.

Tahun 1999 Shinta mengawali karirnya di industri minyak dan gas dengan bergabung di perusahaan kontraktor lepas pantai sebagai Senior Project Accountant pada PT J.Ray McDdermott Indonesia. Pada perusahaan ini ia bertanggung jawab langsung kepada Manajer Proyek dan secara fungsional bertanggung jawab langsung kepada Koordinator Akuntan Proyek Global di Dubai – Timur Tengah.

Pada Agustus 2003, Shinta bergabung pada perusahaan jasa energi skala Internasional PT WoodGroup Indonesia sebagai Manajer Administrasi dan Keuangan yang secara langsung bertanggung jawab kepada General Manajer – Indonesia. Secara fungsional ia bertugas sebagai pengendali keuangan perusahaan wilayah Asia Pacific. Prestasi kerjanya di perusahaan ini patut dibanggakan karena berhasil menghemat keuangan perusahaan hingga $ 1,5 juta US dengan melakukan perencanaan dan pelaporan pajak tahun 2002 dan 2003 dengan lancar.

Bulan September 2004, melalui jaringan kerja di perusahaan sebelumnya (McDermott & Woodgroup yang merupakah kontraktor untuk perusahaan minyak ConocoPhillips), Shinta bergabung di Conocophillips Indonesia sebagai Analis Keuangan dan Perencana ekonomi yang bertanggung jawab langsung kepada Manajer Perencana dan ekonomi. Secara fungsional ia bertanggung jawab langsung kepada Kordinator Keuangan Wilayah Asia Pacific (Singapore). Prestasinya pada perusahaan ini pun mengagumkan hingga mampu menyederhanakan proses dan jumlah staf pada Departemen Perencanaan dalam memproses, menganalisis dan melaporkan prakiraan Perencanaan Jangka Pendek dan Jangka Panjang dan Pembaruan Keuangan Indonesia setiap bulan ke perusahaan pusat di Houston.

Bulan Mei 2007, Shinta bergabung pada PT Airfast Indonesia, sebuah perusahaan carter udara nasional yang umumnya melayani perusahaan pertambangan minyak & gas bumi sebagai Financial Controller yang bertanggung jawab langsung ke General Manager Expatriate – Indonesia. Setelah setahun setengah di PT Airfast Indonesia, akhirnya Shinta memutuskan untuk hijrah ke Qatar dan bergabung dengan QatarGas Operating Company Limited (Sebelumnya dikenal dengan RasGas Coy Ltd.).

Qatargas adalah operator energi global yang unik dalam hal ukuran, layanan, dan keandalan. Perusahaan ini mengoperasikan 14 Liquefied Natural Gas (LNG) dengan total kapasitas produksi tahunan sebesar 110 juta ton. Ini menjadikan Qatargas produsen LNG terbesar di dunia. Didirikan pada tahun 1984, Qatargas mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan hidrokarbon dari ladang gas alam non-asosiasi terbesar di dunia. Selain memproduksi LNG, Qatargas juga mengekspor gas alam, helium, kondensat, dan produk terkait yang terkemuka. Memiliki sekitar 5000 karyawan langsung dari 62 kebangsaan dan lebih dari 7.000 kontraktor.

Setelah hampir 5 tahun sejak bergabung pada November 2008 hingga tahun 2012, Shinta ditugaskan pada Departemen Proyek Operasi sebagai Kepala Layanan Proyek yang bertanggung jawab langsung kepada Manajer Departemen Proyek Operasi (Rekayasa Proyek) di Ras Laffan, mengepalai 23 orang anak buahnya. Sejak Nov 2012, Shinta meminta perusahaan agar memindahkan lokasi kerja ke kantor utama RasGas di Westbay area supaya ia dapat melanjutkan kuliahnya.

Dikarenakan kondisi pandemik dan harga minyak yang terus turun, perusahaan Qatargas terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja dengan sebagian karyawannya di pertengahan tahun 2020.  Alhamdulillah berkat jaringan kerja dan pertemanan yang Shinta miliki di Qatar, dia mendapatkan ganti pekerjaan yang insha Allah akan lebih baik yaitu sebagai Manajer Project Control di Kementerian Tata Kota dan Lingkungan Hidup (Ministry of Municipality & Environment Qatar) sejak bulan Oktober 2020 sampai sekarang.

Tak heran bila Shinta sangat mudah beradaptasi dalam lingkungan kerja dan pergaulan karena almarhum ayahnya adalah seorang polisi yang beberapa kali pindah penempatan tugas ke beberapa kota di Indonesia. Ia berpindah sekolah hingga 7 kali saat SD dan SMP. Hal ini pula yang membuatnya memiliki banyak teman.

Mantan aktivis kampus saat kuliah jurusan Akuntansi Universitas Sriwijaya ini, pernah terpilih sebagai Mahasiswa Teladan tingkat nasional mewakili almamaternya pada tahun 1993. Melalui salah satu kegiatan kampus, ia bertemu dengan pujaan hatinya, kini menjadi suaminya, Hery Kartono. Mereka menikah pada Oktober 1995 dan dikaruniai 3 orang putra lalu mengadopsi seorang putri.

Anak pertamanya, Muhammad Arif Rahman, kini berusia 24 telah menyelesaikan program Master, International Bussines di Universitas Manchester, UK. Putra ke-2 nya Muhammad Farhan Alfarizi berusia 21 tahun sedang menuntut ilmu bidang Arsitektur di Universitas South Australia, Adelaide.

Putri ke-3 Shafa Pricilla berusia 18 tahun sedang kuliah di jurusan Urban Planning di Universitas Diponegoro Semarang. Anak bungsunya, Muhammad Athar Al- Hafizh berusia 16 tahun juga sedang menuntut ilmu di University of Nottingham, Malaysia di bidang Bio Medical Science.

Suaminya, Heri Kartono adalah Master dalam Marketing Science dari Universitas Indonesia (UI). Saat ini sedang melanjutkan study doctoratnya di Universitas Lampung di bidang Management. Sejak tahun 2010 hingga pertengahan tahun 2018 memiliki usaha dagang minimarket Madani Mart dan SOF Mart yang mengimpor produk-produk makanan Indonesia ke Qatar dan juga kepemilikan 50% saham Restaurant Minang. Namun, sayang kini semuanya tidak beroperasi lagi, “Alhamdulillaah, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik.” ucapnya menyikapi keadaan tersebut.

Bersama anak-anak tercinta, Melbourne Australia Jul-2016: Muhammad Arif Rahman (24), Muhammad Farhan Al-Farizi (20), Shafa Pricilla (17), Muhammad Athar Al-Hafizh (16)

Selain pekerjaan dan mengurus keluarga, Shinta, putri ke-3 dari 6 bersaudara ini menggali potensi diri lebih tinggi lagi dengan melanjutkan pendidikan master. Tahun 2016 ia menyelesaikan Pasca Sarjana dalam bidang Administrasi Bisnis (Master of Business Administration-MBA) dengan waktu tersingkat yaitu 2 tahun di Qatar University. Ia mencapai nilai akhir dengan predicate cumlaude (IPK 3.8 dari skala 4), dengan proyek Penelitian Terapan pada Qatar Financial Centre (QFC) yang bejudul: Peran Regulasi dalam mempromosikan pertumbuhan UKM dan Start-up di Qatar. Prestasinya tambah mengagumkan lagi saat ia meraih gelar Doktor (Ph.D) pada 15 Mei 2019 lalu dalam Manajemen dan Administrasi Bisnis dari Qatar University dengan nilai sangat memuaskan juga (IPK:3.7 dari skala 4).

Professional Sertifikasi tingkat internasional untuk Project Management juga sudah Shinta dapatkan. Shinta lulus ujian Project Management Professional (PMP) di tahun 2013 dan juga Association Project Management (APM) di awal tahun 2019.

Bagaimana Shinta dapat mengatur waktu antara karir, keluarga dan kuliah? Itu pertanyaan banyak orang kepadanya. Menjawab pertanyaan itu membuat ia harus mengucapkan berulang kali syukur kehadirat Allah, “Alhamdulillah, Allah yang memudahkan jalan saya. Saya bisa melakukan semua kegiatan karena saya berada di Qatar. Dukungan dan doa orang tua, suami dan anak-anak tercinta memungkinkan saya untuk bekerja dan belajar dengan baik. Memiliki tempat tinggal yang relatif dekat dengan tempat kerja, jam kerja teratur yang memungkinkan saya untuk pulang sebelum pukul 4 sore, fasilitas kendaraan dan jalan raya yang tidak sepadat Jakarta semuanya memungkinkan saya untuk bekerja di pagi hari dan kuliah serta mengerjakan project penelitian di sore hari.”

Shinta menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia karena ia berhasil menyeimbangkan antara karir dan keluarga sekaligus menikmati kuliah ke jenjang lebih tinggi lagi serta berhasil menyelesaikan beberapa proyek riset di Qatar University. “Semoga sedikit aktivitas saya ini bisa menjadi inspirasi untuk teman-teman dan terutama inspirasi untuk anak-anak saya.”

Pesannya kepada generasi muda yang berada di tanah air dan diaspora Indonesia di mana saja:

  1. Jangan pernah berhenti belajar. “Continue to learn more and more, don’t stop because of your age, don’t stop because other people said or think you can’t do it, don’t be discourage because you are a women. Never think that you are going to lose, that you are going to make mistakes, never feel down and don’t make difficulties stop you from learning process. Believe in yourself that you can do anything you want. Our current world is changing all the time. The only thing that can keep us stay on the game is continuously learning.
  • Selalu berpikir positif. “Never seen things from pessimistic perspective. Pessimism is not an option because we won’t get anything by being pessimist. Yes, we should be realistic, but it is always better to push ourselves to find a way instead of complaining and do nothing.”
  • Jadilah teladan di manapun kamu berada. Mulailah dari dirimu sendiri dan niatkan bahwa setiap langkah dan tindakanmu adalah ibadahmu kepada Allah SWT. “If the world is too big for you to change things, do it by being good to yourself, then to your family, then to your society, and so on. We are just one among billions of people in the world, but we should believe that our one right action can change the world.”

Selamat berjuang, lillahi ta’ala. Insha Allah, ridha dan berkah Allah menyertai setiap langkah kita.

Wisuda MBA-Qatar University, June 2016             

Menerima Penghargaan kerja, QGHQ Dec-2019

Artikel Terkait