“Continual personal development dengan pendekatan Neuro-dominance dan Coaching”
Wahjuadji Soepanto
Saya Wahjuadji Soepanto, latar belakang pendidikan S1 Geology dari Institut Teknologi Bandung, mengawali karir di Qatar pada September 2004. Saya bergabung dengan perusahaan Qatar Petroleum sebagai Records/ Information Analyst hingga mencapai usia pensiun pada Juli 2020.

Saat awal bergabung, saya langsung datang dengan keluarga lengkap ke Qatar meskipun negara ini belum pernah kami kunjungi sebelumnya.
Semuanya serba asing, terlebih cuacanya dengan suhu udara yang cukup ekstrim. Saat kami tiba, suhu udara masih berkisar 40 derajat celcius. Selang beberapa bulan kemudian, cuaca berubah menjadi amat dingin. Cuaca ekstrim ini amat dirasakan bagi kami.
Alasan saya memutuskan pindah kerja ke Qatar mungkin terdengar agak sepele, yaitu karena sudah tidak tahan menghadapi kemacetan lalu lintas di Jakarta dan Jabodetabek yang luar biasa melelahkan, baik fisik maupun mental. Bayangkan, setiap hari saya harus berangkat ke kantor sebelum pukul 6 pagi dan menempuh waktu sekitar 1 jam 45 menit untuk mencapai tempat kerja.
Demikian pula sewaktu kembali ke rumah pada sore harinya. Sehingga setiap hari saya menghabiskan waktu kira-kira 3,5 jam di jalan. Saya juga perlu tambahan waktu untuk memulihkan kondisi badan yang kelelahan. Lantas dimana waktu untuk keluarga? Saya berpikir, alangkah tidak produktifnya waktu yang saya lewatkan selama ini. Berapa lama lagi saya harus menjalani kehidupan seperti ini? Andaikata waktu 3,5 jam per hari ini saya gunakan untuk kuliah lagi, mungkin dalam tempo 1,5 tahun saya dapat menyelesaikan program master. Penggunaan waktu yang sangat tidak produktif ini terus mengusik pikiran saya.
Karena alasan di atas, saya mulai mencari peluang untuk bekerja di luar negeri. Saya ingin berkiprah di negara yang lebih tertata kehidupan dan fasilitas sosialnya. Sehingga selain dapat mengembangkan karir, saya juga dapat berkesempatan membesarkan anak-anak dan memberikan pendidikan yang lebih baik bagi mereka.
Sungguh saya mengucap syukur kehadirat Allah SWT, kesempatan yang saya dambakan itu akhirnya datang juga. Saya diterima bekerja di Qatar Petroleum sebagai senior staff sedangkan anak-anak saya diterima sekolah di Qatar International School. Kami sekeluarga mengawali kehidupan baru di negeri orang dengan perasaan campur aduk, antara gembira dan agak was-was. Apakah kami akan mampu menjalani dan beradaptasi dengan orang dari berbagai negara dengan segala adat istiadat dan budaya yang berbeda?
Dalam perjalanan selanjutnya, ternyata kami merasakan kebahagiaan di Qatar. Satu hal penting yang paling kami syukuri adalah, sebagai muslim kami dapat menjalankan ibadah dengan sangat leluasa. Kami merasakan suasana yang lebih relijius dan memperoleh kesempatan beribadah lebih baik lagi dibandingkan di tanah air. Setiap tahun kami sekeluarga menyempatkan umrah ke Mekkah melalui jalan darat dengan kendaraan pribadi, menembus gurun pasir yang panjang dan gersang yang bagaikan tanpa ujung. Jarak Doha – Mekkah berjarak sekitar 1.500 km. .
Hal lain yang sangat bernilai adalah kami mendapatkan waktu berkumpul dan bercengkrama bersama keluarga. ‘Quality time’ yang sulit didapat saat di tanah air. Anak-anak juga berkesempatan menjalani aneka aktivitas ekstra-kurikuler. Saya bahkan berkesempatan mengantar mereka beraktivitas pulang dan pergi.

Ini dimungkinkan karena tiap lokasi di Qatar dapat dicapai dengan mudah dan waktu tempuh yang relatif singkat. Padahal kegiatan anak saya cukup bervariasi, seperti berenang, olahraga layar (sailing), sepak bola dan les piano. Di akhir pekan, saya sendiri masih memiliki kesempatan melakukan kegiatan olah raga (jalan kaki), menghadiri pengajian (taklim) atau berkumpul bersama teman-teman.
Kami sekeluarga sangat menikmati kehidupan keluarga yang seimbang (balance of life) di negara ini. Anak-anak pun maju dalam bidang pendidikannya.
Kemajuan mereka tergambar dari raport yang diterima setiap kuartal. Bahkan, nama mereka terpampang di ‘Hall of Fame’ di sekolah.
Di luar akademik, mereka juga menonjol secara individu pada olahraga layar (sailing), musisi piano klasik, tim sepakbola sekolah dan volunteer di Asian Games Doha. Bahkan diantara mereka ada juga berprestasi internasional yaitu mewakili sekolahnya di World Scholar Debate tingkat dunia yang diselenggarakan di Yale University, USA.
Saat bergabung dengan Qatar Petroleum (QP), saya langsung mendapat tugas mengawal pembangunan Corporate Records Center yang baru dimulai di Mesaieed. Pada waktu mengevaluasi racking system nya, saya mengusulkan perubahan desain untuk meningkatkan kapasitas sebesar 30%. Perubahan ini diterima oleh semua pihak termasuk top management. Desain saya tidak memerlukan perubahan atau tambahan extra cost terhadap contract agreement yang telah disepakati. Desain ini kemudian diduplikasi saat QP membangun fasilitas serupa (yang kedua) di Dukhan.
Menjelang pensiun, saya kembali dipercaya untuk mengawal pembangunan perluasan fasilitas Corporate Records Center di Mesaieed untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Tidak kalah pentingnya adalah membantu menyiapkan dan melatih local staff (Qatari) agar mereka kelak mampu menjalankan tugas yang diembankan kepada mereka.
Pada tahun 2019, Qatar Petroleum memulai rencana besar untuk melakukan transformasi agar mereka siap menghadapi situasi bisnis yang tak menentu dan berubah cepat. Upaya transformasi ini sudah diantisipasi sebelumnya, namun pelaksanaannya dipercepat akibat blokade negara tetangga serta merosotnya secara tajam harga minyak/gas, yang disusul adanya pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Kondisi ini membuat saya aware dan mulai mengantisipasi karir saya kedepan. Saya mulai tertarik hal-hal yang terkait ‘personal development’. Saya menjadi sadar, bahwa ‘human capital’ adalah modal pokok bagi suatu perusahaan dan bangsa untuk maju dan berkembang. Sekedar survive saja tidaklah cukup.
Setelah melalui pencarian yang cukup intensif, saya menemukan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh Hijrah Coach terkait ‘personal development’ merupakan hal paling efektif. Alasannya, pendekatan mereka menggunakan kombinasi ‘coaching’ dan ‘neuro-dominance’ skills/ knowledge. Neuro-dominance skill/ knowledge dibutuhkan untuk membantu individu mengenal dirinya sendiri secara lengkap, sehingga tahu potensi mana yang perlu diasah sekaligus mengetahui ‘potential blind spot’ yang harus diantisipasi. Hal ini membuat orang dapat berkomunikasi secara efektif dan meningkatkan kinerja dengan maksimal, baik di lingkup profesi, maupun di lingkup personal. Coaching skill/ knowledge dibutuhkan untuk membantu individu menggali potensi-potensi yang ada pada dirinya, yang selanjutnya menumbuhkan motivasi kuat untuk tumbuh dan berkembang sepanjang perjalanan hidupnya.
Gabungan skills/ knowledge diatas sungguh sangat dibutuhkan, terlebih pada situasi dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi dan cepat berubah, baik bagi individu. Bukan saja untuk survive, tetapi lebih dari itu, agar mampu beradaptasi dengan cepat terhadap situasi ‘new normal’. Menjadi semakin penting lagi bagi bangsa Indonesia yang saat ini sedang bersiap untuk menyambut ‘Bonus Demografi’ pada 2030 nanti. Pengembangan kedua area ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya agar kita dapat melompat menjadi negara maju.
Pada akhir 2019, saya dan beberapa teman di Qatar berinisiatif mengundang Master Coach Daru Dewayanto (Founder & Owner Hijrah Coach) untuk memberikan public speaking guna memperkenalkan konsep neurodominance kepada masyarakat Indonesia di Qatar. Program ini didukung oleh pihak KBRI Doha, khususnya Duta Besar pada saat itu, yaitu Bapak Mohamad Basri Sidehabi.
Program tersebut berhasil menarik banyak peminat, disusul dengan terealisasinya program sertifikasi untuk Business Coaching (ICF – International Coaching Federation competency based) dan Neuro-Dominance Practitioner (recognized by MyBrain UK) di Qatar. Program sertifikasi ini dibawakan sendiri oleh Master Coach Daru Dewayanto.
Sejauh ini, sedikitnya ada 10 orang (dan terus bertambah) yang telah mendapatkan sertifikasi terkait kedua skills tersebut. Hal ini mendorong kami untuk membentuk Hijrah Coach Community di Qatar (HCCQ) pada Maret 2020, yang saat itu dibawah naungan PERMIQA (Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar). Kami ingin agar masyarakat Indonesia di Qatar mendapatkan updated informasi dan awareness akan pentingnya kedua skill ini bagi ‘personal development’ mereka, yang sesungguhnya merupakan ‘never ending journey’.
Mengingat situasi pandemi, HCCQ dengan dibantu Hijrah Coach Pusat di Jakarta tetap berkomitmen memberikan secara berkala public seminar maupun kesempatan mengikuti program sertifikasi secara virtual. Inilah sedikit perjalanan kehidupan saya di Qatar. Semoga bermanfaat.

SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

















