“ Jangan pernah berkata TIDAK BISA. Ketika kami berkata TIDAK BISA, artinya kamu sudah kalah sebelum berperang”

Saya Felisia Ika Ristiani, kelahiran Semarang 41 tahun yang lalu.
Sejak September 2006, Saya tinggal di Qatar, tepatnya di Mesaieed. Saya diboyong oleh suami ke Qatar setelah menikah. Kami dikaruniai dua orang anak, yang keduanya lahir di Qatar juga.
Kalau ditanya bagaimana saya bisa mengajar tari tradisional dan angklung untuk anak-anak, saya juga heran, karena semua itu mengalir begitu saja hanya berawal dari kemauan dan keberanian saja. Ya bisa dibilang sedikit nekat – karena saya bukan penari, dan saya juga bukan pemusik profesional juga.
Saya hanya seorang biasa yang senang dengan musik, seni dan senang dekat dengan anak-anak.
Dan tentunya saya tidak sendiri karena saya dikelilingi oleh wanita-wanita hebat yang punya keinginan dan tujuan yang sama – yaitu cinta budaya bangsa Indonesia dan ingin budaya kita lebih dikenal oleh negara lain. Selain itu, kami juga ingin anak-anak kami yang adalah anak-anak Indonesia juga, walaupun tanggal jauh di negeri orang, juga mempunyai kecintaan dan kebanggaan akan tanah airnya berserta budaya bangsanya.
Saat ini, saya bersama dengan empat orang teman, yaitu Anita Oktavia, Tita Rusitaningrum, Diana Pratiwi dan Nanik Mawarti, mengelola sebuah sanggar seni anak-anak, Sanggar Seni Mesaieed – dimana kami membuka dua kelas, yaitu kelas tari untuk anak-anak kelas 1 – kelas 5 primary, dan kelas angklung untuk anak-anak kelas 6 keatas.
Sanggar Seni Mesaieed ini berdiri di Tahun 2014 dengan nama Sanggar Tari Mesaieed yang berawal dari hanya kelas tari yang beranggotakan 10 anak yang tinggal di Mesaieed dan mau belajar tari kreasi tradisional Indonesia.
Ibu-Ibu yang lain membantu saya dengan menjahit sendiri dan menyediakan kostum tari kami.
Waktu itu kami tidak berpikir kapan anak-anak ini akan tampil, pokoknya mengalir saja. Tari pertama yang dipelajari adalah Tari Sajojo dari Papua, ditarikan oleh 10 anak waktu itu. Penampilan pertama kami, adalah di acara HUT RI yang diadakan oleh KBRI Doha saat itu.
Seiring berjalannya waktu, kami mulai mengisi acara di event lain, seperti Qatar National Day, Eid Al-Adha Community di Asian Town juga di acara KOMIQ Day di Mesaieed. Selain itu, kami juga diminta berpartisipasi dalam International Day event di sekolah Mesaieed International School, dimana para anggota kami bersekolah.

Untuk kelas Angklung sendiri, kami juga dimulai juga dengan modal nekat.
Saat itu, kira-kira di akhir tahun 2016, seorang sahabat, Ibu Betayanti yang merupakan salah satu founder dari Puspa Qinarya, menyampaikan gagasannya agar saya bisa mengajar angklung untuk anak-anak Indonesia, khususnya di Mesaieed. Beliau dengan semangat mau meminjamkan angklung-angklungnya.
Saya berterima kasih kepada kemajuan teknologi, karena dengan adanya internet saya bisa belajar angklung online lewat Youtube selama liburan summer yaitu kira-kira dua bulan dan akhirnya kelas angklung anak-anak dibuka di bulan September 2017 dengan lagu pertama Edelweis dan Indonesia Pusaka yang ditampilkan pertama kali pada bulan November 2017 di KBRI Doha dalam acara peringatan HUT RI. Anak-anak yang sangat kreatif ini menamakan grup mereka sebagai Mesaieed Angklung Army. Dan sejak saat itu, nama sanggar kami berganti menjadi Sanggar Seni Mesaieed.

Seperti halnya dengan tari, Mesaieed Angklung Army juga mulai mengisi acara Qatar National Day (QND), KOMIQ Day, Summer Entertainment City, Katara Culture In Diversity dan yang paling berkesan untuk anak-anak adalah ketika mereka bermain angklung di hadapan para diplomat negara-negara lain dalam acara INDONESIAN NIGHT di KATARA yang diadakan pada tanggal 14 Desember 2019.
Sanggar Seni Mesaieed mendapatkan response positif. Semakin banyak anak-anak yang tertarik untuk belajar kebudayaan bangsa. Jumlah anak-anak yang bergabung terus bertambah. Untuk kelas tari ada 15 anak dan untuk kelas angklung ada 23 anak.
Tidak pernah terbayangkan ya – saya yang bukan penari, bukan pemusik profesional kok bisa dan berani mengajar 38 anak. Saya punya pedoman yang selalu saya katakan kepada murid-murid Sanggar Seni Mesaieed ketika mereka lelah berlatih dan kadang mulai merasa putus asa – “ Jangan pernah berkata TIDAK BISA. Ketika kami berkata TIDAK BISA, artinya kamu sudah kalah sebelum berperang”.
Juga selalu saya katakan kepada mereka “ You can achieve, if you believe”
Luar biasa dan sangat membanggakan semangat “Army” mereka, tentara cilik Indonesia – mungkin mereka tidak berperang secara nyata, tetapi mereka berani tampil di depan untuk menunjukan bangsa mereka ke depan dunia.
Tidak perlu menjadi hebat untuk memulai, tetapi mulailah sehingga kamu akan mencapai sesuatu yang hebat.
Sampai saat ini saya sudah 14 tahun tinggal di Qatar – bukan waktu yang singkat, tetapi juga bukan waktu yang lama juga karena banyak teman-teman yang pastinya sudah tinggal di Qatar lebih lama dari saya.
Kalau ada yang tanya, betah ya tinggal di Qatar, ya pastinya betah ya, sudah tinggal di Qatar lebih dari satu dekade ya.
Qatar yang walaupun merupakan negara berbasis Islam, tetapi kebebasan beragama sangat dijunjung tinggi. Agama Kristiani & denominasinya sangat dilindungi di Qatar.
Ada delapan denominasi agama Kristiani yang terdaftar & diakui oleh Qatar, salah satunya adalah agama yang saya anut yaitu Katolik Roma.
Delapan denominasi Kristen terdaftar dapat beribadah dengan bebas di Mesaimeer Religious Complex. Pemerintah juga mengizinkan gereja – gereja denominasi yang tidak terdaftar untuk beribadah di sana juga, tetapi hanya di bawah perlindungan salah satu dari delapan denominasi yang diakui.

Pemerintah Qatar juga mengizinkan gereja untuk melakukan impor Alkitab, benda-benda religius dan buku-buku yang ditujukan untuk keperluan gereja dan penganutnya , dengan catatan tidak untuk beredar di kalangan umum dan atau non-Kristiani.
Saya sebagai penganut Katolik dapat beribadah dengan bebas, aman, dan damai di Qatar, juga merayakan hari-hari besar keagamaan seperti Natal dan Paskah di gereja – tentunya dengan mengikuti aturan-aturan yang ada, seperti kata pepatah “ Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.”
Sumber : Buku “Mutiara Inspirasi dari Qatar”

















