DARI CURUG, TANGERANG SAMPAI KE DOHA QATAR

“ Setiap kali ada kesempatan naik pesawat terbang, saya selalu menikmati pengalaman tersebut dan membayangkan bekerja sebagai seorang pilot. Saya selalu mencuri pandang ke arah ruang kokpit saat memasuki dan keluar dari ruang kabin pesawat. Tanpa saya sadari, bayangan masa kecil ini begitu membekas sehingga akhirnya saya mempunyai cita-cita menjadi seorang pilot”

Captain Rama Pradhitia Lawendatu

Nama saya Rama Pradhitia Lawendatu. Saya lahir di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 20 Oktober 1973. Bapak saya dahulu bekerja sebagai anggota Polri dan ibu saya bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Pada saat bapak saya masih aktif bekerja sebagai polisi, kami sekeluarga selalu berpindah tempat tinggal. Hal itu terjadi hingga saya lulus SMP pada tahun 1989. Saya ingat, saya telah pindah sekolah sebanyak enam kali saat SD dan tiga kali saat SMP.

Ada hal yang menarik saat saya pindah tempat tinggal. Setiap kali ada kesempatan naik pesawat terbang, saya selalu menikmati pengalaman tersebut dan membayangkan bekerja sebagai seorang pilot. Saya selalu mencuri pandang ke arah ruang kokpit saat memasuki dan keluar dari ruang kabin pesawat. Tanpa saya sadari, bayangan masa kecil ini begitu membekas sehingga akhirnya saya mempunyai cita-cita menjadi seorang pilot.

Setelah lulus SMA pada tahun 1992, saya mencoba mendaftar sebagai taruna penerbang di Pendidikan dan Latihan Penerbangan/PLP Curug. Saya berhasil diterima sebagai taruna penerbang dan menjalani pendidikan selama  dua tahun tiga bulan. Pada tahun 1995, saya dinyatakan lulus pendidikan dan diterima bekerja di PT Garuda Indonesia sebagai kopilot pesawat Boeing 737.

Setelah menjalani masa kerja dua tahun sebagai kopilot B737, perusahaan menugaskan saya untuk sekolah guna pindah ke tipe pesawat terbang yang lebih besar, yang biasa disebut wide body aircraft. Pesawat terbang ini berjenis MD-11 buatan pabrik pesawat terbang McDonald Douglas. Saat itu, pesawat MD-11 Garuda Indonesia menjalani rute penerbangan internasional seperti ke Los Angeles, Honolulu, Amsterdam, dan rute internasional lainnya. Sebagai seorang pilot junior, mendapatkan kepercayaan menjadi kopilot pesawat berbadan lebar dan penerbangan internasional merupakan kebanggaan tersendiri.

Masa kelam dunia politik dan ekonomi Indonesia terjadi pada tahun 1998. Saat itu, kondisi ekonomi Indonesia terpuruk dan menimbulkan krisis ekonomi. Krisis ini membawa dampak buruk kepada banyak perusahaan di Indonesia. Banyak perusahaan bangkrut dan tidak mampu beroperasi. Hal ini pun terjadi pada PT.  Garuda Indonesia. Perusahaan tidak mampu lagi mengoperasikan pesawat MD-11 karena biaya sewanya yang mahal. Keputusan yang diambil oleh pimpinan perusahaan saat itu adalah mengembalikan 6 pesawat MD-11 kepada pihak penyewa yang berada di Amerika Serikat.

Masa kelam tidak harus menjadikan kita berputus asa. Dan hal itu diaplikasikan dengan baik oleh manajer pilot MD-11 Garuda Indonesia saat itu. Beliau menyadari bahwa saat itu perusahaan memiliki banyak sekali pilot yang tidak dapat terbang karena jenis pesawat terbang yang dimiliki dalam pilot license-nya sudah tidak ada lagi. Padahal kebutuhan pilot di luar Indonesia sangatlah besar. Garuda Indonesia berusaha menawarkan kerjasama company to company untuk menempatkan pilot-pilotnya di beberapa perusahaan internasional.

Berita ini membuat saya gembira dan tentu saja tidak saya sia-siakan. Saya segera mempersiapkan diri dengan banyak membaca ulang buku-buku ilmu pengetahuan penerbangan. Saya ingin sekali mendapatkan pengalaman kerja di perusahaan asing dan bertempat tinggal di luar Indonesia. Keinginan dan usaha saya dalam mempersiapkan diri ternyata membuahkan hasil yang baik. Perusahaan penerbangan asal Switzerland, Swissair, tertarik melakukan kerjasama company to company dengan mengontrak kopilot pesawat MD-11. Mereka membutuhkan beberapa kopilot pesawat MD-11 untuk ditempatkan di Zurich sebagai home base-nya. Setelah melakukan tes seleksi di Jakarta dan Zurich, akhirnya mereka memilih delapan orang kopilot Garuda Indonesia untuk dikontrak selama dua tahun dan saya termasuk salah satunya.

Pada bulan November 1998, saya bersama tujuh orang rekan berangkat ke Zurich. Negara ini benar-benar memiliki musim dingin yang berat. Suhu udara di kota Zurich sangat dingin dan salju turun lebat setiap harinya. Saya mendapatkan pendidikan dan standarisasi pengoperasian pesawat dari instruktur-instruktur Swissair yang berpengalaman terutama dalam hal pengoperasian pesawat udara pada saat musim dingin. Setelah menyelesaikan pendidikan dan syarat administrasi, sayapun bekerja sebagai kopilot pesawat MD-11 Swissair. Rute penerbangan yang kami jalankan adalah rute internasional Swissair. Saya bekerja pada perusahaan Swissair selama dua tahun. Pada bulan Oktober 2000, saya kembali ke Indonesia dan bekerja lagi di PT. Garuda Indonesia.

Saat kembali ke PT. Garuda, saya ditempatkan pada tipe pesawat Airbus A330. Pesawat tipe A330 ini dioperasikan untuk penerbangan-penerbangan internasional. Saya tentu bahagia. Namun dalam hati terkadang muncul perasaan tertantang untuk mencoba pengalaman baru dengan bekerja di luar Indonesia. Perasaan ini semakin menguat dengan seiringnya waktu.

Pada tahun 2004, perusahaan penerbangan Qatar Airways sedang membuka lowongan pekerjaan pilot. Peluang ini tidak saya sia-siakan. Saya mempersiapkan diri kembali untuk proses ini. Tidak lama berselang setelah mendaftar, saya mendapatkan undangan ke Doha untuk menjalani tes penerimaan karyawan. Saya ingat saat itu adalah bulan Mei tahun 2004 dan itulah pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di kota Doha, Qatar.

Setelah menunggu beberapa lama, saya mendapatkan email dari Qatar Airways. Alhamdulillah saya berhasil diterima sebagai karyawan Qatar Airways. Dengan berat hati saya mengundurkan diri dari PT. Garuda Indonesia. Saat itu bukan lagi kontrak kerja sama company to company seperti sebelumnya, tetapi saya harus keluar dari perusahaan tempat kerja yang telah membesarkan saya. Ini sebuah keputusan yang berat.

Bulan Juli 2004, saya menginjakkan kaki yang kedua kalinya di Doha. Suhu udara saat itu sangat panas, berkisar 43-47 derajat celcius saat siang hari. Dua bulan pertama saya habiskan untuk menjalani proses mendapatkan ijin tinggal dan pendidikan penyetaraan di perusahaan. Setelah itu, saya mulai bekerja sebagai kopilot pesawat Airbus A330 Qatar Airways. Saat itu adalah salah satu momen terberat dalam hidup saya karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan hidup dan kerja yang benar-benar baru. Tetapi perhatian dan dukungan penuh dari keluarga yang tidak pernah putus membuat saya tetap bersemangat menghadapinya. Setelah tiga bulan berdomisili di Doha seorang diri, akhirnya istri dan anak-anak saya bisa bergabung.

Saya menjalani profesi sebagai kopilot pesawat A330 lebih tiga tahun. Pada tahun 2007, Qatar Airways membeli pesawat jenis Airbus A340-600. Pesawat ini diperuntukkan bagi penerbangan-penerbangan jarak jauh seperti ke pantai timur Amerika Serikat. Saya termasuk yang mendapatkan kesempatan ditugaskan menjadi salah satu kopilot pesawat A340-600 ini.

Setelah kira-kira satu tahun menjalani tugas sebagai kopilot pesawat A340, tanpa saya duga-duga, datang sebuah penawaran kerja yang sangat berharga bagi saya. Saat itu Qatar Amiri Flight membutuhkan posisi kopilot pesawat A340-500 sebanyak tiga orang dan alhamdulillah saya termasuk dari kopilot yang berhasil diseleksi.

Menjalani profesi sebagai seorang pilot untuk penerbangan tak berjadwal dengan penumpang dari pejabat pemerintahan benar-benar hal baru bagi saya. Banyak peraturan berbeda antara penerbangan komersial dengan penerbangan pemerintahan, termasuk protokol resmi yang harus dilaksanakan saat penerbangan resmi kenegaraan, protokol pengamanan penerbangan dan banyak hal baru lainnya. Hal ini membuat saya semakin menikmati profesi saya.

Tahun 2009, diputuskan untuk memisahkan antara Qatar Airways dengan Qatar Amiri Flight. Karena saat itu saya masih sebagai karyawan Qatar Airways yang ditugaskan ke Qatar Amiri Flight, saya mendapat kesempatan untuk memilih apakah kembali ke Qatar Airways atau tetap bekerja di Qatar Amiri Flight. Setelah berdiskusi dengan keluarga dan rekan-rekan senior penerbangan, saya memutuskan untuk tetap bekerja di Qatar Amiri Flight sebagai kopilot pesawat A340-500.

Seiring dengan berjalannya waktu, setiap tugas penerbangan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya. Setelah menjalani tugas sebagai seorang Captain Pilot A320 selama kurang lebih tujuh tahun, pada tahun 2019 kemarin, saya mendapatkan kepercayaan untuk menjadi Captain Pilot pesawat Airbus A330 Qatar Amiri Flight, jenis pesawat yang lebih besar daripada A320.

Demikianlah sedikit cerita perjalanan karir saya sebagai seorang pilot yang dimulai dari sekolah penerbangan PLP Curug sampai dengan tugas saya saat ini sebagai Captain Pilot pesawat Airbus A330 Qatar Amiri Flight. Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait